FITUR-FITUR FONOLOGIS DAN LEKSIKAL SECARA EKSKLUSIF PADA BAHASA-BAHASA KERABAT DI SUMBA NTT

Posted: 13 Juli 2010 in arsip, Tak Berkategori

FITUR-FITUR FONOLOGIS DAN LEKSIKAL SECARA EKSKLUSIF PADA BAHASA-BAHASA KERABAT DI SUMBA NTT

Oleh

I Gede Budasi

Makalah ini bertujuan mendeskripsikan evidensi-evidensi kualitatif tujuh bahasa kerabat di Sumba NTT yang terdiri atas: bahasa Anakalang, Wanokaka, Mamboro, Kambera, Laboya, Wewewa, dan Kodi sebagai sebuah subkelompok bahasa. Ditengarai oleh para ahli bahasa Austronesia bahwa bahasa Bima dan bahasa-bahasa di NTT (termasuk Sumba) serta Maluku pada umumnya termasuk anggota kelompok bahasa Melayo Polinesia Tengah.
Tergolong sebagai suatu kajian diakronis dalam linguistik historis komparatif (LHK), studi ini memanfaatkan penerapkan metode komparatif dalam pengelompokan secara genetis ketujuh bahasa tersebut. Baik data sekunder maupun data primer dikumpulkan melalui informan sampel dari masing-masing penutur bahasa-bahasa yang diteliti. Data penelitian berupa kata-kata kognat bahasa-bahasa yang dibandingkan tersebut diambil berdasarkan tiga alat jaring kata berupa: 200 Daftar Kosakata Dasar Swadesh, 1640 Daftar Kosakata Dasar Holla, dan 400 Daftar Kosakata Dasar Nothofer. Data yang terkumpul dianalisis dengan teknik rekonstruksi, baik secara induktif dari bawah ke atas maupun secara deduktif dari atas ke bawah.
Melalui teknik rekonstruksi dengan cara induktif dari bawah ke atas ditemukan evidensi-evidensi inovasi fonologis berupa: (1) split vokal pada bahasa Kd i, yaitu: Proto Sumba (PSmb) i < PWw-Lb-Km-Mb-Wn-An *i, Kd i dan e, hanya / -#; dan PSmb*u < PWw-Lb-Km-Mb-Wn-An *u, Kd u, o , hanya pada /-#; (2) split konsonan pada Kd, yaitu: PSmb *g < PSmb*g, Kd *ηg dan *g, kecuali /-#; PSmb *w < PWw-Lb-Km-Mb-Wn-An *w, dan Kd w / #-, tetapi menjadi ģ /-VKV-; PSmb*η PSmb ø / #-; tetapi pada / -# > *∂ ,*i, atau a; b) split konsonan PAN *b < PSmb *b, *w, dan *Б /, kecuali -#; c) split konsonan PAN *g < PSmb *g dan *ģ; selain hal tersebut terdapat pula split konsonan PAN *w PSmb *r kecuali -#; e) merger PAN *mp ,*mb > PSmb *mb/ -VKKV-; f) merger PAN *-nt- dan *-nd- > PSmb *nd /-VKKV-; dan g) substitusi PAN *R > PSmb Ø (pada semua posisi). Melalui cara deduktif dengan menerapkan teknik rekonstruksi dari atas ke bawah ditemukan evidensi leksikal secara eksklusif berupa 59 etimon PSmb. Beberapa evidensi PSmb yang memperlihatkan pergeseran semantik juga ditemukan, seperti PSmb *ata yang berarti ‘hamba’ pada bahasa-bahasa lain di NTT dan Bima (NTB) berarti ‘orang’; dan PAN *empu yang berarti ’nenek’, dalam PSmb berinovasi menjadi PSmb *umbu dan berarti ’tuan’ dalam PSmb.
Dengan demikian, temuan-temuan tersebut di atas memperlihatkan secara signifikan evidensi-evidensi kualitatif, yaitu hubungan bahasa-bahasa sekerabat di Pulau Sumba diwariskan dari PSmb dan PAN. Ketujuh bahasa di Sumba terbukti secara meyakinkan membentuk sebuah subkelompok bahasa tersendiri sebagai turunan PAN dibawah Kelompok Melayo Polinesia Tengah yang dinamai subkelompok Sumba dengan ciri bahasa vokalis.

Kata kunci: pengelompokan bahasa, evidensi kualitatif, rekonstruksi dari bawah ke atas dan rekonstruksi dari atas ke bawah, inovasi bersama secara eksklusif, dan pergeseran makna.

