KARAKTERISTIK  SISTEM  WARNA

DALAM BAHASA SUNDA

Oleh Tubagus Hidayat

http://13633lf9ccw5scch2azwdpav09.hop.clickbank.net/?tid=BLOG

Click Here!

Abstrak

Semua bahasa di dunia ini mempunyai sistem warna dan masing-masing bahasa memiliki istilah warna yang berbeda serta karakteristik system warna yang berbeda sesuai dengan tipologi bahasanya, persepsi warna mencakup tiga parameter yaitu corak warna, kecerahan warna, titik jenuh. Istilah warna dasar yang ada dalam bahasa sunda terdiri dari 10 istilah warna dasar yaitu;  ‘bodas’ putih ‘hideung’ hitam  ‘beureum’ merah,  ‘hejo’  hijau, ‘koneng’  kuning,  ‘gandola ‘ungu’ , ‘kayas ’ merah muda’ ‘kulawu’ abu-abu , ‘coklat’ coklat dan ‘biru’ biru   dengan 19 istilah khusus warna, selain dengan kosakata yang berbeda , salah satu yang memperlihatkan gradasi warna dalam bahasa sunda ditandai dengan postposisi, preposisi dan modalitas

Kata Kunci :, bahasa sunda, tipologi,  warna dasar (basic color term) , sistem warna

  1. I. Pendahuluan

Warna adalah gejala visual yang kadang tidak tidak begitu diperhatikan namun kehadirannya menambah nilai tersendiri bagi manusia, penggunaan warna telah muncul sejak peradaban awal manusia dengan  ditemukannya penggunaan warna di goa-goa yang dihuni oleh manusia zaman pra sejarah. Bukti-bukti sejarah berupa lukisan goa, artitektur kuil Yunani dan romawi kuno, piramida mesir serta beberapa benda seni lainnya membuktikan bahwa warna telah digunakan sejak dulu, dalam perkembangannya warna yang dahulu digunakan sebagai alat transedental akhirnya menjadi media berekspresi seniman. Beberapa teori mengungkapkan bahwa warna salah satu sarana untuk melatih keutuhan persepsi terhadap ruang, warna menimbulkan kesan-kesan tertentu dalam menciptakan suasana ruang dan warna dapat menimbulkan pengaruh terhadap jiwa baik secara langsung maupun tidak langsung misalnya perasaan gelisah, nyaman, panas dan sebagainya. Kesalahan menempatkan warna-warna mempunyai pengarih negatif khususnya  terhadap perkembangan fisik dan mental

Akhir-akhir ini konsep warna berkembang dengan pesat seiring perkembangan budaya masyarakatnya penggunaan warna selain untuk kepentingan ekspresi juga digunakan untuk menciptakan kesan-kesan tertentu dalam menciptakan suasana, konsep warna dijadikan alat untuk membuat brand image suatu produk, baik untuk kepentingan bisnis maupun untuk kepentingan politik. Penentuan suatu warna dalam aspek kehidupan sehari-hari menjadi suatu hal yang diperhitungkan dipikirkan bagaimana memilih warna yang tepat untuk situasi, kondisi dan tujuan tertentu

Warna dalam tataran bahasa direalisasikan dengan kosakata warna dalam frase , kalimat atau leksem dasar kosakata warna itu sendiri, sehingga pendekatannya pun bisa dari berbagai aspek penelitian dan sudut pandang . warna adalah gejala visual sehingga mendeskripsikannya tidaklah mudah, warna adalah persepsi sehingga ada hubungannya dengan subjektivitas informan dari data penelitian.,  warna arbitrer sekaligus juga konvensional.  Sehingga penelitian penelitian mengenai warna dalam bahasa terdapat dua pendekatan utama, yaitu yang didasarkan pada Saphir Worf dan linguistic relativity

Penelitian warna dalam bahasa yang telah dilakukan diantaranya adalah   Gladstone (1858), Geiger (1868), Magnus (1877), Marty (1879) dari penelitiah-penelitian tersebut yang sering dijadikan acuan dalam penelitian  adalah Berlin dan Kay (1969). Kay & McDaniel (1978); Kay, Berlin, Maffi, & Merrifield (1997); Kay & Maffi (1999)

Berlin dan Kay (1969). Melakukan penelitian  dari 98 bahasa, dan menemukan bahwa  ada variasi warna yang sangat yang luas dari bahasa-bahasa tersebut Akan tetapi,  mereka menemukan bahwa variasi ini memang tidak sepenuhnya  acak. Berlin dan Kay menemukan bahwa semua bahasa memiliki antara 2  sampai  11 istilah warna dasar . Mereka menemukan bahwa batas-batas bidang warna  yang dilambangkan dengan istilah warna  sangat bervariasi diantara bahasa-bahasa tersebut , Berlin dan Kay  menyelidiki istilah kombinasi warna yang ada dalam setiap  bahasa dan menghasilkan implikasi hirarki yang ditunjukkan pada  gambar1 , untuk menjelaskan keteraturan  yang mereka temukan. Istilah warna dalam semua bahasa   bermula pada  pada hitam dan putih, tetapi beberapa bahasa  punya istilah warna dasar lainnya. Namun, jika bahasa memiliki  Istilah untuk setiap warna lebih tepat dalam hirarki, itu  selalu punya istilah untuk semua warna muncul di sebelah kiri  titik.  Berlin dan Kay mengusulkan bahwa hierarki ini menggambarkan  pola-pola  umum ;

[white]                         [green] →  [yellow]                                         [purple]

→ [red] →                                    → [blue] → [brown] → [pink]

[black]                         [yellow] → [green]                                           [orange]

[grey]

I                    II               III              IV              V              VI            VII

Figure 1. Temporal-evolutionary ordering of basic colour terms after Berlin and Kay

(1969). The Roman numbers indicate the corresponding evolutionary stage.

Basic colour term was defined by Berlin and Kay as follows (1969:5–7) and will be used in this article accordingly

1) It is monolexemic; that is, its meaning is not predictable from the meaning of its parts

2) Its signification is not included in that of any other colour term

3) Its application is not included in that of any other colour term,

4) It must be psychologically salient for informants. Indices of psychological salience include, among others, a) a tendency to occur at the beginning of elicited lists of colour terms, b) stability of reference across informants and occasions of use, c) occurrence within the idiolects of all informants.

Warna dalam masyarakat sunda memiliki makna tertentu,  dalam kehidupan sehari-hari misalnya terlihat pada penggunaan warna dalam upacara-upacara adat yang memiliki makna simbolik, warna wajah tokoh wayang golek yang memiliki makna sesuai dengan karakter tokohnya , dalam ungkapan dan peribahasa juga terdapat kosakata warna misalnya ungkapan  ‘hejo tihang’  tiang hijau   bermakna orang yang selalu berpindah tempat tinggal atau pekerjaan,  hijau dalam ungkapan itu bermakna negatif. Atau dalam peribahasa ‘clik putih clak herang’ hati yang tulus ikhlas. Putih dalam peribahasa tersebut mengacu pada hal yang positif. Warna dalam bahasa sunda juga mengacu pada bendanya langsung, misalnya ‘megantara’ warna untuk kuda yang berwarna hitam mengkilat (sangat hitam) atau misalnya warna ‘cadramawat’ warna kucing yang berbulu tiga warna

Penjelasan mengenai warna dasar dan karakteristik sistem warna dalam bahasa sunda ini idealnya menggunakan responden dengan kriteria-kriteria tertentu. Tulisan ini akan mencoba  mendeskripsikan warna dasar dan karakteristik sistem warna  dalam Bahasa  Sunda

II.   PEMBAHASAN

A. Warna Dasar (Basic colour term)

Pembagian  warna dalam bahasa sunda dapat  dibagi dalam 2 kategori yaitu warna dasar istilah khusus warna, pembagian ini dapat digambarkan dalam bagan berikut;

No Warna dasar Istilah khusus
1 ‘Bodas’ putih Borontok (warna bulu ayam yang berwarna  putih hitam)
2 ‘Hideung’ hitam Candramawat (warna bulu kucing tiga warna)
3 ‘Beureum’ merah Kopi tutung ‘coklat tua’
4 ‘Hejo’  hijau ‘Gandaria’ merah muda warna jenis buah/tanaman
5 ‘Koneng’  kuning ‘Paul’, biru, warna gunung atau laut dari kejauhan
6 ‘Gandola ‘ungu’ Bule warna kulit yang berwarna sangat putih
7 ‘Kayas ’ merah muda’ ‘Belang’ belangwarna hitam putih atau terdiri dari dua warna
8 ‘Kulawu’ abu-abu ‘Roreng ‘,’loreng’ belang warna untuk kain atau harimau
9 coklat ‘colat’ kuda dengan warna coklat di bagian kepala
10 ‘biru’  biru ‘Megan’ warna burung atau ayam yang berwarna abu-abu
11 Kasumba ‘merah muda’ ‘Megantara’ warna kuda yang hitam mengkilat/sangat hitam
Carambang warna bulu ayam yang hitam dengan totol totol putih
Rengge ‘ bulu ayam yang setiap warna bulunya campuran antara hitam dan putih
Dawuk warna kuda yang berwarna abu-abu
Hawuk ‘warna untuk binatang yang berwarna abu-abu
Bulu hiris ‘hijau seperti bulu pada sejenis tanaman
Caragem warna bulu kuda

Gambar 1 Warna Dasar dan Istilah warna khusus Bahasa Sunda

Warna dasar dalam bahasa sunda terdiri dari 10 dengan pertimbangan dari penelitian sebelumnya, ‘paul’ biru tidak dapat dikatakan warna dasar karena berhubungan dengan beberapa acuan diantaranya adalah  jika melihat gunung,laut dari kejauhan itu dikatakan ‘paul’ biru , ‘bulao’ biru tidak termasuk warna dasar karena masyarakat sunda pada umumnya menyebut bulao tidak untuk warna tetapi benda/kapur untuk membersihkan kain, gondola juga merupakan percampuran warna tetapi pertimbangan monolexemic dijadikan sebagai warna dasar seperti juga pada warna ‘kayas ‘merah muda, coklat dan ‘kulawu’ abu-abu

Penjelasan mengenai gradasi dan makna figurative dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut;

1.Warna
Bodas putih Hideung hitam Beureum merah Hejo hijau Koneng kuning
Bodas ngeplakBodas nyacasbodas koneaspulas haseupherang cibeasherangpiaskoleas hideung cakeutreukHideung santenHideung lageduHideung melesHideung lestrengMaleukmeukGeuneukpoek Beureum euceuyBeureum atiBeureum obroykasumba
kayasgedang asakgeuneuk
Hejo carulangHejo botolHejo pucuk cauHejo carulangHejo ngagedodHejo daunhejo lukuthejo tai kuda Koneng umyangKoneng enayKoneng santenKoneng obyar
gading
koneng
2 warna dengan makna figurative
Cakcak bodas Tanda bodasBubur bodas bubur beureumClik putih clak herangGetih bodas Kudu puguh bule hideungnaGetih hideung -Beureum paneureuy-Budak beureum-Dibeureum dihideung-Kulit beureum-Hama beureum-beureum beungeut Hejo tihangHejo lembok leubeut daunNgahejokeun-hejo lalakon panjang carita Seuri konengKulit konengKasakit koneng
  1. Putih ‘bodas’

Arti menurut kamus basa sunda  yaitu; warna apu (kapur) , warna kertas tulis dan lain lain, gradasi warna dari putih tua (sangat putih) sebagai berikut : ‘bodas’ putih  kemudian bodas nyacas’ sangat putih dan ‘bodas ngeplak’ sangat putih (lebih putih dari kata warna yang kedua)  Makna figuratifnya ‘cakcak bodas’ mata-mata/atau orang yang tidak dapat dipercaya (makna negative) ‘tanda bodas’ tanda putih mempunyai makna tanda pada laki-laki biasanya susah mendapatkan keturunan (makna negative) ‘clik putih clak herang ‘ (peribahasa) bermakana tulus dan ikhlas (makna positif) ‘getih bodas’ darah putih selain bermakna denotative juga mempunyai makna figurative yaitu kesucian hati

  1. Hitam ‘hideung’

Dalam kamus basa sunda hideung berarti warna areng,poek, harangasu, gradasi warna dari hitam (sangat hitam) sebagi berikut; hideung lestreng, hideung cakeutreuk, hideung lagedu. ‘hideung santen’ hitam seperti santan kelapa’ ‘ makna figurative ‘kudu puguh bule hideungna’ (peribahasa) berarti harus jelas masalahnya, getih hideung ‘ darah hitam selain makna denotative juga ’ mempunyai makna figurative yaitu keberanian yang tidak memperdulikan apapun

  1. Merah ‘beureum’

Dalam kamus ‘beureum’ berarti warna getih, bagian kain dari bendera Indonesia gradasi warna merah (sangat merah)  sebagai berikut beureum obroy, dan beureum ati beureum euceuy.makna ‘beureum paneureuy’ (ungkapan) berarti susah mencari nafkah (makna negative) budak beureum (ungkapan) tidak tahu apa-apa, kulit beureum (bangsa Indian) hama beureum (hama padi), beureum beungeut (ungkapan) berarti marah

  1. Hijau ‘hejo’

Dalam kamus bahasa sunda hejo berarti umumnya warna daun gradasi warna hijau dari hijau (sangat hijau) sebagai berikut ‘hejo ngagedod, hejo daun,hejo botol, hejo pucuk cau, ‘hejo carulang’ hijau urat dalam kulit tangan yang putih biasanya wanita yang cantik kulitnya ‘hejo carulang’ . makna hejo lembok leubeut daun (peribahasa) berarti daerah yang makmur, ‘ngahejokeun’ selain bermakna denotasi membuat jadi hijau juga berarti meminjamkan uang dibayar dengan hasil panen, biasanya meminjamkan uang pada saat tanaman baru ditanam. ‘hejo lalakon panjang carita (peribahasa) bermakna panjang umur atau banyak pengalaman

  1. Kuning ‘koneng’

Dalam kamus ‘koneng’ berarti warna yang mirip cahaya lembayung. Gradasi warna dari kuning (sangat kuning) sebagi berikut koneng obyar, koneng enay,koneng santen,koneng umyang, makna figurative ‘seuri koneng ‘ (ungkapan) tersenyum penuh arti, kulit koneng (sebutan untuk orang jepang),kasakit koneng (penyakit hepatitis).

  1. B. Gradasi warna

Untuk menggambarkan gradasi  warna kata warna (KW) dapat digabungkan dengan posposisi, preposisi atau modalitas, diantara sebagi berikut ;

-          ‘kolot’ tua, (beureum kolot, merah tua)

-          ‘ngora, muda (‘hejo ngora’ hijau muda )  kecuali untuk hitam tidak ada * hideung ngora , hitam muda’

-          Saulas ‘agak’ (‘beureum saulas’ agak merah)

-          ‘Pisan’ sangat (hideung pisan ‘sangat hitam)

-          ‘Naker’ sangat (‘bodas naker’ sangat putih)

-          ‘Rada ‘ agak (‘rada hejo’ agak hijau)

-          ‘Kudu’ harus (‘kudu koneng’ harus kuning)

-          ‘Henteu’ tidak (‘henteu hideung’ tidak hitam

-          ‘Rada leuwih’ agak lebih ( ‘rada leuwih bodas’ agak lebih putih)

Menurut sumber penelitian yang ada (dalam jurnal)   gradasi warna digambarkan sebagi berikut: Warna kayas atau merah ros atau merah muda, gandaria atau violet muda atau ungu muda, warna paul atau biru dan warna hejo paul atau kebiruan lebih sering disebut-sebut dalam kawih atau pantun. Hal itu menandakan kesukaan masyarakat Sunda akan nada – nada warna itu ( nuansa lembut, sari atau semu-semu). Apabila disusun dalam satu palet warna, maka terdapat dua warna dasar yang mendukung terciptanya nada warna itu. Kedua warna dasar itu ialah biru yang ultramarine dicampur dengan merah yang karmen, tetapi dilengkapi satu sumbu yaitu ke arah putih, sehinga terjadilah warna : kayas dan gandaria dengan warna ungu ditepinya yang biasa disebut gandola, terjadilah susunan nada warna yang  sebagai berikut  :

Kayas
Kasumba
Gandaria
Gandola
Paul

Nada warna kayas tergolong yang paling muda dan lembut, sedangkan warna paul tergolong nada warna yang tua dan berat.

Susunan Warna Kasundaan
1) Nada warna ke arah merah atau kemerahan dan kuning :
Beureum
beureum cabe
beureum ati
kasumba
kayas
gedang asak
gading
koneng
koneng enay

2) Nada warna ke arah biru atau kebiruan dan hijau :
hejo
hejo lukut
hejo ngagedod
hejo paul
gandaria
gandola
bulao saheab
pulas haseup
bulao

3) Nada warna yang tidak termasuk ke dalam dua kelompok terdahulu :
bodas
hideung
borontok
coklat kopi atau pulas kopi, kopi tutung
candra mawat
bulu hiris
bulu oa : dawuk, hawuk, kulawu, pulas  lebu
(oa adalah sebangsa primata/ monyet berbulu warna abu-abu

  1. III. SIMPULAN

Warna dasar dalam bahasa sunda terdiri dari 10 warna dasar yaitu;  Bodas’ putih ‘Hideung’ hitam  ‘Beureum’ merah ‘Hejo’  hijau ‘Koneng’  kuning ‘Gandola ‘ungu’ ‘Kayas ’ merah muda’ ‘Kulawu’ abu-abu , ‘coklat’ coklat dan ‘biru’ biru.   dengan 19 istilah khusus warna , salah satu yang memperlihatkan gradasi warna ditandai dengan postposisi, preposisi dan modalitas

  1. IV. Diskusi

Penelitian tentang warna ini lebih ke tataran tipologi bahasa dengan mendeskripsikan karakteristik sistem warna, penelitian warna dalam tataran bahasa baik dalam bahasa indonesia maupun bahasa-bahasa daerah di indonesia masih sangat jarang dilakukan.

Penentuan warna dasar hanya berdasarkan kriteria yang sangat terbatas dengan melihat hanya satu teori yang ada, penjelasan mengenai warna dasar hanya terdiri dari lima warna yaitu putih, hitam, merah,hijau dan kuning. Itupun dengan data yang tidak optimal, gradasi warna seharusnya dilengkapi dengan penjelasan gambar atau dengan tabel dari warna cerah ke warna gelap. Susunan warna kasundaan diambil dari sebuah artikel sehingga perlu untuk penelitian lebih lanjut seperti penjelasan pada penentuan warna dasar (basic color term) ,

Karakteristik secara tipologis lebih terlihat jika ada pembanding bahasa lain misalnya dibandingkan dengan bahasa inggris yang tentu saja penelitian bidang ini telah banyak dilakukan. Tulisan ini jauh dari sempurna dan memerlukan pengoptimalan data serta teori yang lebih memadai untuk sebuah tulisan ilmiah.

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: P.T.Rineka Cipta.

C.P. Biggam C.J. Kay .1984 Progress in Colour Studies Volume I. Language and

Culture University of Glasgow

Gorys Keraf (1984). Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia.

Kridalaksana, Harimurti.1988. Beberapa Prinsip Perpaduan Leksem dalam Bahasa   Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.

Kridalaksana, Harimurti.1996. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indo-nesia.Jakarta: Gramedia.

R.A. Danadibrata ,2006 Kamus Basa Sunda. Bandung: Kiblat Utama

Samsuri. 1982. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga.

Verhaar, J.W.M. 1977. Linguistik Umum. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Verhaar, J.W.M. 1996. Azas-azas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

http://www.icsi.berkeley.edu/~kay/color.terms.lx.of.ps.

http://www.lotpublications.nl/publish/articles/003021/bookpart.pdf

http://www.ling.ed.ac.uk/~mdowman

http://fleteliercolortheory.blogspot.com/2008/01/symbolic-color-connotations.html

http://www.brigantine.atlnet.org/GigapaletteGALLERY/websites/ARTiculationFinal/MainPages/RhythmMovementMain.htm


Bahasa dan Penyebaran Agama Islam di Masyarakat Sunda
Oleh: Tubagus Hidayat

”Far from being a field reserved for analysis by specialists, languages lie at the heart of all social, economic and cultural life. That is the meaning of the slogan launched by UNESCO for the International Year of Languages: Languages matter!” ucap Dirjen UNESCO Koïchiro Matsuura dalam pesan khusus untuk International Mother Language Day 2008.
Sejak tahun 2000, PBB menetapkan tanggal 21 Februari sebagai International Mother Language Day atau Hari Bahasa Ibu Internasional. Penentuan itu dimaksudkan untuk mempromosikan penghargaan dan penggunaan bahasa-bahasa ibu, terutama yang tergolong bahasa-bahasa minoritas. Dalam selebrasi ke-9 tahun 2008 bahkan dicanangkan sebagai International Year of Languages atau Tahun Internasional Bahasa-bahasa dengan slogan Languages matter.
Ada tiga isu aktual yaitu kepunahan bahasa-bahasa, penyelamatan bahasa-bahasa, dan pemanfaatan bahasa-bahasa untuk mengatasi aneka masalah global.
Apapun agamanya dalam hal pemahaman dan keyakinan bukan urusan akal semata tetapi juga berkaitan dengan perasaan sehingga peranan bahasa Ibu dalam urusan agama, merupakan hal yang menarik untuk dicermati. Karena ketika berurusan dengan agama dan keyakinan bahasa ibu akan lebih mengena ke dalam relung hati, sangat menarik untuk mencermati bahasa ibu Baik dalam proses awal yaitu mengenal agama maupun dalam pemahaman dan pelaksanaannya, mungkin ada benarnya bahwa salah satu penyebab banyaknya persoalan-persoalan dan perselisihan-perselisihan seagama atau antar agama lebih karena soal pemahaman, yang sebenarnya berujung di permasalahan bahasa . Bukankah setiap agama mengajarkan kebaikan dan menjauhi kerusakan kepada pemeluk-pemeluknya. Dalam tataran teknis ada hal yang menarik lagi, tulisan-tulisan yang bercorak agama kadang dicurigai dan tidak laku dalam media massa yang oplahnya sudah “mengindonesia” lagi-lagi soal pemahaman, apakah ini juga karena persoalan bahasa? Jawabnya pun akan bermacam-macam lengkap dengan uraian-uraian argumentatif dan lebih banyak subjektif tentunya.
Seorang teman pernah memberikan pernyataan yang cukup membuat saya semakin
respect kepada bahasa Ibu, bahwa orang sunda inferior (rendah diri, kurang cerdas, tidak bermutu, miskin pemikiran) ketika dihadapkan pada pemakaian bahasa sunda dalam pergaulannya sehari-hari. Prestise, tidak mau disebut kampungan, gengsi yang dominan, takut dikatakan kedaerahan, promodialisme, tidak nasionalis dll.
Pernyataan itu muncul ketika pembicaraan kami seputar bahasa sunda yang sudah jarang dipakai di masyarakat, lingkungan keluarga pun mengajarkan anaknya berbahasa indonesia (dialek betawi) padahal jelas-jelas ibu bapaknya sunda asli, pelajar dan mahasiswa tak jauh berbeda mereka lebih ‘berbetawi’ lagi , begitu pula dakwah-dakwah yang sudah tidak lagi menggunakan bahasa sunda, Khattib dan Da’I pun ternyata inferior seperti yang dikatakan teman saya. Ada benarnya tetapi itu cukup sulit dibuktikan dengan data empiris, mungkin itu yang akan dikatakan para pengusung dan ‘guardian’ bahasa sunda yang tidak akan rela dengan pernyataan teman saya tadi. Atau jangan-jangan memang benar masyarakat sunda demikian, bahasa sunda bagi masyarakat sunda sudah dianggap tidak mampu lagi merepresentasikan ilmu dan kehidupannya didalam lingkungan pergaulan sehari-hari, atau memang gejala seperti ini ada di setiap bahasa minoritas. Bahasa indonesia itu termasuk bahasa mayoritas dan legitimasi sebagai bahasa nasional sudah mengakar, tetapi penutur nya banyak yang lebih merasa nyaman mencapuradukannya dengan istilah-istilah bahasa daerah atau bahasa inggris apalagi dalam bahasa-bahasa keilmuan. Pekerjaan dan tantangan kedepan untuk para ‘guardian’ bahasa indonesia sebagai bahasa nasional.
Seperti yang dikatakan Ajip Rosidi untuk menunjukkan rasa kebangsaan tidak selamanya harus berbahasa Indonesia. Surat kabar berbahasa Sunda “Sipatahoenan” pada waktu sebelum perang pun digolongkan sebagai surat kabar nasional sebab isinya memperlihatkan rasa kebangsaan. Terangnya, untuk jadi orang Indonesia tidak perlu berhenti jadi orang Sunda, kilah Ajip.
Tulisan ini lebih banyak menyampaikan tulisan-tulisan yang berhubungan dengan masyarakat sunda dan islam, selain untuk mengetahui sejarah proses penyebaran agama islam di masyarakat sunda juga melihat pelaku-pelaku proses tersebut dengan latar budaya dan bahasanya.
Islam mulai masuk ke dalam kehidupan masyarakat Sunda pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi. Berdasarkan berbagai data banding, antara lain berupa naskah Carita Parahyangan, baik yang “asli” (1580) maupun yang kemudian disusun kembali oleh Pangeran Wangsakerta (1693), dan naskah-naskah karya “Panitia Wangsakerta” pada umumnya (1677-1698), besar sekali kemungkinan bahwa tokoh Prabu Siliwangi itu adalah Prabu Siskala Wastukancana, anak Prabu Maharaja, yang berkuasa cukup lama (1371-1475) (Ayatrohaedi 1986).
Pada masa itulah mulai tumbuh pemukiman orang Islam di Cirebon, kemudian di berbagai daerah sepanjang pesisir utara Jawa Barat, sementara penguasa negara Sunda masih tetap memeluk agama yang lama (Hindu-Budha). Kesaksian mengenai hal ini antara lain ditemukan dalam laporan perjalanan Tome Pires, yang pada awal abad ke-16 turut dalam pelayaran mengelilingi dunia. Tome Pires mengatakan bahwa kerajaan Sunda mempunyai enam buah bandar; bandarnya yang paling timur, Cimanuk, dikuasai oleh orang-orang Islam. Pada saat itu (+ 1513) Cirebon dikatakan tidak termasuk lagi sebagai daerah kerajaan Sunda, tetapi sudah berdiri sendiri, dan di situ kekuasaan Islam sudah sepenuhnya tegak (Cortesao 1944).
Sejak itu, terlebih-lebih setelah Sunan Gunung Djati menguasai Banten (1525) dan Sunda Kelapa (1527), boleh dikatakan masyarakat di sepanjang pesisir utara Jawa Barat “menjelma” menjadi masyarakat Islam. Dalam pada itu, masyarakat pedalaman sedemikian jauh masih tetap mempertahankan tradisi dan kepercayaan mereka yang lama. Sejumlah naskah yang kemudian dikenal sebagai “naskah-naskah Ciburuy”, misalnya, merupakan salah satu petunjuk akan masih kuatnya tradisi sebelum Islam itu. Padahal, banyak di antara naskah itu yang berasal dari abad ke-18 akhir. Naskah-naskah itu di antaranya ialah naskah Sewakadarma (Ayatrohaedi 1988), Carita Ratu Pakuan (Aca 1970), Kawih Peningkes dan Jatiniskala (Ayatrohaedi dkk. 1987).
Namun, karena pusat-pusat kebudayaan Sunda sudah sepenuhnya bercorak Islam, khazanah lama yang tersimpan di kabuyutan-kabuyutan terpencil itu tidak lagi sempat menyebar. Tradisi lama hanya bertahan di pencilan-pencilan itu, dan dalam percaturan kebudayaan kemudian menjadi pusat-pusat pertahanan budaya lama yang kian terdesak. Demikianlah, akhirnya mulai abad ke-19, jika orang berbicara tentang masyarakat Sunda, maka salah satu ciri khasnya adalah Islam.
Sementara itu, di Karawang terdapat sebuah pesantren di bawah pimpinan Syekh Hasanuddin yang dikenal dengan sebutan Syekh Quro sebagai penyebar dan guru agama Islam pertama di daerah Karawang pada abad ke-15 sekira tahun 1416 sezaman dengan kedatangan Syekh Datuk Kahpi yang bermukim di Pasambangan, bukit Amparan Jati dekat Pelabuhan Muarajati, kurang lebih lima kilometer sebelah utara Kota Cirebon. Keduanya lalu menjadi guru agama Islam dan mendirikan pesantren masing-masing. Pesantren di Muara Jati semakin berkembang ketika datangnya Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dari Mesir. Ia masih keturunan Prabu Siliwangi bermukim di Cirebon sejak tahun 1470 dan mulai menyebarkan syiar Islam ke seluruh wilayah tatar Sunda mulai dari Cirebon, Kuningan, Majalengka, Ciamis, Bogor, hingga Banten. Atas perjuangannya, penganut kepercayaan animisme, dinamisme, agama Hindu, dan Budha beralih menjadi Muslim, sedangkan penganut ajaran Sunda Wiwitan merupakan agama asli orang Sunda tersisihkan ke pedalaman Baduy.
Edi S Ekadjati dalam sebuah sebuah tulisannya menguraikan bahwa ada 4 tahap dalam perkembangan islam di masyarakat sunda atau islamisasi di masyarakat sunda;
1.Tahap memperkenalkan agama Islam kepada orang-orang yang belum menganut agama Islam (non muslim)
2.Tahap memberikan pelajaran tentang ajaran Islam dan memperkuat eksistensi umat Islam.
3.Tahap memperdalam ilmu agama Islam dan menerapkan konsep Islam dalam kehidupan masyarakat, serta menantang penguasa non muslim.
4.Tahap memperbaharui pemikiran dan kehidupan Islam di dalam masyarakat
Islamisasi berasal dari kata Islamization yang berarti pengIslaman, upaya agar seseorang menjadi penganut agama Islam (muslim). Jelas, di dalam kata-kata Islamisasi dan pengIslaman itu terkandung makna kata kerja (kegiatan atau proses), dinamis, aktif; bukan kata benda, kemandegan dan fasif. Upaya dimaksud berwujud seorang muslim menyampaikan ajaran agama Islam kepada orang lain. Upaya tersebut dapat dilakukan secara individual dan dapat pula dilakukan secara massal. Hasil kegiatan itu dapat berwujud secara kuantitas (berupa jumlah orang yang menganut agama Islam) dan dapat pula berwujud secara kualitas (berupa tingkat keIslaman seorang muslim, baik yang menyangkut tingkat keimanan, tingkat penguasan ilmu agama, maupun tingkat pengamalannya).
Karena itu, Islamisasi bukanlah suatu peristiwa, melainkan suatu proses. Proses tersebut dapat dijabarkan berupa rangkaian peristiwa yang dapat diklasifikasikan secara vertikal dan juga secara horisontal. Pelaku Islamisasi adalah muslim, sedangkan sasarannya adalah non muslim sebagai sasaran utama yang hasilnya menyangkut soal kuantitas dan juga muslim yang hasilnya menyangkut soal kualitas.
Ketika proses penyebaran islam oleh wali sembilan (wali songo) yang banyak menggunakan pendekatan budaya dalam dakwahnya, salah satu contohnya dikenalkannya Islam melalui kesenian wayang. Fakta lain, Salah satu upacara sekaligus sebagai media dakwah Islam dalam komunitas Sunda yang seringkali digelar adalah pembacaan wawacan dalam upacara-upacara tertentu seperti tujuh bulanan, marhabaan, kelahiran, dan cukuran. Seringnya dakwah Islam disampaikan melalui wawacan ini melahirkan banyak naskah yang berisi tentang kisah-kisah kenabian, seperti Wawacan Carios Para Nabi, Wawacan Sajarah Ambiya, Wawacan Babar Nabi, dan Wawacan Nabi Paras yang ditulis dengan huruf Arab, berbahasa Sunda dalam bentuk langgam pupuh, seperti Pupuh Asmarandana, Sinom, Kinanti, Dangdanggula, dan Pangkur. Untuk mengikat pendengar yang hadir, si pembaca naskah menguncinya dengan membaca sebuah kalimat: Sing saha jalma anu maca atawa ngadengekeun ieu wawacan nepi ka tamat bakal dihampura dosa opat puluh taun (siapa saja yang mendengarkan wawacan ini sampai tamat akan diampuni dosanya empat puluh tahun). Dengan khidmat, si pendengar menikmati lantunan juru pantun yang berkisah tentang ajaran Islam ini dari selepas isya hingga menjelang subuh.
Sejak agama Islam berkembang di Tatar Sunda, pesantren, paguron, dan padepokan yang merupakan tempat pendidikan orang-orang Hindu, diadopsi menjadi lembaga pendidikan Islam dengan tetap menggunakan nama pasantren (pasantrian) tempat para santri menimba ilmu agama. Pesantren ini biasanya dipimpin seorang ulama yang diberi gelar “kiai”. Gelar kiai ini semula digunakan untuk benda-benda keramat dan bertuah, tetapi dalam adaptasi Islam dan budaya Sunda, gelar ini melekat dalam diri para ulama sampai sekarang. Di pesantren ini jugalah huruf dan bahasa Arab mendapat tempat penyebaran yang semakin luas di kalangan masyarakat Sunda dan menggantikan posisi huruf Jawa dan Sunda yang telah lama digunakan sebelum abad ke-17 Masehi.. perjumpaan Islam dengan budaya Sunda telah melahirkan beberapa hal sebagai berikut:
Pertama, pertumbuhan kehidupan masyarakat Islam dengan adat, tradisi, budaya yang mengadaptasi unsur tradisi lama dengan ajaran Islam melalui pola budaya yang kompleks dan beragam telah melahirkan pemikiran, adat-istiadat, dan upacara ritual yang harmoni antara Islam dan budaya Sunda.
Kedua, berkembangnya arsitektur baik sakral maupun profan, misalnya masjid (bale nyungcung), keraton, dan alun-alun telah mengadaptasi rancang bangun dan ornamen lokal termasuk pra Islam ke dalam rancang bangun arsitektur Islam.
Ketiga, berkembangnya seni lukis kaca dan seni pahat yang menghasilkan karya-karya kaligrafi Islam yang khas, kesenian genjring dan rebana yang berasal dari budaya Arab, dan berbagai pertunjukkan tradisional bernapaskan Islam dengan mudah merasuki kesenian orang Sunda yang seringkali muncul dalam pentas seni dan pesta-pesta perkawinan.
Keempat, pertumbuhan penulisan naskah-naskah keagamaan dan pemikiran keislaman di pesantren-pesantren telah melahirkan karya-karya sastra dalam bentuk wawacan, serat suluk, dan barzanji yang sebagian naskahnya tersimpan di keraton-keraton Cirebon, museum, dan di kalangan masyarakat Sunda, dan
Kelima, berbagai upacara ritual dan tradisi daur hidup seperti upacara tujuh bulanan, upacara kelahiran, kematian, hingga perkawinan yang semula berasal dari tradisi lama diwarnai budaya Islam dengan pembacaan barzanji, marhabaan, salawat, dan tahlil.

Berdasarkan uraian-uraian diatas, maka dapat dilihat pula proses percampuran budaya yaitu ; orang-orang Cirebon, Jawa, arab, india melayu , banten dan masyarakat sunda sendiri .Begitu pula dengan bahasa tentunya mengalami proses-proses percampuran dan saling mempengaruhi, misalnya saja banyak kata dalam bahasa sunda yang merupakan pengaruh arab ; abdi-abd, adab-adab, pitnah-fitnah ,ihtiar-ikhtiyar ,iklas-ikhlas (dalam buku ‘peperenian bahasa Sunda penulis mencatat ada sekitar 229 kata bahasa sunda yang berasal dari bahasa arab). Kata yang berasal dari bahasa Jawa misalnya; asu, bayu, geni, kirik,owah ,wiji, winarah, wulan, lambe, buri, celeng dll.
Dalam empat tahap yang dikemukakan Edi S Ekadjati ; tahap memperkenalkan Islam, tahap memberikan pelajaran tentang ajaran Islam dan memperkuat eksistensi umat Islam, tahap memperdalam ilmu agama Islam dan menerapkan konsep Islam dalam kehidupan masyarakat, serta menantang penguasa non muslim serta memperbaharui pemikiran dan kehidupan Islam di dalam masyarakat. Kata kunci yang ada adalah memperkenalkan, memberikan pelajaran, memperdalam konsep dan eksistensi, menantang penguasa, memperbaharui pemikiran.
Jika kita mencermati bahasa-bahasa yang saat itu digunakan atau yang pada saat ini digunakan dalam proses-proses tersebut, tidakkah ini menarik untuk dikaji secara keilmuan , apalagi dengan kajian interdisipliner. Dampak penelitiannya pun sangat membantu dalam menentukan langkah kedepan yang lebih terarah dan taktis dalam berdakwah.
Islam menjadi agama mayoritas di masyarakat sunda merupakan hasil usaha, proses panjang dan pengorbanan para leluhurnya, dalam konteks kekinian apa yang telah dilakukan generasi sekarang yang menjadi pengusung sekaligus generasi agama rahmatan lil alamin, langkah-langkah apa saja yang akan dilakukan generasi sekarang untuk melanjutkan proses tersebut.
Mudah-mudahan kita tidak inferior memaknai dan melaksanakannya.

(dari berbagai sumber)


MASYARAKAT ANEKA BAHASA (SOCIETAL MULTILINGUALISM) Oleh Tubagus Hidayat

 Banyak negara mempunyai beberapa pilihan untuk menggunakan bahasa. Negara-negara yang mempunyai beberapa variasi bahasa menyebabkan masyarakatnya menjadi bilingualisme atau multilingualisme. Beberapa Negara di Asia dan Afrika seperti Nigeria, Tanzania, India, Indonesia dan Filipina mempunyai beberapa bahasa yang digunakan masyarakatnya. Banyaknya bahasa ternyata menimbulkan masalah yang lebih kompleks dari pada Negara-negara yang hanya mempunyai satu bahasa saja. Di India misalnya mempunyai 14 bahasa dan setiap bahasa mempunyai jumlah penutur lebih dari dua juta orang. Di Filipina mempunyai enam bahasa daerah dan di Nigeria mempunyai tiga bahasa. Menurut catatan Lewis (1972) di Kanada terdapat bahasa Inggris, Spanyol, Indian, dan Eskimo yang sama-sama digunakan dan masih terpelihara dengan baik. Di Amerika Serikat ternyata juga mempunyai banyak bahasa, di sana terdapat populasi Puerto Rico, dan Kuba yang menggunakan bahasa Spanyol. Pemikiran Joshua Fishman (1968b, 1972c) Nationality adalah sekelompok orang yang merasa suatu satuan sosial (social unit) yang berbeda dari kelompok lain, tetapi tidak didasarkan pada ukuran lokal (wilayah), nasionalitas harus dibedakan dari kelompok etnik yaitu organisasi sosiokultural yang ’lebih sederhana, lebih kecil, lebih khas, lebih lokalistik’ dalam sosiolinguistik bukan dianggap dua hal yang sangat berbeda dan terpisah, tetapi dalam satu rentang garis, dengan demikian satu kelompok bisa cenderung keetnikan atau ke arah nasionalitas. Nation adalah suatu satuan politik teritorial yang sebagian besar menjadi atau makin menjadi dibawah kontrol /kendali nasionalitas tertentu. Suatu nation itu bisa berbeda dengan apa yang disebut state (negara;negara bagian), satuan politik atau country (negara). Nationalism dibangun dari dan mendukung nationalities dan nationalism. Bahasa menjadi permasalahan bangsa secara umum baik dalam administrasi maupun pendidikan. Bahasa bersama dengan kebudayaan, agama, dan sejarah menjadi komponen besar nationalism. Penggunaan bahasa untuk kepentingan pemerintahan harus diseleksi untuk menunjukkan jati diri bangsa. Pemilihan suatu bahasa untuk dijadikan bahasa nasional tentunya harus dilakukan dengan tepat dah bukanlah pekerjaam yang mudah. Pendidikan membutuhkan bahasa untuk menstransfer ilmu pengetahuan secara efektif kepada siswa. Penggunaan bahasa di dalam pemerintahan sangat menonjol. Bahasa mempunyai kekuatan besar untuk membuat suatu bangsa menjadi maju. Bahasa bukan hanya sebagi motor dari sejarah tetapi bahasa adalah bagian dari sejarah itu sendiri. Sejauh keaslian bahasa dapat ditunjukkan, ini mempunyai keuntungan besar di dalam suatu bangsa. Fisman mengungkapkan bahwa ’bahasa ibu adalah jiwa dari dirinya sendiri dan inti dari bangsa. Bahasa memerankan peran penting di dalam nationalism atau disebut ’contrastive self-identification’ Garvin dan Mathiot (1956) menyebutnya ’unifying and separatist function’ artinya anggota nationalism mempunyai kesatuan dan identitas dengan orang yang mempunyai bahasa yang sama. Bahasa dapat membuat suatu negara itu terpecah atau bersatu. Orang yang monolingual akan sulit untuk berbicara dengan masyarakat yang mempunyai bahasa berbeda tetapi seseorang yang bilingual mempunyai pemahaman yang bagus terhadap bahasa keduannya dan tetap mempunyai identitas pada bahasa pertama. Nationalism secara sadar membuat dirinya lebih modern, asli, dan mempunyai kesatuan bahasa yaitu bahasa standar. Padahal dahulunya hanya wilayah dan sosial yang bervariasi. Masalah nationalism: masyarakat yang multilingual mempunyai masalah yang lebih banyak dari pada masyarakat yang monolingual. Kesulitan berkomunikasi di dalam masyarakat pada suatu negara akan menjadi hambatan dalam perdagangan, industri, dan adanya gangguan sosial. Tetapi lebih serius, multilingualisme bekerja menolak nationalism. Masyarakat yang monolingual lebih mudah membangun nation dari pada masyarakat multilingual. Masyarakat multilingual mempunyai beberapa cara untuk membangun nationalism. Dalam sejarah banyak bangsa memilih bahasa untuk menjadi bahasa nasional dengan cara mempromosikan bahasa tersebut kepada orang yang bukan berbahasa asli bahasa tersebut. Masalah nationism: ini sering terjadi pada negara yang baru merdeka yaitu negara tersebut masih menggunakan bahasa negara penjajah. Bahasa negara penjajah sudah menjadi bahasa utama dan mempunyai penyebaran yang luas sehingga tidak dapat dipisahkan di dalam kehidupan masyarakat, sosial, perdagangan, dan administrasi negara. Contohnya di Irlandia mengambil dua bahasa untuk dijadikan bahasa negara yaitu Inggris dan bahasa Irlandia sebagai solusi. India juga mempunyai masalah yang sama dan mengambil bahasa Hindi untuk bahasa negara dan bahasa Inggris sebagai bahasa keduanya. Ternyata bahasa Hindi tidak bisa menggantikan bahasa Inggris dai dalam berbagai bidang. Di bidang pendidikan seharusnya pendidikan dasar diberikan pelajaran bahasa daerahnya masing-masing karena ini merupakan identitas dari siswa tersebut. Tetapi ini menyebabkan tidak nationalism. Dampak yang dapat diukur di dalam masyarakat multilingual Apakah benar masyarakat multilingual mempunyai masalah sedangkan masyarakat monolingual tidak? Ini mungkin terjadi, untuk menunjukkan bahwa negara yang mempunyai multilingual lebih dirugikan dari pada masyarakat monolingual. Fishman (1972) dan Pool (1972) membuat ukuran bahwa terdapat hubungan antara masyarakat multilingual atau masyarakat monolingual dengan tingkat kesejahteraan. Pool mengukur hal ini dengan cara mengukur pendapatan per kapita. Pendapatan per kapita adalah jumlah pendapatan seluruh negara dibagi dengan jumlah penduduk per tahun. Untuk mengukur hubungan tersebut Pool menggunakan ukuran komunitas terbesar bahasa ibu di dalam suatu negara berhubungan dengan total populasi. Sesaat dapat dilihat bahwa multilingualisme berhubungan dengan pekerjaan. Dapat diperkirakan bahwa kelompok masyarakat yang mempunyai jangkauan bahasa yang luas hanya 25 per sen dari populasi suatu negara. Artinya 75 per sen dari populasi adalah nenggunakan bahasa-bahasa yang berbeda. Jika kelompok besar terdiri dari 90 per sen dari populasi, tinggal 10 per sen dari semua itu menggunakan bahasa kelompok. Setelah dilakukan penelitian dengan cermat maka dapat diperoleh grafiks seperti berikut ini: Dapat disimpulkan bahwa: 1. Masyarakat yang tidak mempunyai kesatuan bahasa tetap menjadi terbelakang. 2. Masyarakat yang mempunyai kesamaan bahasa ternyata terdapat di negara kaya maupun miskin. 3. Negara-negara yang mempunyai bahasa heterogenesis yang tinggi ternyata terbelakang atau semi terbelakang. 4. Negara yang ingin berkembang maka harus mempertimbangkan membuat bahasa persatuan. Di bawa ini adalah grafiks pendapatan perkapita dengan sebaran penggunaan bahasa asli. Fishman merekam bahwa keanekaragaman bahasa secara ekonomi sangat membangun. Tingkat multilingualisme yang tinggi mencegah pembangunan ekonomi. Ini sama dengan untuk membangun ekonomi yang baik maka harus mengurangi perbedaan bahasa. Kesatuan dan ekonomi sama baiknya, keduannya saling memperkuat. Membuka kemungkinan bahwa negara yang mempunyai tingkat multilingualisme tinggi juga mengalami keterbelakangan ekonomi. Multilingualisme sosial sebagai sumberdaya Multilingualisme ternyata tidak hanya mendatangkan masalah. Jika dilihat dari segi yang berbeda multilingualisme dapat menjadi sumberdaya. 1. Setidaknya dapat menjadi solusi bangsa-negara di dalam kebijakan bahasa untuk meredam konflik. Penggunaan bahasa penjajah untuk alasan bangsa dan bahasa nasional untuk alasan rasa nasionalis. 2. Di bidang pendidikan masalah penggunaan bahasa daerah kadang-kadang bergesekan dengan penggunaan bahasa nasional. Bahasa daerah digunakan untuk menjaga identitas, sedangkan bahasa nasional digunakan untuk efektifitas. Solusinya yaitu menggunakan bedua bahasa tersebut demi memajukan pendidikan. 3. Multilingualisme dapat menjadi solusi di dalam konflik hubungan individu, hubungan sosial, masyarakat yang multilingualisme memberi kontribusi menjadi masyarakat yang dinamis. 4. Masyarakat yang mempunyai banyak etnik cenderung menggunakan multilingualisme. 5. Idealnya negara yang mempunyi banya etnik yang menggunakan adat dan bahasanya masing-masing tetap mempertimbangkan penggunaan bahasa nasional. Kebijakan dalam bidang bahasa dapat mengatur penggunaan bahasa daerah dan bahasa nasional. Kebijakan yang diambil di setiap negara berbeda-beda namun hasilnya sama yaitu sebagai bagian dari solusi. Contoh yang tidak begitu dipedulikan yang diteliti oleh Abdulaziz Mkilifi (1978) yaitu tentang penggunaan dua bahasa Swahili-Inggris di pasangan menikah di Tanzania. Sang suami menggunakan bahasa Swahili sedangkan istrinya menggunakan bahasa Inggris. Bagi suami bahasa Swahili adalah simbol daerahnya sedangkan bagi istri bahasa Inggris adalah untuk menggabungkan hubungan daerah. Kenyataannya banyak masalah di dalam hubungan suami-istri tersebut. Penelitian Soutwoth (1977:224 di dalam Apte 1976:927) bahwa bilingualisme membangun bahasa menjadi berbeda-beda (hetero). Bagaimana membangun bangsa yang multilingual? Terdapat empat cara penyebab multilingualisme: 1. Migrasi Ada dua tipe migrasi yaitu perpindahan kolompok yang luas ke suatu daerah yang tetap membawa pengaruh sosial-kulturnya dan dapat berasimilasi dengan masyarakat setempat. Contohnya Catalonians di Spanyol, Brentons di Prancis dan Amerika. Yang kedua adalah perpindahan kelompok kecil ke suatu daerah dan membawa kultur dan bahasa aslinya kemudian menjadi anggota di daerah yang ditempatinya. Contohnya imigran dari China, Korea, Kua, dan Haiti di Amerika. Catatan Lieberso (1975) kelompok imigran akan mengalami asimilasi bahasa di mana kelompok yang dominan akan memainkan peranan penting terutama bahasa. Contohnya Chicanos, Acadian Prancis, dan beberapa kelompok penduduk asli Amerika. 2. Penjajahan Penjajah dapat mengontrol wilayah yang luas dan menggunakan bahasa jajahannya. Penjajahan termasuk pencaplokan wilayah seperti yang terjadi di Latvia dan Estonia oleh Uni Soviet juga dapat menyebabkan multilingualisme. Lewis (1972:330) melaporkan bahwa 26 per sen dan 20 per sen dari populasi masing-masing adalah orang Rusia pada tahun 1959. Di Lithuania hanya 8 per sen dari populasi adalah orang Rusia. Negara penjajah seperti Inggris, Prancis, Spanyol, Portugis, dan Belanda dijadikan contoh oleh negara-negara bekas jajahannya seperti di Afrika, Asia, Amerika Selatan, dan sebagian besar negara-negara yang baru merdeka. Di bidang ekonomi bahasa asing membuat trobosan penting pada suatu negara karena dapat membawa keuntungan di bidang ekonomi. Negara dapat mengontrol keadaan politik dan menjaga persatuan serta dapat berhubungan baik dengan luar negeri. Contohnya di Thailand negara ini tidak pernah dijajah oleh negara lain sehingga banyak masyarakatnya yang tidak bisa berbahasa Inggris (Aksornkool 1980). Penjajahan dapat memperkenalkan suatu bahasa ke pada masyarakat jajahannya. Akhirnya bahasa negara penjajah ini menjadi penting dan digunakan di bidang pendidikan, ekonomi, dan pemerintahan. Bahasa penjajah juga sangat penting untuk hubungan internasional, perdagangan, politik dan diplomasi. Penjajahan ternyata dapat mempengaruhi multilingualisme. 3. Federasi Federasi dapat menyatukan etnik yang berbeda di bawah satu kontrol politik. Contohnya Switzerland yang dulunya bernama Cantons mempunyai empat bahasa yaitu Jerman, Prancis, Italia, dan Roman. Contoh lainnya yaitu Belgia, belgia mempunyai dua bahasa yang sangat besar penggunaannya. Pertama bahasa bahasa Prancis Walloons di bagian selatan dan dan bahasa Flemish di bagian utara. Ketika Belgia merdeka di tahun 1830 Flemish menjadi bahasa nasional. Belgia adalah salah satu contoh federasi tanpa paksaan. Contoh lain yaitu Kamerun yang pernah menjadi federasi Prancis dan Inggris sehingga kedua bahasa dari kedua bangsa tersebut mempengaruhi multilingualisme Kamerun. Negara ini menjadi federasi dengan cara paksaan. Biasanya negara federasi dengan paksaan akan berusaha memisahkan diri contohnya Biafra dari Nigeria, Katanga dari Zaire dan Bangladesh dari Pakistan. Hanya Bangladesh yang berhasil dan akhirnya menjadi negara merdeka. 4. Daerah Perbatasan Sosiokultural tidak selalu sama dengan batas-batas berdasarkan politik. Banyak daerah perbatasan antar negara menjadi satu kelompok sosiokultural. Mereka tidak memperdulikan batas-batas negara. Fenomena ini terjadi di timur laut Amerika Serikat yaitu munculnya masyarakat yang berbahasa Prancis di Amerika Serikat, walaupun secara etnik dekat dengan Provinsi Quebec di Kanada. Seringkali karena perang suatu negara kehilangan wilayahnya dan negara lain mendapat wilayah baru karena menang. Hal ini jika terjadi dalam waktu yang lama maka akan menyebabkan multilingual dan multietnik. Contohnya Alsace dan Lorraine didiami multilingual dari Prancis dan Jerman. Kedua provinsi ini pernah menjadi bagian dari kedua negara ini dan sekarang menjadi bagian dari Prancis. Di sana penduduk berbahasa Jerman memberi kontribusi multilingual di dalam negara. Di bawah ini adalah contoh multilingualisme secara politis. PARAGUAY Paraguay adalah negara penting di Amerika Selatan. Negara ini pernah dijajah oleh Spanyol. Ada keunikan di negara ini yaitu, sejak abad ke-16 koloni Spanyol dan keturunannya mengambil bahasa pribumi yaitu bahasa Guarani. Hasilnya di tahun 1950 hampir 95 per sen dari populasi berbahasa Guarani ini sesuai penelitian (Rona 1966, Robin 1978). Hal paling penting tentang bahasa di Paraguay adalah hubungan antara orang Guarani dan orang Spanyol. Contoh Bilingualisme Bahasa Spanyol di Paraguay digunakan di pemerintahan sebagai bahasa khusus misalnya untuk pendidikan. Pendatang di kota-kota mayoritas mengetahui bahasa Spanyol dan menjadi bahada kedua. Hampir 89,1 per sen dari populasi Asuncio di ibukota mengetahui bahasa Spanyol (Rona 1966:284) dengan populasi di kota 76,1 per sen. Maka di sini terjadi bilingualisme yaitu bahasa Spanyol dan bahasa Guarani. Penelitian tersebut juga mencatat bahwa 45,8 per sen monolingual Guarani dan 49,5 per sen bilingual. Sikap Bahasa Faktor penting di Paraguay adalah merasakan adanya dua bahasa besar. Ini sangat berbeda, bahasa Guarani mempunyai fungsi persatuan dan pemisah (Garvin dan Mathiot). Ini terlihat sikap umum bahwa setiap orang yang tidak mengetahui bahasa Guarani maka bukan benar-benar orang Paraguay. Orang yang monolingual yaitu hanya menguasai bahasa Guarani dianggap rendah daripada orang yang bilingual. Mereka dianggap bodoh sebab tidak mengetahui bahasa Spanyol (Robin 1974:479). Mereka menganggap bahasa Spanyol lebih baik dan terlihat luwes sehingga lebih dibanggakan. Hubungan kedua bahasa ini ternyata lebih rumit. Bahasa Guarani adalah bahasa yang lebih dulu ada dan bahasa asli Paraguay. Ini memberi status khusus di dalam negara. Bahasa Spanyol digunakan untuk fungsi yang lebih tinggi di dalam hubungan sosial dan membawa dampak lebih pestis kepada orang yang menguasainya. Orang yang hanya mampu menguasi bahasa Spanyol dianggap tidak mempunyai hubungan sosial masyarakat yang baik. (Rona:286). Konflik nasionalis—kebangsaan di dalan pemerintahan dan pendidikan Hingga tahun 1967 hanya bahasa Spanyol yang diperkenalkan oleh pemerintah. Kemudian undang-undang merevisi penggunaan kedua bahasa tersebut yaitu bahasa Spanyol dan bahasa Guarani sebagai bahasa nasional, namun hanya bahasa Spanyol yang digunakan di dalam bahasa resmi pemerintahan (Robin 1978:191). Ini memunculkan bahwa bangsa menunjukkan keunggulan di dalam pemilihan bahasa di pemerintahan. Rupanya kaum Guarani tidak mengerti simbol bahasa di dalam nasionalisme, sehingga tidak siap untuk digunakan di dalam pemerintahan. Yang harus dilakukan adalah membuat teknik pembuatan kosakata. Buktinya adalah walaupun Paraguay sudah merdeka dari Spanyol selama 150 tahun dan menggunakan bahasa Spanyol, tidak merasakan ancaman kaum nasionalis. Tidak ada keinginan untuk membawa bahasa Guarani sebagai bahasa resmi di dalam pemerintahan. Paraguay menjadi kasus klasik yang bernilai dalam mencari solusi multilingualisme dalam konflik bangsa-negara. Bahasa Guarani dapat diposisikan sebagai bahasa nasional padahal bahasa Spanyol juga sebagai bahasa nasional. Ini belum jelas mengapa di sana terdapat konflik bangsa dan negara di dalam pendidikan. Dengan menggunakan bahasa Guarani akan memperkuat nilai simbolik dari bahasa nasional, dan melayani tujuan bangsa. Bahasa Spanyol tetap menjadi bahasa yang ekslusif di dalam pendidikan. Bahasa Guarani tidak diizinkan di pakai di kelas hingga tahun 1973 (Rubin 1978:191). Kesimpulan Bahasa Guarani tidak digunakan dalam pendidikan Paraguay. Sistem pendidikan tidak mendukung bahasa Guarani. Bahasa Guarani tidak dibutuhkan sebagai bahasa untuk tujuan negara dari pendidikan yang efisien. Ini sangat bertentangan dari diskusi sebelumnya bahwa bahasa Spanyol adalah pilihan nyata sebagai bahasa pendidikan. Adabaiknya menggunakan bahasa Guarani sebagai bahasa pertama pendidikan dan bahasa Spanyol sebagai bahasa pendidikan kedua ini untuk awal. Bahasa Guarani secara kuat menjadi bahasa yang mandiri, bahasa nasional yang unik untuk Paraguay dan digunakan sebelum kemerdekaan. Bahasa Buarani tidak bisa mendukung sistem pendidikan di Paraguay. Pemerintah mengambil langkah baru yaitu di tahun 1973 memasukkan kurikulum baru bahwa bahasa Guarani diajarkan di sekolah dasar. Ini menunjukkan adanya kecendrungan pendekatan pengajaran bilingualisme. Chaco dari Indian Ini akan menarik adanya contoh yang mendekati multilingualisme di Paraguay. Paraguay mempunyai dua bahasa besar dan dua bagian besar yaitu bagian timur dan bagian barat. Bagian timur disebut oriental dan bagian barat disebut Chaco. Chaco mempunyai populasi sangat jarang, yaitu 60 per sen luas negara dan hanya 3 per sen populasinya. Chaco adalah tempat tinggal dari kelompok etnik yang tidak membaur. Klein dan Stark (1977) menemukan 13 bahasa dan terdapat lima bahasa yang hanya mempunyai penutur 24 ribu orang. Ini terlihat jumlah yang besar untuk penutur yang sedikit. Di sana terdapat perbedaan yang besar antara bahasa Indian da Chaco. Di sisi lain, terdapat hubungan yang dekat dan dapat dimengerti oleh satu sama lain. Lima bahasa di dalam keluarga bahasa Mascoi agak dapat dipahami dan semuannya disebut Enlhit atau Enenlhit dari penuturnya. Secara umum Indian terpaksa mendapatkan ekonominya secara tradisional, yaitu nelayan, bertani, berburu dan mencoba untuk menemukan pekerjaan di pemerintahan Paraguay. Dengan meningkatnya pertanian dan dilarangnya penjualan kulit binatang liar maka kegiatan berburu menjadi berkurang. Banyak generasi muda yang bekerja di pabrik kimia perawatan kulit, tetapi industri ini mati karena beberapa alasan. Ini menjadikan banyak pegawai yang berubah menjadi petani atau bekerja dengan Mennonite di Chaco tengah sebagai pekerja perkebunan. Banyak dari mereka hidup berkecukupan dan sukses menjadi tentara, misionaris dan guru. Bahasa sederhana yang digunakan dalam kehidupan sosiokultural sangat kuat yaitu dari 100 per sen memelihara bahasa suku dari total waktu bekerjanya. Nasib bahasa tergantung dari penuturnya, ini pernah digambarkan oleh Angaite dan Chulupi. Agaite berbicara dalam satu variasi yaitu Mascoi, beberapa dari mereka dari generasi ke generasi telah bekerja di pabrik kimia. Di situ juga dipekerjakan orang Indian dan Mascoi yang mempunyai bahasa berbeda. Di sana juga terjadi perkawinan di antara mereka. Mereka menggunakan bahasa Guarani untuk memahami satu sama lain, dengan suami dan dengan anaknya. Orang-orang Angaite lainnya bekerja di peternakan atau di pertanian Mennonite. Seperti pekerja pabrik lainnya juga menggunakan bahasa Guarani. Hanya satu kelompok dari 250 kelompok yang menggunakan bahasa Angaite. Kecuali satu kelompok ini maka akan berpindah dari bahasa suku ke bahasa Guarani dalam dua generasi. Orang Chulupi berbicara menggunakan bahasa Mataguayo dan bangga dengan Chaco. Walaupun beberapa dari mereka telah mendengar bahasa Spanyol dan Guarani namun umumya tidak mempelajarinya dengan baik dan tidak mau mencampurnya dengan bahasa suku. Berbeda dengan Agaite, Chulupi tidak bervariasi. Juga berbeda dengan Agate, Chulupi Indian akan menggunakan usaha yang besar untuk memahami bahasa lain selain bahasa Mataguayo tanpa memilih. Di banyak tempat di mana tempat Chulupi Indian telah diadakan program pendidikan untuk mempelajari bahasa Spanyol dan meningkatkan mengembangkan bahasanya sendiri dehingga terjadi bilingualisme. Di kota Mennonite, Filadelfia telah dioprasikan radio dengan beberapa program menggunakan bahasa Indian. Chulupi telah menggunakan bahasa Spanyol untuk memindahkan siaran Chulupi, maka hanya Chulupi asli yang dapat mendengar. Ini mudah bahwa Chulupi akan memelihara bahasanya ke depan dari sebelumnya. Awalnya, saya menerangkan kemungkinan menggunakan pendapat Fishman bahwa pemeliharaan bahasa memerlukan promosi. India Latar Belakang India adalah contoh sosiolinguistik yang luas. Negara ini salah satu contoh negara yang multietnik. Belum tahu pasti berapa banyak jumlah bahasa yang ada di negara ini, tetapi mereka mencatat terdapat beberapa ratus bahasa. Menurut catatan (Apte 1976 :142) terdapat 1652 bahasa dan dialek. India merdeka dari Inggris tahun 1947 dan sejak saat itu berbentuk federasi. India telah mempunyai banyak bahasa dan banyak etnik sebelum menjadi jajahan Inggris. Banyaknya etnik dan bahasa ternyata menciptakan konflik, baik politik maupun sosial. Tidak semua bahasa di India mempunyai status yang sama. Bahasa Hindi contohnya statusnya menjadi bahasa nasional dan digunakan di pemerintahan. Bahasa Inggris tidak dicantumkan di dalam undang-undang, tetapi kenyataannya digunakan di dalam pemerintahan pada tingkat federal dan negara. India membagi bahasa ke dalam dua kelompok besar yaitu bahasa Indo-Arya di utara dan bahasa Dravida di selatan. Bahasa Indo-Arya terdiri dari bahasa Assamese, Bengali, Gujerati, Hindi, Kashmiri, Marathi, Oriya, Panjabi, Sanskrit, dan Urdu sedangkan bahasa Dravida terdiri dari Kannada, Malayalam, Tamil, dan Telegu. Contoh Bilingualisme Dengan tingkat perbedaan bahasa dan etnik yang besar di India maka perlu langkah yang tepat untuk menyatukan bilingualisme dan multilingualisme. Bilingualisme di India mencapai 9,7 per sen dari populasi pada tahun 1961. Menurut Khubchandani 1978:559) angka ini sangat rendah. Bilingualisme ini disebabkan karena kecendrungan adanya bahasa yang diabailan karena masalah kesamaan terutama kesamaan bunyi sistem gramatikal. Contohnya bahasa Hindi dangan bahasa Urdu. Namun mereka masih menggunakan sistem tulisan yang berbeda. Kosakatanya sebagian besar berbeda. Bahasa Hindi lebih komplek dan sejarahnya sudah digunakan oleh sebagian kelompok agama Hindu. Ini dituliskan di dalam manuskrip yang disebut Davanagari, tulisan yang sama digunakan di dalam Sanskrit. Penutur bahasa Hindi menolak bahasa Urdu yang mengambil atau meminjam kosakata dari bahasa Sanskrit. Urdu adalah bahasa yang digunakan orang muslim dan ditulis dalam transkrip Perso-Arabik. Kosakatanya dipinjam dari Persia dan Arab daripada Sanskrit. Perbedaan bahasa Urdu dan Hindi jelas terlihat di dalam tulisan, walaupun banyak kesamaan secara leksikal. Oleh sebab itu dapat diidentifikasi secara cepat. Dalam penggunaan sehari-hari bahasa Urdu dan Hindi mempunyai hubungan dalam mencapai tujuan komunikasi. Keduanya dapat menyatu. Para penulis setuju dengan sosiolinguistik di India cenderung menekankan kesamaan bahasa Hindi dengan Urdu sehingga disebutnya bahasa Hindi-Urdu. Walaupun banyak kedekatan hubungan Hindi-Urdu satu sama lain, nahasa Punjabi juga merupakan bagian yangsama kompleksnya tetapi dari penuturnya sendiri (Kachru dan Bhatia 1978:532). Masalah lain yang timbul yaitu terdapat beberapa perbedaan ucapan yang susah untuk diklasifikasi. Satu contoh adalah Maithili yang mengaku mempunyai penutur enam juta orang di tahun 1971 (Apte 1976:160). Ditulis dalam manuskripnya dan literatur tradisionalnya sendiri. Ini secara struktural sama dengan Bahasa Bengali sehingga perlu dipertimbangkan perbedaan bahasa dari teknik bahasa. Jika bahasa Maithili dimasukkan ke dalam satu kriteria tersendiri makan permasalahannya dapat lebih ringan. Karena adanya peminjaman kosakata itu sehingga dapat dalam memberikan krteria dan menentukan hubungan bahasa. Tetapi bahasa Maithili secara resmi dipertimbangkan di dalam dialek Hindi. Ini akan menimbulkan masalah misalnya mereka akan mempertimbangkan tiga pilihan. Maithili dipertimbangkan menjadi bagian dua bahasa yaitu Hindi dan Bengali. Jelas, keputusan ini untuk menyesuaikan perbedaan pengucapan. Keputusan ini didasari keputusan politik dari pada keputusan latar belakang bahasa. Semua ini berarti bahwa pengambil sensus mendatangi semua kota di seluruh India untuk menanyakan apa bahasa ibu mereka dan bahasa lain yang digunakan untuk berbicara. Ini bukanlah hal yang mudah. Beberapa orang pertama kali tidak dapat menjawab bahasa apa yang telah mereka gunakan. Mereka rupanya lebih memilih untuk menginginkan menggabungkan dengan bahasa yang lebih prestis, untuk memperlihatkan patriotiknya, atau kesetiaan terhadap kelompok etnik lokalnya. Dapat dibayangkan, penutur yang menggunakan bahasa Indo-Arya berbicara berbeda saat di rumah. Dia mampu memahami bahasa Hindi untuk beberapa tingkat dan menggunakan beberapa percakapan bahasa Hindi di dalam etnik. Hindi adalah bahasa nasional. Ini adalah status dan prestis. Dia menggunakan bahasa Hindi saat diadakan sensus, yang lainnya menggunakan bahasa Indo-Aryan yang disebut Rajastani. Haruskah dia menyebutnya orang Rajastani? Bahasa Rajastani tidak termasuk bahasa nasional, bahasa ini mirip dengan bahasa Hindi, dan Hindi adalah bahasa nasional. Dia berharap menunjukkan jiwa patriotiknya sehingga dia mengaku berbahasa Hindi. Menurut Kachru dan Bhatia (1978: 53-4) ini telah memotivasi banyak orang responden untuk segera merdeka. Mereka memilih mengaku berbahasa Hindi dapi pada berbahasa lokalnya. Di sisi lain bahya orang yang mempunyai konsep sangat lokal. Tidak mengetahui nama dari bahasa mereka, dan enggan untuk memberi alasan nama salah satu nama bahasa besarnya, mereka memberi nama berdasarkan kasta, kelokalan, atau tidak menempatkan seperti bahasanya. Ini menjadi menjadi pertimbangan di dalam sensus di dalam penghitungan responden. Penutur dapat mengotrol secara verbal yang mana membuat penutur asli dapat mempunyai lebih dari dua dialek. Banyak dari bilingualisme di India mempunyai nilai inheren yang bervariasi dan campur kode. Apakah ini mebingungkan, di bagian lain, variasi ini dapat disebut dari perbedaan nama. Jika kita dapat membayangkan apakah pengacara Amerika di kantor berbahasa Inggris dan apakah dia saat di rumah berbahasa Amerika dan mereka dianggap bagian bahasa, kita mendapatkan sesuatu dari apa yang dimaksud dari fluidity. Bervariasinya bahasa di India berbeda dari setiap bahasa Inggris di Dunia. Bahasa Pemerintahan Pemerintah Federal Setelah India merdeka, bahasa Inggris tetap digunakan di pemerintahan. Semangat nasionalis tenyata menginginkan adanya bahasa pribumi untuk dijadikan bahasa nasional. Bahasa Hindi menjadi kandidat kuat untuk posisi ini. Karena bahasa ini mempunyai jumlah penutur terbesar dan sebaran penuturnya juga paling luas. Bahasa ini telah menjadi bahasa asli dan digunakan dalam komunikasi intraetnik. Bagaimanapun juga di sana terdapat tiga permasalahan dengan memilih bahasa Hindi. 1. Walaupun telah diketahui paling luas penyebarannya dan penggunaannya namun penyalurannya tidak merata di seluruh negara. Lebih besar lagi di bagian utara (wilayah Indo-Arya) negara bagian Uttar Padesh, di sana menurut sensus tahun 1961 dilihat oleh Khubchandani (1978) terdapat 96,7 per sen menganggap bahwa populasi Hindi atau Urdu menjadi bahasa pertama atau kedua. Di tempat lain, di bagian selatan, di Tamilnadu, pusat penutur bahasa Dravida kurang dari 0,0002 per sen mereka yang mengetahui bahasa Hindi atau Urdu. 2. Pemilihan bahasa Hindi ternyata melahirkan perpecahan bangsa san melahirkan kecemburuan dari bahasa lain. Bahasa India lainnya, bahasa Tamil dan Bengali misalnya kaya akan literatur tradisi sama dengan bahasa Hindi, dan menurut pemikiran penutur ini sama bagusnya jika dijadikan bahasa nasional. 3. Jika dibandingkan dengan bahasa Inggris, terlihat bahwa bahasa Hindi dapat mengembangkan kosakata sebelumnya ini dapat digunakan lebih efisien di pemerintahan. Namun, apapun yang terjadi akhirnya bahasa Hindi tetap menjadi bahasa nasional India. Setelah lima belas tahun baru bahasa Hindi dapat menggantikan bahasa Inggris di India. Perselisihan juga masih ada di pertengahan tahun 1965 bahwa masih ada undang-undang yang dibuat dalam bentuk bahasa Hindi dan bahasa Inggris. Konflik nationis dengan nationalis karena masalah bahasa banyak dan kompleks terjadi di India daripada di Paraguay. Menentukan bahasa Hindi sebagai bahasa resmi dirasakan banyak kekurangan dan kurang bagus sebagai bahasa resmi dibangingkan penggunaan bahasa Guarani di Paraguay. Di sisi lain saat Paraguay merdeka bahasa Guarani telah menjadi bahasa nasional dan tidak perlu dibuat lagi. Ini tentu tidak terjadi pada bahasa Hindi. Hal yang sangat penting dari semua ini, yaitu bahasa Guarani tidak berkompetisi dengan bahasa pribumi dan di sana tida ada pengabdian terhadap simbol bahasa bahasa dari kelompok bangsa yang luas. India tidak mempunyai keberuntungan di dalam penghormatan. Penyelesaian secara resmi oleh pemerintah tingkat federal tidak banyak membantu konflik nationis-nationalis, solusi ini tidak dapat diterima oleh kaum nationalis di negara di mana kaum nationis sangat sensitif antar bagian kelompok. Pertanyaannya adalah apakah bahasa Hindi tidak mampu hidup sebagai bahasa nasional. Tentu terdapat pertanyaan materi apakan yang menjadi faktor penentu agar suatu bahasa dapat diterian di seluruh bagian negara. Hal ini yang sering diperdebatkan. Khubchandani (1978) dapat menyimpulkan dari hal tersebut: Bahasa Hindi-Urdu menggabungkan kebaikan dari keberadaan bahasa paling dominan dari seluruh wilayah, pengaplikasian yang baik intrakelompok akan mempengaruhi komunikasi di seluruh negara. Perlu adanya bahasa penghubung di seluruh wilayah. Situasi Pemerintahan terbagi ke dalam dua unit politik, yaitu negara bagian dan pusat. Negara bagian secara mandiri menggunakan bahasa daerah. Hasilnya mayoritas dari populasi India, kecuali dua menggunakan bahasa yang sama. Dua negara bagian yang tidak mempunyai bahasa mayoritas adalah Himachal Pradesh dan Nagaland. Hanya di bawah 55 per sen di Bihar menggunakan bahasa Hindi-Urdu. Negara bagian Jammu dan Kashmirm lebih dari 95 per sen menggunakan bahasa Hindi-Urdu, begitu juga di Kerala dan Uttar Pradesh. Tidak satu pun negara bagian yang monolingual. Negar bagian dan persatuan wilayah bebas menggunakan bahasa resmi masing-masing sesuai dengan tingkat bahasanya. Banyak negara bagian yang memilih bahasa berdasarkan mayoritas bahasa yang digunakan masyarakatnya, tetapi beberapa memilih bahasa Inggris. Nagaland contohnya, salah satu negara bagian yang tidak mempunyai bahasa mayoritas, menggunakan bahasa Inggria. Yang lainnya, Himachal Pradesh, memilih bahasa Hindi. Jammu dan Kashmir untuk menghindari masalah bahasa mayoritas memilih menggunakan bahasa Urdu sebagi bahasa resmi. Negara bagian mempunyai pertimbangan untuk mengembangkan kosakata, sistem tulisan, ketikan, dan materi pendidikan untuk bahasa resminya. Penerjemahan dari federal dan negara bagian tentang hukum, peraturan, dan aturan didapatkan di bahasa daerah sehingga bentuk resminya berbeda-beda. Kebebasan untuk menggunakan dan mengembangkan bahasa negara adalah sesuatu yang mengandung resiko. di sisi lain, sejak bahasa dapat digunakan sebagai simbol dari tiap daerah, mendorong untuk terjadinya perpecahan di negara bagian. Usaha untuk menekan bahasa daerah ternyata dapat menimbulkan kebencian yang tajam. Secara poitik tidak mungkin membuat bahasa Hindi menjadi bahasa resmi di tingkat federal, ini dapat menjadikan bahaya. Faktanya alasan ini dapat dipercaya bahwa perbedaan bahasa dapat menjadi ancaman politik di India. Bahasa Minoritas Pendekatan pemerintah daerah yang berbeda-beda pada bahasa daerah mayoritas diperluas untuk bahasa mayoritas di dalam kebijakan resmi. Penutur bahasa minoritas tentu meminta jaminan yang lebih bagus, komisi bahasa minoritas pun setuju dengan keberatan itu. Bagaimanapun juga, ini akan lebih baik jika bahasa minoritas tertera di dalam pemerintahan daerah dibandingkan dengan bahasa resmi negara. Komisi bahasa daerah hanya bisa memberi nasihat, tidak bisa memaksa pemerintah pusat untuk mengikuti rekomendasinya. Kesuksesan dalam mengambil suatu bahasa sangat berpengaruh terhadap hubungan di pemerintahan. Bahasa minoritas tidak mempunyai kekuatan dalam hubungan di pemerintahan. Hasilnya pemerintah berhasil mempromosikan dan mengambil bahasa Hindi menjadi bahasa nasional walaupun banyak penolakan. Bahasa di dalam pendidikan Kebijakan pendidikan dan pelatihan di dibuat dalam bentuk struktur. Terdapat dua bahasa resmi yang mempunyai struktur paling tinggi di tingkat pemerintahan federal, yaitu bahasa Hindi dan bahasa Inggris. Kemudian bahasa resmi bahasa daerah. Pada tingkat ke tiga yaitu bahasa tidak resmi di pemerintahan tingkat federal maupun tingkat daerah tetapi mempunyai penutur lebih dari satu juta orang yaitu Bhojpuri dan Magahi. Terakhir yaitu bahasa kelompok kecil atau bahasa suku yang tidak hanya digunakan di pemerintahan. Kebijakan bangsa Inggris untuk menggunakan bahasa Inggris di tingkat menengah. apapun yang terjadi, bahasa Inggris menjadi bahasa di pendidikan tinggi. Pemerintah juga mendukung pengembangan bahasa daerah dengan mengajarkan pada pendidikan tingkat awal disamping bahasa Hindi dan bahasa Inggris. Jadi siswa sekolah di India setelah lulus SMA menguasai empat atau lima bahasa. Menurut catatan Khubchandani (1977:44) implementasi dari kebijakan pemerintah terkesan lamban. Pemerintah pusat sepertinya mengharapkan bahasa minoritas ini mati sebelum mereka menggunakannya di sekolah. Pemilihan bahasa nasional tidak bisa hanya berdasarkan penutur terbanyak. Pembahasan yang menarik untuk penelitian; 1. Pemertahanan masyarakat terhadap suatu bahasa dalam masyarakat multilingual 2. Sikap bahasa terhadap bahasa tertentu dalam masyarakat multilingual 3. Perilaku bahasa dalam situasi multilingual atau bilingual 4. Bahasa dalam pendidikan , pada masyarakat multilingual atau bilingual 5. Pengaruh satu bahasa terhadap bahasa lain dalam masyarakat multilingual Buku Sumber Chapter 1 Societal Multilingualism Fasold,R.1984, The Sociolinguistic of Society, N.Y. BasilBlackwel


Konsep Warna dalam Dewata Nawa Sanga

(Studi Komparasi  Makna Budaya,

Makna  Berdasarkan  Metabahasa Semantik Alami dan

Makna Universal)

oleh

Putu Kerti Nitiasih

Universitas Negeri Ganesha Singaraja

ABSTRAK

Pandangan   para  linguis khususnya para ahli  semantik tentang  banyaknya definisi makna, memberikan banyak peluang penelitian yang berhubungan dengan makna. Hal ini disebabkan karena  makna disamping merupakan  sesuatu yang hakiki yang melekat pada suatu bentuk, makna juga merupakan konotasi yang mengkonsepsi dunia nyata berdasarkan perasaan, pikiran dan budaya yang ada padanya yang dapat  diartikan dari sudut pandang yang berbeda seperti filsafat, psikologi, sastra. (Odgen & Richard :1923,  Wiersbicka (1996).