1. Pendahuluan

Menurut para ahli linguistik komparatif pengelompokan bahasa-bahasa berkerabat dari perspektif diakronis harus memberikan perhatian pada evidensi-evidensi pengelompokan terutama berupa inovasisi secara fonologis maupun leksikal secara ekslusif (Nothofer 1975, Collin 1983, 1977). Menurut tradisi linguistik historis komparatif (LHK), inovasi bersama secara eksklusif tersebut dapat diperoleh dengan memanfaatkan dua pendekatan, yaitu pendekatan induktif yang mempergunan tehnik rekonstruksi baik fonologis maupun leksikal dari bawah ke atas dan teknik reknstruksi dari atas ke bawah. Kedua tehnik tersebut dilakukan pada sejumlah kata-kata kognat yang terdapat dalam bahasa-bahasa berkerabat (Fenandez 1988; Mbete 1992, Alus Mandala 1999). Dalam pengempokan kualitatif bahasa-bahasa di NTT (termasuk bahasa Bima di NTB) sebagai anggota Melayo Polinesia Tengah (Non Formusa), secara khusus Blust (1977, 1982, dan 1988) belum menyinggung bahasa-bahasa di Sumba sebagai bagian dari kelompok tersebut. Namun, Blust hanya menyinggung bahwa bahasa Sumba termasuk kelompok Bima Sumba. Dalam konsep tersebut, Blust secara implisit memandang bahasa Sumba masih tergolong dalam kolompok Bima-Sumba sebagaimana penegelompokan bahasa Nusantara pada Peta Esser 1938. Dalam Peta bahasa tersebut, bahasa-bahasa Nusantara dibagi menjadi 17 subkelompok yang salah satunya adalah subkelompok Bima-Sumba. Dalam pengelompokan ini, bahasa-bahasa di Flores Tengah digolongkan dalam subkelompok Bima-Sumba. Sebaliknya, menurut hasil penelitian quantitatif Dyen 1982, Bahasa Bima, Sumba, Sabu dan bahasa disekitarnya adalah berada baik diluar subkelompok Flores[1] maupun diluar subkelompok Bali (yang terdiri dari Bahasa Sumbawa, Sasak dan Bali)[2]. Baik Blust maupun Dyen tampak belum tegas dalam pengelompokan Sumba dalam hal kedudukannya dalam Kelompok Melayo Polinesia Tengah. Kedua ahli itu memandang di Sumba hanya terdapat satu bahasa padahal berdasarkan penelitian Budasi (2007) menegaskan secara kuantitatif maupun kualitatif di Sumba terdapat 7 bahasa yang meliputi bahasa Anakalang, Wanokaka, Mamboro, Kambera, Laboya, Wewewa, Kodi yang membentuk satu subkelompok yang di namai subkelompok Sumba.
Kajian diakronis mengenai bahasa-bahasa di Sumba dalam makalah ini menerapakan metode komparatif. yang dalam tradisi Linguistik Historis Komparatif dipandang sebagai satu-satunya metode yang paling akurat dalam pengelompokan bahasa-bahasa berkerabat ( Bloomfield , 1933). Dalam penerapan metode tersebut, data-data kebahasaan berupa pasangan kognat dari bahasa-bahasa kerabat di Sumba yang diteliti di analisis dengan pendekatan baik induktif maupun deduktif dengan teknik rekonstruksi dari bawah ke atas maupun dari atas ke bawah. baik secara fonologis maupun secara leksikal.
Hasil studi ini akan merupakan kontribusi yang berharga untuk melengkapi kajian linguistik historis komparatif di kawasan Austronesia, khususnya dikawasan Central Melayo Polinesia yang memperlihatkan keanekaragaman budaya bangsa Indonesia . (Band. dengan Fernandez, 1988, Mbete 1990). Dengan demikian, kajian ini tidak hanya penting namun perlu segera dilakukan demi kejelasan posisi kekerabatan bahasa–bahasa di Sumba sebagai turunan PSmb dalam kaitannya dengan Melayo Polinesia Tengah sebagai salah satu dari turunan PAN.

2. HASIL ANALISIS SEJARAH PERKEMBANGAN FONOLOGIS DAN LEKSIKAL BHASA-BAHASA KERABAT DI SUMBA NTT.

Sejarah perkembanagan bahasa-bahasa berkerabat di Sumba NTT yang dipaparkan dalam makalah ini terbatas pada perspektif fonologis dan leksikal. Diasumsikan perkembangan bahasa-bahasa berkerabat di Sumba yang berkembang sebagai kelanjutan PAN melalui Proto PSmb. Menurut Fernandez (2002:149) pemerian sejarah perkembanagan suatu bahasa dapat dilakukan dengan prosedur yang memanfaatkan pendekatan deduktif . melalui teknik rekonstruksi dari bawah ke atas dan dari atas ke bawah baik bersifat fonologis maupun leksikal (Band. Budasi, 2007). Prosedur analisis dapat dilakukan melalui penetapan refleks fonem-fonem protobahasa pada bahasa-bahasa berkerabat yang diteliti. Analisis ditempuh dengan membandingkan bentuk dan makna etimon protobahasa dengan leksikon bahasa yang bersangkutan. Penggunaaan etimon PAN dalam kajian ini mengacu pada karya para linguis diakronis, seperti Dempwolf 1938), Blust (1974), dan Dyen 1975 (via Karya Wurm dan Wilson 1978) (Band. Nothofer, 1975; Fernandez 1988, 1996, dan 2002; Mbete 1990; Alus Mandala 1999; Mashun 2006).
Distribusi fonem-fonem etimon PAN yang pada umumnya berkaidah tanpa syarat (berdistribusi lengkap pada awal, tengah, dan akhir etimon) dalam PSmb umumnya ditemukan terefleksi baik dengan cara retensi maupun substitusi atau paragoge yang mencirikan PSmb sebagai bahasa vokalis. Pada pemaparan berikut secara lebih rinci dijelaskan berbagai kaidah perubahan fonologis yang bersifat primer maupun sekunder yang memaknai inovasi dan retensi kajian fonologis dan leksikal ketujuh bahasa-bahasa di Sumba yang diteliti. Perubahan fonologis dan leksikal yang ditemukan akan menjelaskan secara tersirat sejarah perkembangan PSmb yang dimaksudkan dalam penelitian ini.

2.1 Temuan Kualitatif Melalui Rekonstruksi dari Bawah ke Atas

Evidensi-evidensi pengelompokan, baik secara fonologis dan leksikal dalam penelitian ini, secara meyakinkan berhasil ditemukan. Berdasarkan teknik rekonstruksi dari bawah ke atas secara fonologis maka dapat ditentukan temuan kualitatif berupa evidensi-evidensi secara fonologis berupa:.
(1) split vokal pada Kd. PSmb i < PWw-Lb-Km-Mb-Wn-An *i, Kd i atau e /-#
PSmb PWw-Lb-Km-Mb-Wn-An Kd Glos
api api api ‘api’
ati ati ati ‘ati’
mbali mbali bali ‘kembali’
————–
uli uli ule ‘taring(gigi)
pili pili pede ‘pilih’
logi logi loηge ‘menebas’
mati mati mate ‘mati’

PSmb *u < PWw-Lb-Km-Mb-Wn-An *u, Kd u , o / VKV
PSmb PWw-Lb-Km-Mb-Wn-An Kd
*(ka-)piďu *(ka-)piďu padu ‘empedu’
*asu *asu ahu ‘anjing’
*padalu *pajalu padalu ‘tempayan’
*loku *loku loko ‘sungai kecil’
*malawu *malawu maloģo ‘tikus’ *moru *moru moro ‘obat’
*(m)botu *(m)botu (m)oto ‘berat’
*laďu *laďu loďo ‘hari’
*namu *namu nomo ‘enam’

(2) split konsonan pada Kd.
PSmb *ď < PWw-Lb-Km-Mb-Wn-An *ď, Kd *d / VKV
PSmb PWw-Lb-Km-Mb-Wn-An Kd
ďuba ďuba ďambu
piďi piďu piďu
laďu laďu laďu
————-
(ka-)piďu (ka-)piďu (ka-)pidu
kawepiďu kaweďa (ka-)weda
keďu keďu kedu

PSmb *g < PSmb*g, Kd *ηg dan * / VKV

PSmb PWw-Lb-Km-Mb-Wn-An Kd Glos
lugi lugi luηge ‘banir
logi logi loηge ‘rambut’
gegi gegi ηgeηge‘laba-laba’
————-
galu galu galu ‘pagar’
gu gu gu ‘aku’
naga naga naga

PSmb *w < PWw-Lb-Km-Mb-Wn-An *w , dan Kd *ģ / VKV
PSmb PWw-Lb-Km-Mb-Wn-An Kd Glos
rowi rowi roģe sayuran
malawu malawu malaģo ‘tikus’
kuwa kuwa kuģa ‘ketela’
luwa luwa luģa ‘jerami’
————–
aηuwu-a aηuwu-a aηuwu-a ‘sepupu’
wa-u wau wo ‘bau’
kawunuta kawunuta kawundita’sabut
kaweďa kaweďa kaweda‘tua’

PSmb *s < PWw-Lb-Km-Mb-Wn-An *h, dan Kd *s / VKV
PSmb PWw-Lb-Km-Mb-Wn-An Kd Glos
rutusa rutusa ruhuka ‘getah’
asu asu ahu
masi masi mahi
————–
sala sala hala ‘salah’ sulu sulu huhu ‘obor’

PSmb*η < PWw-Lb-Km-Mb-Wn-An *η, Kd n dan η / VKV
PSmb PWw-Lb-Km-Mb-Wn-An Kd Glos
naηi naηi nani ‘renang’
pa-taniηu pa-taniηu pa-tonini-ya
‘menguburkan’
paηadaηu paηadnaηu paηeda ‘berpikir’
ηeηi ηeηi ηeηe‘tulang rahang’
ηilu ηilu ηilu ‘angin’

Melalui rekonstruksi leksikal dari bawah ke atas dengan cara induktif ditemukan 171 etimon PSmb, yaitu gabungan data pada lampiran 1 dan 2 (terlampir). Apabila etimon PSmb merupakan refleks etimon PAN, maka PAN dicantumkan dalam tanda kurung sesudah ’gloss’ etimon PSmb. Rujukan nama yang menyusun bentuk PAN disertakan setelah PAN diawali dengan tanda /, misalnya PAN D dimasukkan adalah yang disusun atau direvisi oleh Dyen. (Pada lampiran 1 dan 2 disertakan Daftar Etimon PSmb yang menampakan Refleks Etimon PAN dan Daftar Etimon PSmb yang tidak menampakan Refleks Etimon PAN).

2.2 Temuan Kualitatif Melalui Rekonstruksi dari Atas ke Bawah

Berdasarkan teknik rekonstruksi dari atas ke bawah maka dapat ditentukan temua kualitatif berupa evidensi-evidensi fonologis secara eksklusif. Evidensi-evidensi yang paling menonjol dalam penetapan kelompok bahasa Sumba adalah sebagai berikut:
(1) split vokal PAN *∂ < PSmb *∂,*i, dan *a
PAN PSmb Glos

*∂pat *namu ’enam’
*∂pat *pat(u,a) ’tiga’
——–
*t∂lu *t∂lu ’tiga’
*D∂η∂r *r∂ηi ’mendengar’
———
*t∂nuη *tinuηu ’tenun’
*b∂niq *wini ’benih’
*t∂buq *tibu ’tperahu’
———
*pad∂m *pada ’padam’
*n∂wi *nawi ’memukul’
*∂n∂m *namu ’enam’