Penelitian ini khusus mendiskripsikan makna warna dengan konteks budaya Bali khususnya tentang makna warna dalam Dewata Nawa Sanga yaitu sembilan penjuru Dewa yang ada di Bali yang menggunakan symbol warna. Penelitian ini dilakukan karena langkanya penelitian dalam bidang semantik  khususnya tentang makna warna yang dilihat  dari sudut pandang filsafat, kepercayaa, mitos dan hal-hal yang berhubungan dengan budaya suatu masyarakat. Deskripsi makna warna yang diperoleh dari hasil penelitian ini memberikan sumbangan informasi kepada umat Hindu tentang makna warna, sehingga konsep warna yang ada tidak diterima begitu saja sebagai sebuah mitos yang harus diikuti tanpa  pengertian yang logis,  akan tetapi dapat dipahami dan dimaknai dengan lebih baik

Sumber data utama penelitian ini adala buku Sistimatika Wariga-Dewasa dan Nawa Sanga ( Marayana : 2001)  dan sebagai data tambahan adalah Geguritan Gunatama (lontar dari Kropak 450/2001), dan Kidung Panca Yadnya (I Made Wenten : 2000). Metode analisis utama yang dipergunakan untuk menganalisis data adalah  analisis metabahasa semantik alami yaitu suatu cara penguraian makna kata dengan menggunakan eksplikasi atau pengungkapan kembali suatu konsep atau suatu maksud dengan cara lain dengan tujuan memperjelas makna yang tersembunyi. Selain metode di atas,  data dalam tulisan ini juga dianalisis dengan menggunakan metode komparasi  yang diperkenalkan oleh  Lincoln, 1992, yaitu membandingkan konsep warna berdasarkan konsep semantik universal. Hasil kajian  dalam tulisan ini disajikan  secara diskriptif –kualitatif.

Hasil analisis data  menunjukkan bahwa  bahwa konsep warna dalam agama Hindu khsusnya dalam Dewata Nawa Sanga merupakan suatu konsep yang diciptakan berdasarkan simbol dan arah mata  angin. Hal ini merupakan suatu yang sangat alami mengingat dalam agama Hindu  terdapat banyak simbol yang dipergunakan Simbol-simbol tersebut merupakan  satu kesatuan yang  terintegrasi dengan warna, tektur, bentuk, fungsi, dan atribut lainnya yang dianggap sebagai sesuatu yang utuh yang tidak dapat dipisah-pisahkan, karena istilah  warna dianggap sebagai sesuatu yang secara wajar  mengandung domain  semantik  pada ‘dirinya’. Hal lainnya yang mempengaruhi  konsep warna dalam Dewata Nawa Sanga adalah adanya keuniversalan yang menggunakan lingkungan sebagai  kerangka referensi yang fundamental  yang menimbulkan  makna konotatif, asosiatif dan kolokatif pada warna yang ada di dalam Agama Hindhu.


1.  Pendahuluan

Bahasa merupakan alat untuk menyatakan makna.  Dixon (1992:5) menyatakan bahwa dalam pemakaiannya bahasa akan berawal dari makna dan berakhir dengan makna. Berawal dari makna berarti sebelum menggunakan suatu bentuk bahasa baik secara lisan / tulisan maupun  gerakan ( gesture ), pemakai bahasa merumuskan konsep dalam pikirannya terlebih dahulu, dan berakhir dengan makna berarti lawan bicara atau pembaca dapat memahami konsep tersebut secara utuh.

Sehubungan dengan hal tersebut, Wiersbicka (1996) bahkan menyatakan bahwa belajar bahasa tanpa mengacu pada makna merupakan sesuatu yang sia-sia. Oleh sebab itulah  makna memberi arti yang sangat penting dalam suatu bahasa.

Ada tiga cara yang dipakai oleh para linguis dan filusuf dalam usahanya menjelaskan makna dalam bahasa manusia : (a) dengan memberikan definisi hakikat makna kata, (b) dengan mendefinisikan hakikat makna kalimat . dan (c) dengan menjelaskan  proses komunikasi (Wahab : 1995) Namun pada kenyataannya pemberian makna terhadap sesuatu  kadang-kadang menemukan  suatu kesulitan. Hal itu disebabkan karena beberapa hal  yaitu : (1) makna adalah sesuatu yang hakiki yang melekat pada suatu bentuk (Odgen & Richard : 1923) , (2) sebagai konotasi suatu kata, makna relatif tidak stabil (open-ended) karena pemakai bahasa mengkonsepsi dunia nyata berdasarkan perasaan, pikiran dan budaya yang ada padanya      (Odgen & Richard :1923), dan (3) karena makna diartikan dari sudut pandang yang berbeda seperti filsafat, psikologi, sastra dan lain-lainnya, sehingga makna sesuatu  dalam hal ini akan berterima jika dijelaskan dari masing-masing sudut pandang tersebut.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka makna warna oleh para teoritisi  dikatakan memiliki makna majemuk dimana setiap kata-kata seperti merah, kuning, hitam dan putih mempunyai makna (konotatif) yang berlainan. Mulyana, misalnya memberikan ilustrasi bahwa warna hitam memiliki 12 sinonim yang rata-rata bersifat ofensif termasuk ‘noda’, ‘iblis’, ‘ jelaga’, ‘curang’, ‘ganas’, ‘dahsyat’ ; dan terdapat 134  sinonim untuk warna putih yang hampir semuanya berarti postif seperti ‘murni’, ‘bersih’, ‘suci’, ‘inosen’.

Disamping makna majemuk seperti di atas,  Wiersbicka (1996) lebih jauh menyatakan bahwa warna merupakan sesuatu yang sangat spesifik yang sangat sulit untuk diberikan pemaknaannya karena pada semua budaya orang-orang lebih tertarik untuk mengungkapkan makna warna melalui proses ‘ melihat’ yang sifatnya sangat ’contextualized’  Oleh karena itulah penguraian  makna warna berdasarkan  sudut pandang filsafat, kepercayaa, mitos dan hal-hal yang berhubungan dengan budaya suatu masyarakat, tidak dapat hanya berdasarkan makna konseptualnya saja akan tetapi memerlukan penguraian makna secara lebih rinci yaitu melalui penggunaan makna asali.

Cara pengungkapan / pengkajian  makna yang tidak hanya mendiskripsikan makna dari perspektif semantik saja, tetapi menggabungkannya dengan tradisi filsafat, logika dan pendekatan tipologis, oleh Wiersbicka disebut dengan metabahasa semantik alami .

Berdasarkan penjelasan di atas, maka penguraian/ penjelasan  tentang konsep warna pada  Dewata Nawa Sanga dalam Agama Hindu  yang  sifatnya sangat khusus karena sangat tergantung dengan budaya dan kepercayaan masyarakat Hindu, perlu dikaji berdasarkan   analisis metabahasa semantik alami.

Selain hal tersebut di atas analisis ini juga mempertimbangkan penggunaan teori semiotik khususnya semiotik naratif dan kultural yang menelaah sistim tanda (simbol) yang berlaku dalam budaya masyarakat tertentu (Ikegami: 1985) dan menelaah sistim tanda (simbol) dalam narasi yang bersifat mitos. (Greimas :1987).

Berdasarkan uraian di atas, hal-hal yang dikaji dalam tulisan ini adalah :

  1. Bagaimana dekripsi konsep warna dalam Dewata Nawa Sanga yang ada dalam Agama Hindu  berdasarkan teori metabahasa semantik alami ?
  2. Bagaimana fungsi dan makna  warna dalam Dewata Nawa Sanga yang ada dalam

Agama Hindu ?

Kedua masalah tersebut di atas dianggap penting untuk dikaji karena memiliki signifikansi yang besar baik secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis kajian  ini dapat  memberikan informasi dan pemahaman tambahan mengenai konsep warna , terutama makna warna ditinjau dari filsafat. Hal ini disebabkan karena   jarangnya penelitian dalam bidang semantik yang dilakukan secara detail, khususnya mengenai konsep warna pada budaya Hindu

Manfaat praktis yang diperoleh dari penulisan ini adalah (1) sebagai bahan informasi  untuk melengkapi penelitian yang pernah ada sebelumnya, (2) sebagai data awal untuk melakukan penelitian sejenis yang belum pernah dilakukan, dan (3) memberikan sumbangan informasi kepada umat Hindu tentang makna warna, sehingga konsep yang ada pada Dewata Nawa Sanga tidak diterima begitu saja, akan tetapi dapat dipahami dari makna yang lain.

Terkait  dengan kajian ini, penulis mengambil atau mencatat data tertulis sebagai sumber data substantif / yang merupakan data utama dalam analisis ini , yaitu dari  buku Sistimatika Wariga-Dewasa dan Nawa Sanga ( Marayana : 2001) ;

Disamping sumber data di atas, sebagai data tambahan dipergunakan pula sumber data tertulis yang diambil dari Geguritan Gunatama (lontar dari Kropak 450/2001), dan Kidung Panca Yadnya (I Made Wenten : 2000), serta dari tuturan  lisan  informan (Pandita Dewa Nyoman Udaya) yang juga berfungsi sebagai data tambahan yang menunjang data utama.   

Metode yang dipergunakan dalam penulisan esei ini terdiri dari 2 metode yaitu ; metode kepustakaan dengan teknik catat untuk sumber data yang diambil dari sumber tertulis (Sudaryanto, 1996 : 33) dan metode linguistik lapangan dengan teknik simak bebas lintas cakap untuk sumber data yang berasal dari tuturan lisan informan

Metode analisis utama yang dipergunakan untuk menganalisis data dalam tulisan ini adalah  analisis metabahasa semantik alami yaitu suatu cara penguraian makna kata dengan menggunakan eksplikasi atau pengungkapan kembali suatu konsep atau suatu maksud dengan cara lain dengan tujuan memperjelas makna yang tersembunyi (Kridalaksana : 1984). Penggunaan metabahasa dalam analisis ini dibentuk melalui penggabungan makna asali  dengan unsur-unsur lain yang belum dikategorikan  sebagai makna asali. Selain metode di atas data dalam tulisan ini juga dianalisis dengan menggunakan metode komparasi  yang diperkenalkan oleh  Lincoln , 1992 , yaitu membandingkan konsep warna berdasarkan konsep semantik universal dengan konsep warna yang ada pada Dewata Nawa Sanga yang dijelaskan dengan analisis metabahasa semantik alami , sehingga diperoleh makna warna dalam Dewata Nawa Sanga ( Agama Hindu ) secara universal.

Hasil kajian  dalam tulisan ini disajikan  secara diskriptif -kualitatif  dengan

Prosedur : (1) hasil analisis warna yang ada dalam Dewata Nawa Sanga  melalui analisis metabahasa semantik alami disajikan secara diskriptif; (2) fungsi dan makna yang diperoleh melalui metode komparasi yang terdapat pada konsep warna dalam Dewata Nawa Sanga dengan konsep warna yang diberikan oleh Anne Wiersbicka disajikan secara kwalitatif.


2. KAJIAN PUSTAKA DAN  KERANGKA TEORI

2.1.Konsep Warna

Sampai saat ini belum ada tulisan yang khusus mengkaji makna warna berdasarkan filsafat, mitos maupun kepercayaan. Namun kajian tentang warna yang membantu proses penulisan esei ini telah banyak dilakukan.

Berlin dan Kay ( 1975 ) banyak meneliti tentang warna yang menghasilkan bahwa rancangan fitur universal sistem perspektif penglihatan manusia sangat kuat membatasi sistem terminologi warna.

Jones dan Meehan ( 1978 ) menulis bahwa cahaya merupakan dimensi dasar bagi pemisah untuk dua istilah  warna dasar.

Wiersbicka ( 1990 ) menulis bahwa pengertian dari istilah warna dalam bahasa tidak bisa secara pasti merupakan respon dari saraf pada kepingan warna, tetapi lebih banyak dibandingkan dengan pengertian dan kesadaran penutur asli dari suatu bahasa yang mempunyai istilah-istilah tersebut.

Hasil penelitian dan tulisan – tulisan tersebut sangat membantu penulisan esei ini terutama untuk merumuskan makna warna sebelum dilakukan pengkajian makna secara lintas budaya.

Mengingat tulisan ini dikaji berdasarkan analisis metabahasa semantik alami , hasil penelitian yang dilakukan oleh Anik Mayani ( 2000 ) yang meneliti tentang Accomplishment Verb, Agus Tisna Prasetya ( 1999 ) tentang Action Verb dan Oktavianuss tentang Reduplikasi juga sangat membantu dalam kajian  ini,  terutama karena hasil penelitian tersebut hanya berupa deskripsi saja tanpa adanya analisis lintas budaya.

Dalam kajian ini penulis menerapkan 2  teori dasar. Mengingat kajian merupakan kajian yang dipandang dari 2 cabang ilmu yaitu Teologi dan Semantik, dalam mendiskripsikan konsep warna yang ada dalam Devata Nawa Sanga, penulis menggunakan  Metabahasa Semantik Alami  oleh Anna Wierbicka.

Teori Metabahasa Semantik Alami tidak hanya mendiskripsikan makna dari perspektif semantik, tetapi juga menggunakan pendekatan lain. Wierbicka (1996 : 23) menyatakan MSA menggabungkan tradisi, filsafat, logika dan pendekatan tipologis dalam mengkaji makna.

Filsafat dan logika berkaitan dengan pengkajian makna karena dunia fakta yang menjadi objek perenungan merupakan dunia lambang yang terwakili oleh bahasa. Dengan memakai pendekatan pemikiran secara filsafat dan logika, MSA berusaha mengungkapkan ketepatan pengkajian makna yang merupakan dasar dalam memahami struktur realitas secara benar.

Dengan menggunakan pendekatan tipologis, MSA menekankan bahwa setiap bahasa memiliki bentuk yang berbeda untuk mengungkapkan makna.

Wierbicka (1996 : 23),menyatakan bahwa  warna bukanlah merupakan konsep manusia karena ia bisa diciptakan  pada setiap kelompok masyarakat secara berbeda – beda seperti halnya konsep televisi, komputer dan sebagainya.Demikian pula dengan istilah warna itu sendiri bukanlah merupakan fenomena universal .

Dalam bahasa Inggris dan juga dalam bahasa – bahasa lain di dunia,  istilah  warna dianggap sebagai sesuatu yang secara wajar  mengandung domain semantik  pada ‘dirinya’. Namun dalam dunia wacana , tidaklah demikian. Agar arti istilah  ini dapat dipergunakan dalam semua bahasa maka dipergunakanlah istilah ‘colour semantics’ yang berarti menentukan / memaksakan sesuatu pada pengetahuan dari semua kebudayaan suatu perspektif yang muncul dari beberapa dari masyarakat dalam budaya tersebut.

Pada semua budaya orang-orang lebih tertarik pada proses ’melihat’ , dan menguraikan berdasarkan apa yang mereka lihat. Namun sehubungan dengan warna, manusia merasa tidak perlu untuk membedakannya sebagai aspek yang salah satu aspek dari pengalaman visual mereka. Semua bahasa-bahasa memiliki kata untuk ‘melihat’ tetapi tidak semua bahasa memiliki kata untuk ‘warna’ . Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa dalam kebanyakan budaya kata ‘melihat’ adalah sesuatu yang sifatnya ‘contextualized’ , dan pengalaman dari proses melihat didiskripsikan sebagai sesuatu yang sangat kompleks dan merupakan satu kesatuan yang  terintegrasi dengan warna, tektur, bentuk, fungsi, dan atrubut lainnya yang dianggap sebagai sesuatu yang utuh yang tidak dapat dipisah-pisahkan.

Simpulan di atas seolah-olah memberikan sesuatu yang sifatnya universal, terhadap kata ‘seeing’ atau disebut dengan ‘universals seeing’ yang dapat divalidasi melalui ilmu bahasa. Sehingga  untuk membuktikan  keuniversalan tersebut, fokus penelitian para ahli sebaiknya berubah yaitu dari penelitian tentang ‘colour universal’ menjadi ‘universal  of seeing’ , karena tidak pernah ada warna yang universal tetapi ‘ melihat/seeing’ itulah yang sebenarnya merupakan konsep universal manusia.

Banyak penelitian tentang warna yang dilakukan oleh para ahli seperti misalnya penelitian  oleh  Berlin  dan Kay’s ( 1969 ) tentang diskripsi warna yang melahirkan  gugusan pengetahuan tentang wacana yang berhubungan dengan kata ‘ melihat’, yang banyak memberikan kontribusi  pada  teori dari ‘universals of seeing’ pada masa-masa yang akan datang.

Secara khusus penelitian ini menemukan bahwa apa yang sebenarnya bersifat universal  atau mendekati universal adalah  sebagai berikut :

  1. 1.     Perbedaan waktu kapan manusia dapat melihat atau apa yang disebut ‘siang hari dan kapan manusia tidak dapat melihat atau ‘malam hari. Secara garis besar manusia cendrung untuk membedakan secara universal antara melihat sesuatu yang kelihatan ‘ terang ‘ dan ‘ bersinar ’, dan juga melihat sesuatu yang kelihatan ‘ gelap ‘ dan ‘tidak mengkilap’. Perbedaan antara warna ‘gelap‘ dan ‘ terang’  tersebut memegang peranan penting  dalam bahasa-bahasa di dunia. Bahasa  Kuku di Astralia menggunakan istilah bingaji dan ngumbu yang berarti  terang dan gelap yang juga dipergunakan untuk mengatakan warna ‘putih’ dan ‘ hitam’
  2. 2.     Universalitas yang kedua adalah  penggunaan   lingkungan sebagai  kerangka referensi yang fundamental dari manusia untuk mendiskripsikan kata ‘ seeing’ atau ‘melihat’. Kata-kata seperti , view, scenery, landscape memberikan   pedoman tentang hal ini terdapat hubungan yang dekat antara ide tentang melihat dengan ide tempat. Jelas dalam hal ini landscape tidak akan kelihatan  sama di mana-mana, seperti pula warna dimana tidak semua tanah berwarna coklat karena dibeberapa tempat mungkin saja tanah dilihat berwarna merah, kuning atau hitam  oleh masyarakat di masing-masing tempat tersebut. Oleh karena itulah maka prinsip penggunaan ‘common feature’ dari landscape sebagai pola acuan untuk kategori visual pada umumnya dan untuk warna pada khususnya merupakan suatu keuniversalan manusia yang paling penting. Disamping itu prinsip-prinsip ini juga bertanggungjawab terhadap keteraturan munculnya fiitur-fitur dari wacana tentang’ melihat’
  3. 3.     Fitur keuniversalan atau mendekati universal dari discursi ( wacana) manusia tentang ‘melihat’ yang lainnya adalah pentingnya peran ‘comparison’ / perbandingan  atau dengan ungkapan yang lebih tepat adalah penggunaan konsep universal tentang kata ‘like / seperti’ dalam pengalaman visual manusia. Seperti misalnya kata sifat  ‘gold’ dan ‘golden’ dalam bahasa Inggris mengilustrasikan  mode diskripsi yang sangat bagus dari ‘non-basic clour’, seperti : silver, navy blue, khaki, dan sebagainya. Contoh lain adalah dipergunakannya ‘pengandaian’ dalam bahasa Australia yaitu : yalyu-yalyu ( merah ) yang berarti ‘blood-blood’ ( seperti darah ): walya-walya ( coklat ) yang berarti ‘earth-earth’ ( seperti tanah)

2.2. Dewata Nawa Sanga dan Konsep Warna

Istilah Deva  sebagai mahluk Tuhan adalah karena Deva dijadikan ( dicipta-kan ) sebagaimana dukemukakan di dalam kitab Reg Veda X. 129.6. Dengan diciptakan ini berarti Deva bukan Tuhan melainkan sebagai semua mahluk Tuhan yang lainnya pula, diciptakan untuk maksud tujuan tertentu yang mempunyai sifat hidup dan mempunyai sifat kerja ( karma ) .

Disamping pengertian di atas, dalam Reg Veda VIII.57.2, dijelaskan pula tentang banyaknya jumlah Deva yaitu sebanyak 33 yang terdapat di tiga ( 3 ) alam      ( mandala ) . Ketigapuluh tiga Deva tersebut terdiri dari 8 Vasu ( Basu ), 11 Rudra, 12 Aditya, Indra dan Prajapati. Kedelapan Vasu tersebut adalah : Agni ( dewa api ), Prthivi ( dewa tanah ), Vayu ( dewa angin ), Dyaus ( dewa langit ), Surya ( dewa matahari ), Savitra ( dewa antariksa ), Soma ( dewa bulan ), dan Druva ( dewa  bintang ). Rudra sebagai salah satu aspek Deva-deva, merupakan unsur hidup dan kehidupan yang disebut sebagai Rudra prana. Adapun Deva -deva yang lainnya yaitu Aditya dilambangkan sebagai hukum tertinggi, sebagai pengatur alam semesta di bawah kekuasaan Tuhan.

Selain sifat – sifat Deva dia atas dalam Reg Veda X.36.14 , dijelaskan pula bahwa fungsi Deva adalah sebagai DIKPALA, yaitu penguasa atas penjuru mata angin ( arah ) . Dasar pemikiran ini bersumber pada pengertian bahwa Tuhan Maha Ada, sebagai hakekat yang memenuhi ruang dan waktu. Atas dasar pola pemikiran di atas timbul pula konsep – konsep baru tentang hubungan Deva-deva dengan penjuru arah mata angin dan membaginya menjadi sembilan sesuai dengan arah mata angin yang biasa. Namun menjadi sebelas dimasukkan zenit dan nadir . Kesembilan arah mata angin tersebut  secara rinci diuraikan dalam pembahasan berikut.

3. PEMBAHASAN

3.1.  Deskripsi Konsep Warna Dalam Dewata Nawa Sanga

Dewata Nawa Sanga digambarkan dengan menggunakan simbol yang berhubungan satu dengan yang lainnya , yang terdiri dari :

  1. 1.     Gambar dalam bentuk simbol Deva
  2. 2.     Gambar dalam bentuk senjata
  3. 3.     Gambar dalam bentuk simbol  organ dalam ( jejeron ) manusia
  4. 4.     Gambar dalam bentuk warna
  5. 5.     Gambar dalam bentuk simbol lingkungan

Secara rinci dapat dilihat dalam tabel berikut :

No Arah Mata Angin Nama Dewa Senjata Simbol organ

( jeroan )

Warna Simbol

lingkungan

1 Utara Wisnu Cakra Empedu Hitam Air
2 Selatan Brahma Gada Hati Merah Api
3 Timur Iswara Bajra Jantung Putih Angin
4 Barat Mahadewa Nagapasah Dubur Kuning Kabut
5 Barat laut Sangkara Angkus Limpa Hijau Mendung
6 Timur laut Sambu Trisula Jaringan Biru Awan tebal
7 Tenggara Mahesora Dupa Paru Dadu Rambu  (awan tipis)
8 Barat daya Rudra Moksala Usus Jingga Halilintar
9 Tengah Ciwa Padma Kerongkongan Panca

Warna

Topan

Mengingat konsep warna dalam Dewata Nawa Sanga berhubungan dengan filsafat dimana hal-hal yang berhubungan dengan budaya serta filsafat  sulit sekali untuk  menjelaskan  maknanya  melalui pemberian definisi , maka sesuai dengan teknik analisis data yang disampaikan dalam pendahuluan, pembahasan, analisis konsep warna dalam Dewata Nawa Sanga akan menggunakan pendekatan Metabahasa Semantik Alami dengan menggabungkannya dengan analisis kolokial ( colloquial analysis) dari David Cooper, dimana pemberian makna terhadap sesuatu menggunakan makna kolokialnya

Berdasarkan hal tersebut di atas maka deskripsi warna dalam Dewata Nawa Sanga adalah sebagai berikut :

1. Warna Hitam

X adalah hitam =

a)     pada saat itu ada upacara agama Hindu

b)     X berada / ditempatkan disebelah utara

c)     Ada Dewa Wisnu berkuasa disana

d)    Dewa Wisnu membawa senjata Cakra

e)     Jika menggunakan jeroan maka  empedulah yang dipakai

f)      Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang  air

g)     Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang  X  mereka berpikir tentang hal tersebut diatas

  1. 2. Warna Putih

X adalah putih =

a)     pada saat itu ada upacara agama Hindu

b)     X berada / ditempatkan disebelah timur

c)     Ada Dewa Iswara  berkuasa disana

d)    Dewa Iswara  membawa senjata Bajra

e)     Jika menggunakan jeroan maka jantunglah yang dipakai

f)      Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang angin

g)     Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang  X  mereka berpikir tentang hal tersebut diatas

  1. 3. Warna Merah

X adalah merah =

a)     pada saat itu ada upacara agama Hindu

b)     X berada / ditempatkan disebelah selatan

c)     Ada Dewa Brahma berkuasa disana

d)    Dewa Brahma membawa senjata Gada

e)     Jika menggunakan jeroan maka hatilah yang dipakai

f)      Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang  api

g)     Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang  X  mereka berpikir tentang hal tersebut diatas

  1. 4. Warna Kuning

X adalah kuning =

a)     pada saat itu ada upacara agama Hindu

b)     X berada / ditempatkan disebelah  barat

c)     Ada Dewa Mahadewa berkuasa disana

d)    Dewa Mahadewa membawa senjata Nagasapah

e)     Jika menggunakan jeroan maka duburlah yang dipakai

f)      Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang kabut

g)     Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang  X  mereka berpikir tentang hal tersebut diatas

  1. 5. Warna Hijau

X adalah hijau =

a)     pada saat itu ada upacara agama Hindu

b)     X berada / ditempatkan disebelah barat laut

c)     Ada Dewa Sangkara berkuasa disana

d)    Dewa Sangkara  membawa senjata Angkus

e)     Jika menggunakan jeroan maka  limpalah yang dipakai

f)      Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang  mendung

g)     Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang  X  mereka berpikir tentang hal tersebut diatas

  1. 6. Warna Biru

X adalah biru =

a)     pada saat itu ada upacara agama Hindu

b)     X berada / ditempatkan disebelah  timur laut

c)     Ada Dewa Sambu berkuasa disana

d)    Dewa Sambu membawa senjata Trisula

e)     Jika menggunakan jeroan maka jaringanlah yang dipakai

f)      Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang  angin

g)     Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang  X  mereka berpikir tentang hal tersebut diatas

  1. 7. Warna Dadu

X adalah  dadu =

a)     pada saat itu ada upacara agama Hindu

b)     X berada / ditempatkan disebelah tenggara

c)     Ada Dewa Mahesora berkuasa disana

d)    Dewa Wisnu membawa senjata Dupa

e)     Jika menggunakan jeroan maka  parulah yang dipakai

f)      Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang  awan yang tipis

g)     Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang  X  mereka berpikir tentang hal tersebut diatas

  1. 8. Warna Jingga

X adalah jingga =

a)     pada saat itu ada upacara agama Hindu

b)     X berada / ditempatkan disebelah  barat daya

c)     Ada Dewa Rudra berkuasa disana

d)    Dewa Rudra membawa senjata Moksala

e)     Jika menggunakan jeroan maka  ususlah yang dipakai

f)      Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang halilintar

g)     Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang  X  mereka berpikir tentang hal tersebut diatas

  1. 9. Warna Brumbun / Panca Warna  ( warna campuran antara putih + hitam + merah + kuning

X adalah brumbun =

a)     pada saat itu ada upacara agama Hindu

b)     X berada / ditempatkan ditengah-tengah

c)     Ada Dewa Ciwa berkuasa disana

d)    Dewa Ciwa membawa senjata Padma

e)     Jika menggunakan jeroan maka  kerongkonganlah yang dipakai

f)      Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang  topan

g)     Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang  X  mereka berpikir tentang hal tersebut diatas

Berdasarkan deskripsi warna diatas, dapatl dikatakan bahwa secara filosofis  konsep warna paling berhubungan dengan arah mata angin. Hal ini didukung oleh beberapa data tambahan yang  diambil dari 2 sumber yaitu

A.   Geguritan Gunatama

Dalam geguritan Gunatama diceritakan bahwa I Guna Tama pergi kepada pamannya Ki Dukuh untuk meminta ilmu pengetahuan di Gunung Kusuma . Hal pertama yang oleh Ki Dukuh perintahkan kepada  I Gunatama adalah agar ia belajar berkonsentrasi melalui pemahaman terhadap warna bunga. Hal itu dapat dilihat pada geguritan berikut :

Bunga petak maring purwa,

kembang jingga gnewan sami,

sekar abang ring daksina,

ring pascima kembang jenar, mapupul maring wayabia,

Bunga ireng ring utara,

ersania birune sami,

mancawarnane ring madia,

punika tandur ring kayun, apang urip dadi mekar,

to uningin, patute anggon padapa.

Geguritan tersebut berarti :

“ Bunga putih ditimur, bunga jingga gnewan semua, bunga merah di selatan, yang di barat bunga kuning, berkumpul di barat laut. Bunga hitam di utara, timur laut semuanya biru, panca warna di tengah, itulah ditanam di hati, supaya hidup berkembang, ketahuilah itu, kebenaran dipakai selimut “

  1. B.    Kidung Aji Kembang yang dilagukan dalam upacara Ngaben ( Ngereka )

1)         Ring purwa tunjunge putih, Hyang Iswara Dewatannya.

Ring papusuh prehania, alinggih  sira kalihan, panteste

kembange petak.Ri tembe lamun numadi suka sugih

tur rahayu dana punya stiti bakti

2)         Ring geneyan tunjunge dadu, Mahesora Dewatannya

Ring peparu prenahira. Alinggih sira kalihan, Pantesta

kembange dadu, Ri tembe lamun dumadi

widagda sire ring niti, subageng sireng bhuwana

3)         Ring daksina tunjunge merah, Sang Hyang Brahma Dewatannya

Ring hati prenahira. Alinggih sira kalihan

Pantesta kemabng merah. Ring tembe lamun dumadi

Sampurna tur dirga yusa. Pradnyan maring tatwa aji

4)         Ring Nriti tunjunge jingga. Sang Hyang Rudra Dewatannya

Ring usus prenahira,Alinggih sira kalihan. Pantes

te kembange jingga, Ring tembe lamun numadi,

Dharma sira tur susiila. Jana nuraga ring bhumi

5)         Ring Pascima tunjunge jenar, Mahadewa Dewatannya

Ring ungsilan prenahira, Alinggih sire kalihan, Pantesta

kemabnge jenar, Ring tembe lamun dumadi,

Tur Sira Cura ring rana, prajurit, watek angaji

6)         Ring wayabya tunjunge wilis, Hyang Sangkara Dewatannya

Ring lima pranahira, alinggih sira kalihan. Pantesta

kembang wilis. Ring tembe lamun dumadi, Teleb

tapa brata, gorawa satya ring bhudi

7)         Ring utara tunjungeireng. Sang Hyang Wisnu Dewatannya

Ring ampu prenahira,Alinggih sira kalihan.

Panteste kembange ireng, Ring tembe lamun numadi,

Suudira suci laksana, surupa lan sadu jati

8)         Ring airsanya tunjunge biru . Sang Hyang Sambu  Dewatannya

Ring ineban prenahira,Alinggih sira kalihan.

Panteste kembange biru , Ring tembe lamun numadi,

Pari purna santa Dharma, sidha sidhi sihing warga

9)         Tengah tunjunge mancawarna . Sang Hyang CiwaDewatannya

Tumpukung hati  prenahira,Alinggih sira kalihan.

Panteste kembange mancawarna , Ring tembe lamun numadi,

Geng prabhawa sulaksana, satya bratha tapa samadi

Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, arti dari masing-masing geguritan di atas  sama dengan diskripsi warna dalam Dewata Nawa Sanga,  tambahan yang diberikan adalah  adanya akibat dari penggunaan tunjung (teratai) dengan sembilan warna tersebut adalah sebagai berikut :

¨       penggunaan tunjung warna putih akan menyebabkan kelahiran berikutnya        (reinkarnasi) menjadi  manusia yang kaya raya, dermawan dan sejahtera

¨       penggunaan tunjung warna dadu akan menyebabkan kelahiran berikutnya            (reinkarnasi) menjadi  manusia yang kaya raya, dermawan dan sejahtera

¨       penggunaan tunjung warna merah akan menyebabkan kelahiran berikutnya             (reinkarnasi) menjadi  manusia yang kaya raya, dermawan dan sejahtera

¨       penggunaan tunjung warna  biru  akan menyebabkan kelahiran berikutnya             (reinkarnasi) menjadi  manusia yang sempurna , dan pintar (berilmu pengetahuan)

¨       penggunaan tunjung warna jingga akan menyebabkan kelahiran berikutnya             (reinkarnasi) menjadi  manusia yang  sabar serta menjalankan Dharma, susila,

¨       penggunaan tunjung warna hijau  akan menyebabkan kelahiran berikutnya             (reinkarnasi) menjadi  manusia yangberani bertarung di medan laga, sebagai prajuurit sejati dengan watak yang sangat baik ( berpendidikan )

¨       penggunaan tunjung warna  kuning  akan menyebabkan kelahiran berikutnya              (reinkarnasi) menjadi  manusia yang tekun mengerjakan tapa , brata, dan mempunyai budi yang luhur

¨       penggunaan tunjung warna hitam akan menyebabkan kelahiran berikutnya             (reinkarnasi) menjadi  manusia yang  berkelakuan baik, suci laksananya, tampan dan  dan senantiasa menimbulkan kedamaian

¨       penggunaan tunjung panca warna akan menyebabkan kelahiran berikutnya             (reinkarnasi) menjadi  manusia yang keseluruhan hidupnya diliputi oleh kebaikan, disayangi oleh setiap orang

Disamping hal tersebut di atas dapat dikatakan bahwa dari 8 warna dasar yang diberikan oleh Berlin dan Kay,  dalam Agama Hindu terutama dalam Dewata Nawa Sanga terdiri dari dari empat warna dasar yaitu : merah, putih, kuning, dan hitam. Hal ini disebabkan  karena warna hijau yang berada di barat laut ( barat dan utara ) merupakan perpaduan antara kuning dan hitam  ; warna dadu yang berada di tenggara         ( timur dan selata ) merupakan perpaduan antara putih dengan merah ; warna jingga yang berada di barat daya ( barat dan selatan ) merupakan perpaduan antara merah dengan kuning.