(2) split konsonan *b (b- -b-) < PSmb *b, *w , dan Б

PAN PSmb Glos
*abuq *abu ‘abu’
*tebuη *tibu ’perahu’
———-
*kaБe *kaБe ‘punduk’
*kaБani *kaБani ‘laki’
*kaБa-i *kaБa-i ‘kacang’
——–
*babaq *bawa ’bawah’
*tuba *tuwa ’tuba
———
*b∂si *besi ’besi’
*balikat *bali ’kembali’
*bui *buli ’lambung’
———
*batu *watu ‘batu’
*biniq *wini ‘benih’
*buwaq *wu-a ‘buah’
———-
*babuy *wawi ’babi’
*bulaq *wala ’bunga’
*batu *watu ’batu’
———
*buni *(ka-)Бuni(-ηu)’bersembunyi’
*basuq *Бasa ‘mencuci’

(3). PAN g > PSmb g dan ģ
PAN w > PSmb w dan ģ [i]
(4) merger PAN *D dan *r > PSmb *r
PAN PSmb Glos
*raki *rake ‘cecak’
*rusa *rusa ‘rusa’
qaro *(a)ro ‘depan’
*qa-jaran *jara ‘kuda’
————-
*D∂η∂r *r∂ηi ’mendengar’
*Dasuη *rauna ‘daun’
*quDaη *kura ’udang’
*quDip *muripa ’hidup’

(5) merger PAN *mp ,*mb , b > PSmb *mb
PAN PSmb Glos
∂-mpu u-mbu ‘nenek’ (dalam PAN), ‘tuan dalam
bahasa Sumba’
———
za-mbu za-mbu ‘jambu’
tu-mbak nu-mbu ‘tombak’
———
buni ka-mbuηu bersembunyi
tubuq tumbusa tumbuh
ma-beRakat mbout ‘berati’

(6) merger PAN *-nt- dan *-nd- > PSmb *-nd-
PAN PSmb Glos
ta-ndu kandu ‘tanduk’
———
ηuntu ηundu ‘gigi’

(7) Substitusi PAN R > PSmb Ø (pada semua posisi).
PAN PSmb Glos
Rumaq uma ‘rumah’
ma-beRakat mboutu ‘berati’
teluR tilu ‘telur’
Berdasarkan teknik rekonstruksi dari atas ke bawah secara deduktif ditemukan 102 etimon (dalam hal ini daftar pada lampiran 1) merupakan reflek dari etimon PAN dan sejumlah 59 etimon PSmb(dalam hal ini daftar pada lampiran 2). Ke 59 etimon PSmb tersebut tampak sebagai evidensi inovasi bersama yang bersifat inovasi kognitif (individual) yang ekslusif bagi bahasa PSmb.
Selain data tersebut di atas, melalui rekonstruksi dari atas ke bawah secara deduktif ditemukan satu fonem tengah depan PSmb*e dan empat fonem hambat implosif dalam PSmb, meliputi fonem /Б/, /ď/, /Ĵ/, dan /ģ.
Selanjutnya, untuk membentuk ciri vokalis, bahasa-bahasa di Sumba melewati cara yang khas, yaitu dengan menghilangkan atau meretensi fonem PAN pada posisi akhir ultima diikuti paragoge vokal. Etimon PAN yang berakhir dengan fonem *t, dalam PSmb ditambahkan fonem *a atau *u. Etimon PAN yang pada posisi ultima berakhir dengan *η, dalam PSmb ditambah *u. dan Etimon PAN pada akhir ultima yang berakhir dengan *n terlebih dahulu diganti dengan *η, kemudian ditambahkan fonem*a.
Dalam analisis data ditemukan pula fenomena perubahan semantik. Etimon *empu dalam PAN berarti ‘nenek’ dalam PSmb menjadi ‘umbu’ berarti ‘tuan’. Dalam PSmb, etimon *ata berarti ‘orang’ dalam pengertian ‘hamba’. Pada bahasa-bahasa di Flores dan bahasa-bahasa di kawasan Indonesia Timur lainya kata ‘ata’ berarti ‘orang bebas’ (bukan berarti ‘hamba’seperti dalam bahasa-bahasa Sumba).
Fitur-fitur linguistik yang bersifat fonologis dan leksikal tersebut di atas tidak ditemukan dalam bahasa-bahasa lain di sekitarnya. Dengan demikian bahasa-bahasa Sumba dapat dibuktikan sebagai sekelompok bahasa berkerabat yang memiliki sejarah perkembangan bersama. sebagai sebuah subkelompok bahasa.

3 KESIMPULAN
Sesuai dengan tujuan dan hipotesis yang diajukan serta fakta-fakta kebahasaan yang dikemukakan dalam penelitian ini, pada dasarnya dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut.
1) Ketujuh bahasa sekerabat yang terdapat di Pulau Sumba (NTT) secara qualitatif telah dibuktikan hubungannya sebagai bahasa-bahasa berkerabat erat dalam suatu subkelompok bahasa yang disebut subkelompok bahasa Sumba.
2) Temuan kajian kualitatif tampak memperlihatkan beberapa evidensi hubungan bahasa-bahasa sekerabat di Pulau Sumba yang diwariskan dari PSmb dengan PAN dari dimensi diakronis, yaitu dari penerapan teknik rekonstruksi dari bawah ke atasdan dari atas ke bawah. Berdasarkan teknik rekonstruksi dari bawah ke atas secara fonologis maka dapat ditentukan temuan kualitatif berupa evidensi-evidensi secara fonologis sebagai inovasi bersama berupa (1) dua buah split vokal. yaitu pada Kd. PSmb i < PWw-Lb-Km-Mb-Wn-An *i, Kd i atau e /-# dan PSmb*u < PWw-Lb-Km-Mb-Wn-An *u,Kd u , o / VKV; (2) split konsonan pada Kd., yaitu PSmb *ď < PWw-Lb-Km-Mb-Wn-An *ď, Kd *d / VKV; PSmb *w < PWw-Lb-Km-Mb-Wn-An *w , dan Kd *ģ / VKV; PSmb *s < PWw-Lb-Km-Mb-Wn-An *h, dan Kd *s / VKV; PSMB*η < PWw-Lb-Km-Mb-Wn-An *η, Kd n dan η / VKV.
Melalui rekonstruksi leksikal dari bawah ke atas dengan cara induktif ditemukan
171 etimon, yaitu gabungan data pada lampiran 1 dan 2 berikut.
Berdasarkan prosedur rekonstruksi dari atas ke bawah maka dapat ditentukan
temuan kualitatif berupa evidensi-evidensi fonologis secara eksklusif. Evidensi-
evidensi yang paling menonjol dalam penetapan kelompok bahasa Sumba sebagai
adalah sebagai berikut: (1) split vokal PAN *∂ < PSmb *∂,*i, dan *a; (2) split
konsonan *b (b- -b-) PSmb g dan ģ, PAN w > PSmb w dan ģ [ii](4) merger PAN *D dan *r > PSmb *r , (5) merger PAN *mp ,*mb , b > PSmb *mb; (6) merger PAN *-nt- dan *-nd- > PSmb *-nd- ; (7) Substitusi PAN R > PSmb Ø (pada semua posisi).
Berdasarkan teknik rekonstruksi leksikal dari atas ke bawah secara deduktif ditemukan 59 etimon (dalam hal ini daftar pada lampiran yang bersifat ekslusif bagi bahasa PSmb.
Untuk membentuk ciri vokalis, bahasa-bahasa di Sumba melewati cara yang khas, yaitu dengan menghilangkan atau meretensi fonem PAN pada posisi akhir ultima diikuti paragoge vokal yang bersifat konditional. Etimon PAN yang berakhir dengan fonem *t, dalam PSmb dtambahkan fonem *a atau *u. Etimon PAN yang pada posisi ultima berakhir dengan η, dalam PSmb ditambah *u. dan Etimon PAN pada akhir ultima yang berakhir dengan *terlebih dahulu diganti dengan *η, kemudian ditambahkan fonem*a.
Selain temuan tersebut, melalui rekonstruksi dari atas ke bawah secara deduktif ditemukan pula temuan kualitatif berupa satu fonem tinggi depan PSmb*e dan empat fonem implosif dalam PSmb, meliputi fonem implosif /Б/, /ď/ , /Ĵ/ , dan /ģ. walaupun ditemukan sejumlah fonem hambat impolsif pada PSmb, keberadaannya tidak bisa dijadikan alasan bagi pengelompokan berdasarkan evidensi bersama secara eksklusif (exclusively-shared inovations) karena fonem-fonem tersebut secara paralel ditemukan pula pada bahasa bahasa di NTT (tdemikian halnya untuk fonem tengah depan PSmb *e), Jumlah fonem implosif di atas sama dengan jumlah fonem yang ditemukan dalam bahasa Sawu (Walker, 1982) dan bahkan menurut Voorhoeve (1984) fonem tersebut ditemukan pula dalam bahasa Sahu di Halmahera Utara; bahasa Bima (NTB) hanya memiliki dua fonem implosif, yaitu /Б/, dan /ď/ (Syamsuddin, 1996); selanjutnya, menurut hasil penelitian Fernandez (1996) bahasa Ngada, Lio Palu’e (di Flores Tengah) hanya memiliki dua fonem implosif, yaitu /Б/ dan /ď/;
Terakhir, dalam analisis data ditemukan pula fenomena perubahan semantik. Etimon *empu dalam PAN berarti ‘nenek’ dalam PSmb menjadi ‘umbu’ berarti ‘tuan’. Dalam PSmb, etimon *ata berarti ‘orang’ dalam pengertian ‘hamba’. Pada bahasa-bahasa di Flores dan bahasa-bahasa di kawasan Indonesia Timur lainya kata ‘ata’ berarti ‘orang bebas’ (bukan berarti ‘hamba’seperti dalam bahasa-bahasa Sumba).
Dalam analisis data ditemukan pula pefenomena perubahan semantik. Etimon *empu dalam PAN berarti ‘nenek’ dalam PSmb menjadi umbu berarti ‘tuan’. Dalam PSmb, etimon *ata berarti ‘orang’ dalam pengertian ‘hamba’. Pada bahasa-bahasa di Flores dan bahasa-bahasa di kawasan Indonesia Timur lainya kata ‘ata’ berarti ‘orang bebas’ (bukan berarti ‘hamba’seperti dalam bahasa-bahasa Sumba). Fitur-fitur linguistik yang bersifat fonologis dan leksikal maupun semantik tersebut di atas tidak ditemukan dalam bahasa-bahasa lain di sekitarnya. Dengan demikian bahasa-bahasa Sumba dapat dibuktikan sebagai sekelompok bahasa berkerabat yang memiliki sejarah perkembangan bersama. sebagai sebuah subkelompok bahasa.
Dengan demikian, jawaban tentang status bahasa-bahasa sekerabat di Pulau Sumba dapat di klarifikasi sebagai kelompok bahasa tersendiri yang membentuk kelompok Melayo Polinesia Tengah (Central Melayo Polinesia) sebagai bagian integral yang tak dapat diabaikan dalam kajian yang lebih luas mengenai linguistik Austronesia.