3. Fungsi dan Makna Warna dalam Dewata Nawa Sanga ( Agama Hindu )

Berdasarkan simbol simbol yang ada dalam Dewata Nawa Sanga, maka fuungsi dan makna warna dalam Dewata Nawa Sanga dalam Agama Hindu dapat dianalisis seperti dibawah ini :

1. Makna warna hitam yang berada disebelah utara dengan Dewa Wisnu menurut budaya hindu berarti gunung, dengan fungsi  sebagai pemelihara. Menurut makna MSA berarti arang, gelap, sedangkan makna universal  memiliki makna : heightàgreatness, massà generousity, source of living, gelap, ketakutan, sial, kematian, penguburan, penghancuran, berkabung, anarkisma, kesedihan, suram, gawat (kesan buruk) dan (kesan baik) berarti : kesalehan, kealiman, kemurnian, kesucian, kesderhanaan India ; pemelihara kehidupan, limitless, immortal

2. Makna warna Merah  yang berada di Selatan dengan Dewa Brahma dengan pusaka Gada dan  tanda api memiliki makna budaya laut, pencipta dan kekuatan, sedangkan menurut MSA berarti api dan darah. Makna universal yang terkandung dalam warna merah adalah : sumber dari segala sumber, berani, cinta , emosi , darah (rudhira), kehidupan, kebesaran, emosi, kemegahan, murah hati, cantik, hangat, berani, api, panas, bahaya, cinta (manusia à ß Tuhan),  perang, sumber panas, benih dari kehidupan

3. Makna warna Putih dengan  Dewa Iswara  yang bersenjata Bajra, berada di sebelah Timur, dan dengan tanda jantung  mempunyai makna matahari, pelebur, dan sumber kebangkitan. Makna putih dari MSA berarti terang, salju, dan susu dan  makna universal berarti  penerangan, pahlawan , sorga, kebangkitan, centre of human body, cinta, kesetiaan, penyerahan diri, absolut, suci, murni, lugu, tidak berdosa, perawan, simbol persahabatan, damai, jujur, kebenaran, bijaksana, alat untuk mencapai surga, ß kekeuatan angin

4. Makna warna Kuning  disebelah Barat dengan Dewa Mahadewa dengan senjata Nagasapah dan  tanda lingkungan kabut memiliki makna budaya matahari terbenam, penjaga keseimbangan dan kekuasaan, sedangkan MSA berarti matahari. Makna universal dari warna kuning adalah end of journey, passive, (bad image) ; cemburu, iri, dengki, dendam,bohong, penakut, (good image) ; cahaya, kemuliaan, keagungan, kesucian, murah hati, bijaksana, penyatuan unsur udara + air dan tanah à evolutive process:

5. Makna warna   Hijau yang berada di sebelah barat laut dengan Dewa Sangkara  dan senjata angkus, dengan tanda lingkungan mendung  memiliki makna budaya penyatuan matahari terbenam  & laut, keseimbangan, kesempurnaan dalam MSA berarti  tumbuh-tumbuhan, dan secara universal memiliki makna akhir dari segalanya, tumbuhan, kehidupan, kesuburan, vitalitas, muda, kelahiran kembali, harapan, kebebasan, dan simbol : kesuburan, kurir       (messenger ), prophet:

6.  Makna warna  Biru yang dalam Dewata Nawa Sanga berada di Timur Laut dengan Dewa Sambu bersenjata Trisula, dengan tanda lingkungan awan tebal memiliki makna budaya penyatuan matahari & laut,  keseimbangan alam, penyatuan kebang-kitan, pemeliharaan dan pemusnahan ; kebebasan rohani. Dalam MSA biru berarti  laut, langit, sedangkan makna universalnya adalah sumber dari segala sumber, senser, assosiated with the idea of birth and rebirth,  sorga, langit, bangsawan, melankolis, jujur, cinta, setia, kebenaran, distincttion, excellence, kesedihan, dan makna asosiasi : hujan à banjir à kesedihan:

7.  Makna warna  Dadu yang dalam Dewata Nawa Sanga berada disebelah tenggara dengan dewa Mahesora bersenjata dupa dan tanda lingkungan  rambu (awan tipis) memiliki makna budaya penyatuan antara gunung dan matahari, keseimbangan alam, pembunuh indria. Menurut  MSA, warna dadu memiliki makna yang sama dengan makna asali dari warna putih dan merah. Makna universalnya adalah : kebangkitan, kesadaran, kesadaran, kehidupan, halus, anggun, megah, persahabatan, kedamaian, emosional, dan  dingin

8. Makna warna   Jingga dengan Dewa Rudra bersenjata Moksala yang berada di sebelah Barat Daya dengan tanda lingkungan  halilintar, memiliki makna budaya penyatuan matahari terbenam dan gunung, pembasmi, kedahsyatan, sumber kemurkaan. Sedangkan makna Jingga menurut MSA merupkan makna yang terkandung dalam warna merah dan kuning. Makna Universal warna kuning adalah darah, the concept of circulation, kematian, bahaya, kehidupan, hangat, dendam, murka, pengorbanan, penyerahan diri, active force, supreme creative power, illumination, penyerahan, dan pengorbanan.

9. Makna warna  Brumbun  yang merupakan campuran warna  putih + kuning + hitam + merah yang berada di tengah dengan Dewa Ciwa bersenjata Padma dan tanda lingkungan topan memiliki makna budaya pusat,  pemusnah dan dasar dari semua unsur, kesucian. Makna warna ini menurut MSA adalah  makna asali dari warna putih, kuning, hitam dan merah, sedangkan makna universalnya adalah : moving from : multiplicityà unity, space à spacelessness, time à timelessness, a mean toward contemplation and concentration, kesucian, victory, denote the interco-munication between  inferior and the supreme,  5 = health, love , controller,  violent, evil power

Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa Konsep warna dalam agama Hindu khsusnya dalam Dewata Nawa Sanga merupakan suatu konsep yang diciptakan berdasarkan simbol dan arah mata   angin. Hal ini merupakan suatu yang sangat alami mengingat dalam agama Hindu  terdapat banyak simbol yang dipergunakan Simbol-simbol tersebut merupakan  satu kesatuan yang  terintegrasi dengan warna, tektur, bentuk, fungsi, dan atribut lainnya yang dianggap sebagai sesuatu yang utuh yang tidak dapat dipisah-pisahkan.  Hal ini didukung oleh pendapat  Anne Wierbicka ( 1996 ) yang menyatakan   bahwa konsep warna  bisa diciptakan  pada setiap kelompok  masyarakat secara berbeda – beda seperti halnya konsep televisi, komputer dan  sebagainya. Oleh karena itu dalam bahasa Inggris dan juga dalam bahasa – bahasa lain di dunia,  istilah  warna dianggap sebagai sesuatu yang secara wajar  mengandung domain  semantik  pada ‘dirinya’. Hal lainnya yang mempengaruhi  konsep warna dalam Dewata Nawa Sanga adalah adanya keuniversalan yang menggunakan lingkungan sebagai  kerangka referensi yang fundamental

Penggunaan simbol yang merupakan  satu kesatuan yang  terintegrasi dengan warna, tektur, bentuk, fungsi, dan atribut lainnya yang utuh  dan tidak dapat dipisah-pisahkan menimbulkan makna konotatif, asosiatif dan kolokatif pada warna yang ada di dalam Agama Hindhu.

4. SIMPULAN

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan  dapat ditarik simpulan sebagai berikut  :

  1. Makna warna dalam Dewata Nawa Sanga secara khusus dan dalam Agama Hindu secara umum memiliki konotasi yang sangat kuat dengan arah mata angin. Disamping makna konotatif tersebut, makna warna dalam Agama Hindhu banyak mengacu pada simbol-simbol seperti simbol senjata , simbol organ dalam tubuh, serta simbol lingkungan. Oleh karena itulah makna warna dalam Dewata Nawa Sanga memiliki  makna konotatif, asosiatif,khusus, dan kolokatif.
  1. Ada perbedaan makna warna yang terdapat dalam Dewata Nawa Sanga dan makna warna yang diuraikan dengan menggunakan analisis Metabahasa Semantik Alami oleh Anne Wierbicka ( 1996). Hal ini karena warna dalam Dewata Nawa sanga memiliki makna khusus sesuai dengan filsafat Agama Hindhu. Namun meskipun demikian dengan melalui analisis makna yang lebih detail, ditemukan bahwa sebenarnya makna warna yang ada pada masyarakat didunia ini adalah sama diantara kekhususan yang ada.
  2. Universal karena filsafat , religious berdasarkan filasafat Timur yang lebih dulu ada dibandingkan filsafat Barat. Oleh karena itu jelas filsafat Barat berorientasi pada filsafat Timur. Konsep warna merupakan konsep yang ada juga pada filsafat Timur, sehingga analisis dari konsep warna ditinjau dari filsafat Barat ( ilmu pengetahuan ) merupakan konsep yang universal . Filsafat Timur kurang berkembang karena tentang agama sedangkan filsafat Barat yang berkembang karena tentang ilmu pengetahuan.

Mitologi Warna

Posted: 13 Agustus 2010 in colour in indonesia

Mitologi Warna

Seberapa sering anda melihat laki-laki berpakaian warna pink, atau barangkali seorang dokter dengan pakaian serba hitam saat bertugas di rumah sakit. Konon bayi yang baru lahir juga tidak boleh tidur diruang yang temboknya dicat serba hitam. Sebaliknya seorang Dedy Cobuzier rela menyiksa diri dengan dandanan aneh dan pakaian serba hitam. Seorang wanita akan terlihat lebih seksi apabila memakai pakaian merah. Sementara itu seorang petualang rela tidak ganti pakaian berhari-hari agar bisa tetap memakai rompi coklatnya.

Dari beberapa contoh di atas maka tentunya dapat disimpulkan kalau warna bukan hanya berkaitan dengan estetika saja, tetapi melaui warna manusia juga mencoba untuk mengkomunikasikan sesuatu. Setiap warna dapat menimbulkan suatu persepsi tertentu. Bahkan apabila dikombinasikan dengan atribut lain warna bukan hanya menimbulkan persepsi dan citra tertentu, warna akan akan semakin menguatkan suatu “symbol” tertentu seperti keagungan, kematian, kehidupan dan lain-lain.

Warna merupakan suatu bahasa yang disembunyikan. Pertama, Warna bisa mewakili usia tertentu, misal saja warna-warna remaja yang cenderung bernuansa cerah dan memiliki saturasi tinggi, sebaliknya warna yang mewakili usia dewasa cenderung lebih gelap dan memiliki saturasi rendah. Kedua, warna bisa mewakili suasana hati misalnya orang yang berduka seringkali memakai pakaian dan kerudung hitam, sedangkan orang yang sedang bersukacita cenderung memakai pakaian bercorak putih atau warna-warna cerah seperti pink, kuning, oranye. Ketiga, Warna bisa menunjukkan kepribadian, warna selalu dikaitkan dengan kepribadian. Dalam film kita selau melihat jagoan-jagoan memakai kostum merah, seperti Spiderman dan Superman, walau sebenarnnya warna kostumnya sengaja disamakan dgn bendera Amerika untuk menumbuhkan rasa patriotik dan nasionalisme pada perang dunia 2, warna merah mempunyai sifat berani dan semangat yang tinggi. Contoh lain yang dapat kita lihat adalah seorang yang suka memakai warna kuning cenderung memiliki sifat percaya diri. Keempat, Warna untuk menunjukkan status sosial tertentu. Orang orang di kalangan ekonomi menengah atas memakai pakaian yang memiliki corak warna keemasan. Atau warna-warna yang memiliki sifat berkilau seperti warna silver dan putih. Sebaliknya orang-orang kalangan bawah cenderung memakai pakaian dengan warna-warna kusam yang gelap dan kecoklatan. Kelima, Warna bisa menunjukkan orientasi seksual dan jenis kelamin. Seorang metroseksual menandai diri dengan memakai pakaian dengan warna-warna saturasi tinggi dan memakai banyak atribut warna dalam pakaiannya. Selain itu warna maskulin adalah biru tua dan warna feminim adalah pink. Keenam, Warna sebagai penunjuk waktu. Survai membuktikan kalau apabila diruang kerja didominasi warna-warna panas (kuning, oranye, merah) maka waktu rasanya semakin sepat berlalu, akibatnya kita seringkali terburu-buru. Sebaliknya jika ruang kerja yang didominasi warna dingin (hijau, biru, ungu) waktu terasa lebih santai dan enjoy. Warna klasik seperti coklat dapat memberi suasana masa lampau, sedang warna silver bisa memberi suasana futuristik.

Hanya saja sejak kecil kita sudah dipaksa bahkan “diperkosa” untuk mendefinisikan warna secara gegabah tanpa memperhitungkan proses semiosis antara penanda menjadi petanda atau sebaliknya. Misalnya saja warna bendera Indonesia, Merah berarti berani dan putih berarti suci. Padahal merah bisa juga berarti gairah dan seksualitas, sedangkan putih bisa juga berarti kebahagiaan dan kejujuran. Satu contoh tersebut kita dihadapkan dalam sifat ambigu dari warna, karena satu warna bisa mempunyai banyak sekali arti.

Ada beberapa hal yang membuat warna sulit didefinisikan karena sifat warna yang komplek. Pertama, eksistensi warna. Jumlah warna sebenarnya tidak terbatas karena setiap warna bisa dicampur dan memiliki saturasi dan value yang berbeda. Oeh karena itu perlu kita batasi yang dimaksud warna disini adalah warna “awam”, artinya yang dimaksud dengan merah adalah merah yang kebanyakan orang sepakati. Merah memiliki rona warna lain tetap kita “anggap” sebagai merah. Kedua, sifat ambigu dari warna. Ambigu disini adalah sifat multi tafsir dari warna. Misalnya warna hitam bisa berarti kematian, kejahatan, kedukaan dll. Bahkan sifat multi tafsir dari warna bisa sangat berlawanan misalnya saja hitam bisa juga berarti elegan apabila diaplikasikan pada mobil sedan. Ketiga, sifat warna yang arbitrer. artinya warna semata-mata bersifat konfensi dan sewenang-wenang tanpa ada penjelasan ilmiah dan subtansial. Misalnya dari dulu kita mengenal arti merah dari bendera RI adalah berani. Tanpa tahu bagaimana proses pendefinisian dari merah menjadi berani. Hal tersebut karena semata-mata semua orang mengatakan warna merah berarti berani. Kempat, definisi warna yang spekulatif. Karena definisi warna seringkali tidak memiliki pertanggung jawaban ilmiah, maka seringkali kita mendefinisikan secara spekulatif sesuai dengan feeling yang kita rasakan ketika melihat warna tersebut. Misalnya ketika kita sedang berduka atau patah hati, setiap warna yang kita lihat bisa memiliki arti kematian atau putus asa. Di sini kita dihadapkan pada persepsi orang bisa berbeda terhadap warna Karena adanya pengalaman tertentu. Kelima, sifat dinamis warna yang sesuai dengan kultur, waktu dan tempat. Warna merah di cina bisa memiliki arti yang sangat berbeda dengan di Indonesia. Seperti halnya warna putih pada jaman renaisans bisa berbeda arti pada jaman sekarang. Hal tersebut dikarenakan konfensi tentang warna ditempat dan waktu yang berbeda bisa berlainan.

Ambiguitas dalam warna bukan berarti membuat warna menjadi tidak “terdefinisikan”. Sifat-sifat chaos pada warna tentunya bukan tanpa sebab. Karena ada banyak simbol yang tidak bisa diwakili oleh warna tertentu. Misalnya saja oranye berarti segar atau fresh. Warna oranye tersebut tidak bisa digantikan dengan warna hitam ataupun warna merah. Seorang laki-laki macho berotot dan berkumis tetap akan terlihat seperti bencong apabila memakai pakaian pink, disini kita dapat menyimpulkan bahwa maskulinitas tidak mungkin dapat kita definisikan pada warna pink. Sebabnya adalah:

1. Warna telah diasosiasikan pada suatu benda tertentu.
Asosiasi disini adalah warna diidentikan pada benda tertentu. Misalnya warna kuning pada matahari. Oleh karena itu warna kuning bisa diartikan kehangatan, kepercayaan diri, keindahan, keangkuhan dll. Warna hitam tidak bisa mewakili definisi segar karena segar diasosiasikan pada laut yang warnanya biru muda, atau pada jeruk yang warnanya oranye.

2. Sifat arbriter yang terlalu kuat.
Sifat arbriter yang terlalu kuat dan sejak lama melekat dalam masyarakat dapat membuat definisi warna menjadi “seakan-akan” ilmiah. Karena dulu warna merah berarti/diartikan berani dan putih berarti suci, maka demikianlah jadinya. Karena masyarakat tidak bisa menemukan kajian untuk mendukung maupun menolak definisi tersebut.

3. Warna hanya penguat citra jargon/atribut.
Mendefinisikan warna tidak bisa dilakukan dengan cara melihat warna yang berdiri sendiri. co. kotak polos berwarna hitam tidak akan bisa diartikan apapun, sedang warna hitam yang dipakai oleh orang yang sedang menangis di sebelah kuburan sangat bisa menguatkan arti dari dukacita. Warna hitam pada HP dan mobil bisa menguatkan kesan elegan dan mewah. Hal tersebut dikarenakan warna “hanya” sebagai penguat saja. Sedang element yang dominan adalah jargon dan atribut yang menyertainya, dalam kasus diatas adalah orang menangis, HP dan Mobil. Untuk mendefinisikan warna sebagai penguat citra dan persepsi tentunya berawal dari mendefinisikan atribut/jargon dahulu. Dalam aplikasi dan proses semiosisnya definisi warna tetap mengacu pada 2 point diatas yaitu asosiasi dan arbriter.

Dalam “Mithologies” karya Roland Barthes kita diperkenalkan pada mitos-mitos benda. Misalnya kacamata sebagai sesuatu yang menandakan kejeniusan, ketekunan dan formalitas. atau celana sobek sebagai petanda anti kemapanan dan anti formalitas. Mitos dalam “Mythologies” tersebut tidak berpretensi untuk menentukan yang baik dan yang buruk. Namun semata-mata sebagai bahasa yang disembunyikan (hidden linguist). Demikian juga dengan warna, karena mitos warna tidak bisa dibahas secara eksakta. Seorang pria berpakaian pink belum pasti dia merupakan seorang pria yang mempunyai orientasi seksual sesama jenis. Namun paling tidak pencitraannya bisa demikian. Mengacu pada pengertian semiotikanya Umberto Eco yaitu semiotika merupakan ilmu untuk mendustai. Warnapun seringkali dipakai untuk mendustai misalnya : Joni memakai pakaian serba hitam, rambut gondrong, celana ketat dangan tato sekujur tubuh untuk meyakinkan orang lain bahwa dirinya seorang preman. padahal preman atau tidak sebetulnya bisa dilihat dari perbuatannya bukan penampilannya. Namun karena citra visualnya begitu kuat seringkali dia berurusan dengan polisi setiap kali ada kasus pemalakan.

* Sedemikian hebatkah warna mempengaruhi persepsi kita ?
* Mampukah warna mendustai kita, karena warna mampu mengaburkan citra dari segala sesuatu yang kita lihat ?
* Warna…warna…warna…..apa sih menariknya ?

sumber : Stefanus Daniar Wikan Styanto

BASIC COLORS AND METAPHORS

Posted: 13 Agustus 2010 in colour language

BASIC COLORS AND METAPHORS
V.U. Nguyen
ABSTRACT: The paper presents a short a study on etymology of words for
basic colors in Vietnamese. It is shown that lexicon of basic colors was derived
mainly through metaphor, which results from observation of a phenomenon, an
object, an act, or a living creature, and its associated or defining features or
characteristics. The process of metaphoring could be undertaken over a period
of time in the past by speakers of many different languages or dialects, that
eventually evolved and merged into the Vietnamese language, modified
through quốc-ngữ codification using Latin alphabet.
***
For a long time, research in the field of linguistic origins, specifically applied
to the Vietnamese language, has been based almost exclusively on the Treeand-
Branch model, which normally is associated with, or results in the
hypothesis of loan words or lexical borrowing applied to cognates between any
two different languages that may, customarily, share the same branch or tree in
language grouping.
Working from the old folklore about the union of Âu Cơ & Lạc Long Quân and
the 18 reigns of King Hùng Vương, Nguyen [1] has developed a new theory on
the origin of the Vietnamese and their language, and demonstrated through
many case examples, using historical, cultural and linguistic data among others,
that Vietnamese is a historical and evolutionary merger of many languages and
dialects. It has a Mon-Khmer substratum mixed with Thai, Munda, Polynesian
and Negrito, superimposed and interwoven with strata of the ancient Bai Yue
(Bách Việt) groups in Southern China, including most notably ancient tongues
in Zhuang, Guangdong, Fujian, Wu (Shanghai-Zhejiang), Hainan, and
reinforced by the Hakka and Miao-Yao (Hmong-Mien) combination (see also
[14] and [15]). The theory is based on a model, tentatively called the Tree-and-
Soil model, whereby most of the lexicon hitherto considered as loan words,
especially in the long past, could be considered to come from languages and
dialects that contributed to evolutionary formation of Vietnamese. It follows
naturally that lexical borrowing would be relegated to a second-order issue. In
the following, this important feature of the theory will be further examined
through investigation of basic colors, in the Vietnamese language, with a view
to getting a better understanding of the mechanics of lexical merger,
particularly through identification of shared metaphors, among different
1
languages or dialects in the formative centuries or millennia, before a singular
and unified language came into being.
Word generation by metaphor
Consider first, some features of lexical generation by metaphor, through
examples surrounding the words “Month” and “Moon”. In many languages, the
word describing the ‘Moon’ is often paired with that meaning ‘Month’, since
‘month’ was conceived very early as one basic cycle of the Moon. For
example: [yue] and [yue] (Chinese), [mah] and [mah] (Persian), [là] and [là]
(Burmese), [bulan] and [bulan] (Malay), [vula] and [vula] (Fijian), [mahina]
and [mahina] (Tongan), [masina] and [masina] (Samoan), [mececev: moon] and
[mesec: month] (Serbo-Croatian), [maan: moon] and [maand: month] (Dutch),
[mane: moon] and [maned: month] (Danish), etc.
In the Vietnamese language, the word for ‘Moon’ came from one compositional
group: Trăng (or ‘blăng’ [2] – similar to ‘Bulan’ in Malay, or ‘tlăng’ in Mường),
and for ‘Month’, from another group: Tháng – compared with: [Thang] in
Fujian, [Căn] for Moon and [Bilan] for Month, in the Champa language [10];
‘La Lune’ (Moon) and ‘Le Mois’ (Month), in French. That is, Month and Moon
are not represented by the same word, in Vietnamese, Chamic, and French. On
examination of neighboring languages, it can be seen that in Vietnamese, Trăng
(Moon) has a cognate ‘Bulan’ in Malay, or ‘tlăng’ in Mường, whereas Tháng
(Month) was most likely derived, as a combination, from Mường [khảng] and
Fujian [Thang] meaning ‘month’ and ‘rising moon’, respectively. Tháng could
also come straight from a Thai word [thaawn], meaning “the moon”. This
would indicate that, metaphorical word pairs in Vietnamese, like French, may
have elements coming from different tongues, both constituting the language as
a whole.
Another word that can be used to illustrate both lexical generation by metaphor
and its complexity is “Kiều”, as in “kiều bào” (expatriates) or “Việt
kiều” (overseas Vietnamese), customarily considered as Sino-Vietnamese in
origin. First “kiều” shares common sound with [kiu] or [k’ieu] in the Hakka
dialect, which in turn is equivalent to [kou]
口 in Mandarin, following the “[iu]-
to-[ou]” phoneme conversion rule among Chinese-BaiYue dialects, as detailed
in [1]. [Kou] is “khẩu” in Vietnamese meaning “mouth” or “Person”. Under
Nôm, khẩu is Miệng or Mồm. The metaphor used here is that “Mouth”
represents “person”, and examples will include: Hộ Khẩu meaning Household
Register listing the names of all persons living in a house; “Nhà này có 3 miệng
ăn” i.e. This household has 3 mouths (persons). Kiều as in kiều bào, denoting a
person residing in a foreign country, is also pronounced similarly as [kiau] in
2
Hakka, and [qiao]
僑 in Mandarin. It is written as 僑 akin to [qiao] 橋
, word for
“bridge”, also called “kiều” or “cầu” (“[iu]-to-[ou]” phoneme conversion), as if
an expatriate was originally a native of one tribe, living in another tribe, as
commonly separated by a bridge.
A word that would best illustrate contribution of ethnic dialects to Vietnamese,
by way of metaphor, is “Peanut” known in Vietnamese as “Lạc” or “đậu
phộng”. “Lạc” and “đậu phộng”, interestingly may appear in different
“forms” but conform to a single metaphor, though under different dialects.
Other names for “Peanut” include “Groundnut” and “Earthnut”, which point to
a metaphor in the English language, denoting that the Nut (or pea) is grown in
the ground or earth, intermingled with, and connected to roots of the plant
(Arachis hypogaea). In the Muong dialect, peanut is also called [lac] like
Vietnamese (northern), but without the nặng accent [11]. Whereas in the Tay-
Nung dialect, which is related to the Zhuang dialect in GuangXi [12], the word
for “Root” is merely “Lạc” [13], identical to Vietnamese “Lạc” for Peanut.
“Đậu phộng” is a term of the southern dialect, also used to denote “peanut”.
“Đậu” means Pea, and “phộng” is a quốc-ngữ phonetic transcription of [pông]
本, with similar sound as [pəng] in Wu, [bun] or [bon] in Cantonese, [ben] in
Mandarin, and [pon] in Sino-Korean, all meaning “Root”, like [lạc] in Tay-
Nung. Similar to the English metaphor “groundnut” or “earthnut”, “phộng”
could be related to [pun] 坋, meaning “earth”, or [pok] 墣, meaning “clod of
earth”, both in Hakka. Thus, Peanut as “Lạc” or “đậu phộng” in Vietnamese is
originally a metaphorical term, denoting its harvest has to go to the roots of the
plant, or down to the earth or soil, itself. It is noted also that the more
commonly-used Vietnamese word “Rễ” for “Root”, came directly from ‘substratum’
Mon-Khmer: [ruih] Khmer, [ré:h] or [rih] or [re:] Pearic, [rơh] Bahnar,
[*rɛs] Proto-Waic, [rɛɛh] Souei, etc. [3].
The present discussion on lexical generation by metaphor will now examine the
etymology of words for basic colors, which in ancient Chinese thought, may
refer to White, Black, Yellow, Red, and Blue (or Green). These 5 colors are
associated with the 5 directions or 5-element in the Five-Element theory: White
goes with West (metal), Black goes with North (water), Blue (or Green) with
East (tree / wood), Red: South (fire), and Yellow: Central region (earth).
White
First, the most popular Vietnamese word for White color is Trắng (màu Trắng).
Under one of the rules of lexical borrowing or Jia Jie (Giả Tá), using tonal
3
change, it can be seen, most likely: Trắng being the color of Trăng, ie. White is
the color of the Moon. Ancient Vietnamese thus employed Trăng with some
declension in tone, to form Trắng describing the color White by using the
Moon as metaphor. Another language that also used the Moon as metaphor for
“White” is the Fijian language, where [vula] is the same word for “Month” and
“Moon”, and duplicative [vulavula] is word for color “White”. It is noted that
[vulavula] is duplicative, possibly because the language is not tonal like
Vietnamese or Thai, and [vula] resembles Malay word ‘bulan’ for Moon and
Month, with labiodental “v” substituting for bilabial “b” as initial.
Vietnamese use of Moon (trăng) for White (trắng) is very similar to the Thai
way of metaphorizing the color White, by describing in olden times, White
being the color of Rice. In Thai, Rice is called [Khaow] (gạo / cơm –
Vietnamese), and White is [Khaow] (Rice) pronounced with a different tone:
[Khãow] {i.e. [Khaow] (Rice) with a falling-rising tone}.
The Thai way of coupling White with Rice is supported by the Chinese word 白
[Bai]-2, which also has another Jia Jie word having different tone 粺 [Bai]-4
meaning ‘white or polished rice’ [5]. Corresponding Vietnamese sound for
[Bai] is Bạch meaning White. However Bạch could also be metaphorically
linked with [Bak] in Mon Khmer [3] or Bạc in Vietnamese, meaning ‘Silver’.
Another word for the color White in Chinese is 精 [jing] with Sino-Vietnamese
form as Tinh as in trắng tinh. Tinh also means ‘polished rice’, and it is
commonly used in compound words like: tinh-trùng (semen), quỷ-tinh (ghost,
having white color). Another word indicating White is 粉 [fen] (Vietnamese:
phấn) [5], also meaning ‘Flour’.
Vietnamese metaphorical use of Trăng (Moon: Bulan (Malay)) for the color
Trắng (White) also seems to have some support from the French language:
BLANC, which bears strong sound similarity to Trăng’s cognate:
‘Bulan’ (Cham & Malay). In the English language also, ‘to blanche’ (as in
‘blanched peanuts’), and ‘bleach’ could be said to be etymologically related to
the French adjective ‘Blanc’ or ‘Blanche’, all metaphorically linked with Malay
word ‘Bulan’ (Moon), over long distances.
Ancient Vietnamese and Thai also seemed to make metaphors out of the Moon
(Tlăng / Trăng) in other instances, like in Vietnamese: Tlòn => Tròn (round,
circular) and Tlổng => Trống (drum) [2] [11], with Thai equivalent [glohm]
and [glawng], respectively.
4
Black
The color Black very often derived its metaphor from ‘night time’, or vice
versa: Đêm (night), giving rise to Đen (Black), or similarly: Tối (night) => màu
Tối (Dark color) (see [4]). In Thai: [see Dam] is Black color, very close to
Vietnamese sắc Đêm or sắc Đen (màu Đêm or màu Đen). It is interesting to
note that a Chinese word for ‘Black’ is 黮, pronounced as [tam] or [tim] in
Hakka, and [taam] in Cantonese, very close to Vietnamese Đêm. The word for
‘Black horse’ is 驔 pronounced as [tim] or [daam] in Cantonese, and [tan] or
[dian] in Mandarin, all very close to Đêm or đen. Đêm (or đen, which
sometimes may be associated with Sậm or Đậm meaning Black, Dark, or
Dense) – with some dialect pronunciation as [Điêm] – and Hakka’s [tam] or
[tim] bear striking similarity in sound with English words: Dim and Dense. In
the Champa language, one word for ‘Black’ is [tăm], with Mon-Khmer
cognates of [təm] or [qitem] or [səm] [3], normally in Vietnamese as compound
word: ‘tối-tăm’ meaning ‘Dark’. While ‘Tối’ meaning Dark and Night, has
traces of Munda ([Toi-gal] Sora) in the substratum mix [17], ‘Tăm’ also has
cognate as *[zəm] or [qudem] in Mon-Khmer [3] [4], [tam-pagal] in Sora
(Munda), and [dahm] in Thai. [Zəm] or [qudem] is close to ‘đậm’, ‘sậm’, ‘đêm’
in Vietnamese. In Chinese: 夜 [Ye] or [Yi], meaning night, and 黟or 黓 [Yi]
meaning ‘dark’, ‘black’ – have similar sounds under Jia Jie. The same sort of
metaphor can be traced in French: Nuit (night) => Noir (black), noting that the
Italian and Portuguese word for ‘Night’ is ‘Notte’ and ‘Noite’, respectively.
There is another Chinese word for Black, called [wu] (Ô or Quạ): 烏
metaphorizing the Crow (Chim Ô). Another Chinese word for ‘Black’ took
metaphor from the black stuff spurting out from an octopus or squid: 墨,
pronounced [mo] or [mei] in Mandarin, and [mak] or [maak] in Cantonese. In
Chinese it refers to ‘black Ink’ or ‘black, dark’. Its sound correspondence in
Thai ([meuk]) and Vietnamese ([mực]), is used to denote ‘Ink’, and ‘Octopus’
or ‘Squid’. This commonality between Thai and Vietnamese will lead to an
introductory remark about the ‘Tree-and-Soil’ model, which would state that
between Thai and Vietnamese, there must be a common constitutive group of
speakers that use the same word [meuk] (mực) to denote both ‘Ink’ and
‘Squid’. Likewise, [Chai] (Thai) or [Xài] (Vietnamese) is used by a common
constitutive group of the two languages to denote BOTH ‘to use’ and ‘to spend
(money)’. Similarly, [Khaow] (Thai) or [Gạo / Cơm] (Vietnamese) is used by
that same, or another, common group of speakers to denote ‘Rice’ or ‘cooked
Rice’, or ‘Meal’.
5
In Korean, the word for ‘Black’ is [komun] sounding very similar to
Vietnamese gỗ mun meaning Ebony or Black-wood. The adjective mun
meaning ‘Black’ customarily is used in collocation with Mèo (cat) as: Mèo
Mun being ‘Black Cat’, having the same initial ‘M’. Other Sino-Vietnamese
words for Black are ‘âm’ 陰 & 隂, pronounced the same in Cantonese: [am], and
the sound is commonly used in Hainan for ‘Black’, though written differently:
晚, referring also to Night time. The word Âm 陰above, meaning Black, is
normally metaphorically linked with ‘Negative’ [yin] (as opposed to ‘Positive’
陽 [yang]).
Yellow
In ancient China, the color Yellow came very early from the metaphor
‘Loess’ {[Huang Tu] / Hoàng Thổ}, being yellow-earth or wind-borne deposits
along the Huang He (Yellow River). Its Chinese pronunciation [Huang] gave
rise to sound correspondence [Wang] or [Wong] in some Chinese dialects and
[Vong] in Hakka and “Vàng” in (northern) Vietnamese. The most significant
Chinese metaphor of [Huang] is ‘Huang Di’ meaning Emperor, originally:
Emperor of the Yellow Land. In English, the word ‘Yolk’ in ‘Egg Yolk’ looks
much metaphorically related to ‘Yellow’, which is described in French as
‘Jaune d’oeuf’.
It is of interest to note that English initial [Y] as in “Yellow” has some
correspondence with French [J] as in “Jaune” (yellow), as exemplified in:
young & jeune, yolk & jaune, yoke & joug, yap & japper, yodel & jodler. Quite
similar to sound correspondence between [Y] in Mandarin (and other Chinese
dialects) and [Z] in Hakka, and between northern pronunciation [Dz] and
southern pronunciation [Y] in initial [D] in Vietnamese. For example:
Character 夜 meaning “Night” is pronounced as [ye] in Mandarin and
Cantonese, but could be as [za] in some Hakka dialects, and [Dzạ] or [Yạ] in
northern or southern Vietnamese dialects, respectively.
Red
There is a strong metaphorical link between the color Red and the first colorful
observation by homo sapiens: ‘Blood’. Main Vietnamese words for ‘Red’ are
Hồng and Đỏ, and for ‘Blood’, Huyết and Máu., and it will be demonstrated in
the following that there is a link between words for “Blood” and “Red” in
Vietnamese.
6
Whereas [hong] means the Sun in the Tai dialect of the Yunnan area, the
‘official’ use of [hong] for Red in Chinese-Vietnamese dictionaries again tend
to obscure the range of thesaurus and etymology of ‘Red’ in both languages.
Interestingly, Huyết and Máu in Vietnamese have cognates in many languages
thousands of miles away, and thousands of years ago. Words similar to [Huyết]
are: (i) 血 pronounced as [xue] in Mandarin, but closer to ‘Huyết’ as [Hiet] in
Hakka, [Hyut] in Cantonese, and almost identical [Huih?] in Fujian, where [?]
is the glottal stop, a sound between [uh] and [oh] when pronouncing ‘uh-oh’
altogether. (ii) ‘Ver’ in Hungarian, ‘Veri’ in Finnish, ‘Gwyar’ and ‘Gwaed’ in
Welsh. Similar to Máu indicating ‘blood’ also, is the word [Mud] of the
Sumerian language, thousands of years ago [6]; and (iii) [Máóhk] of the
Blackfoot Indians in Canada, quite similar to Máu (Blood – Vietnamese), but
denoting “Red” [6].
Words that have meanings interchanged between ‘Red’ and ‘Blood’, and yield
similar sounds to corresponding Vietnamese words, include: (a) ‘Whero’ in
Maori, meaning Red, but with sound similar to Huyết {Blood} in Vietnamese;
(b) ’Wouj’ in Haitian Creole, also meaning ‘Red’; (c) [Hyoraek] in Korean,
meaning ‘Blood’; (d) 艧 [Wok] in Hakka, and [huo] in Mandarin, meaning ‘red
paint’; (e) Vietnamese word for ‘Blood veins’ or ‘Blood pulse’ is Mạch 脈 / 衇
having Chinese dialect sounds [5]: [mak] Hakka, [maak] Cantonese, with some
similar to Máu: [mo]-4 & [mai]-4 Mandarin, [ma?] Wu, [meh] Fujian, and
[meyk] Sino-Korean – indicating that Mạch (veins) is metaphorically similar to
Máu (Blood); (f) Tibetan word for the color Red is: ‘Mah’, again with ‘Mah’
very close to Máu (Blood); AND most interesting: (g) ‘Dugo’ in Tagalog, and
‘Toto’ in Samoan, Tongan, Tahitian, all meaning “Blood” [7].
It is ‘Dugo’ and ‘Toto’ under monosyllabic influence that would turn into ‘Du’
or ‘To’, being most likely sound cognate of Đỏ (màu Đỏ) or ‘Red’ in
Vietnamese. The color Red, Đỏ, in Vietnamese, with metaphor from Polynesian
‘Blood’ (‘Dugo’ and ‘Toto’), is quite consistent with Nguyen’s theory on the
origin of the Vietnamese [1], in that the Polynesians in ancient times
constituted one of the main ethnicities evolving into the modern-day
Vietnamese. It is noted that, as in the case of La Lune and Le Mois in French,
the Vietnamese language derived Đỏ (Red) and Huyết or Máu (Blood) from
different constitutive sources, and different languages, whilst they are all
metaphorically related.
Blue or Green
7
Blue and Green took metaphors mainly from Sky / Sea, and Leaf / Grass,
respectively. Blue color is called xanh da trời (sky blue), xanh dương (ocean
blue) or xanh lam (blue or indigo – [laam]-Cantonese). Green is xanh lục
([luk]-Cantonese), xanh lá cây (leafy green) – which correspond to similar
metaphors in many languages. For example: Irish / Welsh: Glas (with sound
similar to ‘Grass’) meaning ‘Green’ (GRass <=> GReen); Czech: ‘Obloha’
meaning both Sky and Blue [6]. In Chinese, 青 [qing] (thanh – Sino-
Vietnamese) has sound close to: [qian] = sky, and the same sound [qian] written
as 芊means ‘green foliage, green grass’ [5].
Khmer word for “leaf” is [sluhk choe] with [sluhk] quite similar to “lục” in
“xanh lục” for Green”. Word for a kind of leaf in the Hakka dialect is [lo]
荖,
having similar sound to [lo?] in Wu and Sino-Korean for the color Green. In
Thai, “sky blue” is called [faa see], where [faa] means ‘sky’, and [see] is color,
equivalent to Vietnamese ‘sắc’. Burmese word for ‘Green’ is [sein-de], very
close to Vietnamese ‘xanh’. It should be noted that the initial ‘X’ in ‘xanh’
shows a sound correspondence (X <=> Th) between Chinese dialects and
Vietnamese, Burmese and Mon-Khmer varieties. For example: Salween =>
Thalwin (river), both Burmese; [cheng] (Chinese) => thành; rusa (‘deer’ in
Mon-Khmer) => ratha, ritha (Champa); [qing] => xanh = thanh. Sometimes
from afar: French word (le) Singe => Thân (associated with Monkey, being
one of the 12 oriental Zodiac signs).
Brown
A search for metaphors of the color Brown will show that words describing
colors through metaphors, not only may change from one group of speakers to
another, but also could vary with time.
Ancient (northern) Chinese appeared to use the Brown scorpion 蝎 (Mandarin
[he] Cantonese & Hakka [hot]) as metaphor for the Brown color: 褐. Cantonese
at one stage preferred using the Palm Tree 棕 for ‘Brown: 棕色 [zung sik], and
now swapping for coffee color: 啡 色 [fei sik] [9], competing with ‘Chocolate’
in many languages as metaphor for ‘Brown’: [sukkolaa] (Khmer), coklat
(Indonesian), etc. Thai word for ‘Brown’ is [nahm dtahn], which is similar to
words for ‘(brown) sugar’.
8
Vietnamese word for Brown is Nâu, having cognates as [nyou-de] in Burmese
[7], and [tnaot] in Cambodian [8], all very likely metaphorically linked with
either (a) Khmer word [tnaot] meaning also “palm fruit”, like Cantonese [zung]
for palm tree; Or: (b) ‘Chinese’ word [niao] 鸟meaning Bird, a brown bird,
such as a female ostrich (Đà-Điểu mái), quoted as Chim nâu (brown bird) in
Alexandre de Rhodes’ dictionary [2]. Nâu (Brown) is thus likely of Mon-
Khmer origin and yet also has Chinese connection via [niao]. This can be
reconciled by noting that according to ancient Chinese texts, (proto) Mon
Khmer groups were called the Di – Qiang [1], present almost everywhere in
China, and often associated with the Western Barbarians (Xi Rong / Tây
Nhung). The legendary King Yu, founder of the Xia Dynasty of China, is said
to have Qiang ethnic origin [1]. Nâu, for Brown, also looks metaphorically
related (in sound) to Nai (Deer) and Gấu (Bear), since these two animals
normally have brown-colored skin. The same can be said of a possible link
between Brown & Black with Cow (under the generic term ‘Bos’) and Bear.
Both Cow/Bull (Bos) and Bear normally bear a Brown or Black color.
DISCUSSION
In the foregoing, it has been shown that Vietnamese words used to describe
colors, are mainly derived from metaphors.
In the first instance, color lexicon was generated from observation of object or
phenomenon, that was most typically identified with the color, by declension in
tone, or phonological shift whilst still retaining the initial, consonant being
most common. Examples include: Trắng (White) being the color of Trăng (the
Moon); Đen (Black) or Tối (Dark), color of Đêm or Tối (the night). Đen or
Đêm is equivalent to Thai word [dahm] for “Black”. Mực (Black or Ink), both
in Thai and Vietnamese, is used interchangeably with squid or octopus, which
can eject a black liquid when under stress.
Lexical generation by metaphor can also be made using the metaphor source
from another language or dialect, which in the orthodox way has been
explained in terms of borrowing. Under the Tree-and-Soil approach, however,
metaphor word source is considered to come from one or several other
contributory dialects of the national language, at some period of time in the
past. This is exemplified by the pair Đỏ (Red) and Máu or Huyết (Blood).
Whereas Máu and Huyết (Blood) have many cognates in languages or dialects
in the north, Đỏ as Red has cognates found in Tagalog and Polynesian sources,
meaning Blood itself. This is quite similar to French word “Noir” for Black,
being closer to Italian and Portuguese word for ‘Night’: ‘Notte’ and ‘Noite’,
respectively, than “Nuit” in French.
9
Other characteristics of words for basic colors generated through metaphors
may include:
(a) As life-style, even in ancient times, may change, the original metaphor
could also change with time. For example, word for color Brown in
Cantonese (Hongkong), Vietnamese, and many Asian languages, in the last
century could end up at some places as “Chocolate” color, or “coffee-withmilk”
color.
(b) Metaphor source also may be totally different between neighboring
languages, both sharing a common tongue, being one common substratum
among many, of the languages during formative centuries in the past. This
is the case of Vietnamese use of the Moon compared with Thai use of Rice,
both as metaphor for the color White. This apparent paradox can be
reconciled easily by the present theory, on recognizing the fact that in
ancient times, two different tribes of the same ethnicity may have different
metaphors for the same lexicon, which later on became two different words
for the same connotation or meaning in two neighboring languages, as
exemplified further by a wide range of metaphors and associated lexicon for
other colors, like Brown and Black.
Word generation by metaphor in general has illustrated some thinking process
taking place in the mind of ancient people when a word was first “coined”. It
resulted primarily from observation of a phenomenon, an act, or object, or
living creature, possessing some characteristics or defining features of the
same, or in the vicinity thereof. As it involved some product of the mind of
ancient people, originally, those words generated by shared metaphor, or with
similar metaphorical features may provide a powerful measure to probe into the
mind of ancient people, and to trace, where relevant, the dialect(s) that
contributed to evolutionary formation of a national language, under the present
Tree-and-Soil theoretical formulation (see also [14] and [15]).
An example to illustrate the use of shared metaphorical features taken from
[15] is Mắt Cá, Vietnamese word for “ankle”, where Mắt is Eye, and Cá, often
mistaken for Fish, by its quốc-ngữ spelling (cá) which is identical to word for
Fish. By conventional wisdom therefore, mắt cá at best would be explained as
ancient metaphor for “fish eye”. However, when searching for the “real”
metaphor from other languages or dialects, it can be seen that Mắt Cá (Ankle)
should be correctly interpreted as ‘leg’s eye’, since ‘cá’ is in fact a declension
of ‘cẳng’, from other languages contributing to Vietnamese, such as Hakka
[ka], Tay-Nung [kha], meaning ‘leg’. ‘Mắt cá’ with correct meaning of ‘leg’s
eye’, is supported by word for ‘ankle’ in Gorum (Munda) [maD-jig], and in
Cantonese [goek ngaan] 腳 眼, where [maD] and [ngaan] are words for ‘eye’,
and [jig] and [goek], are simply ‘leg’ or ‘feet’, respectively. In sound ‘mắt cá’ is
10
closely connected with [kwa] Hakka 踝, or [giok kwa] 腳 踝 (Mandarin [jiao
huai]), and [mo?-suG] Remo (Munda), where [mo?] is ‘eye’ and [suG], leg, as
in compound word [maD-jig] in Gorum, or ‘mắt cá’ in Vietnamese [15].
Since there are many other languages or dialects, that have shared metaphorical
features in words for “Ankle” with Vietnamese, while assisting to uncover the
hidden meaning of “Mắt Cá”, it can be identified that in the long past it was
very likely that the Vietnamese language in its formative stage had contribution
from all the languages or dialects above, especially Hakka, Tay Nung and
Munda dialects, under word for “ankle”. When “Mắt Cá” is viewed with other
words shown above for “Peanut” (lạc and đậu phộng), for example, it becomes
more apparent that lexical analysis through metaphor could offer a new and
powerful tool to trace etymology of words hitherto often considered to be
hidden from scrutiny by conventional approaches.
Such metaphorical analysis could also reveal some effects of codification of
Vietnamese by Latin alphabet, which tend to obscure a variety of phonology of
a wide range of vocabulary in the past. Again, consider two Vietnamese words
for Peanut: lạc and đậu phộng, both deriving from metaphor of “nuts”
harvested from plant roots, as both lạc and phộng come from two different
groups of dialects, and have meaning as “Roots”. Lạc is from Tay-Nung
dialect, and Phộng is a quốc-ngữ phonetic transcription of [pông] 本, with
similar sound as [pəng] in Wu, [bun] or [bon] in Cantonese, [ben] in Mandarin,
and [pon] in Sino-Korean, all similarly meaning “Root”. It is noted further that
the “official” Sino-Vietnamese transcription of character 本 [ben] (Mandarin) as
“bổn” under conventional studies also obscures two important aspects of the
present approach: (a) Vietnamese lexicon may have a wide range of thesaurus
meanings, depending on different tones, dialects, and origins. For example,
“bổn” under the traditional framework would have to conform to a “one-word,
one-meaning” regime, denoting “origin” with only one tone, being the hỏi (?)
tone. And (b) The process of standardization of spelling and pronunciation of
words through quốc-ngữ has overshadowed many parallel and intersecting
arrays of sound correspondence between, words of the same meaning, in
different dialects or tongues that contributed to formation of Vietnamese in the
past. The word phộng in “đậu phộng” (peanut), being equivalent to ““bổn”,
and yet under different tone, initial, and ending, could be seen under the present
theory as an end result of alphabet codification taking account of the following
sound correspondences:
(i) Between [ph] Tay-Nung and [b] Vietnamese [13] {phộng <> bổn}:
11
phổng= băng (to cross); phưa= bừa (rake)
(ii) Between [p] Tay-Nung and [v] & [b] Vietnamese {pông <> bổn}:
pỏn= vốn (byốn [2]) (capital); pỏn tỉ= bản (bổn) địa (indigenous)
(iii) Between [ph] Mường and [b] & [v] Vietnamese [11]:
phố vai= vỗ vai (byỗ byai [2]); phửa= bừa (carefree)
(iv) Between [p] Mường and [b] Vietnamese:
pông= bông (flower); pỏng thổi= bóng tối (dark shadow, night time);
pớ lẽ= vỡ lẽ (byỡ lẽ [2]); pền lô= bền lâu (to last long); pĩ= bị (bag)
(v) Between [ông] and [ôn] {phộng <> bổn}:
tông giáo [16] => tôn giáo (religion)
In summary, study of etymology of words in Vietnamese and other neighboring
languages for basic colors, through metaphors as presented here, has shown
consistent results to lend further support to the Tree-and-Soil formulation
which stated that Vietnamese is a historical and evolutionary merger of many
languages and dialects in the region, with a Mon-Khmer substratum mixed with
Thai, Munda, Polynesian and Negrito, superimposed and interwoven with
strata of the ancient Bai Yue (Bách Việt) groups in Southern China.
REFERENCES & NOTES
[1] V.U. Nguyen (Nguyen Nguyen) (2007) Thử đọc lại truyền thuyết Hùng
Vương. [In search of the origin of the Vietnamese]. (in publication).
[2] Alexandre de Rhodes (1651) Dictionarium Annamiticum – Lusitanum –
Latinum. Translated by: Thanh Lãng, Hoàng Xuân Việt, Đỗ Quang Chính. Pub.
By Vien Khoa Hoc Xa Hoi – HCM 1991.
[3] L. V. Hayes (2001) Austric Glossary -