Cartatan
1) Studi linguistik diakronis terhadap kelompok bahasa-bahasa sekerabat di Pulau Sumba dalam penelitian ini merupakan studi yang mengkaji hubungan kekerabatan ketujuh bahasa di Pulau tersebut. Pengamatan yang dilakukan dalam penelitian ini masih terbatas hanya pada tataran fonologi dan leksikal. Masih diperlukan telaah lanjutan pada tataran morfologis, sintaksis, dan semantik yang akan semakin menuntaskan berbagai masalah yang ada secara memuaskan.
2) Pengamatan terhadap hubungan antarsubkelompok bahasa pada peringkat yang lebih rendah dan keterkaitannya dengan isolek-isolek di daerah pinggiran di Sumba tampaknya masih memerlukan studi yang lebih mendalam, misalnya antara bahasa Wewewa dengan isolek Laura. Bagaimana hubungan kekerabatan keduanya masih harus diteliti lebih lanjut karena Laura masih belum ditetapkan setatusnya sebagai bahasa tersendiri atau sebagai salah satu dialek bahasa Wewewa. Berdasarkan pengamatan lapangan, Laura ditetapkan sebagai dialek Wewewa karena antar penutur Laura dan Wewewa masih terdapat saling paham (mutual inteligibility) yang tinggi. Namun demikian, dikalangan linguis terdapat perbedaan karena Laura dianggap bahasa tersendiri tanpa alasan yang jelas. Dalam penelitian ini pengambilan pembahan tidak termasuk dari penutur Laura karena pertimbangan di atas.
3) Penelitian bahasa-bahasa daerah di kawasan Indonesia Timur dalam rangka telaah linguistik diakronis sebagai salah satu cabang linguistik yang mempelajari suatu aspek kebudayaan bangsa masih perlu mendapat perhatian yang berimbang di kalangan para linguis Indonesia. Hal tersebut merupakan sumbangan yang berharga untuk melengkapi kajian linguistik di kawasan Austronesia yang memperlihatkan keanekaragaman budaya bangsa Indonesia. Studi linguistik diakronis sebagai kelanjutan dari studi sinkronis memungkinkan dikembangkannya wawasan yang semakin lengkap bagi kajian ilmiah linguistik sebagai salah satu cabang dari kajian bidang ilmu humaniora (Band. dengan Fernandez, 1988, Mbete 1990).
.

DAFTAR PUSTAKA

Alus Mandala. 1999. “Pengelompokan Genetis Bahasa Kairui-Waimoa-Naueti di Timor Timur”. Disertasi.

Blust, R.A. 1974 “ Proto North Serawak Vowel Deltion Hypothesis”. Disertation.
University of Hawaii .

————– 1977. “Austronesian Culture History: Some Linguistic Inference and Their
Relation to the Archeological Record” NUSA 4: 25-37.

Language: a Preleminary list”. Working Paper in Linguistics ( Hawaii ) 4 (1): 1-43.
—————1978. “Proto Austronesian Addenda, Eastern Malayo-Polynesian: A
Subgrouping Argument” Second International Conferences on Austronesian
Linguistics:The Australian National University .
Bynon, Theodora. 1979. Historical Linguistics Cambridge : Cambridge University Press. Bynon, Theodora.1979. Historical Linguistics. Cambridge : Cambridge University Press. Birnbaum, Henrik.1977. Linguistic Reconstruction, Its Potensial and Limitation in New Perspective. Washington DC : The Institute for the Study of Man.

Bloomfield, Leonard. 1933. Language. New York : Holt. Renehart and Winston.
Collins, J.T. 1983. The Historical Relationship of the Language of Central Maluku , Indonesia . Canberra : The Australian National University .

—————-1997. “Klasifikasi Varian Melayik di Ketapang: Kepelbagai Bahasa di Kalimantan Barat” Makalah Seminar Internasional Bahasa dan Budaya di Dunia Melayu Asia Tenggara Universitas Mataram, NTB.

Dyen. 1982. “The Present Status of Some Austronesian Subgrouping Hypothesis” In Amran Halim. Louis Carrington and Wurm (eds.) Paper from The TICAL vol. 2:32-33.Pl. 75.

Esser, S.J. 1938. Atlas van Tropisch Netherland (sheet 98: Talen. (Language Map) Den Haag: Martinus Nijhoff.

Fernandez, InyoYos. 1988. “Rekonstruksi Proto Bahasa Flores”. (Disertasi) Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
———– 1996. Relasi Historis Kekerabatan Bahasa Flores. Flores: Nusa Indah.
———– 2002. ”Bahasa Kisar di Maluku Barat Daya”: Dalam Linguistik Indonesia Vol
2/Ke 22

Grimes, E.B. 1988. Ethnologue: Language of the Word. Dallas Texas : Summer Institute of Linguistics, Inc.
————— 1973. Studies in Formal Historical Linguistics. Dordrecht : D. Reidle Publishing Company.

Mbete, Aron Meko. 1990. “Rekonstruksi Proto Bali-Sasak-Sumbawa”. Disertasi. , Jakarta : Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia .

Mashun. 2006. Kajian Dialektologi Diakkronis Di Wilayah Pakai Bahasa Sumbawa .
Yogyakarta : Gama Media.
Nothofer, Bernd. 1975. The Reconstruction of Proto Malayo-Javanic. VKI 73. Den Haag: Martinus Nijholff.

Syamsudin .1996. “Kelompok Bahasa Bima Sumba” (Disertasi) Universitas Pajajaran Bandung

Wurm , S.A. dan B. Wilson. 1978. English Finderlist of Reconstructions in Austronesian Languages (Post-Brandstetter). Canberra : The Australian National University .

Wurm , S.A. dan S. Hattori (Eds.).1981. “Linguistics Atlas of Pacific Area” dalam Pacific Linguistics C-66. Canberra : The Australian National University .

————————————–. 1983. “Language Atlas of the Pacific Areas”. Part II.
Japan Area , Philippines and Formosa , Mainland and Insular South- East Asia . PLC-67.

Lampiran-Lampiran

Lampiran 1

*api ‘api’ (PAN /D *apuy), *alu‘alu’ (PAN / B *qaluS),*ana‘anak’ (PAN/D *anak), *ata‘budak’(PAN/STR *ata), *ati ‘hati’(PAN / D *qatey), *u-(m)bu ‘tuan’ (PAN / D *∂mpu), *abu ‘abu’ (PAN / B, D *abuq), *bani ‘marah’(PAN / D *b∂ ηit),*buli ‘lambung’ (PAN / B *bui),*bali ‘bau’(PAN / D*balikat), *bayi, ‘angin’ (PAN / C *bayu),*bisi ‘besi’ (PAN / D *b∂si),*dala ‘jala’ (PAN / D *dala), *dara ‘kuda’ (PAN / L *hazaran),*∂nam(-u) ,’(PAN / D *∂n∂m),*galu‘pagar’ (PAN / D *galu), *gaga ‘burung gaga’ (PAN / B *gagak),*hamati ‘membunuh’ (PAN/B *qimatey), *haburuña PAN / DW*hambur), *ine ‘ini’(PAN / D *ini),*inuη(-gu)‘minum’(PAN / D *qinum), *ita‘melihat’(PAN / Cp *kiTa),*ina‘ibu’ (PAN / D *ina)*(k)iru ‘hidung’(PAN / B *ijuSuη)*kulit‘’(PAN/D*kulit),*kapa‘sayap’(PAN/D*kapa),*ka(n)du‘tanduk’(PAN/D*tandu),*kaka‘kakatua’(PAN/B*kaka),*kapiďu‘empedu’(PAN/B,D*qap∂juSuη),*(ka)(m)buni(ηu)‘bersembunyi’(PAN/C*buni),*(ka-)golu ‘telanjang’ (PAN / S *lagu),*kili(-gu) ‘bengkok’ (PAN / B *kiluq),*(ka-)pak(-i)‘katak’(PAN / B *wak),*(ka-)saηa ‘cabang’ (PAN / C *saηa),*la’i ‘suami’(PAN D/ *lakiq),*lama ‘lidah’(PAN/ PAWLEY *mala),*lima ‘lima’ (PAN / D *lima),*liya ‘halia’(PAN / D*liyaq), *(ma-)lawu ‘tikus’(PAN / B *labaw),*manu ‘ayam’ (PAN / D *manuk),*mai ‘datang’ (PAN / B *mai),*mate ‘mati’ (PAN / D *matey),*musu ‘musuh’(PAN / L *musuq), *muta ‘muntah’ (PAN/ Le and Sm *mutaq ) , *mata ‘mata’(PAN / B*mata),*maka ‘malu’(PAN / Ca* maqa), *m∂tiη ‘hitam’(PAN / B *qit∂m)*masi ‘pembeli’ (PAN / S *pasa),*masiηu ‘garam’(PAN/ B *asin), *naηi ‘berenang’(PAN / B *naηuy),*naga‘nangka’(PAN/S*naka), *nipisa‘tipis’(PA/D*nipis),*napi ‘sisik’ (PAN/ D*qunap),*ηi(-yo)’ (PAN/ D*ñiuR), *nu(m)bu ‘tombak’ (PAN/ L *tumbak), *ηasu‘insan’ (PAN / D*qasaη), *ηaηu ‘makan’ (PAN / D* kaqen), *ηodu ‘makan’ (PAN / D*qaDoη),*(η-)undu ‘gigi’ (PAN / D*ipen, (q)untu), *pagahi ‘bersiul’(PAN / S *pago) *pada ‘padam’(PAN/ D, L *pad∂m),*palu ‘memukul’ (PAN / B *palu),*p∂ďi, pili ‘memilih’ (PAN / B *piliq), *puwi ‘meniup’ (PAN / B *wupi),*paniģi ‘keluang’ (PAN / B *niki), *puηi ‘pohon’ (PAN / D,L *buniq), *pat(u,a) ‘empat’(PAN / D *∂pat), *paη∂daηu) ‘pikir’(PAN/D *aη∂n), *pana ‘busur’ (PAN / D *panaq),*palu ‘memukul’ (PAN / B *palu), *pasu ‘kentut’ (PAN / B *pasu), *pipi ‘pipi’ (PAN / L *pipiq), *pupu ‘memetik’(PAN / D *pupul)*(pa-)taninu ‘menguburkan’ (PAN / D *tan∂m), *rake ‘rake’(PAN / D *raki),*ri ‘tulang’(PAN / P *zuri, tuq∂lan),*r∂ηi ‘mendengar’(PAN / B *D∂η∂r),*rauna, ‘daun’(PAN / D *DaSuη), *(sa-)laku ‘berjalan’ (PAN / L *laku), *susu ‘susu’ (PAN / M *susu),*sala ‘salah’PAN / D *salaq),*sulu ‘suluh’ (PAN / L *suluq)*tu-mbusa ‘tumbuh’ (PAN / D *tubuq), *ta-i ‘tai’(PAN / D *taqi),*tana ‘tanah’ (PAN / D *tan∂q), *tinuηu‘menenun’ (PAN / D. B *t∂nun), *tunu ‘membakar’ (PAN / C*tunu),*tilu ‘telur’ (PAN / B *qit∂luR),*tasik(a) b∂nu, ‘laut’(PAN / L*tasik), *tuna ‘belut’ (PAN / D *tuna),*tibu ‘perahu (PAN / D *t∂buq),*tuwa ‘tuba’ (PAN / B *tuba),*tama‘masuk’ (PAN / D *tama),*tana-i ‘usus’ (PAN / D *tinaqi),*uma ‘rumah’(PAN / D* Rumaq),*u(m)bu ‘tuan’(PAN / D *∂mpu), *uraη(-u) ‘hujan’(PAN / B *quZan), *wala ‘bunga’(PAN / B *bulaq), *watu ‘batu’(PAN / D *batu), *wa-i‘air’(PAN/Le.Sm*waSir),*wua‘buah’(PAN/D *buwaq),*wula ‘bulan’ (PAN/D, L *bulan),*wawi‘babi’(PAN / B *babuy), *wulu‘bulu (PAN / B *buluk),*wuya ‘buaya’ (PAN / B *buwaya). *wini ‘benih’ (PAN/ D *b∂niq).*wulu,*tami ‘buluh (PAN / D* buluq).*(y)ai ‘pohon’(PAN / P *kayuq), dan *(m)botu ‘berat’ (PAN / B *ma-beRekat).