http://home.att.net/~lvhayes/Langling/Glossary/Glospag1/glosf019.htm

[4] Latvian ‘tumsa’ and Lithuanian ‘tamsa’ could be counted as long-distanced
cognates of Mon-Khmer/Viet ‘tăm / tối tăm’, meaning ‘dark, night’. ‘Tối’ itself,
main Vietnamese word for ‘dark, night’, likely has some sound correspondence
with 夕 [xi] Mandarin, [sit] Hakka, {tịch} S-V, OR: 霄 [xiao] M., [seu] or [siau]
H., {tiêu} S-V, or both. Closest to tối and tăm’, and ‘tối tăm’ together, under
etymology and monosyllabic pressure, however would likely be Munda
lexicon: [tOi-gal] and [tam-pagal] in Sora, [Tok] as in [kimi-tok] (dark night)
and [arke-tok] (moonlit night) in Remo and Gutob, and [raTo] in Korku.
[5] CCDICT v5.1.1: Chinese Character Dictionary by Chineselanguage.org
(1995-2006)
[6] Philip M. Parker, INSEAD (2008) Webster’s Online Dictionary with
Multilingual Thesaurus Translation: http://www.websters-online-dictionary.org
[7] Charles Hamblin (1984) Languages of Asia & The Pacific. Angus &
Robertson Publishers. (1988 Paperback Edition).
12
[8] Richard K. Gilbert & Sovandy Hang (2004) Cambodian for Beginners.
Paiboon Publishing.
[9] Hmong word for ‘Brown’: kas fes (coffee).
[10] GERARD MOUSSAY, Nại Thành Bô, Thiên Sanh Cảnh, Lưu Ngọc Hiến,
Đàng Năng Phương, Lưu Quang Sanh, Lâm Gia Tịnh, Trương Văn Tốn (1971).
Tự Điển Chàm-Việt-Pháp (Champa-Vietnamese-French Dictionary). Trung tâm
Văn-hóa Chàm – Phan-Rang.
[11] Nguyễn Văn Khang (editor), Bùi Chỉ, Hoàng Văn Hành (2002) Từ Điển
Mường-Việt {Mường-Vietnamese Dictionary}. Published by Văn Hoá Dân Tộc
– Hà Nội.
[12] Jeffrey Barlow (2005) The Zhuang: A Longitudinal Study of their History
and their Culture. AT:

http://mcel.pacificu.edu/as/resources/zhuang/contents.html

[13] Hoàng Văn Ma – Lục Văn Pảo – Hoàng Chí (1974) Từ Điển Tày – Nùng -
Việt (Tay-Nung-Viet Dictionary). Published by Viện Ngôn Ngữ Học (The
Linguistics Institute).
[14] V. U. Nguyen (2008) Vietnamese Personal Pronouns. (submitted for
publication).
[15] V. U. Nguyen (2008) Body Parts in Vietnamese. (submitted for
publication).
[16] Trần Trọng Kim (1971) Nho Giáo (Confucianism). Published by: Trung
Tâm Học Liệu (Centre for Teaching Materials) – Saigon
[17] Patricia J. Donegan and David Stampe (2004) Munda Lexical Archive.

http://www.ling.hawaii.edu/faculty/stampe/AA/Munda/ETYM/Pinnow&Munda

http://ling.lll.hawaii.edu/faculty/stampe/AA/Munda/Dictionaries/00README

13BASIC COLORS AND METAPHORS
V.U. Nguyen
ABSTRACT: The paper presents a short a study on etymology of words for
basic colors in Vietnamese. It is shown that lexicon of basic colors was derived
mainly through metaphor, which results from observation of a phenomenon, an
object, an act, or a living creature, and its associated or defining features or
characteristics. The process of metaphoring could be undertaken over a period
of time in the past by speakers of many different languages or dialects, that
eventually evolved and merged into the Vietnamese language, modified
through quốc-ngữ codification using Latin alphabet.
***
For a long time, research in the field of linguistic origins, specifically applied
to the Vietnamese language, has been based almost exclusively on the Treeand-
Branch model, which normally is associated with, or results in the
hypothesis of loan words or lexical borrowing applied to cognates between any
two different languages that may, customarily, share the same branch or tree in
language grouping.
Working from the old folklore about the union of Âu Cơ & Lạc Long Quân and
the 18 reigns of King Hùng Vương, Nguyen [1] has developed a new theory on
the origin of the Vietnamese and their language, and demonstrated through
many case examples, using historical, cultural and linguistic data among others,
that Vietnamese is a historical and evolutionary merger of many languages and
dialects. It has a Mon-Khmer substratum mixed with Thai, Munda, Polynesian
and Negrito, superimposed and interwoven with strata of the ancient Bai Yue
(Bách Việt) groups in Southern China, including most notably ancient tongues
in Zhuang, Guangdong, Fujian, Wu (Shanghai-Zhejiang), Hainan, and
reinforced by the Hakka and Miao-Yao (Hmong-Mien) combination (see also
[14] and [15]). The theory is based on a model, tentatively called the Tree-and-
Soil model, whereby most of the lexicon hitherto considered as loan words,
especially in the long past, could be considered to come from languages and
dialects that contributed to evolutionary formation of Vietnamese. It follows
naturally that lexical borrowing would be relegated to a second-order issue. In
the following, this important feature of the theory will be further examined
through investigation of basic colors, in the Vietnamese language, with a view
to getting a better understanding of the mechanics of lexical merger,
particularly through identification of shared metaphors, among different
1
languages or dialects in the formative centuries or millennia, before a singular
and unified language came into being.
Word generation by metaphor
Consider first, some features of lexical generation by metaphor, through
examples surrounding the words “Month” and “Moon”. In many languages, the
word describing the ‘Moon’ is often paired with that meaning ‘Month’, since
‘month’ was conceived very early as one basic cycle of the Moon. For
example: [yue] and [yue] (Chinese), [mah] and [mah] (Persian), [là] and [là]
(Burmese), [bulan] and [bulan] (Malay), [vula] and [vula] (Fijian), [mahina]
and [mahina] (Tongan), [masina] and [masina] (Samoan), [mececev: moon] and
[mesec: month] (Serbo-Croatian), [maan: moon] and [maand: month] (Dutch),
[mane: moon] and [maned: month] (Danish), etc.
In the Vietnamese language, the word for ‘Moon’ came from one compositional
group: Trăng (or ‘blăng’ [2] – similar to ‘Bulan’ in Malay, or ‘tlăng’ in Mường),
and for ‘Month’, from another group: Tháng – compared with: [Thang] in
Fujian, [Căn] for Moon and [Bilan] for Month, in the Champa language [10];
‘La Lune’ (Moon) and ‘Le Mois’ (Month), in French. That is, Month and Moon
are not represented by the same word, in Vietnamese, Chamic, and French. On
examination of neighboring languages, it can be seen that in Vietnamese, Trăng
(Moon) has a cognate ‘Bulan’ in Malay, or ‘tlăng’ in Mường, whereas Tháng
(Month) was most likely derived, as a combination, from Mường [khảng] and
Fujian [Thang] meaning ‘month’ and ‘rising moon’, respectively. Tháng could
also come straight from a Thai word [thaawn], meaning “the moon”. This
would indicate that, metaphorical word pairs in Vietnamese, like French, may
have elements coming from different tongues, both constituting the language as
a whole.
Another word that can be used to illustrate both lexical generation by metaphor
and its complexity is “Kiều”, as in “kiều bào” (expatriates) or “Việt
kiều” (overseas Vietnamese), customarily considered as Sino-Vietnamese in
origin. First “kiều” shares common sound with [kiu] or [k’ieu] in the Hakka
dialect, which in turn is equivalent to [kou]
口 in Mandarin, following the “[iu]-
to-[ou]” phoneme conversion rule among Chinese-BaiYue dialects, as detailed
in [1]. [Kou] is “khẩu” in Vietnamese meaning “mouth” or “Person”. Under
Nôm, khẩu is Miệng or Mồm. The metaphor used here is that “Mouth”
represents “person”, and examples will include: Hộ Khẩu meaning Household
Register listing the names of all persons living in a house; “Nhà này có 3 miệng
ăn” i.e. This household has 3 mouths (persons). Kiều as in kiều bào, denoting a
person residing in a foreign country, is also pronounced similarly as [kiau] in
2
Hakka, and [qiao]
僑 in Mandarin. It is written as 僑 akin to [qiao] 橋
, word for
“bridge”, also called “kiều” or “cầu” (“[iu]-to-[ou]” phoneme conversion), as if
an expatriate was originally a native of one tribe, living in another tribe, as
commonly separated by a bridge.
A word that would best illustrate contribution of ethnic dialects to Vietnamese,
by way of metaphor, is “Peanut” known in Vietnamese as “Lạc” or “đậu
phộng”. “Lạc” and “đậu phộng”, interestingly may appear in different
“forms” but conform to a single metaphor, though under different dialects.
Other names for “Peanut” include “Groundnut” and “Earthnut”, which point to
a metaphor in the English language, denoting that the Nut (or pea) is grown in
the ground or earth, intermingled with, and connected to roots of the plant
(Arachis hypogaea). In the Muong dialect, peanut is also called [lac] like
Vietnamese (northern), but without the nặng accent [11]. Whereas in the Tay-
Nung dialect, which is related to the Zhuang dialect in GuangXi [12], the word
for “Root” is merely “Lạc” [13], identical to Vietnamese “Lạc” for Peanut.
“Đậu phộng” is a term of the southern dialect, also used to denote “peanut”.
“Đậu” means Pea, and “phộng” is a quốc-ngữ phonetic transcription of [pông]
本, with similar sound as [pəng] in Wu, [bun] or [bon] in Cantonese, [ben] in
Mandarin, and [pon] in Sino-Korean, all meaning “Root”, like [lạc] in Tay-
Nung. Similar to the English metaphor “groundnut” or “earthnut”, “phộng”
could be related to [pun] 坋, meaning “earth”, or [pok] 墣, meaning “clod of
earth”, both in Hakka. Thus, Peanut as “Lạc” or “đậu phộng” in Vietnamese is
originally a metaphorical term, denoting its harvest has to go to the roots of the
plant, or down to the earth or soil, itself. It is noted also that the more
commonly-used Vietnamese word “Rễ” for “Root”, came directly from ‘substratum’
Mon-Khmer: [ruih] Khmer, [ré:h] or [rih] or [re:] Pearic, [rơh] Bahnar,
[*rɛs] Proto-Waic, [rɛɛh] Souei, etc. [3].
The present discussion on lexical generation by metaphor will now examine the
etymology of words for basic colors, which in ancient Chinese thought, may
refer to White, Black, Yellow, Red, and Blue (or Green). These 5 colors are
associated with the 5 directions or 5-element in the Five-Element theory: White
goes with West (metal), Black goes with North (water), Blue (or Green) with
East (tree / wood), Red: South (fire), and Yellow: Central region (earth).
White
First, the most popular Vietnamese word for White color is Trắng (màu Trắng).
Under one of the rules of lexical borrowing or Jia Jie (Giả Tá), using tonal
3
change, it can be seen, most likely: Trắng being the color of Trăng, ie. White is
the color of the Moon. Ancient Vietnamese thus employed Trăng with some
declension in tone, to form Trắng describing the color White by using the
Moon as metaphor. Another language that also used the Moon as metaphor for
“White” is the Fijian language, where [vula] is the same word for “Month” and
“Moon”, and duplicative [vulavula] is word for color “White”. It is noted that
[vulavula] is duplicative, possibly because the language is not tonal like
Vietnamese or Thai, and [vula] resembles Malay word ‘bulan’ for Moon and
Month, with labiodental “v” substituting for bilabial “b” as initial.
Vietnamese use of Moon (trăng) for White (trắng) is very similar to the Thai
way of metaphorizing the color White, by describing in olden times, White
being the color of Rice. In Thai, Rice is called [Khaow] (gạo / cơm –
Vietnamese), and White is [Khaow] (Rice) pronounced with a different tone:
[Khãow] {i.e. [Khaow] (Rice) with a falling-rising tone}.
The Thai way of coupling White with Rice is supported by the Chinese word 白
[Bai]-2, which also has another Jia Jie word having different tone 粺 [Bai]-4
meaning ‘white or polished rice’ [5]. Corresponding Vietnamese sound for
[Bai] is Bạch meaning White. However Bạch could also be metaphorically
linked with [Bak] in Mon Khmer [3] or Bạc in Vietnamese, meaning ‘Silver’.
Another word for the color White in Chinese is 精 [jing] with Sino-Vietnamese
form as Tinh as in trắng tinh. Tinh also means ‘polished rice’, and it is
commonly used in compound words like: tinh-trùng (semen), quỷ-tinh (ghost,
having white color). Another word indicating White is 粉 [fen] (Vietnamese:
phấn) [5], also meaning ‘Flour’.
Vietnamese metaphorical use of Trăng (Moon: Bulan (Malay)) for the color
Trắng (White) also seems to have some support from the French language:
BLANC, which bears strong sound similarity to Trăng’s cognate:
‘Bulan’ (Cham & Malay). In the English language also, ‘to blanche’ (as in
‘blanched peanuts’), and ‘bleach’ could be said to be etymologically related to
the French adjective ‘Blanc’ or ‘Blanche’, all metaphorically linked with Malay
word ‘Bulan’ (Moon), over long distances.
Ancient Vietnamese and Thai also seemed to make metaphors out of the Moon
(Tlăng / Trăng) in other instances, like in Vietnamese: Tlòn => Tròn (round,
circular) and Tlổng => Trống (drum) [2] [11], with Thai equivalent [glohm]
and [glawng], respectively.
4
Black
The color Black very often derived its metaphor from ‘night time’, or vice
versa: Đêm (night), giving rise to Đen (Black), or similarly: Tối (night) => màu
Tối (Dark color) (see [4]). In Thai: [see Dam] is Black color, very close to
Vietnamese sắc Đêm or sắc Đen (màu Đêm or màu Đen). It is interesting to
note that a Chinese word for ‘Black’ is 黮, pronounced as [tam] or [tim] in
Hakka, and [taam] in Cantonese, very close to Vietnamese Đêm. The word for
‘Black horse’ is 驔 pronounced as [tim] or [daam] in Cantonese, and [tan] or
[dian] in Mandarin, all very close to Đêm or đen. Đêm (or đen, which
sometimes may be associated with Sậm or Đậm meaning Black, Dark, or
Dense) – with some dialect pronunciation as [Điêm] – and Hakka’s [tam] or
[tim] bear striking similarity in sound with English words: Dim and Dense. In
the Champa language, one word for ‘Black’ is [tăm], with Mon-Khmer
cognates of [təm] or [qitem] or [səm] [3], normally in Vietnamese as compound
word: ‘tối-tăm’ meaning ‘Dark’. While ‘Tối’ meaning Dark and Night, has
traces of Munda ([Toi-gal] Sora) in the substratum mix [17], ‘Tăm’ also has
cognate as *[zəm] or [qudem] in Mon-Khmer [3] [4], [tam-pagal] in Sora
(Munda), and [dahm] in Thai. [Zəm] or [qudem] is close to ‘đậm’, ‘sậm’, ‘đêm’
in Vietnamese. In Chinese: 夜 [Ye] or [Yi], meaning night, and 黟or 黓 [Yi]
meaning ‘dark’, ‘black’ – have similar sounds under Jia Jie. The same sort of
metaphor can be traced in French: Nuit (night) => Noir (black), noting that the
Italian and Portuguese word for ‘Night’ is ‘Notte’ and ‘Noite’, respectively.
There is another Chinese word for Black, called [wu] (Ô or Quạ): 烏
metaphorizing the Crow (Chim Ô). Another Chinese word for ‘Black’ took
metaphor from the black stuff spurting out from an octopus or squid: 墨,
pronounced [mo] or [mei] in Mandarin, and [mak] or [maak] in Cantonese. In
Chinese it refers to ‘black Ink’ or ‘black, dark’. Its sound correspondence in
Thai ([meuk]) and Vietnamese ([mực]), is used to denote ‘Ink’, and ‘Octopus’
or ‘Squid’. This commonality between Thai and Vietnamese will lead to an
introductory remark about the ‘Tree-and-Soil’ model, which would state that
between Thai and Vietnamese, there must be a common constitutive group of
speakers that use the same word [meuk] (mực) to denote both ‘Ink’ and
‘Squid’. Likewise, [Chai] (Thai) or [Xài] (Vietnamese) is used by a common
constitutive group of the two languages to denote BOTH ‘to use’ and ‘to spend
(money)’. Similarly, [Khaow] (Thai) or [Gạo / Cơm] (Vietnamese) is used by
that same, or another, common group of speakers to denote ‘Rice’ or ‘cooked
Rice’, or ‘Meal’.
5
In Korean, the word for ‘Black’ is [komun] sounding very similar to
Vietnamese gỗ mun meaning Ebony or Black-wood. The adjective mun
meaning ‘Black’ customarily is used in collocation with Mèo (cat) as: Mèo
Mun being ‘Black Cat’, having the same initial ‘M’. Other Sino-Vietnamese
words for Black are ‘âm’ 陰 & 隂, pronounced the same in Cantonese: [am], and
the sound is commonly used in Hainan for ‘Black’, though written differently:
晚, referring also to Night time. The word Âm 陰above, meaning Black, is
normally metaphorically linked with ‘Negative’ [yin] (as opposed to ‘Positive’
陽 [yang]).
Yellow
In ancient China, the color Yellow came very early from the metaphor
‘Loess’ {[Huang Tu] / Hoàng Thổ}, being yellow-earth or wind-borne deposits
along the Huang He (Yellow River). Its Chinese pronunciation [Huang] gave
rise to sound correspondence [Wang] or [Wong] in some Chinese dialects and
[Vong] in Hakka and “Vàng” in (northern) Vietnamese. The most significant
Chinese metaphor of [Huang] is ‘Huang Di’ meaning Emperor, originally:
Emperor of the Yellow Land. In English, the word ‘Yolk’ in ‘Egg Yolk’ looks
much metaphorically related to ‘Yellow’, which is described in French as
‘Jaune d’oeuf’.
It is of interest to note that English initial [Y] as in “Yellow” has some
correspondence with French [J] as in “Jaune” (yellow), as exemplified in:
young & jeune, yolk & jaune, yoke & joug, yap & japper, yodel & jodler. Quite
similar to sound correspondence between [Y] in Mandarin (and other Chinese
dialects) and [Z] in Hakka, and between northern pronunciation [Dz] and
southern pronunciation [Y] in initial [D] in Vietnamese. For example:
Character 夜 meaning “Night” is pronounced as [ye] in Mandarin and
Cantonese, but could be as [za] in some Hakka dialects, and [Dzạ] or [Yạ] in
northern or southern Vietnamese dialects, respectively.
Red
There is a strong metaphorical link between the color Red and the first colorful
observation by homo sapiens: ‘Blood’. Main Vietnamese words for ‘Red’ are
Hồng and Đỏ, and for ‘Blood’, Huyết and Máu., and it will be demonstrated in
the following that there is a link between words for “Blood” and “Red” in
Vietnamese.
6
Whereas [hong] means the Sun in the Tai dialect of the Yunnan area, the
‘official’ use of [hong] for Red in Chinese-Vietnamese dictionaries again tend
to obscure the range of thesaurus and etymology of ‘Red’ in both languages.
Interestingly, Huyết and Máu in Vietnamese have cognates in many languages
thousands of miles away, and thousands of years ago. Words similar to [Huyết]
are: (i) 血 pronounced as [xue] in Mandarin, but closer to ‘Huyết’ as [Hiet] in
Hakka, [Hyut] in Cantonese, and almost identical [Huih?] in Fujian, where [?]
is the glottal stop, a sound between [uh] and [oh] when pronouncing ‘uh-oh’
altogether. (ii) ‘Ver’ in Hungarian, ‘Veri’ in Finnish, ‘Gwyar’ and ‘Gwaed’ in
Welsh. Similar to Máu indicating ‘blood’ also, is the word [Mud] of the
Sumerian language, thousands of years ago [6]; and (iii) [Máóhk] of the
Blackfoot Indians in Canada, quite similar to Máu (Blood – Vietnamese), but
denoting “Red” [6].
Words that have meanings interchanged between ‘Red’ and ‘Blood’, and yield
similar sounds to corresponding Vietnamese words, include: (a) ‘Whero’ in
Maori, meaning Red, but with sound similar to Huyết {Blood} in Vietnamese;
(b) ’Wouj’ in Haitian Creole, also meaning ‘Red’; (c) [Hyoraek] in Korean,
meaning ‘Blood’; (d) 艧 [Wok] in Hakka, and [huo] in Mandarin, meaning ‘red
paint’; (e) Vietnamese word for ‘Blood veins’ or ‘Blood pulse’ is Mạch 脈 / 衇
having Chinese dialect sounds [5]: [mak] Hakka, [maak] Cantonese, with some
similar to Máu: [mo]-4 & [mai]-4 Mandarin, [ma?] Wu, [meh] Fujian, and
[meyk] Sino-Korean – indicating that Mạch (veins) is metaphorically similar to
Máu (Blood); (f) Tibetan word for the color Red is: ‘Mah’, again with ‘Mah’
very close to Máu (Blood); AND most interesting: (g) ‘Dugo’ in Tagalog, and
‘Toto’ in Samoan, Tongan, Tahitian, all meaning “Blood” [7].
It is ‘Dugo’ and ‘Toto’ under monosyllabic influence that would turn into ‘Du’
or ‘To’, being most likely sound cognate of Đỏ (màu Đỏ) or ‘Red’ in
Vietnamese. The color Red, Đỏ, in Vietnamese, with metaphor from Polynesian
‘Blood’ (‘Dugo’ and ‘Toto’), is quite consistent with Nguyen’s theory on the
origin of the Vietnamese [1], in that the Polynesians in ancient times
constituted one of the main ethnicities evolving into the modern-day
Vietnamese. It is noted that, as in the case of La Lune and Le Mois in French,
the Vietnamese language derived Đỏ (Red) and Huyết or Máu (Blood) from
different constitutive sources, and different languages, whilst they are all
metaphorically related.
Blue or Green
7
Blue and Green took metaphors mainly from Sky / Sea, and Leaf / Grass,
respectively. Blue color is called xanh da trời (sky blue), xanh dương (ocean
blue) or xanh lam (blue or indigo – [laam]-Cantonese). Green is xanh lục
([luk]-Cantonese), xanh lá cây (leafy green) – which correspond to similar
metaphors in many languages. For example: Irish / Welsh: Glas (with sound
similar to ‘Grass’) meaning ‘Green’ (GRass <=> GReen); Czech: ‘Obloha’
meaning both Sky and Blue [6]. In Chinese, 青 [qing] (thanh – Sino-
Vietnamese) has sound close to: [qian] = sky, and the same sound [qian] written
as 芊means ‘green foliage, green grass’ [5].
Khmer word for “leaf” is [sluhk choe] with [sluhk] quite similar to “lục” in
“xanh lục” for Green”. Word for a kind of leaf in the Hakka dialect is [lo]
荖,
having similar sound to [lo?] in Wu and Sino-Korean for the color Green. In
Thai, “sky blue” is called [faa see], where [faa] means ‘sky’, and [see] is color,
equivalent to Vietnamese ‘sắc’. Burmese word for ‘Green’ is [sein-de], very
close to Vietnamese ‘xanh’. It should be noted that the initial ‘X’ in ‘xanh’
shows a sound correspondence (X <=> Th) between Chinese dialects and
Vietnamese, Burmese and Mon-Khmer varieties. For example: Salween =>
Thalwin (river), both Burmese; [cheng] (Chinese) => thành; rusa (‘deer’ in
Mon-Khmer) => ratha, ritha (Champa); [qing] => xanh = thanh. Sometimes
from afar: French word (le) Singe => Thân (associated with Monkey, being
one of the 12 oriental Zodiac signs).
Brown
A search for metaphors of the color Brown will show that words describing
colors through metaphors, not only may change from one group of speakers to
another, but also could vary with time.
Ancient (northern) Chinese appeared to use the Brown scorpion 蝎 (Mandarin
[he] Cantonese & Hakka [hot]) as metaphor for the Brown color: 褐. Cantonese
at one stage preferred using the Palm Tree 棕 for ‘Brown: 棕色 [zung sik], and
now swapping for coffee color: 啡 色 [fei sik] [9], competing with ‘Chocolate’
in many languages as metaphor for ‘Brown’: [sukkolaa] (Khmer), coklat
(Indonesian), etc. Thai word for ‘Brown’ is [nahm dtahn], which is similar to
words for ‘(brown) sugar’.
8
Vietnamese word for Brown is Nâu, having cognates as [nyou-de] in Burmese
[7], and [tnaot] in Cambodian [8], all very likely metaphorically linked with
either (a) Khmer word [tnaot] meaning also “palm fruit”, like Cantonese [zung]
for palm tree; Or: (b) ‘Chinese’ word [niao] 鸟meaning Bird, a brown bird,
such as a female ostrich (Đà-Điểu mái), quoted as Chim nâu (brown bird) in
Alexandre de Rhodes’ dictionary [2]. Nâu (Brown) is thus likely of Mon-
Khmer origin and yet also has Chinese connection via [niao]. This can be
reconciled by noting that according to ancient Chinese texts, (proto) Mon
Khmer groups were called the Di – Qiang [1], present almost everywhere in
China, and often associated with the Western Barbarians (Xi Rong / Tây
Nhung). The legendary King Yu, founder of the Xia Dynasty of China, is said
to have Qiang ethnic origin [1]. Nâu, for Brown, also looks metaphorically
related (in sound) to Nai (Deer) and Gấu (Bear), since these two animals
normally have brown-colored skin. The same can be said of a possible link
between Brown & Black with Cow (under the generic term ‘Bos’) and Bear.
Both Cow/Bull (Bos) and Bear normally bear a Brown or Black color.
DISCUSSION
In the foregoing, it has been shown that Vietnamese words used to describe
colors, are mainly derived from metaphors.
In the first instance, color lexicon was generated from observation of object or
phenomenon, that was most typically identified with the color, by declension in
tone, or phonological shift whilst still retaining the initial, consonant being
most common. Examples include: Trắng (White) being the color of Trăng (the
Moon); Đen (Black) or Tối (Dark), color of Đêm or Tối (the night). Đen or
Đêm is equivalent to Thai word [dahm] for “Black”. Mực (Black or Ink), both
in Thai and Vietnamese, is used interchangeably with squid or octopus, which
can eject a black liquid when under stress.
Lexical generation by metaphor can also be made using the metaphor source
from another language or dialect, which in the orthodox way has been
explained in terms of borrowing. Under the Tree-and-Soil approach, however,
metaphor word source is considered to come from one or several other
contributory dialects of the national language, at some period of time in the
past. This is exemplified by the pair Đỏ (Red) and Máu or Huyết (Blood).
Whereas Máu and Huyết (Blood) have many cognates in languages or dialects
in the north, Đỏ as Red has cognates found in Tagalog and Polynesian sources,
meaning Blood itself. This is quite similar to French word “Noir” for Black,
being closer to Italian and Portuguese word for ‘Night’: ‘Notte’ and ‘Noite’,
respectively, than “Nuit” in French.
9
Other characteristics of words for basic colors generated through metaphors
may include:
(a) As life-style, even in ancient times, may change, the original metaphor
could also change with time. For example, word for color Brown in
Cantonese (Hongkong), Vietnamese, and many Asian languages, in the last
century could end up at some places as “Chocolate” color, or “coffee-withmilk”
color.
(b) Metaphor source also may be totally different between neighboring
languages, both sharing a common tongue, being one common substratum
among many, of the languages during formative centuries in the past. This
is the case of Vietnamese use of the Moon compared with Thai use of Rice,
both as metaphor for the color White. This apparent paradox can be
reconciled easily by the present theory, on recognizing the fact that in
ancient times, two different tribes of the same ethnicity may have different
metaphors for the same lexicon, which later on became two different words
for the same connotation or meaning in two neighboring languages, as
exemplified further by a wide range of metaphors and associated lexicon for
other colors, like Brown and Black.
Word generation by metaphor in general has illustrated some thinking process
taking place in the mind of ancient people when a word was first “coined”. It
resulted primarily from observation of a phenomenon, an act, or object, or
living creature, possessing some characteristics or defining features of the
same, or in the vicinity thereof. As it involved some product of the mind of
ancient people, originally, those words generated by shared metaphor, or with
similar metaphorical features may provide a powerful measure to probe into the
mind of ancient people, and to trace, where relevant, the dialect(s) that
contributed to evolutionary formation of a national language, under the present
Tree-and-Soil theoretical formulation (see also [14] and [15]).
An example to illustrate the use of shared metaphorical features taken from
[15] is Mắt Cá, Vietnamese word for “ankle”, where Mắt is Eye, and Cá, often
mistaken for Fish, by its quốc-ngữ spelling (cá) which is identical to word for
Fish. By conventional wisdom therefore, mắt cá at best would be explained as
ancient metaphor for “fish eye”. However, when searching for the “real”
metaphor from other languages or dialects, it can be seen that Mắt Cá (Ankle)
should be correctly interpreted as ‘leg’s eye’, since ‘cá’ is in fact a declension
of ‘cẳng’, from other languages contributing to Vietnamese, such as Hakka
[ka], Tay-Nung [kha], meaning ‘leg’. ‘Mắt cá’ with correct meaning of ‘leg’s
eye’, is supported by word for ‘ankle’ in Gorum (Munda) [maD-jig], and in
Cantonese [goek ngaan] 腳 眼, where [maD] and [ngaan] are words for ‘eye’,
and [jig] and [goek], are simply ‘leg’ or ‘feet’, respectively. In sound ‘mắt cá’ is
10
closely connected with [kwa] Hakka 踝, or [giok kwa] 腳 踝 (Mandarin [jiao
huai]), and [mo?-suG] Remo (Munda), where [mo?] is ‘eye’ and [suG], leg, as
in compound word [maD-jig] in Gorum, or ‘mắt cá’ in Vietnamese [15].
Since there are many other languages or dialects, that have shared metaphorical
features in words for “Ankle” with Vietnamese, while assisting to uncover the
hidden meaning of “Mắt Cá”, it can be identified that in the long past it was
very likely that the Vietnamese language in its formative stage had contribution
from all the languages or dialects above, especially Hakka, Tay Nung and
Munda dialects, under word for “ankle”. When “Mắt Cá” is viewed with other
words shown above for “Peanut” (lạc and đậu phộng), for example, it becomes
more apparent that lexical analysis through metaphor could offer a new and
powerful tool to trace etymology of words hitherto often considered to be
hidden from scrutiny by conventional approaches.
Such metaphorical analysis could also reveal some effects of codification of
Vietnamese by Latin alphabet, which tend to obscure a variety of phonology of
a wide range of vocabulary in the past. Again, consider two Vietnamese words
for Peanut: lạc and đậu phộng, both deriving from metaphor of “nuts”
harvested from plant roots, as both lạc and phộng come from two different
groups of dialects, and have meaning as “Roots”. Lạc is from Tay-Nung
dialect, and Phộng is a quốc-ngữ phonetic transcription of [pông] 本, with
similar sound as [pəng] in Wu, [bun] or [bon] in Cantonese, [ben] in Mandarin,
and [pon] in Sino-Korean, all similarly meaning “Root”. It is noted further that
the “official” Sino-Vietnamese transcription of character 本 [ben] (Mandarin) as
“bổn” under conventional studies also obscures two important aspects of the
present approach: (a) Vietnamese lexicon may have a wide range of thesaurus
meanings, depending on different tones, dialects, and origins. For example,
“bổn” under the traditional framework would have to conform to a “one-word,
one-meaning” regime, denoting “origin” with only one tone, being the hỏi (?)
tone. And (b) The process of standardization of spelling and pronunciation of
words through quốc-ngữ has overshadowed many parallel and intersecting
arrays of sound correspondence between, words of the same meaning, in
different dialects or tongues that contributed to formation of Vietnamese in the
past. The word phộng in “đậu phộng” (peanut), being equivalent to ““bổn”,
and yet under different tone, initial, and ending, could be seen under the present
theory as an end result of alphabet codification taking account of the following
sound correspondences:
(i) Between [ph] Tay-Nung and [b] Vietnamese [13] {phộng <> bổn}:
11
phổng= băng (to cross); phưa= bừa (rake)
(ii) Between [p] Tay-Nung and [v] & [b] Vietnamese {pông <> bổn}:
pỏn= vốn (byốn [2]) (capital); pỏn tỉ= bản (bổn) địa (indigenous)
(iii) Between [ph] Mường and [b] & [v] Vietnamese [11]:
phố vai= vỗ vai (byỗ byai [2]); phửa= bừa (carefree)
(iv) Between [p] Mường and [b] Vietnamese:
pông= bông (flower); pỏng thổi= bóng tối (dark shadow, night time);
pớ lẽ= vỡ lẽ (byỡ lẽ [2]); pền lô= bền lâu (to last long); pĩ= bị (bag)
(v) Between [ông] and [ôn] {phộng <> bổn}:
tông giáo [16] => tôn giáo (religion)
In summary, study of etymology of words in Vietnamese and other neighboring
languages for basic colors, through metaphors as presented here, has shown
consistent results to lend further support to the Tree-and-Soil formulation
which stated that Vietnamese is a historical and evolutionary merger of many
languages and dialects in the region, with a Mon-Khmer substratum mixed with
Thai, Munda, Polynesian and Negrito, superimposed and interwoven with
strata of the ancient Bai Yue (Bách Việt) groups in Southern China.
REFERENCES & NOTES
[1] V.U. Nguyen (Nguyen Nguyen) (2007) Thử đọc lại truyền thuyết Hùng
Vương. [In search of the origin of the Vietnamese]. (in publication).
[2] Alexandre de Rhodes (1651) Dictionarium Annamiticum – Lusitanum –
Latinum. Translated by: Thanh Lãng, Hoàng Xuân Việt, Đỗ Quang Chính. Pub.
By Vien Khoa Hoc Xa Hoi – HCM 1991.
[3] L. V. Hayes (2001) Austric Glossary -

http://home.att.net/~lvhayes/Langling/Glossary/Glospag1/glosf019.htm

[4] Latvian ‘tumsa’ and Lithuanian ‘tamsa’ could be counted as long-distanced
cognates of Mon-Khmer/Viet ‘tăm / tối tăm’, meaning ‘dark, night’. ‘Tối’ itself,
main Vietnamese word for ‘dark, night’, likely has some sound correspondence
with 夕 [xi] Mandarin, [sit] Hakka, {tịch} S-V, OR: 霄 [xiao] M., [seu] or [siau]
H., {tiêu} S-V, or both. Closest to tối and tăm’, and ‘tối tăm’ together, under
etymology and monosyllabic pressure, however would likely be Munda
lexicon: [tOi-gal] and [tam-pagal] in Sora, [Tok] as in [kimi-tok] (dark night)
and [arke-tok] (moonlit night) in Remo and Gutob, and [raTo] in Korku.
[5] CCDICT v5.1.1: Chinese Character Dictionary by Chineselanguage.org
(1995-2006)
[6] Philip M. Parker, INSEAD (2008) Webster’s Online Dictionary with
Multilingual Thesaurus Translation: http://www.websters-online-dictionary.org
[7] Charles Hamblin (1984) Languages of Asia & The Pacific. Angus &
Robertson Publishers. (1988 Paperback Edition).
12
[8] Richard K. Gilbert & Sovandy Hang (2004) Cambodian for Beginners.
Paiboon Publishing.
[9] Hmong word for ‘Brown’: kas fes (coffee).
[10] GERARD MOUSSAY, Nại Thành Bô, Thiên Sanh Cảnh, Lưu Ngọc Hiến,
Đàng Năng Phương, Lưu Quang Sanh, Lâm Gia Tịnh, Trương Văn Tốn (1971).
Tự Điển Chàm-Việt-Pháp (Champa-Vietnamese-French Dictionary). Trung tâm
Văn-hóa Chàm – Phan-Rang.
[11] Nguyễn Văn Khang (editor), Bùi Chỉ, Hoàng Văn Hành (2002) Từ Điển
Mường-Việt {Mường-Vietnamese Dictionary}. Published by Văn Hoá Dân Tộc
– Hà Nội.
[12] Jeffrey Barlow (2005) The Zhuang: A Longitudinal Study of their History
and their Culture. AT:

http://mcel.pacificu.edu/as/resources/zhuang/contents.html

[13] Hoàng Văn Ma – Lục Văn Pảo – Hoàng Chí (1974) Từ Điển Tày – Nùng -
Việt (Tay-Nung-Viet Dictionary). Published by Viện Ngôn Ngữ Học (The
Linguistics Institute).
[14] V. U. Nguyen (2008) Vietnamese Personal Pronouns. (submitted for
publication).
[15] V. U. Nguyen (2008) Body Parts in Vietnamese. (submitted for
publication).
[16] Trần Trọng Kim (1971) Nho Giáo (Confucianism). Published by: Trung
Tâm Học Liệu (Centre for Teaching Materials) – Saigon
[17] Patricia J. Donegan and David Stampe (2004) Munda Lexical Archive.

http://www.ling.hawaii.edu/faculty/stampe/AA/Munda/ETYM/Pinnow&Munda

http://ling.lll.hawaii.edu/faculty/stampe/AA/Munda/Dictionaries/00README

13

Spanish colour terms

Posted: 13 Agustus 2010 in colour language

http://ssi.sagepub.com

Social Science Information
DOI: 10.1177/0539018409106199
Social Science Information 2009; 48; 421
Cristina Soriano and Javier Valenzuela
Spanish colour terms
Emotion and colour across languages: implicit associations in

http://ssi.sagepub.com/cgi/content/abstract/48/3/421

The online version of this article can be found at:
Published by:

http://www.sagepublications.com

On behalf of:
Maison des Sciences de l’Homme
Additional services and information for Social Science Information can be found at:
Email Alerts: http://ssi.sagepub.com/cgi/alerts
Subscriptions: http://ssi.sagepub.com/subscriptions
Reprints: http://www.sagepub.com/journalsReprints.nav
Permissions: http://www.sagepub.co.uk/journalsPermissions.nav
Citations http://ssi.sagepub.com/cgi/content/refs/48/3/421
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
Special issue: The language of emotion – conceptual and cultural issues
Numéro spécial: Le langage de l’émotion –
questions conceptuelles et culturelles
Cristina Soriano & Javier Valenzuela
Emotion and colour across languages:
implicit associations in Spanish colour terms
Abstract. This study explores the reasons why colour words and emotion words are
frequently associated in the different languages of the world. One of them is connotative
overlap between the colour term and the emotion term. A new experimental methodology, the
Implicit Association Test (IAT), is used to investigate the implicit connotative structure of
the Peninsular Spanish colour terms rojo (red), azul (blue), verde (green) and amarillo
(yellow) in terms of Osgood’s universal semantic dimensions: Evaluation (good–bad),
Activity (excited–relaxed) and Potency (strong–weak). The results show a connotative
profile compatible with the previous literature, except for the valence (good–bad) of some of
the colour terms, which is reversed. We suggest reasons for both these similarities and
differences with previous studies and propose further research to test these implicit
connotations and their effect on the association of colour with emotion words.
Key words. Colour – Connotation – Emotion – IAT – Psycholinguistics – Semantic differential
– Semantics – Spanish
Résumé. Cette étude explore les raisons pour lesquelles les termes qui qualifient les
couleurs et ceux qui qualifient les émotions sont fréquemment associés dans plusieurs langues.
L’une de ces raisons est le chevauchement des connotations entre le terme qualifiant la couleur
et celui qui qualifie l’émotion. On utilise une méthodologie expérimentale nouvelle, le test
d’association implicite (Implicit Association Test—IAT) pour investiguer la structure
implicite des connotations des termes de couleur en Espagnol Péninsulaire, rojo (rouge), azul
(bleu), verde (vert) and amarillo (jaune) en termes des dimensions sémantiques universelles
d’Osgood: Evaluation (Bon—Mauvais), Activité (Excité-s-Relâché), Puissance (Fort—
Faible). Les résultants de l’étude montrent un profil de connotations compatible avec la
© The Author(s), 2009. Reprints and permissions: http://www.sagepub.co.uk/journalsPermissions.nav
Social Science Information, 0539-0184; Vol. 48(3): 421–445; 106199
DOI: 10.1177/0539018409106199 http://ssi.sagepub.com
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
422 Social Science Information Vol 48 – no 3
litérature existante, à l’exception de la valence (Bon—Mauvais) de certains termes de
couleur, qui est inversée. Les auteurs émettent des hypothéses pour expliquer à la fois ces
similaritiés et ces différences par rapport aux études déjà connues et proposent d’entreprendre
d’autres recherches pour tester ces connotations implicites et leur effet sur l’association termes
de couleur—termes d’émotions.
Mots-clés. Couleur — Connotation — Emotion — IAT — Psycholinguistique —
Différentiel sémantique — Sémantique — Espagnol
Colour and emotion in the languages of the world
Emotions and colour terms are frequently associated in the languages of the
world. In English, for example, the term blue is related to sadness (to feel
blue).1 In German yellow is associated to envy (Gelb vor Neid sein, ‘to be
yellow with envy’), although in Spanish and English envy is green (cf.
Shakespeare’s green-eyed monster). Yellow in English is associated to cowardice
instead (to be yellow, yellow-bellied, to have a yellow streak). Anger
is associated to red in many languages, where we find expressions like the
German Rot sehen (‘see red’) or the French rouge de rage (‘red with anger’).
In Thai, however, a ‘body turning green’ belongs to an angry person. In
Italian one can also be verde di bile, rabbia or collera (‘green with bile,
anger or rage’; Philip, 2006: 82). An interesting case is Lithuanian, where
different degrees of anger are not expressed through different shades of red,
as happens in English (cf. flushed/pink/red/scarlet with anger), but through
different colours: white (for controlled anger), red (‘normal’ anger), blue
(very intense anger) and black (extremely intense anger) (Sirvydė, 2007). A
shade of white can also be related to anger in English (he was livid), but then
it hardly refers to ‘controlled anger’. In French, fear is associated to green
(vert de peur, ‘green with fear’), whereas green in Russian is the colour of
utter boredom (скука зеленая, ‘green boredom’) and ‘melancholy-cumyearning’
(тоска зеленая, ‘green toska’; cf. Wierzbicka, 1992). World
wide, black/dark has bad connotations, and in many languages it is directly
related to depression/pessimism (e.g. Spanish verlo todo negro, ‘see everything
black’) or to anger (black mood, Spanish estar negro, ‘be black’, i.e.
be fed up). Pink, on the contrary, has positive connotations and is widely
linked to optimism or happiness (e.g. Ukranian бачити щось в рожевому
світлі, ‘to see everything in pink light’, or English tickled pink). In the
African language Fante, ‘being jealous’ is expressed by the term anibre,
which literally means ‘eye-red’. Interestingly, inimooi in Dagbani – another
African language – also means ‘eye-red’, but refers to worry/anxiety instead
(Dzokoto & Okazaki, 2006). The heart has a colour too. In Dagbani, ‘white
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
Soriano & Valenzuela Emotion and colour across languages 423
heart’ is the emotion term for happiness, and in Zulu the angry heart is said
to be red (Taylor & Mbense, 1998: 202–3).
Why is this so? Colours per se do not designate anything emotional, so
why should they be associated to specific emotions or emotion terms? There
are at least four possible complementary reasons for these pairings: the
associations are based on metonymic thinking, they are based on metaphoric
thinking, colour perception creates specific emotional reactions, and colour
terms and emotion terms share the same connotative structure in the language.
Let us discuss each of these reasons in some more detail.
The first reason might be that the colour–emotion association reflects
something about the physiology of the emotional experience. This is the
case for expressions like red with anger or to be yellow. In both cases, the
colour refers to a body fluid that intervenes (or is believed to intervene) in
the experience of the emotion at stake. In the case of anger the fluid is blood,
which rushes to the neck and face areas when we feel outraged. In the case
of cowardice/fear the fluid is bile, given that the expression was coined at a
time when the liver was believed to be the seat of courage (e.g. Allan, 2009).
In both cases – and in any other linguistic expression of this sort – the
expressions can be considered to be metonymic. A linguistic metonymy is
an expression in which we refer to some entity by means of another one to
which it is related. Typical metonymic expressions reflect part-and-whole
relationships (‘there are some good heads in this department’) or cause-andeffect
relationships (‘he was livid at his son’s disobedience’, anger being the
cause of the lividness in the face). Cognitive linguists would claim that this
linguistic behaviour is an expression of systematic thought patterns called
conceptual metonymies (e.g. Kövecses & Radden, 1998; Barcelona, 2003),
like referring to the effects of something, instead of to the cause itself
(EFFECT FOR CAUSE). Therefore conceptual metonymies like EFFECT
FOR CAUSE can be considered to motivate many of the associations
between emotion and colour words. Given that emotional physiology is
roughly the same across cultures, one might expect all languages to pick up
the same colours for a given emotion. This, however, is not the case for at
least two reasons. First, because different cultures can choose different colour
aspects of a multifaceted reality (e.g. lividness vs blushing in anger).
Second, because colour choice often relies on culture-specific theories of
the causes and physiological consequences of emotions, as in the case of
envy, which in the Western world was thought to be accompanied by a rush
of bile – which is yellow-green in colour (Ogarkova, 2007: 114).
A second reason for the pairing of colour and emotion in a language may be
metaphorical thinking. Conceptual metaphors, like metonymies, are defined as
systematic (some claim automatic) patterns of thought (e.g. Lakoff, 1993). By
virtue of conceptual metaphors we represent one conceptual domain – the
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
424 Social Science Information Vol 48 – no 3
target – in terms of another – the source – using the knowledge we have of the
source to construe the target. For example, expressions like that’s a clear argument,
I see your point, that sheds some light on the whole issue or don’t be so
obscure instantiate in English a systematic conceptual representation of ‘understanding’
in terms of ‘seeing’ (UNDERSTANDING IS SEEING), which finds
linguistic realization in many languages of the world (e.g. English, Spanish,
Basque, French, Dutch, Italian, Greek and Romanian; Valenzuela & Soriano,
2008). It is also metaphorical thinking, and not physiology, which seems to lie
behind the pairing of black/white and envy in the Russian expressions ‘black
envy’ and ‘white envy’. One of them refers to ‘envy that is not malicious’,
while the other means ‘ill-wishing envy’. It is not difficult to guess which is
which. This conceptual association between bad and dark/black (BAD IS
BLACK/DARK) and good and white/bright (GOOD IS WHITE/BRIGHT)
is ubiquitous in language at large, not only in the realm of emotion words
(e.g. dark soul, black Monday, white lie, dark intentions, bright character, clear
mind, black mood, sombre personality, etc.). It also seems to be automatic. In
an interesting series of experiments, Meier and his colleagues (Meier, Robinson
& Clore, 2004; Meier et al., 2007) showed a compulsory systematic association
between brightness and valence: light colours automatically elicit a positive
evaluation of objects (whereas dark colours elicit a negative one), and
positive evaluation biases perceptual judgements towards brightness (whereas
negative evaluations make people judge colours as darker).2
A third reason for the pairing of colour and emotion words in a language
may be that colours themselves elicit emotional reactions. Goldstein (1942)
explicitly suggested that the body undergoes physiological reactions to
colour that are reflected in psychological experiences and functioning. For
example Elliot and colleagues (2007) have found experimental evidence that
red hinders performance on achievement tasks. However, Mehta & Zhu
(2009) have also recently shown that red enhances performance on a detailoriented
task. The two results need not be contradictory: it seems that exposure
to red enhances a sense of alertness and urgency, which interferes in
some cognitive tasks and helps in others. It is not clear what specific emotion
one would feel when presented with red, but the above evidence suggests that
the emotion should at least involve arousal. This is consistent with the sorts
of emotion words people intuitively pair with the term red – like anger, fear
or jealousy (Hupka et al., 1997) – and the emotions they associate with the
colour itself – like love (red hearts, red roses) or lust (red has been found to
enhance men’s attraction to women; Elliot & Niesta, 2008). It is also consistent
with the emotion words we explicitly observe paired with the colour term
red across languages, like anger (e.g. English, Spanish, Italian, German) and
embarrassment (e.g. Italian, English, Spanish, French).
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
Soriano & Valenzuela Emotion and colour across languages 425
A fourth possible reason for the association of colour and emotion in a
language may be that both colour words and emotional words share the
same (or very similar) connotative structure. Connotation is a fairly vague
term in semantics. In this article we define it as the set of meaning aspects
of a word that go beyond its mere denotation or reference. For example a
definition of red in a dictionary may say that red is ‘the hue of the long-wave
end of the visible spectrum, evoked in the human observer by radiant energy
with wavelengths of approximately 630 to 750 nanometres’.3 But surely
the term red means something more for any native speaker of English. The
word carries much more than a simple reference to the chromatic aspect of
things. Red, like any other colour term, has an emotional meaning as well.
Emotional meaning seems to be mediated by an association of colour terms
with situations or objects in real life where that coloration is present (e.g.
Leech, 1981; Allan, 2007). It could be the colouring of natural things
(blood-red, grass-green, sky-blue) or that of cultural artefacts (black robes
in mourning, red lights to signal alert, baby girls dressed in pink), and both
can lead to colour-term connotation (more or less standardized) and even to
culturally sanctioned colour symbolism.
Even though colour connotation ultimately depends on associations in
experience, some of which are the same for all human beings, the specific
value of the connotation may vary from language to language, from culture
to culture and even from person to person. An association between blood and
red is probably at stake in any culture of the world, but the specific ‘meaning’
that the term red inherits from blood depends on how blood is construed in
the first place: a sign of danger because it signals injury? A sign of victory
over enemies? A sign of violence? A sign of life and vitality? A sign of sexual
maturity? The interpretations of blood are potentially endless, and so are the
connotations of red inherited from such association (e.g. Allan, 2009).
Yet evidence has been found which argues against a hypothetical arbitrariness
of colour connotation. The specific concepts with which colours
are associated (e.g. BLOOD, WATER, SUN) and the affective value (dangerous,
beneficial, desirable, harming) of those concepts for a given person
or a given culture may vary greatly, but the ‘types’ of value themselves seem
to be fairly systematic: cross-culturally they are all related to a general evaluation
of things as ‘good’ or ‘bad’, ‘strong’ or ‘weak’, and ‘active’ or ‘passive’
(Adams & Osgood, 1973; Osgood, May & Miron, 1975). These semantic
dimensions – called Evaluation, Potency and Activity respectively – are not
exclusive of colour. Osgood and his colleagues (Osgood, Suci & Tannenbaum,
1957) discovered them in a number of concepts using the Semantic
Differential Technique, and their findings have also been replicated in
numerous
studies involving different types of stimuli (e.g. Osgood, Suci &
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
426 Social Science Information Vol 48 – no 3
Tannenbaum, 1957; Snider & Osgood, 1969; Mehrabian, 1972; Mehrabian &
Russell, 1974; Shaver et al., 1987; Valdez & Mehrabian, 1994).
The Osgoodian dimensions are relevant, because they concretize the
fourth reason why colour and emotion words may be associated in a language.
While the specific emotion terms associated to specific colour terms
can vary considerably across languages, in the pairs existing within each
language, colour term and emotion word should have a congruent dimensional
profile. D’Andrade & Egan came to the same conclusion when trying
to explain the surprising overlap in a study in which they asked English and
Tzeltal speakers to match emotion terms and colour chips:
At present we feel the most likely explanation of this phenomenon involves a special type
of semantic mediation based on the factors uncovered by Osgood’s semantic differential
technique. … The association of colours and emotions may come about through the use of
the semantic differential dimensions as a bridging network. That is, if a colour chip is
reacted to as ‘good’ and ‘strong’, then the emotion term which is associated to the colour
chip is an emotion which is also ‘good’ and ‘strong’. (D’Andrade & Egan, 1974: 62)
Our study: implicit connotations in Spanish colour terms
Adams & Osgood (1973) studied the connotative structure of the English
colour terms black, white, grey, red, yellow, green and blue and their equivalent
colour terms in 20 other languages of the world using the Semantic
Differential Technique. An important aspect to be taken into account is that
Adams & Osgood’s methodology requires participants to make explicit ratings
on the position of a given word (e.g. red) in a scale between two poles
(e.g. between the terms fresh and stale, or hot and cold). Factor analysis
generates the dimensions, and the specific ratings are then used to calculate
the value of each word on the dimensions. Therefore the methodology captures
explicit judgements about the connotative loadings of terms. But for
most colour emotion psychologists ‘the activation of the colour association,
as well as its influence on affect, cognition, and behaviour, is viewed as
occurring without the individual’s conscious awareness or intention’ (Elliot
et al., 2007: 156; emphasis added). Therefore it is pertinent to investigate
whether the same values in the semantic dimensions can be found at an
unconscious level as well.
We decided to use an Implicit Association Task (IAT), which, according
to the first proponents of this methodological paradigm, is useful ‘for measuring
evaluative associations that underlie implicit attitudes’ (Greenwald,
McGhee & Schwartz, 1998: 1464). This methodology has been employed to
measure evaluative conditioning (Mitchell, Anderson & Lovibond, 2003),
prejudice and prototypical evaluative judgements (White vs Black American
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
Soriano & Valenzuela Emotion and colour across languages 427
names – Greenwald, McGhee & Schwartz, 1998; Turkish and East Asian
populations – Gawronski, 2002), and it has proven useful in the prediction
of non-verbal (McConnell & Leibold, 2001) and sexual behaviour (Marsh,
Johnson & Scott-Sheldon, 2001).
The study was carried out in Peninsular Spanish, a language variety that
was not included in Adams & Osgood’s study (1973), although other varieties
of Spanish were. If implicit and explicit associations are the same, no big
differences should be found in the dimensional profile of the colour terms.
The specific terms selected for our study were rojo, azul, verde and
amarillo (the Spanish counterparts of red, blue, green and yellow respectively).
There were two reasons for this choice. First, the relevance of the
chromatic phenomenon they refer to, as red, blue, green and yellow are
primary colours. Second, the fact that they (and their closest equivalents in
the various languages of the world) have been hypothesized to be ‘basic’
colour terms by Berlin & Kay (1969). One of the features of basic colour
terms is that they are the first to appear across languages. It seems that red-,
yellow-, green- and blue-like terms are the first to be coined after a general
distinction between ‘dark/black’ and ‘light/white’. In other words, if a language
has only two colour terms, they tend to reflect the black/dark and
white/light distinction. If a third colour term exists, it is the equivalent of
red. After them, counterparts of either green or yellow are found. A blue-like
term appears next. Since all languages with colour terms seem to make these
distinctions, the existence of general universal RED, BLUE, GREEN and
YELLOW categories can be hypothesized. Given the order of appearance of
the terms, these categories are among the most widespread colour categories
across languages, and the colour terms that instantiate them reflect a more
universal partition of the spectrum than the colour terms in the later stages
of the Berlin & Kay model, like brown, purple, pink, orange or grey.
However, the fact that all languages seem to differentiate a part of the
chromatic spectrum through labels like blue does not mean that the conceptualization
of English blue and Spanish azul, for example, are the same.
Colour terms may differ in terms of their exact denotation, as well as in connotation.
As regards denotation, for example, Russian offers two different
lexemes to designate the same chromatic phenomenon that English labels as
blue, and the same is true for Italian, where there is blu (dark blue) and azzuro
(sky blue). Colour terms may also differ in connotation. Adams & Osgood
(1973: 144–5) found that yellow-like terms, for example, tend to be positively
marked across languages, but have a very negative evaluation in Hong Kong
Cantonese, where the colour yellow is associated to pornography.
So what are the unconscious affective connotations of Peninsular
Spanish rojo, azul, amarillo and verde in terms of ‘goodness–badness’,
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
428 Social Science Information Vol 48 – no 3
‘power–weakness’ or ‘excitement–relaxation’? To the best of our knowledge,
no experimental studies have been conducted so far in Peninsular Spanish to
answer this question. But there is ample psychological, linguistic and anthropological
research on the general field of colour–emotion associations in
other languages to help us generate some hypotheses. In what follows we
report on this data and the working hypotheses that stem from them.
(a) Positive and negative Evaluation
Of the three dimensions proposed by Osgood and colleagues, Evaluation is the
most controversial in the realm of colour semantics. Adams & Osgood (1973)
concluded that the semantic blue–green region is more highly evaluated than
the red–yellow region, which is closer to the neutral point (1973: 144).
Converging evidence can be found in Goldstein (1942), who claimed that the
colours green and blue are experienced as quieting and agreeable. For Wexner
(1954), the colour concept BLUE was associated to features like ‘secure/
comfortable’ and ‘tender/soothing’, which imply pleasure, in addition to low
activity. Clarke & Costall (2008) also recorded positive evaluations for green
and blue in a semi-structured interview with British students. Finally, in a
study on the connotations of English colour terms in figurative expressions,
Allan (2009) has recently observed that blue is hardly ever used in offensive
language, but in euphemistic expressions. All in all, the general colour concept
BLUE, and to a lesser extent GREEN, seem to be positively valenced.4
RED, however, is a more ambiguous case. Adams & Osgood (1973) locate
it near the neutral point, while various studies on emotion–colour association
suggest either a positive or a negative valence, depending on the concepts it
is related to. It is reported to have a positive valence when associated to love,
fertility, happiness or excitement (Wexner, 1954; Murray & Deabler, 1957;
Jobes, 1962; Pecjak, 1970; Soldat, Sinclair & Mark, 1997). The valence is
negative when associated to features like ‘contrary’ or ‘hostile’ (Odbert,
Karwoski & Eckerson, 1942; Murray & Deabler, 1957; Schaie, 1961).
The general concept YELLOW is located near the neutral point according
to Adams & Osgood (1973), who explain exceptions in terms of culture-specific
circumstance (like yellow in Hong Kong). Hupka and colleagues
(1997) view YELLOW as a slightly more negative concept, and quote
D’Andrade & Egan (1974) and Oyama, Tanaka & Haga (1963) as examples
of empirical evidence that terms with negative connotations across cultures are
systematically associated with colours in the yellow–red end of the spectrum.
Because of the above, our starting hypothesis is that the semantics of
VERDE and AZUL will be more positively marked than ROJO and
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
Soriano & Valenzuela Emotion and colour across languages 429
AMARILLO, although ROJO might have a positive evaluation as well. All
in all, VERDE and AZUL are expected to be the two concepts most strongly
related to the Evaluation dimension.
(b) High and low Potency
Adams & Osgood (1973) identify two colours as most closely related to the
Potency dimension: RED as the most potent and YELLOW as the least.
Neither BLUE nor GREEN is clearly defined in terms of Potency in the
data. As in the previous dimension, support for their claims is also reported
in a large number of earlier studies (1973: 145). But more recent ones have
also provided converging evidence. Hill & Barton (2005), for example, have
recently demonstrated that wearing red correlates with a greater probability
of winning in sport competitions. The reason, in their opinion, is that red
enhances dominance.
In the light of this research, we expect ROJO to be strong and AMARILLO
to be weak. Neither VERDE nor AZUL is expected to be significantly
related to the Potency dimension.
(c) High and low Activity
Of the four colours under investigation, only RED was identified as closely
related to Activity by Adams & Osgood (1973: 146). The literature on
colour–emotion, however, also mentions GREEN and BLUE as related to
Activity. According to Goldstein (1942), the colour green and (to a lesser
degree) blue are experienced as quieting. In Wexner’s study (1954) BLUE
was associated with ‘tender/soothing’. In their interviews Clarke & Costall
report many subjects associating green and blue with features like ‘calm’
and ‘peaceful’ (2008: 407). In all cases blue and green appear as low-activity
colours. In general a frequent contention in the colour–emotion tradition is
that red and other long-wavelength colours are more active than blue and the
short wavelength ones.
(d) Summary of hypotheses
A summary of the above findings renders the following hypotheses concerning
the connotative structure of the Spanish colour categories we aim to
investigate:
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
430 Social Science Information Vol 48 – no 3
• ROJO is expected to be powerful and excited (and maybe positive).
• AMARILLO is expected to be weak.
• VERDE and AZUL are expected to be positive (and possibly relaxed).
Again, these expectations are based on research carried out on explicit
judgements and conscious associations between colour shades or colour
terms and emotion terms (or concepts), as observed in several languages.
The extent to which these predictions match the implicit connotations of
Peninsular Spanish colour terms is what we aim to investigate.
Methodology
Method and materials
As required in the IAT methodology, in our study the four selected colour
terms were treated as categories (ROJO, AZUL, AMARILLO and VERDE),
for which seven terms were chosen as most representative among their most
frequent synonyms or near-synonyms in the online Spanish corpus ‘Corpus
del Español’ (over 100 million words, available at http://www.corpusdelespanol.
org/) The terms and an approximate translation into English are
shown in Table 1. The three semantic dimensions were also operationalized
as shown in Table 2.
ROJO: RED: AZUL: BLUE:
rojo red azul blue
colorado red, blushed añil indigo
carmesí crimson celeste pale blue
encarnado red marino navy blue
escarlata scarlet turquesa turquoise
púrpura purple azulón deep blue
granate maroon azulado bluish
AMARILLO: YELLOW: VERDE: GREEN:
amarillo yellow verde green
rubio blond cetrino yellowish green
dorado golden verde césped grass green
amarillento yellowish verdoso greenish
áureo golden esmeralda emerald
gualda yellow verde oliva olive green
ámbar amber aceitunado olive coloured
Table 1
Spanish colour terms in the four colour categories
Red, Blue, Yellow and Green
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
Soriano & Valenzuela Emotion and colour across languages 431
The IAT is a computer-based categorization task that measures conceptassociation
strength. Participants have to classify a set of related words
(e.g. blue, indigo, turquoise) into their category (e.g. BLUE) by pressing a
computer key. Sometimes the key they have to press is also valid for a second
category (e.g. GOOD). It has been shown that implicit associations between
two concepts result in speeded responses when the two concepts are combined
in a single group for categorization purposes. So, for example, if BLUE
is associated to GOOD, it will be easier (faster) to classify a word like indigo
into an ad hoc category BLUE-or-GOOD than into a category BLUE-or-
BAD. Similarly if BLUE and GOOD are perceived to be congruent concepts,
people will make fewer errors assigning indigo to the constructed category
BLUE-or-GOOD than to BLUE-or-BAD. In sum, if GOOD and BLUE are
unconsciously related, more speed and accuracy will be expected when classifying
a word like indigo into a constructed BLUE-or-GOOD category.
Table 2
Spanish dimension terms for Evaluation,
Potency and Activity
Dimensions Terms
Evaluation Positivo: Positive: Negativo: Negative:
positivo positive negativo negative
bueno good malo bad
agradable pleasant perjudicial harmful
grato nice nocivo harming
placentero pleasurable dañino damaging
beneficioso beneficial desagradable unpleasant
provechoso advantageous destructivo destructive
Potency Poderoso: Powerful: Débil: Weak:
poderoso powerful débil weak
influyente influential sumiso submissive
fuerte strong sometido subdued
potente potent obediente obedient
asertivo assertive inhibido inhibited
dominante dominant retraído shy
dirigente leader achantado bashful, coward
Activity Excitado: Excited: Relajado: Relaxed:
tenso tense relajante relaxing
intenso intense tranquilo quiet
activo active sereno serene
estimulante stimulating flojo loose, slack
enérgico energetic tenue tenuous, faint
excitante exciting leve light, slight
vibrante vibrant inactivo inactive
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
432 Social Science Information Vol 48 – no 3
Any IAT investigates two categories (e.g. ROJO and AZUL) and an
evaluative dimension (e.g. Activity). The test comprises five stages. In the
first stage (see Figure 1, stage one), examples of the two investigated categories
(e.g. azul, añil, etc., for AZUL; rojo, escarlata, etc., for ROJO) are
presented in random order in the centre of a computer screen, one by one.
On the right and left top corners of the screen the names of the categories
are shown, and subjects have to classify the words appearing in the centre
as belonging to one or the other category by pressing a key situated on the
right- or on the left-hand side of the keyboard. In our experiment, subjects
used a Spanish keyboard and pressed ‘m’ for the category on the right and
‘z’ for the category on the left.
In the second stage (Figure 1, stage two), participants see examples of the
two poles in the evaluative dimension under study (e.g. words like excitante,
EXCITADO RELAJADO
AZUL o ROJO o
escarlata
Stage Five
ROJO AZUL
escarlata
Stage One
EXCITADO RELAJADO
energético
Stage Two
EXCITADO RELAJADO
ROJO o AZUL o
escarlata
Stage Three
AZUL ROJO
escarlata
Stage Four
FIGURE 1
IAT design – examples of stages one to five
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
Soriano & Valenzuela Emotion and colour across languages 433
enérgico, etc., for EXCITADO; and relajante, sereno, etc., for RELAJADO)
and they have to classify them as belonging to one of the two poles (e.g.
EXCITADO and RELAJADO) presented on the right and left top corners of
the screen.
In a third stage (Figure 1, stage three) both a category (e.g. ROJO) and
a dimensional pole (e.g. EXCITADO) appear together on one side of the
screen, and the other category (e.g. AZUL) and the other dimensional pole
(e.g. RELAJADO) on the opposite side. Examples of both categories (azul,
añil, rojo, escarlata, etc.) and both dimension poles (excitante, enérgico,
relajante, sereno, etc.) are presented in the centre of the screen and subjects
have to classify them correctly into their respective categories.
The fourth stage is identical to the first, except for the fact that the order
of the categories is reversed (see Figure 1, stage four).
In the fifth and final stage (see Figure 1, stage five), categories and poles
are again paired, but in the opposite combination from stage three.
During the experiment, subjects are informed of categorization mistakes
by an error message on the screen (for example, if they ascribe the colour
term escarlata to the category AZUL instead of ROJO). Both reaction time
(i.e. how long it takes them to decide that escarlata is a member of the category
ROJO) and accuracy (i.e. if they assign the term escarlata to the correct
category, ROJO, or mistakenly press the key for the AZUL category) are
recorded throughout the test.
The crucial stages in the design are stages three and five. When a category
(e.g. category ROJO) and one of the poles of an evaluative dimension (e.g.
pole EXCITADO in the dimension Activity) are strongly associated, their
pairing for categorization purposes is supposed to yield shorter reaction
times in the task, as well as fewer errors in the subject’s categorization
responses.
Design
The four colour categories and the three dimensional poles were crossed to
generate all possible combinations. First we combined each colour category
with the others (6 combinations) and then each colour pair was combined
with the three dimensions (6 × 3 = 18 combinations). The order of presentation
of the two members in each colour pair and of the two poles in the
dimensions was counterbalanced throughout the experiment.
One hundred and fifteen native speakers of Spanish (most of them
students at the University of Murcia), ranging in age from 20 to 46 (mean
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
434 Social Science Information Vol 48 – no 3
age 24.2), participated in the study as volunteers or in exchange for
course credit. Each condition was observed by at least eight subjects.
Results
Our results can be analysed in terms of dimensions and colours. We start
by describing the profile of each dimension. Then we analyse the specific
colour results and their connection with the literature on colour–emotion
associations.
The overall results of the study can be found in Tables 3 and 4. Table 3
reports the mean reaction times (RT) in milliseconds and their statistical
significance. The results for the Evaluation dimension have not been
included because they did not reach significance. Table 4 presents the accuracy
rates in the categorization task and their statistical significance.
Evaluation
In the analysis of errors, no statistically significant effects were found for
colour or dimension only, but an analysis of variance showed that their
interaction was significant (F (3,123) = 4.729, p = .004). A look at the results
shows that AMARILLO, ROJO and VERDE are perceived as positive by
our participants (p < .005), while AZUL is evaluated as negative (p < .05).5
No statistically significant differences were found in the analysis of the
RT, but the effects showed the same direction as the error analysis, which
allows us to discard a trade-off effect.
The greatest effects in terms of accuracy were found for AMARILLO (the
most positive colour) and AZUL (the most negative). These results partially
disconfirm our expectation that VERDE and AZUL would be the two colour
categories most closely associated to the Evaluation dimension, since
VERDE is not. In fact, the RTs in the positive and negative pairings for
VERDE are technically the same (a difference of 6 ms). AZUL, on the other
hand, is significantly related to Evaluation in our error analysis, but it shows
effects in the opposite direction from that expected.
Also disconfirmed was our expectation that the semantics of VERDE
and AZUL would be more positively marked than those of ROJO and
AMARILLO, since AZUL was negatively marked and there were no statistically
significant differences between VERDE, ROJO and AMARILLO in
our analysis of errors. In a colour-by-colour comparison of RTs, a paired
t-test revealed statistically significant oppositions between ROJO–AZUL
(p = .05) and AMARILLO–VERDE (p < .05).
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
Soriano & Valenzuela Emotion and colour across languages 435
Table 3
Mean Reaction Times (RT) ANOVA in the categorization task
ms F d.f. p
Potency: Pw W
rojo 777 889 17.875 1, 113 0,000*
amarillo 890 815 7.778 1, 113 0,006*
verde 809 807 n.s.
azul n.s.
Activity: E R
rojo 747 911 38.09 1, 103 0,000*
amarillo 831 759 12.741 1, 103 0,000*
verde 844 815 12.741 1, 103 0,000*
azul 840 766 12.741 1, 103 0,000*
Note. RTs ANOVA: Pw = powerful, W = weak, E = excited, R = relaxed
Table 4
Accuracy rates in the categorization task
% F d.f. p
Evaluation: P N
Rojo 0.94 0.91 10.504 1, 123 0,002*
Amarillo 0.94 0.90 10.504 1, 123 0,002*
Verde 0.93 0.91 10.504 1, 123 0,002*
Azul 0.91 0.95 5.897 1, 123 0,017*
Potency: Pw W
Rojo 0.94 0.89 8.985 1, 113 0,003*
Amarillo 0.90 0.93 4.509 1, 113 0,036*
Verde 0.90 0.93 4.509 1, 113 0,036*
Azul 0.91 0.91 n.s.
Activity: E R
Rojo 0.94 0.87 19.628 1, 103 0,000*
Amarillo 0.92 0.94 5.085 1, 103 0,026*
Verde 0.91 0.93 5.085 1, 103 0,026*
Azul 0.91 0.93 5.085 1, 103 0,026*
Note. Error rates ANOVA: P = positive, N = negative, Pw = powerful, W = weak, E = excited,
R = relaxed
Potency
No independent effect of colour or Potency was found, but their interaction
was statistically significant both in the analysis of errors (F (3,113) = 4.506,
p < .005) and in the RTs (F (3,113) = 8.363, p < .0005).
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
436 Social Science Information Vol 48 – no 3
In terms of Potency, ROJO stands out as the most powerful colour and
AMARILLO as the weakest one. The pattern is statistically significant in
terms of errors and RTs. These results confirm our hypotheses and coincide
with Adams & Osgood’s (1973) cross-cultural study. Additionally, in a
colour-by-colour comparison of RTs, a paired t-test revealed statistically
significant (or almost significant) oppositions between ROJO and all the
other colours: AMARILLO (p < .01) – the clearest case – VERDE (p < .05)
and AZUL (p = .051).
Our additional expectation that VERDE and AZUL would not be clearly
defined in terms of Potency seems to find (at least partial) support too: in the
analysis of errors, VERDE stands as significantly associated to WEAKNESS,
but no effect is found in the analysis of the RTs. As for AZUL, as expected,
none of the analyses revealed any effects.
Activity
As before, an analysis of variance showed that the interaction of colour and
Activity was significant in terms of accuracy (F (3,103) = 8.216, p < .001)
and RTs (F (3,103) = 17.74, p < .001).
The differences in terms of colour were also clear. AMARILLO, VERDE
and AZUL are significantly related to low Activity (RELAXATION), while
ROJO is significantly associated to EXCITEMENT. Both error analysis and
RTs reveal this pattern. The results confirm our hypothesis as well as Adams
& Osgood’s (1973) observations for RED. They also support our expectation
that AZUL and VERDE would be low-activity colour categories.
In a colour-by-colour comparison of RTs, a paired t-test revealed statistically
significant oppositions between ROJO and the rest of the colours
(AMARILLO: p < .001), VERDE: p < .05, and AZUL: p < .005), and
between AMARILLO and VERDE (p < .05).
ROJO (+E, +P, +A)
According to our results, ROJO is implicitly construed as a positive, highpotency,
high-activity colour. This is mostly consistent with the literature
(except for the valence, where there is no agreement). Our expectation that
ROJO would be positive was confirmed, but the strength of the association does
not match the results observed in Adams & Osgood’s semantic work. This markedness
may be the result of cultural preference (see ‘Summary and discussion’).
The term rojo is associated to ira (anger) in Peninsular Spanish in
the expression rojo de ira (‘red with anger’), and the colour is symbolically
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
Soriano & Valenzuela Emotion and colour across languages 437
used to represent the emotion as well (Soriano, 2005). We currently lack
information about the unconscious connotative structure of the emotion word
ira,6 but we have some information about the conscious dimensional structure
of its English counterpart anger. Fontaine and his colleagues (Fontaine
et al., 2007) have shown that anger is characterized by negative Evaluation,
high Potency and high Arousal (i.e. Activity). Except for Evaluation, the connotative
structure of the colour and the emotion word anger coincides.
High arousal is also a feature of the word fear in English, Dutch and
French (e.g. Fontaine et al., 2007), another emotion word cross-linguistically
associated to the general colour category RED (Hupka et al., 1997).
AMARILLO (+E, –P, –A)
Our results show AMARILLO as characterized by positive evaluation, low
activity and low potency. These results confirm our hypothesis on the
Potency dimension. The positive evaluation, located near the neutral point
by Adams & Osgood, is in our case significantly stronger, which may be a
case of cultural preference (see ‘Summary and discussion’).
The word amarillo is not conventionally associated to any particular emotion
word in Spanish. We also lack semantic information about the dimensional
structure of Spanish emotion words. Nevertheless, the English noun
contentment has been found to be characterized by positive valence, low
arousal and medium potency (Fontaine et al., 2007). Therefore, a possibly
compatible term for amarillo in Spanish might be contento (‘content’).
In other languages, like German, Italian, Dutch or Turkish, yellow is associated
to envy (Osgood et al., 1975; Hupka et al., 1997). However, this
association is not motivated by a shared connotative structure, but rather by
metonymic reference to the colour of bile, believed to accompany the experience
of envy/jealousy and to give the complexion a greenish-yellowish
taint (Ogarkova, 2007).
VERDE (+E, ±P, –A)
For our participants, in comparison to the rest of the colour categories
VERDE is a positively tainted colour, although not so much as AMARILLO
or ROJO. On the contrary, the association with relaxation is strong. Both the
positive Evaluation and the Activity values confirmed our expectations and
match Adams & Osgood’s (1973) observations with the Semantic Differential
Technique.
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
438 Social Science Information Vol 48 – no 3
The difference between VERDE and AMARILLO in our data seems to be
one of degree (cf. Philip, 2006, for a similar analysis in her study of Italian
colour terms.) Both colour concepts share positive Evaluation and low
Activity, but in terms of Potency, AMARILLO is always significantly weak,
while VERDE is significantly weak only when we look at error rates, but not
at RTs. Therefore VERDE seems slightly more powerful than AMARILLO.
The Spanish term verde is conventionally related to envidia (‘envy’) in
the language through the expression verde de envidia (‘green with envy’).
However, the motivation for this expression, as we saw for yellow above,
stems from the assumed participation of bile (a yellow-greenish fluid) in the
experience of envy.
AZUL (–E, ±P, –A)
The hypothesized positive valence of AZUL was disconfirmed by our data,
since it shows a significant association with the negative pole in comparison
to the other three colour categories under study (p < .05). AZUL is also
implicitly associated to relaxation.
While the relaxation was expected, the negative evaluation was not. Very
few scholars have observed a negative valence for BLUE. Soldat, Sinclair
& Mark (1997) hypothesized a relationship between BLUE and sadness, a
negative emotion, perhaps influenced by the fact that English has a lexicalized
association between the two (to have the blues, to feel blue). Philip
suggests that the negative overtones of Italian blu (dark blue) may be motivated
by the proximity of dark blue to black on the colour scale, and the
historical grouping of blu with dark colours (2006: 84–5).
Unlike the English blue, azul is not conventionally related to any emotion
term in Peninsular Spanish. However, if tristeza (‘sadness’) has the same
dimensional features as sadness – i.e. negative Evaluation (–E), low Potency
(–P) and low Arousal (–A) (Fontaine et al., 2007) – one might expect
Spanish speakers to find the association between tristeza and azul (–E, ±P,
–A) to be more natural than between tristeza and rojo (+E, +P, +A ) or tristeza
and verde (+E, ±P, –A).
Summary and discussion
Table 5 presents a summary of the dimensional profile of the four Spanish
colour categories. What our results reveal is that ROJO, AMARILLO,
VERDE and AZUL can be successfully differentiated in terms of Evaluation
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
Soriano & Valenzuela Emotion and colour across languages 439
(good–bad), Potency (powerful–weak) and Activity (excited–relaxed),
Evaluation and Activity being the two most descriptive dimensions in
Spanish.
The results also reveal a general match between implicit associations and
explicit associations (of the sort captured by Adams & Osgood) for colour
terms and connotation. Potency and Activity exhibit the same structure, but
Evaluation – the most irregular dimension in the literature – does not coincide.
A possible reason might be that the construals of Potency and Activity,
unlike that of Evaluation, are mostly dependent on physiology. Perceptions
of Potency (weak–powerful) in colour are strongly linked to brightness
(light–dark) (Valdez & Mehrabian, 1994; Gao et al., 2007). Perceptions of
Activity (excited–relaxed) are strongly linked to saturation (saturated–unsaturated)
(D’Andrade & Egan, 1974; Valdez & Mehrabian, 1994).
Therefore, saturated dark colours (red, black) should be perceived as excited
and strong, and more naturally match emotions with the same features, like
anger, lust or hate. This is reflected in language: the terms red and black
seem to be widely associated to anger cross-culturally (Hupka et al., 1997).
Also, in our own data, ROJO was implicitly perceived as excited and powerful.
Conversely, light colours like yellow should be perceived as weak. In
our data, too, AMARILLO was implicitly perceived this way, and the main
difference between VERDE and AMARILLO was that VERDE (a slightly
darker colour) was perceived as slightly stronger than AMARILLO.
People are in fact sensitive to the meaning changes conveyed by these
differences in colour shade. In an experiment on Italian colour terms used
metaphorically, Cacciari, Massironi & Corradini (2004) showed that subjects
agreed on the most congruent shades of colour for the emotional tone
of a text. Clarke & Costall (2008) also recorded spontaneous accounts of
these meaning nuances in colour during their interviews.
What about Evaluation? Brightness (dark–light) seems to have an impact
on it, too. As we saw with conceptual metaphors, brightness biases towards
positive judgements, while darkness biases towards negative ones (cf. also
Table 5
Summary of the dimensional profile for the four
Spanish colour categories
Colours E valuation Potency A ctivity
ROJO + + +
AMARILLO + − −
VERDE + −
AZUL − −
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
440 Social Science Information Vol 48 – no 3
Valdez & Mehrabian, 1994). Therefore darker colours are typically associated
to negatively valenced emotions, like anger, hatred or depression/despair.
The difference observed between our results and Adams & Osgood’s
(1973) as regards Evaluation may mean that evaluative associations are different
at an implicit and explicit level, a possibility that requires further
investigation. But it seems to us that Evaluation may be a qualitatively different
dimension from the other two as well. Determining when something
is ‘good’ or ‘bad’ is much more general than estimating ‘the amount of
energy involved in it’ (Activity), or ‘the amount of power and control it can
exert’ (Potency). The latter are specific semantic features; ‘goodness’/‘badness’,
on the contrary, is more vague. Positive or negative connotations seem to be
crucially mediated by context and, in the case of colour, by the association
to another experiential domain with which the colour co-occurs (and/or
which is culturally sanctioned as relevant). This allows for a greater degree
of interpersonal and intercultural variability than the other two dimensions.
As Elliot and colleagues (2007: 156) explain, colour meaning may be a matter
of context. We hypothesize that, in the case of valence, this may be
especially so. For example Spaniards may regard ROJO and AMARILLO
very positively because they are the two colours of the Spanish flag and
because red and yellow outfits are typically used to represent the country in
international competitions. It is an interesting possibility that the two colours
may have lately become particularly positive in people’s minds as a
result of Spain winning the UEFA European Football Championship after
44 years, as well as the Davis Cup in tennis.
Conclusions
The literature on the relationship between colour and emotion is vast and
varied. Different disciplines, orientations and methodologies combine to
produce a truly heterogeneous field that tries to provide an answer to the
question of which colours are associated to which emotions in a given
culture, in a language or, possibly, all over the world. An answer to this
question requires more than linguistic analysis. But linguistic analysis is
necessary as well, because general conceptual pairings of emotions and
colours in a culture are likely to be influenced by the specific linguistic
associations of colour words and emotional words in it.
It is this association we aimed to address. We have provided several reasons
why colour and emotion terms are associated in the languages of the
world, and have given examples of cross-linguistic variability in this respect.
In addition we have suggested a new methodology for analysing connotative
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
Soriano & Valenzuela Emotion and colour across languages 441
overlap, one of the possible motivations for some of those associations. We
believe implicit measurements are necessary to capture the connotative structure
of colour and emotion terms, since implicit and explicit representations
(of the sort reflected by Osgood’s Semantic Differential Technique) need not
coincide, and it is the implicit unconscious representations that can give us a
better lead into the reasons for colour–emotion association. One could further
explore the unconsciousness of the associations between colour terms and the
affective dimensions testing for the existence of Stroop interference effects
between a colour term and a contradicting dimensional pole (e.g. the recognition
of the word energetic written in red vs in blue/green/yellow).
The results of our study parallel earlier findings on Potency and Activity
in colour semantics and colour–emotion association, but they diverge as
regards the evaluative sign of the Spanish colour terms. We have suggested
that colour Potency and Activity semantic ratings are likely to be more stable
across languages because of their important relation to physical properties
of colour, like brightness or saturation. Evaluation, on the other hand, is
influenced by saturation, but seems nevertheless more sensitive to context,
more dependent on external associations and a framework of reference, and
therefore more prone to cross-linguistic variability.
Further research is now necessary to establish the implicit connotative structure
of emotion terms in Peninsular Spanish, and to compare it with that of the
colour terms. This opens the field to new interesting possibilities. For example
Peninsular Spanish lacks any phraseology directly linking azul or amarillo to
specific emotion terms.7 The same is true for other colour terms, like naranja
(orange). This makes Spanish a very interesting case study for potential facilitating
effects between those colours and emotion terms with compatible dimensional
structures, as well as interference effects with incompatible ones.
All in all, the present study has suggested new ways to investigate the
connections between colour and emotion, and to render a more vivid picture
of their cross-linguistic connotative landscape.
Cristina Soriano earned her PhD in Cognitive Linguistics at the University of Murcia
(Spain) with a multidisciplinary (semantic and psycholinguistic) contrastive cognitive
account of emotional language in English and Spanish. Her research interests focus on the
metaphorical representation of concepts (primarily emotion concepts) and the psycholinguistic
investigation of theory-driven cognitive claims. She has received training in
Cognitive Semantics at the University of Berkeley and the University of Hamburg as a
visiting scholar. She left the English Philology Department of the University of Murcia,
where she taught language and translation for two years, to join the Swiss Centre for
Affective Sciences (University of Geneva), where she currently conducts psycholinguistic
research on emotion concepts. She is also the executive officer of the GRID Project, a
cross-cultural investigation of the meaning of emotion terms, and member of the ELIN
Project on emotional language in international communication. Recent publications include:
(with A. Barcelona, 2004) ‘Metaphorical conceptualization in English and Spanish’,
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
442 Social Science Information Vol 48 – no 3
European journal of English studies 8(3): 295–308; (with J. Valenzuela, 2009) ‘Are
conceptual metaphors accessible on-line? A psycholinguistic exploration of the CONTROL
IS UP metaphor’, in J. Valenzuela, A. Rojo & C. Soriano (eds) Trends in cognitive linguistics:
theoretical and applied models, pp. 31–50 (Frankfurt: Peter Lang); with
A. Ogarkova, in press) ‘Linguistics and emotion’, in D. Sander & K. R. Scherer (eds)
Oxford companion to emotion and the affective sciences (Oxford: Oxford University Press).
Author’s address: Swiss Centre for the Affective Sciences, 7 rue des Battoirs, CH-1207
Geneva, Switzerland. [email: Cristina.Soriano@unige.ch.]
Javier Valenzuela is a Tenured Professor of Cognitive Linguistics at the University of
Murcia (Spain). He has published extensively and has ample teaching experience in contrastive
English–Spanish linguistics, with a specialization in semantic and grammatical
contrasts. He has carried out several studies for the psycholinguistic validation of cognitive
linguistics claims, primarily concerning Construction Grammar and Conceptual Metaphor
Theory. Professor Valenzuela has participated in several multidisciplinary research projects
on semantics, cognition and metaphor financed by the Spanish Government, the Autonomic
Government of Murcia, and the Universities of Murcia and Granada. He is also involved
in an international multidisciplinary project on artificial language evolution (ALEAR –
European STREP grant). Recent publications include: (with C. Soriano, 2007) ‘Conceptual
metaphor and idiom comprehension’, in I. Ibarretxe-Antuñano, C. Inchaurralde & J.
Sánchez (eds) Language, mind and the lexicon, pp. 281–304 (Frankfurt: Peter Lang); (with
A. Rojo, 2008) ‘What can foreign language learners tell us about constructions’, in S. De
Knop & T. De Rijcker (eds) Cognitive approaches to pedagogical grammar, pp. 197–229
(Berlin; New York: Mouton de Gruyter); (in press) ‘What empirical work can tell us about
primary metaphors’, Cuadernos de filologia 14; (with A. Rojo & C. Soriano, eds, 2009)
Trends in cognitive linguistics: theoretical and applied models (Frankfurt: Peter Lang).
Author’s address: Javier Valenzuela, Department of English Philology, University of
Murcia, Spain. [email: jvalen@um.es]
Notes
The research presented in this article was supported by grants from the Spanish Ministry of
Education and Science SEJ2006–04732/PSIC and from Fundación Séneca 05817/PHCS/07.
We are most grateful to Marc Ouellet (University of Granada, Spain) for his valuable support
with data analysis, and to Gill Philips, Julio Santiago, Anna Ogarkova and Klaus Scherer for
their comments on an earlier version of this paper. All errors remain our own.
1. Italics are used for linguistic examples and specific colour or emotion terms. A translation
of their meaning (when necessary) appears in single quotation marks. Conceptual metaphors,
conceptual metonymies, as well as colour and emotion concepts are capitalized (following the
convention in cognitive linguistics).
2. For an inventory of 25 studies from various disciplines reporting on the association white–
good and black–bad, see Adams & Osgood (1973).
3. Red. (n.d.) The American Heritage® Dictionary of the English Language, Fourth Edition.
Retrieved 15 March 2009 from Dictionary.com website: http://dictionary.reference.com/
browse/red.
4. For an inventory of studies reporting additional converging evidence see Adams & Osgood
(1973).
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
Soriano & Valenzuela Emotion and colour across languages 443
5. We have collapsed the results for AMARILLO, ROJO and VERDE, since the differences
among them were non-significant.
6. The explicit meaning structure of ira and 23 other emotion terms is currently being analysed
in the GRID study. The GRID Project (http://www.iccra.net/grid-project) is an international
research initiative to investigate the semantic structure of 24 emotion terms in over 30
world languages. Dimensional analyses are also included. The Spanish words investigated are
tristeza (sadness), desprecio (contempt), asco (disgust), ira (anger), irritación (irritation), odio
(hate), celos (jealousy), miedo (fear), ansiedad (anxiety), estrés (stress), desesperación
(despair), interés (interest), sorpresa (surprise), gozo (joy), placer (pleasure), orgullo (pride),
felicidad (happiness), satisfacción (contentment), amor (love), decepción (disappointment),
estar herido (being hurt), compasión (compassion), culpa (guilt) and vergüenza (shame). The
scholars responsible for the Peninsular Spanish studies are Cristina Soriano (for the Southern
Spanish sample) and Itziar Alsonso-Arbiol (for the Northern Spanish sample).
7. Rojo and verde are conventionally related to anger and envy, respectively, by virtue of the
expressions rojo de ira (‘red with anger’) and verde de envidia (‘green with envy’). As we saw
earlier, these expressions are motivated by metonymic thinking, not connotative overlap.
References
Adams, F. M. & Osgood, C. E. (1973) ‘A cross-cultural study of the affective meanings of
colour’, Journal of cross-cultural psychology 4: 135–56.
Allan, K. (2007) ‘The pragmatics of connotation’, Journal of pragmatics 39: 1047–57.
Allan, K. (2009) ‘The connotations of English colour terms: colour-based X-phemisms’,
Journal of pragmatics 41: 626–37.
Barcelona, A. (2003) ‘Clarifying and applying the notions of metaphor and metonymy within
cognitive linguistics: an update’, in R. Dirven & R. Pörings (eds) Metaphor and metonymy
in comparison and contrast, pp. 207–77. Berlin; New York: Mouton de Gruyter.
Berlin, B. & Kay, P. (1969) Basic colour terms: their universality and evolution. Berkeley:
University of California Press.
Cacciari, C., Massironi, M. & Corradini P. (2004) ‘When color names are used metaphorically:
the role of linguistic and chromatic information’, Metaphor and symbol 19(3): 169–90.
Clarke, T. & Costall, A. (2008) ‘The emotional connotations of color: a qualitative investigation’,
COLOR Research and application 33(5): 406–10.
D’Andrade, R. & Egan, M. (1974) ‘The colours of emotion’, American ethnologist 1: 49–63.
Dzokoto, V. A. & Okazaki, S. (2006) ‘Happiness in the eye and the heart: somatic referencing
in West African emotion lexica’, Journal of black psychology 32(2): 117–40.
Elliot, A. J. & Niesta, D. (2008) ‘Romantic red: red enhances men’s attraction to women’,
Journal of personality and social psychology 95(5): 1150–64.
Elliot, A. J., Maier, M. A., Moller, A. C., Friedman, R. & Meinhardt, J. (2007) ‘Colour and
psychological functioning: the effect of red on performance attainment’, Journal of experimental
psychology: General 136(1): 154–68.
Fontaine, J., Scherer, K. R., Roesch, E. B. & Ellsworth, P. (2007) ‘The world of emotions is not
two-dimensional’, Psychological science 18(12): 1050–7.
Gao, X. P., Xin, J. H., Sato, T., Hansuebsai, A., Scalzo, M., Kajiwara, K., Guan, S. S.,
Valldeperas, J., Lis, M. J. & Billger, M. (2007) ‘Analysis of cross-cultural colour emotion’,
Colour research and application 32(3): 223–9.
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
444 Social Science Information Vol 48 – no 3
Gawronski, B. (2002) ‘What does the Implicit Association Test measure? A test of the convergent
and discriminant validity of prejudice-related IATs’, Experimental psychology
49(3): 171–80.
Goldstein, K. (1942) ‘Some experimental observations concerning the influence of colours on
the function of the organism’, Occupational therapy and rehabilitation 21: 147–51.
Greenwald, A. G., McGhee, D. E. & Schwartz, J. L. K. (1998) ‘Measuring individual differences
in implicit cognition: the Implicit Association Test’, Journal of personality and social
psychology 74: 1464–80.
Hill, R. A. & Barton, R. A. (2005) ‘Red enhances human performance in contests’, Nature
435(7040): 293.
Hupka, R. B., Zaleski, Z., Otto, J., Reidl, L. & Tarabrina, N. V. (1997) ‘The colours of anger,
envy, fear, and jealousy. a cross-cultural study’, Journal of cross-cultural psychology 28(2):
156–71.
Jobes, G. (1962) Dictionary of mythology, folklore and symbols, vols 1–2. New York:
Scarecrow Press.
Kövecses, Z. & Radden, G. (1998) ‘Metonymy: developing a cognitive linguistic view’,
Cognitive linguistics 9(1): 37–77.
Lakoff, G. (1993) ‘The contemporary theory of metaphor’, in A. Ortony (ed.) Metaphor and
thought, pp. 202–51. Cambridge: Cambridge University Press.
Leech, G. N. (1981) Semantics: a study of meaning. Harmondsworth: Penguin (2nd edn).
Marsh, K. L., Johnson, B. T. & Scott-Sheldon, L. A. J. (2001) ‘Heart versus reason in condom
use: implicit versus explicit predictors of sexual behavior’, Zeitschrift für experimentelle
Psychologie 48: 161–75.
McConnell, A. R. & Leibold, J. M. (2001) ‘Relations among the Implicit Association Test,
discriminatory behavior, and explicit measures of racial attitudes’, Journal of experimental
social psychology 37: 435–42.
Mehrabian, A. (1972) ‘Nonverbal communication’, in J. K. Cole (ed.) Nebraska symposium on
motivation, vol. 19, pp. 107–61. Lincoln: University of Nebraska Press.
Mehrabian, A. & Russell, J. A. (1974) An approach to environmental psychology. Cambridge,
MA: MIT Press.
Mehta, R. & Zhu, R. (2009) ‘Blue or red? Exploring the effect of color on cognitive task performances’,
Science 323(5918): 1226–9.
Meier, B. P., Robinson, M. D. & Clore, G. L. (2004) ‘Why good guys wear white. automatic
inferences about stimulus valence based on brightness’, Psychological science 15(2): 82–7.
Meier, B. P., Robinson, M. D., Crawford, L. E. & Ahlvers, W. J. (2007) ‘When “light” and
“dark” thoughts become light and dark responses: affect biases brightness judgments’,
Emotion 7(2): 366–76.
Mitchell, C. J., Anderson, N. A. & Lovibond, P. F. (2003) ‘Measuring evaluative conditioning
using the Implicit Association Test’, Learning and motivation 34: 203–17.
Murray, D. C. & Deabler, H. L. (1957) ‘Colours and mood-tones’, Journal of applied psychology
41: 279–83.
Odbert, H. S., Karwoski, T. F. & Eckerson, A. B. (1942) ‘Studies in synesthetic thinking, I:
Musical and verbal associations of colour and mood’, The journal of general psychology
26: 153–73.
Ogarkova, A. (2007) ‘“Green-eyed monsters”: a corpus-based study of metaphoric conceptualizations
of JEALOUSY and ENVY in modern English’, Metaphorik 13: 87–147.
Osgood, C. E., May, W. H. & Miron, M. S. (1975) Cross-cultural universals of affective meaning.
Urbana; London: University of Illinois Press.
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009
Soriano & Valenzuela Emotion and colour across languages 445
Osgood, C. E., Suci, G. J. & Tannenbaum, P. H. (1957) The measurement of meaning. Urbana;
London: University of Illinois Press.
Oyama, T., Tanaka, Y. & Haga, J. (1963) ‘Colour-affection and colour-symbolism in Japanese
and American students’, Japanese journal of psychology 34: 109–21.
Pecjak, V. (1970) ‘Verbal synesthesiae of colours, emotions, and days of the week’, Journal
of verbal learning and verbal behaviour 9: 623–6.
Philip, G. (2006) ‘Connotative meaning in English and Italian colour-word metaphors’,
Metaphorik 10: 59–93.
Schaie, K. W. (1961) ‘A Q-sort study of colour–mood association’, Journal of projective techniques
25: 341–6.
Shaver, P., Schwartz, J., Kirson, D. & O’Connor, C. (1987) ‘Emotion knowledge: further explorations
of a prototype approach’, Journal of personality and social psychology 52: 1061–86.
Sirvydė, R. (2007) ‘Metonymy – a sister or a stepdaughter? A case study of the colour of
anger’, Respectus philologicus 11(16): 145–53.
Snider, J. G. & Osgood, C. E., eds (1969) Semantic differential technique. Chicago, IL: Aldine.
Soldat, A. S., Sinclair, R. C. & Mark, M. M. (1997) ‘Colour as an environmental processing
cue: external affective cues can directly affect processing strategy without affecting mood’,
Social cognition 15: 55–71.
Soriano, C. (2005) ‘The conceptualization of anger in English and Spanish: a cognitive
approach’, Doctoral dissertation, Department of English Philology, University of Murcia,
Spain.
Taylor, J. R. & Mbense, T. M. (1998) ‘Red dogs and rotten mealies: how Zulus talk about
anger’, in A. Athanasiadou & E. Tabakowska (eds) Speaking of emotion, pp. 191–226.
Berlin: Mouton de Gruyter.
Valdez, P. & Mehrabian, A. (1994) ‘Effects of colour on emotions’, Journal of experimental
psychology: General 123(4): 394–409.
Valenzuela, J. & Soriano, C. (2008) ‘Sensorial perception as a source domain: A crosslinguistic
study’, Paper presented at the VII International conference on Researching and
Applying Metaphor (RaAM 7), University of Extremadura, Cáceres, Spain, 29–31 May.
Wexner, L. B. (1954) ‘The degree to which colours (hues) are associated with mood-tones’,
Journal of applied psychology 38: 432–5.
Wierzbicka, A. (1992) Semantics, culture and cognition: universal human concepts in culturespecific
configurations. New York: Oxford University Press.
Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Universite de Geneve on August 31, 2009

warna dan politik

Posted: 13 Agustus 2010 in colour in indonesia

Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
1
Bernd Schüler
Warna sebagai penunjuk jalan dalam politik
Warna merupakan perantara politik. Ketika pada malam pemilu balok-balok statistik
dengan warna tertentu mencuat di layar kaca, maka dalam hitungan detik kita tahu
bagaimana formasi kekuatan di parlemen yang akan datang. Apabila seorang politisi
tampil dengan switer tanpa lengan berwarna kuning, publik pun mahfum dari partai
mana politisi tersebut: Partai Demokrat Liberal (FDP). Dan jika sekjen SPD
mengklaim dalam kampanye bahwa pencampuran Hitam dan Kuning akan
menghasilkan warna yang terlalu abu-abu, maka semua tahu maksudnya: kedua
partai tidak mungkin bergabung.
Kita membaca dunia politik melalui warna. Warna merah, hitam, kuning, hijau adalah
pola orientasi yang mendasar dalam perpolitikan Jerman. Warna-warna itu menata
politik partai dan menandai posisi cara pandangnya (Weltanschauung). Dalam situasi
demokrasi media sekarang ini warna menjadi wadah untuk memvisualisasikan
banyak hal yang berada di luar bidang pengalaman keseharian kita. Hasil pemilu
menjadi jelas ketika ia ditampilkan sebagai irisan-irisan kue berwarna-warni.
Dibingkai dalam sebuah ambien penuh warna dengan warna utama yang khas,
gambar-gambar abstrak seperti organisasi partai tidak hanya bisa dikenali (lagi)
dengan cepat, tapi juga bisa segera dibedakan.
Situasi dalam persaingan kehidupan berdemokrasi mendorong para pelakunya untuk
terus mengasah citra penampilan mereka: mereka menampilkan diri ke dunia luar
dengan desain warna sendiri dan dengan cara itu mencoba mendapatkan perhatian
dan dukungan. Mereka mencoba memposisikan diri secara kasat mata sebagai aktor
dan dengan demikian, di tengah-tengah beragamnya tawaran lain, orang akan selalu
mengenal mereka. Hal ini tidak hanya terjadi melalui penciptaan latar-latar yang
relevan dengan publik, tapi juga melalui pakaian: siapa yang memakai dasi dengan
warna tertentu yang dijual partai sebagai asesoris, maka ia menunjukkan jati diri
partainya. Dalam konteks internal partai warna berfungsi sebagai penghubung. Pita
kunci yang berwarna-warni misalnya yang dibagi-bagikan pada kongres partai
menegaskan status kebersamaan politis – tanpa harus membahas isi program.
„Black is beautiful“, bunyi slogan Junge Union (Angkatan Muda-nya CDU/CSU), atau
„Rot ist Liebe“/Merah adalah Cinta, motto Angkatan Muda SPD. Slogan dan motto
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
2
seperti ini menegaskan pentingnya penciptaan jati diri – sebuah bentuk dari
pemantapan diri.
Jadi, warna mereduksi kompleksitas praktek politik. Hal ini juga terlihat dalam bahasa
warna: para wartawan suka menggunakan gambaran-gambaran rumusan warna
untuk mengomentari kejadian-kejadian dan perkembangan-perkembangan politik.
Maka muncullah rumusan-rumusan seperti „Hijau kabur – Kuning subur“ yang
menjadi judul sebuah artikel di „Die Zeit“. Sementara di surat kabar „Westdeutsche
Allgemeine Zeitung“ pernah ditulis: „Orang-orang partai kuning matanya Hijau“.
Dalam bahasa warna perubahan-perubahan sistem kepartaian juga dijadikan topik
dan dikritik: ilmu tentang warna dalam politik disebut-sebut tidak lagi sejalan,
demikian yang sering kita dengar, karena kesatuan antara ideologi dan partai sudah
saling bertolak belakang. „Orang-orang partai merah (SPD) tidak lagi benar-benar
merah, Partai Hijau sudah mulai hilang hijaunya“, tulis surat kabar „Die Welt“.
Lalu yang muncul sekarang adalah citra yang mendua: di satu pihak warna masih
tetap digunakan sebagai motif orientasi mendasar dalam ruang politik. Di pihak lain
penggolongan warna sebagai simbol posisi politik setiap partai seperti yang umum
terjadi tidak lagi ketat seperti dulu. Seorang pengamat kampanye pemilu 2005
menggambarkan perkembangan ini sebagai berikut: “Ilmu tentang warna dalam
ranah politik (tampaknya) sudah tidak berlaku lagi, persis seperti pembagian antara
kelompok kanan dan kiri.“1 Kini telah muncul suatu situasi yang tak jelas yang
sebagian direspon (dan diperkuat) oleh partai dan ahli strategi marketing mereka
dengan menampilkan diri di masyarakat dengan warna-warna baru yang melengkapi
simbol warna yang digunakan selama ini. Makin kurang tendensi suatu partai untuk
menetapkan suatu warna tertentu, maka kiranya bisa dikalkulasikan, makin besar
pula prospek yang dimiliki suatu partai untuk mencapai dan mendapatkan suara dari
kelompok pemilih yang tidak berpegang pada politik tertentu yang kalangannya terus
meluas.
Sejarah menunjukkan bahwa penggunaan warna tertentu memang sudah sejak dulu
beranekaragam dan maknanya pun tidak pernah ditegaskan secara jelas. Posisi atau
sikap politik yang bertentangan dihubungkan dengan warna yang sama.
Penggunaan warna umumnya bisa dijelaskan sebagai campuran dari kejadiankejadian
praktis yang bersifat kebetulan, tradisi dan perhitungan. Hal ini
1 Erik Spiekermann, Gedeckte Stimmung, gedeckte Farben (Suasana yang Tersembunyi, Warna yang
Tersembunyi), dalam: Surat Kabar Frankfurter Rundschau tanggal 1-9-2005, hal. 12
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
3
menunjukkan perjalanan politik dari setiap warna yang hendak digambarkan dalam
tulisan ini. Akan tetapi, sebelumnya perlu disinggung dulu beberapa garis-garis besar
yang melukiskan perubahan peran warna dalam sejarah politik.
Penggunaan warna dalam politik
Dalam perkembangan sejarahnya kita bisa menentukan tiga titik berat berbeda:
pertama-tama, warna berfungsi mengekspresikan dan menguatkan kekuasaan yang
ada. Selanjutnya, warna mendukung gerakan-gerakan politik baru dalam
perjuangannya menentang pemegang kekuasaan yang tradisional. Dan terakhir,
bagi kelompok-kelompok politik warna berfungsi sebagai alat promosi, misalnya
untuk mendapatkan suara pemilih yang pada gilirannya melegitimasi pelaksanaan
kekuasaan politik.
Untuk memahami makna warna di zaman Romawi purba hingga abad pertengahan,
ada faktor khusus yang harus diperhatikan: Berbeda dari sekarang, dulu zat warna
susah sekali didapat dan karenanya sangat mahal sehingga hanya orang-orang
kelas atas saja yang bisa memperolehnya. Jadi, dengan menggunakan sumber yang
jarang itu orang bisa memberikan alasan yang kuat atas haknya untuk berkuasa.
Hanya para pemuncak hirarkilah yang diperbolehkan mengenakan pakaian
berwarna; sebuah hak istimewa yang dijamin melalui peraturan tentang pemakaian
pakaian.2 Contoh yang terkenal untuk ini adalah mantel berwarna yang dikenakan
para ratu dan kaisar Romawi dan para penerusnya. Perlu bertahun-tahun untuk
membuat pakaian mewah seperti itu. Para menteri dan pejabat diizinkan menambah
strip merah tua di jubah mereka. Orang lain tidak diperbolehkan menggunakan
warna khusus ini, pelanggaran terhadapnya diancam hukuman mati.
Di abad pertengahan, warna yang terutama sekali diperuntukkan bagi kelas atas
adalah warna merah darah. Ia bukan hanya zat warna yang paling mahal, tapi juga
merupakan warna yang dihubungkan dengan kekuatan dan kekuasaan. Pertarungan
sosial antara bangsawan dengan rakyat biasa selalu berkisar tentang peraturanperaturan
tentang siapa yang boleh memakai jenis warna merah dan dalam bentuk
apa. Hak istimewa kaum bangsawan, diawali oleh berkurangnya kekuatan ekonomi,
2 Bandingkan Eva Heller, Wie Farben wirken. Farbpsychologie, Farbsymbolik, kreative Farbgestaltung
(Pengaruh warna. Psikologi warna, simbol warna, perancangan warna yang kreatif) Reibek bei
Hamburg 2004, hal. 167 dst dan Arnold Rabbow, dtv-Lexikon politischer Symbole A-Z, München 1970,
Artikel „Farbensymbolik“, hal. 76. Semua pernyataan lain tentang penggunaan warna dalam sejarah
didasari pada penjelasan kedua penulis ini.
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
4
sedikit demi sedikit menyusut; akhirnya pada abad ke-18 mereka hanya boleh
memakai hak sepatu berwarna merah.3
Dengan demikian warna merah pun kehilangan status sebagai alat pembeda kelas
atas – dan lambat laun malah menjadi warna utama dari kelas bawah, jadi warna dari
protes sosial mereka dan akhirnya warna dari gerakan buruh. Perubahan ini
didukung pula oleh bentuk-bentuk produksi baru (misalnya oleh impor serangga
cochennil dari Amerika) yang membuat zat warna merah menjadi murah. Cita-cita
buruh di awal abad ke -19 adalah membentuk kelompok yang punya kekuatan politik.
Dari latar belakang inilah kemudian warna merah dan bendera merah yang terlihat
dengan jelas menjadi „alat pemandu massa“4 yang membentuk poros bagi
terbentuknya gerakan politik baru.
Mobilisasi massa tetap menjadi tema demokrasi di zaman berikutnya, termasuk di
era Republik Weimar. Pemerintahan yang tak stabil, pemilu yang baru menandai
wajah demokrasi. Kampanye umumnya dilakukan di jalan-jalan. Warna-warna
digunakan di plakat-plakat dan tiang-tiang di ruang publik; media yang menjadi
jembatan bagi partai untuk mencapai langsung konstituennya. Yang terkenal lebih
karena kesan negatifnya dalam hal ini adalah gerak jalan dengan pakaian seragam
untuk menunjukkan posisi politik mereka. Keberadaan „batalion coklat“ misalnya
tidak hanya berdampak kepada publik. Keseragaman warna juga membuat para
pesertanya „merasa memiliki keberanian yang kuat“: setiap pribadi melihat keinginan
mereka pada warna sama pada anggota lain. Sebuah kelompok kecil yang
berseragam kemeja hitam atau coklat terkesan lebih kuat lebih karena seragamnya
bukan karena jumlahnya.“5
Sejalan dengan perkembangan demokrasi melalui media pasca Perang Dunia II, arti
presentasi visual di jalan berkurang. Penyampaian politik lebih diorientasikan pada
media utama yang baru, yakni televisi (berwarna). Selain itu, hal baru lainnya adalah
bahwa dalam masyarakat media politik harus lebih kuat lagi menegaskan dirinya
sebagai salah satu tawaran di samping tawaran-tawaran lainnya di media. Ketua
Harian FDP, Hans-Jürgen Beerfeltz, melukiskan hal ini sebagai berikut: „FDP
sekarang bukan hanya bersaing dengan partai-partai lain dalam rangka
mendapatkan perhatian pemilih dan simpatisan yang potensial, tapi juga dengan
3 Bandingkan E. Heller (cat. kaki 2), hal. 57 dst
4 A. Rabbow (cat. kaki 2), Artikel „Merah“, hal. 199
5 Ibid, Artikel „Braun“ (Coklat), hal. 48
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
5
produk-produk iklan lain. Siapa yang tidak konsekuen mengkomunikasikan garisnya
secara terus-menerus, akan jatuh“6. Sejalan dengan perkembangan ini para pakar
pemasaran makin memiliki pengaruh terhadap pembentukan citra penampilan partai.
Warna-warna baru seperti oranye dan umbra, yang sejak beberapa waktu ini
menghiasi corporate design CDU dan CSU, digunakan dengan arahan agen-agen
periklanan profesional.
Karir politik masing-masing warna
Warna merah
Setelah selama berabad-abad warna merah menjadi simbol pemilik kekuasaan atau
kalangan atas, maka – seperti yang telah disebutkan sebelumnya – selambatlambatnya
pada abad ke-19 ia menjadi simbol sentral dari perlawanan sosial dan
gerakan-gerakan emansipatif. Arnold Rabbow, yang karyanya “Leksikon Simbolsimbol
Politis” terbitan 1970 masih tetap menjadi karya standard sampai hari ini,
mencirikan makna tersebut sebagai berikut: Warna merah, khususnya dalam bentuk
bendera merah yang umum kita lihat, mengalahkan semua simbol-simbol baru politik
lain dalam hal usia, makna dan daya iklannya. Merah adalah warna yang agresif. Ia
bercahaya, ia menyedot pandangan dengan kekuatan magis; ia menantang,
mempromosikan dan membuat orang mundur.“7
Emansipasi ditandai dengan munculnya warna di atas topi pet. Topi ini dipakai oleh
para Jakobi di masa Revolusi Perancis, merujuk pada tutup kepala merah yang
dipakai para terhukum yang dihukum mendayung di atas perahu (Galeerensträfling).
Bendera merah tercatat untuk pertama kalinya dipakai pada 1834, di saat terjadi
pemberontakan buruh industri sutra di Lyon. Selanjutnya “simbol politik yang modern
yang bagi Rabbow paling berhasil ini8” selalu dipakai dalam gerakan-gerakan protes
di seluruh negara Eropa. Mulai saat itu tidak ada warna politik lain yang dipahami
seperti itu secara internasional selain warna merah.
Bendera merah baru dipakai di Jerman di tahun revolusi 1848. Lambat laun bendera
ini menggantikan bendera hitam-merah-emas sebagai simbol emansipasi. Pada
1863 „Serikat Umum Pekerja Jerman“ menggunakan bendera tersebut sebagai
6 Diambil dari prakata untuk Corporate Design-Manual der FDP, disunting oleh Sekretariat Pusat FDP,
dalam: http://www.fdp.de/files/720/cd-manual_final.pdf, hal. 2
7 A. Rabbow (cat. kaki 2), Artikel „Rot“ (merah), hal. 198
8 Ibid., Artikel „Rote Fahne“ (Bendera Merah), hal. 201
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
6
simbol partai; dengan tulisan „Kebebasan, Persamaan, Persaudaraan!“ bendera ini
kemudian menjadi „bendera tradisi Partai Sosial Demokrat (SPD)“.9 Warna ini lama
menjadi keterkejutan warga. Sampai sekitar 1900 instansi-instansi pemerintah
melakukan kebijakan menentang ditunjukkannya simbol-simbol merah“. Setelah
sosial-demokrat dikubur polisi memotong karangan bunga berwarna merah di
kuburan.
Bendera berwarna merah kembali dipakai khususnya oleh kelompok-kelompok
komunis setelah Perang Dunia Pertama. Sementara pengikut sosial-demokrat
berbalik pada kombinasi warna hitam-merah-emas, warna bendera negara, dan
hanya memakai banner merah dalam tubuh partai mereka, partai komunis turun ke
jalan-jalan dengan menggunakan bendera merah. Pawai mereka ini dilukiskan juga
oleh Adolf Hitler dalam bukunya „Mein Kampf“: „Lautan bendera merah, ikatan
kepala merah dan bunga merah membuat arak-arakan ini (di Lapangan Schloss
Berlin B.S) yang diikuti sekitar 120.000 orang menjadi pawai yang heboh. Saya
sendiri bisa merasakan dan memahami betapa mudahnya sang putra bangsa tunduk
di bawah sihir sugestif pawai yang berpengaruh besar seperti ini.“10 Bukan hanya
dampak ini yang, menurut Rabbow, membuat Hitler terdorong untuk menggunakan
warna merah untuk propaganda nasional-sosialistis.Tapi ia juga menghubungkan
warna ini dengan perhitungan strategis guna mendapatkan dukungan dari pekerja.
Setelah Perang Dunia Kedua warna merah di satu pihak menjadi warna yang bisa
ditemukan di mana-mana, namun di lain pihak ia menjadi warna yang digunakan
secara sangat mencolok. Di Republik Demokratik Jerman banner merah menjadi
bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk di luar kegiatan akbar politik.
Sebaliknya, di Republik Federal Jerman warna merah menjadi beban akibat sejarah
NAZI di Jerman dan partai komunis yang ada sekarang. Dalam sebuah kongres SPD
pada 1953 sempat dikerahkan seratus bendera merah – yang membuat partai ini
mendapatkan berita negatif. Di tingkat pimpinan partai ada kekhawatiran bahwa
insiden itu akan membuat orang menghubungkan SPD dengan komunisme. Oleh
karena itulah, sejak tahun 60-an hanya bendera tradisi saja yang ditunjukkan di
kongres-kongres partai.11
9 Pers Release SPD
10 Dikutip berdasarkan A. Rabbow (cat. kaki2), Artikel „Rot“, hal. 200
11 Berdasarkan pemberitahuan pers SPD
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
7
Sejak saat itu dalam menampilkan dirinya ke luar SPD hanya menggunakan warna
merah pada momen tertentu. Penggunaan yang paling mencolok terlihat pada
plakat-plakat pemilu. Warna merah seringkali hanya pada logo yang diterapkan
1989, yakni sebuah kuadrat dengan huruf-huruf SPD berwarna putih. Dalam
kampanye pemilihan legislatif 2005 juga jarang terlihat warna merah; Sebuah
keadaan yang membuat munculnya beberapa komentar kritis yang mencoba
menguhubungkan antara pemilihan warna dengan ideologi. Prof. Henning
Wagenbreth, seorang pakar komunikasi visual di Berlin, menulis komentarnya
tentang plakat pemilu SPD tersebut sebagai berikut: „Bahkan warna merah, yang
dilihat dari aspek artistiknya adalah warna yang paling berpengaruh dalam spektrum
politik, telah tereduksi menjadi sangat minim. Apakah ditinggalkannya warna merah
merupakan sebuah keputusan kreatif atau juga programis?“12
Keterkaitan antara retorika warna dan desain warna ditunjukkan dengan baik oleh
penampilan partai kiri „Die Linke. PDS“ dalam kampanye pemilu legislatif 2005. Pada
tataran retorika politik misalnya kandidat langsung dari Frankfurt, Wolfgang Gehrcke,
mengiklankan: „Yang merah dalam kampanye kali ini hanyalah partai kiri. Dan semua
partai lainnya pucat.“13 Sementara dalam plakat-plakat pemilu hampir tak ditemukan
warna merah, tapi mereka – demikian pendapat seorang desainer – didesain dalam
berbagai „warna cerah“ yang (mencontek) „estetika supermarket yang lucu berisi
label harga, sticker dan merek dengan warna tertentu; sebuah gabungan warna yang
indah.“14 Dengan desain warna-warni ini, demikian interpretasinya, partai membuka
diri pada kelompok-kelompok sasaran yang alergi dengan warna merah.
Di luar dari statusnya sebagai simbol politik, warna merah sampai sekarang masih
tetap dipakai sebagai semata-mata warna penanda oleh partai lain. FDP misalnya
banyak menggunakan warna ini pada plakat mereka hingga tahun 60-an. Dan tulisan
CDU sejak dulu dibuat dalam warna merah. Menurut analis pemasaran, huruf-huruf
berwarna merah ini telah menjadi tanda merek yang tetap.
Warna hitam
Warna hitam juga punya tradisi yang lama dalam panggung politik. Berbagai aktor
yang menggunakan warna ini dan yang hanya disebutkan sebagian dalam tulisan ini
12 Henning Wagenbreth, Mata ini tak bisa berbohong, dalam: Surat kabar Berlin tanggal 14.9.2005,
hal. 6
13 Dikutip dari Friedericke Tinnappel, Die Farbe Rot (Warna Merah), dalam: Surat kabar Frankfurter
Rundschau tanggal 19-9-2005, hal. 12
14 E. Spiekermann (cat. kaki 1)
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
8
menunjukkan betapa beraneka ragamnya posisi dan sikap yang terhubung dengan
warna ini. Di abad pertengahan, di masa kealiman kelam, warna hitam adalah warna
yang dominan di istana Spanyol. Pada awal zaman baru warna hitam juga menjadi
warna pakaian yang disukai oleh bangsawan Eropa. Pada saat yang sama warna
hitam, khususnya bintang hitam, menjadi simbol anarkisme.
Di awal abad 20 terdapat apa yang disebut dengan kemeja hitam, yakni anggota
gerakan fasis, yang pertama kali berpawai dengan seragam ini pada 1919 di Italia
dalam rangka melawan kelompok-kelompok sosialis dengan kekerasan dan berani
mati. Mungkin yang menarik dalam hal ini adalah strategi bahwa dengan seragam ini
individu tampil sebagai orang yang sama. Jadi, kesan yang ingin ditimbulkan adalah
semua peserta menjadi satu kesatuan dalam kebersamaan, terlepas dari perbedaan
kelas. Taktik jitu yang digunakan di sini adalah bahwa seperti halnya kasus kemeja
coklat di Jerman, pakaian kebesaran para pengikut gerakan nasional-sosialis (NAZI),
penggunaan warna tertentu tidak selalu dihubungkan dengan pengimanan terhadap
konsep gerakan karena kemeja dengan warna-warna ini adalah bagian dari pakaian
yang biasa dipakai. Inilah sebuah contoh untuk suatu pemuatan politis subversif
yang pintar dari sebuah warna yang dipakai sehari-hari.
Gambar: papan warna yang digunakan partai-partai politik Jerman untuk
menampilkan dirinya:
CDU SPD FDP Bündnis ‚90/
DIE GRÜNEN
DIE
LINKE.PDS
Oranye,
Merah dan
Putih
„Umbra“,
Merah dan
Putih
Kuning dan
Biru
Hijau, Kuning,
Biru dan Putih
Merah, Biru
dan Putih
Sumber: http://www.guillemets.de
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
9
Apabila saat ini dalam ungkapan politik sehari-hari sering didengar istilah „kelompok
hitam“, maka secara umum yang dimaksud adalah kelompok konservatif dan
konkritnya anggota CDU atau simpatisannya. Berbeda dari ciri-ciri warna dari partaipartai
lainnya hal istimewa pada kasus CDU ini adalah bahwa bukan mereka sendiri
yang memilih warna hitam tersebut, melainkan lawan politik mereka yang
memberikannya. Mengingat konservatisme juga merekrut orang-orang dari kalangan
klerik dan kristen, maka para pengusung mereka dihubungkan dengan jubah para
pendeta; pakaian hitam khususnya dipakai para pendeta protestan.
Sementara warna hitam dalam corporate design CDU hampir tidak punya peran,
organisasi pemuda partai ini, Junge Union (JU), mulai membangun simbol dari warna
tersebut. Pada 2004 mereka membuat kampanye besar dengan slogan “Black is
beautiful”. Slogan ini terus menjadi alat promosi sejak akhir tahun 60-an, ia menjadi
“rumus” yang merembes bagi presentasi diri. Kampanye ini, demikian disebut-sebut,
bertujuan untuk menghasilkan „semacam ikatan bersama” yang mampu mengatasi
perbedaan yang hingga saat ini sangat kuat terlihat dalam penampilan DPW ke luar.
Tujuannya adalah “Dengan penampilan diri yang terarah dan seragam dalam
menghadapi pemilih” dan “menciptakan citra yang mantap”.15
Yang mencolok pada kampanye yang juga dicoba oleh partai-partai lain ini adalah
adanya tuntutan luas bahwa dengan simbol “black” dan barang-barang promosi
warna hitam lainnya diharapkan pengalaman (politik) yang luas bisa didapat.
“BLACK” diharapkan bisa memberikan pengalaman hidup”16 – dengan segala
macam artikel, mulai dari cangkir berrwarna hitam, T-Shirts hingga lolipop dan telpon
genggam.
Selain itu, kampanye ini menunjukkan betapa sulitnya berhubungan dengan berbagai
tradisi dan makna warna untuk pada gilirannya mendapatkan makna tersendiri dari
pemilihan warna tertentu. Untuk warna hitam ini misalnya, ada yang menyebut
“simbol sangat tua kristen yakni penebusan dan penderitaan Yesus”. Karena
“Bukankah untuk sebuah partai kristen tidak ada lagi warna yang lebih tepat daripada
hitam?” Bagaimanapun juga, warna hitam tidak melulu berarti kesedihan dan
depresi, tapi juga kekuatan dan daya.“17 Di sini orang merujuk pada simbol-simbol
15 Stefan Ewert, Black is Black! Atau “Wir Schwarzen müssen zusammenhalten” (Kita orang-orang
CDU harus bersatu), dalam: Suplemen „black“ untuk majalah JU „Die Entscheidung“, 52 (2004), hal. 7
16 Pers release Junge Union tentang latar belakang kampanye, hal. 7
17 S. Ewert (Cat. kaki 15), hal. 11
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
10
dari mulut ke mulut – tanpa mempertanyakan bagaimana kecocokan berbagai
asosiasi yang ada menyangkut warna tersebut.
Warna kuning
Kalau di budaya lain warna kuning memiliki makna positif dan karenanya digunakan
oleh penguasa sebagai warna negara – contohnya kaisar China menghiasi pakaian
kebesarannya dengan warna ini –, maka di Eropa warna ini dihubungkan dengan
kelompok-kelompok yang secara sosial terpinggirkan dan terbuang. Dulu pelacur
harus memakai tutup kepala berwarna kuning, perempuan yang memiliki anak di luar
nikah harus berpakaian kuning, orang Yahudi topi kuning atau penanda-penanda
berwarna kuning lainnya.
Selain itu warna kuning juga merupakan „warna para pengkhianat“.18 Warna ini baru
memiliki makna di Jerman ketika di pemerintahan kekaisaran dan di Republik
Weimar beberapa orang mencoba untuk mendeskreditkan apa yang disebut serikat
pekerja sebagai kelompok kuning.19 Yang dimaksud adalah organisasi-organisasi
yang menghendaki adanya kerja sama antara pihak pemberi kerja dan pekerja. Oleh
karena itu organisasi ini diserang oleh serikat-serikat pekerja yang berorientasi
sosialis dan kemudian juga disebut sebagai “pelindung kapitalis” oleh Joseph
Goebbels.
Bahwa hingga kini di Jerman penganut paham liberal masih diidentifikasikan dengan
warna kuning, itu ada kaitannya dengan pemilihan anggota parlemen negara bagian
Baden-Württemberg pada 1972. Setelah dalam kampanye-kampanye sebelumnya
warna oranye menjadi pilihan, pada masa kampanye selanjutnya dipilih kombinasi
warna Biru-Kuning sebagai warna sinyal oleh sebuah agen periklanan yang dikontrak
partai. Hasilnya begitu memuaskan sehingga kombinasi warna tersebut juga dipakai
dalam kampanye pemilu legislatif tingkat nasional di tahun yang sama. Hingga saat
ini warna ini masih menghiasi logo dan tampilan iklan partai liberal.
Keputusan pemilihan warna tersebut pada 1972 itu dijelaskan secara resmi oleh
partai liberal: “Mengapa justru pilihan warna jatuh pada kombinasi biru-kuning,
sebenarnya tak ada alasan tertentu untuk itu karena dalam penelitian-penelitian yang
ada di sini kombinasi warna ini justru tidak memiliki nilai-nilai yang menonjol yang
18 E. Heller (cat. kaki 2), hal. 141
19 A. rabbow (cat. kaki 2), Artikel „Gelb“, hal. 101
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
11
membuatnya harus dipilih.”20 Di sini menjadi jelas bahwa kriteria yang sebenarnya
terhadap keputusan tersebut tidak benar-benar bisa atau harus disebutkan. Ini bisa
ditafsirkan sebagai indikator bahwa pemilihan kombinasi tersebut bersifat kebetulan
dan secara acak. Namun, dari pengalaman yang diperoleh ketika mencari jawaban
atas pertanyaan tersebut tampak bahwa dalam banyak kasus di partai-partai dan
yayasan-yayasan yang berafiliasi dengan partai memang tidak ada pengetahuan
yang pasti dan yang bisa diakses umum menyangkut keputusan tentang penentuan
citra partai melalui warna tertentu. Paling mungkin orang dirujuk pada saksi mata,
dalam konteks FDP misalnya pada seorang mantan anggota Komisi Kampanye di
Baden-Württemberg yang menyebutkan, kombinasi biru-kuning ini dianggap “cukup
atraktif”.
Warna biru
Adalah keistimewaan dunia perpolitikan Jerman bahwa sebuah partai liberal dicirikan
dengan warna kuning. Di negara-negara Eropa lainnya partai-partai liberal lebih
mengidentifikasikan dirinya dengan warna biru, misalnya partai sosial-liberal di
Belanda atau nasional-liberal di Austria. Namun demikian, di Inggris Raya dan
negara-negara lain partai konservatif juga diasosiasikan dengan warna biru.
Walaupun biru bisa dikatakan warna yang paling digandrungi orang Jerman, sampai
hari tidak ada partai yang diidentifikasikan lewat warna ini. Namun ia sering
digunakan sebagai warna latar belakang atau pendamping. Plakat pemilu dan brosur
SPD dan CDU misalnya memakai warna biru sebagai latar belakangnya untuk waktu
yang lama. Dan apabila ada undangan konferensi pers ke kontor pusat CDU, para
petinggi partai berdiri di depan latar belakang yang berwarna biru.
Warna biru juga memainkan peran dalam logo CSU, ia menunjukkan kombinasi
warna hijau dan biru. Penjelasan atas kombinasi ini adalah bahwa kombinasi ini
menggabungkan dua warna yang merepresentasikan di wilayah besar di tanah
Bavaria. Warna hijau berarti wilayah Frankonia sebelah utara, biru melambangkan
bagian selatan Bavaria. Selain itu, warna biru juga dikenal sebagai warna
perdamaian internasional, misalnya pada bendera PBB dan Uni Eropa.
Warna hijau
20 Teks tentang pertanyaan „Mengapa Biru-Kuning?“ bisa dilihat di Frequently Asked Questions,
dalam: http://www.fdp-bundesverband.de; dalam teks ini juga bisa ditemukan pendapat media.
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
12
Tidak ada hubungan yang paling nyata terlihat antara maksud politik dan warna
partai seperti yang dinyatakan warna hijau: hijau adalah warna tumbuhan dan
melambangkan alam. Pada akhir tahun 70-an, di tengah-tengah berbagai
pergerakan sosial di Jerman, „Partai Hijau“ menonjolkan diri dengan keterlibatan aktif
mereka dalam perlindungan alam dan lingkungan. Pada saat itu terbentuk prakarsa
warga atau LSM-LSM di berbagai tempat dengan nama seperti „Grüne Liste
Umweltschutz“ (Daftar Hijau Pelestarian Lingkungan). Akhirnya pada 1980 didirikan
„Partai Hijau“. Partai ini menjadikan organisasi lingkungan „Greenpeace“ sebagai
contohnya yang sejak 1971 menyatukan aktivis perdamaian dan lingkungan.
Sementara partai-partai lain pada kampanye 2005 bereksperimen dengan warna,
Partai Bündnis 90/Die Grünen tetap berkonsentrasi pada warna tradisional mereka.
Pada kongres partai sebelum Pemilu seluruh panggung sampai lampu neon yang
dipasang di belakang mimbar dihiasi warna hijau.
Di negara lain partai-partai khususnya memakai warna hijau apabila warna tersebut
ada dalam warna nasional. Pada saat yang sama warna hijau adalah warna yang
digunakan oleh kelompok-kelompok politik yang berorientasi regional. Hal ini muncul
dari tradisi yang disesuaikan sejak awal zaman baru dalam pergerakan republikan:
warna hijau dipahami sebagai warna kebebasan, sebagai simbol atas kebebasan
yang diinginkan atau diraih dari kekuasaan asing. Garis-garis hijau dalam bendera
nasional Italia misalnya memiliki latar belakang ini. Di Irlandia warna hijau
dihubungkan dengan kondisi geografis „pulau hijau“; hijau melukiskan keinginan
orang-orang katolik akan kemerdekaan. Warna lawan mereka, kelompok protestan di
Irlandia, hingga saat ini adalah oranye.
Oranye
Oranye adalah warna yang paling penting yang muncul di panggung politik Eropa di
tahun-tahun belakangan ini. Warna ini tidak punya beban sejarah dan dengan
demikian terbebas dari ikatan-ikatan aliran perjuangan-perjuangan politik klasik. Jadi,
oranye dipilih sebagai warna aksentuasi dalam menampilkan diri keluar. Artinya, para
pemilih atau pelakunya mengikuti trend dalam dunia periklanan yang menampilkan
warna ini dalam berbagai bidang, misalnya citra tampilan Zweites Deutsches
Fernsehen (Televisi Programa 2 Jerman) yang didesain baru dengan warna oranye.
Oranye dipakai sebagai warna pedoman CDU pada kampanye pemilu parlemen
Eropa. Saat ini bendera-bendera oranye berkibar di depan Gedung KonradSumber:
Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
13
Adenauer. Brosur dan pena juga dibuat dawalam warna ini. Garis vertikal – yang
membelah logo CDU – yang dulu berwarna abu-abu pada mimbar tempat para wakil
partai berdiri di saat konferensi pers juga telah diganti dengan warna oranye. Dan
para pembantu CDU untuk pemilu dilengkapi dengan T-shirts oranye.
Dalam sebuah brosur yang dikeluarkan sekretariat pusat CDU alasan pemilihan
desain warna yang baru ini adalah: „Oranye sebagai warna penekanan di satu sisi
memungkinkan untuk tampil beda dalam persaingan partai dan di sisi lain juga
karena warna tersebut secara emosional lebih komunikatif. Warna oranye
menguatkan perhatian dan mendukung dampak komunikatif.“21 Ketika
memperkenalkan program kampanye 2005 sekjen CDU Volker Kauder menjelaskan
bahwa warna oranye melambangkan „perspektif, kebangkitan dan harapan“. Dalam
berbagai laporan media isi dari keterbukaan dan sifat acak dari profil gambar ini
banyak dikritik.22
Selain partai rakyat yang sudah mapan seperti CDU, aktor-aktor politik baru juga
mencoba memanfaatkan warna oranye untuk partainya, misalnya aliansi „Zukunft
Österreich“ di Austria, sebuah organisasi yang didirikan 2005 di bawah pimpinan
mantan politisi liberal-nasionalis, Jörg Haider. Pemilihan warna ini dijelaskan oleh
manajer kampanye Gernot Rumpold sebagai berikut: „Para pemilih tak ingin lagi
diikat, mereka ingin merasa nyaman. Karena itulah oranye sangat ideal untuk simbol
partai. Ia melambangkan liburan, matahari dan energi.“23
Di samping pertimbangan-pertimbangan dari aspek psikologi warna tersebut di atas
terdapat juga argumen-argumen politis yang eksplisit terhadap warna oranye. Ini
misalnya bisa dilihat pada anggota pendiri „Wahlalternative Arbeit und soziale
Gerechtigkeit (WASG) yang untuk pertama kalinya muncul pada pemilihan anggota
parlemen negara bagian di Nordrhein-Westfalen. Di satu pihak ada yang menjawab
bahwa pemilihan warna oranye berkaitan dengan fakta bahwa warna yang lebih
cocok untuk organisasi mereka, yakni merah, sudah terpakai. Di pihak lain
disebutkan bahwa dalam warna oranye itu ada kenangan akan tradisi dari sebuah
21 Sekretariat Pusat CDU, Unsur-unsur Dasar Citra Tampilan CDU, Februari 2004, hal. 4, lihat juga
http://www.ci.cdu.de
22 Bandingkan contohnya dengan Matthias Heine, Farbe der Stunde, dalam: Surat kabar Die Welt
tanggal 17-8-2005, hal. 16, atau Clemens Nieddenthal, Ein Mann sieht orange, dalam: Die
Tageszeitung tanggal 6-4-2005, hal. 14
23 Dikutip berdasarkan: Haiders Mann für die Orange, dalam: Der Standard tanggal 3-5-2005
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
14
politik reformasi tertentu yang pernah dijalankan SPD di tahun 70-an yang ketika itu
menggabungkan warna merah-oranye.
Sejak „revolusi oranye“ di Ukraina menjadi bahan pembicaraan masyarakat dunia,
warna ini makin diinterpretasikan sebagai lambang gerakan protes mendukung
demokrasi. Anggota WASG misalnya mengatakan bahwa dengan pemilihan warna
oranye mereka merasa terhubung dengan kekuatan reformasi seperti di Ukraina. Ini
mengindikasikan bahwa warna dalam masyarakat nasional bisa dipolitisir melalui
kejadian-kejadian di negara lain. Inilah sebuah fenomena internasionalisasi politik.
Bahwa budaya warna politik melewati batas-batas negara, itu terlihat di musim semi
2006 di saat kampanye Republik Ceko. Sebelum pemilu legislatif kedua partai besar
memilih warna oranye. Partai sosial-demokrat CSSD yang berkuasa, yang dalam
logonya biasanya tampak bunga mawar merah, memilih warna oranye dalam
penampilan mereka. Partai konservatif ODS yang menjadi oposisi menambah warna
biru yang menjadi warna partai meereka dengan oranye. Komentar di media
menyebutkan bahwa masing-masing partai merujuk pada perkembanganperkembangan
politik yang terjadi di Ukraina dan juga di Jerman.24 Disebutkan pula
adanya keterlibatan agensi-agensi periklanan barat sebagai konsultan kampanye
yang memberikan pengaruh pada perkembangan tersebut.
Umbra (Coklat Terang)
Warna ini adalah warna lain yang digunakan dalam panggung politik aktual. Untuk
jangka waktu yang lama SPD memakai warna biru sebagai warna latar belakang
atau warna pendamping. Kemudian sejak corporate design dirombak lagi, tepatnya
sebelum pemilu legislatif tingkat nasional 2005, digunakan warna coklat terang. Sisisisi
panggung pada saat konferensi pers, brosur, manifest pemilu atau plakat pemilu
muncul dalam warna coklat terang (umbra). Ketika memperkenalkan warna ini
dijelaskan bahwa pemilihannya didasari pada pengetahuan ilmiah yang
menyebutkan warna biru cenderung bersifat dingin dan warna coklat terang lebih
bisa mentransportasikan pernyataan-pernyataan partai. Sayangnya penelitian ilmiah
itu tidak bisa diakses publik.
24 Bandingkan Die Farbe Orange auch im tschechischen Wahlkampf, dalam: der Standard tanggal 30-
1-2006
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
15
Mirip dengan pemakaian warna oranye di CDU, warna tanah coklat terang ini juga
diterima secara kritis. Yang menarik dalam kedua kasus tersebut adalah bahwa
alasan estetis atas pemilihan warna yang diutarakan kedua partai sangat kuat unsur
politisnya. Kedua partai menghubungkan antara keistimewaan masing-masing warna
dengan perilaku politik partai. Di “Financial Times Deutschland” disebutkan misalnya:
“Agenda 2010, Hartz IV, belalang dan Franz Müntefering, itu semua berwarna coklat
terang, tidak berwarna merah, kan?”25
Sementara partai menganggap warna hanya sebagai masalah marketing, para
komentator melihat pemilihan warna oleh partai sebagai raster/pola untuk
menjadikan keadaan partai politik yang tidak mantap itu sebagai tema komentar
mereka. Artinya, warna yang bagi partai berfungsi sebagai media, di mata
komentator ia adalah pesan. Bisa dikatakan dalam kritik ini dapat kita temukan
kebutuhan publik: warna masih melambangkan orientasi politik. Apapun rupanya,
warna-warna baru yang muncul dalam dunia politik sekarang tetaplah penunjuk jalan
– walaupun tidak lagi sebagai informasi tentang aliran-aliran ideologi tertentu yang
dikenal selama ini, melainkan sebagai media untuk melihat ke dalam perkembangan
demokrasi partai dan komunikasi politik.
25 Kai Beller, Wahlkampf-Tagebuch: Die Zukunft ist Umbra (Buku Harian Kampanye: Masa Depan
berwarna coklat terang), dalam: http://www.ftd.de/me/cl/13719.html.