Lampiran 2

*aηuwua ‘sepupu’ (PAN/H *pisan), *asu, baηga ‘sepupu’ (PAN/H *asu), *aro ‘depan’ (PAN / B*qad∂p),*bagi‘pinggang’ (PAN D / *hawak),*bara ’pecah’ PAN Sm. *baba),*daηi ‘menjemur’ (PAN / C*kagkag),*daη(g)u ‘banyak’ (PAN / D dakul),*gegi ‘laba-laba’(PAN / B lawaq), *huli,*kadapu ‘talas’ (PAN /D tal∂s),*ja-uli ‘letih’ (PAN / D *l∂laq),*kagundika‘bergerak’ (PAN / D*iriR), *koku ‘leher’ (PAN / B liqeR), *kua, ‘jerami’(PAN/L*daRamin),*(ka)gundika‘bergerak’(PAN/D*iRir),*kawunuta‘sabut’(PAN / L*sabut),*(ka-) riri ‘ketimun’(PAN / D *timun)*katopu ‘golok’ (PAN / D *pedaη),*keďu ‘mencuri’(PAN/ H *maliη),*kapila ‘bekas luka’(PAN – / – ),*kaweda ‘tua’(PAN / D* tuqa),*laďo ‘hari’(PAN / D *qajaw ),*lo(η)gi ‘rambut’(PAN / *buluq),*leti, deke, dali ‘menginjak’(PAN / D*pijak),*luku,‘sungai’ (PAN / D *qalus), *logi ‘rambut’ (PAN / D buluq), *lawu ‘ubun-ubun’(PAN / B *bunbun), *manada ‘cantik’(PAN /D*baguS),*mara(m)ba‘bangsawan’(PAN / Ø),*moru ‘hijau’(PAN/ D *hidaw),*madai ‘lama’(PAN / D *la-un), *ηeηi ‘lrahang’(PAN / D *hisaN),*(pa-)sepa ‘ganti’ (PAN / D *ganti’),*pan∂wi ‘berkata’(PAN / B *tutuR),*pamula ‘menanam’ (PAN / PD *tan∂m), *padalu ‘tempayan’(PAN / Ø )*paruwa ‘geraham’(PAN /D* bayaη),*pala-i ‘membawa’(PAN / D* babaq ),*pakeriña ‘meniru’(PAN /D *tiluq),*rusa ‘rusa’(PAN / B *rusa),*radi ‘itik’(PAN/ D*itik),*rowi ‘sayur’ (PAN / L *kubay), *rawa ‘burung dara’(PAN/L*Dar∂q ),*ritusa ‘getah’(PAN / Le. Sm *toto),*saka, *koda, ‘menggali’(PAN / D* kali),*takun(-a) ‘menekan’ (PAN / D *tinDes),*tia, *kiki, *keri ‘perut’(PAN /C *tiyan),*tena ‘perahu’ (PAN / D.B. *paraquq),*tanana‘begini’(PAN / *-),*tuku ‘menempa (besi)’ (PAN / Ø), *toba ‘ranjau’(PAN/ Ø),*toda‘perisai’ (PAN / S *talo,*ura ‘garis’(PAN/*banda),*uli ‘taring’(PAN/B*pansi),*uta ‘dedak’(PAN / D *dedak),*umbu ‘tuan’(PAN /- ),*wura ‘paru-paru’(PAN / B *baraq),*wali ‘dari’(PAN/P *(n)tani)*(m)bakusawu ‘cabai’ (PAN / B makaDiηDiη), dan *(m)ba ‘bengkak’(PAN / Le. Sm *tubu),

Lampiran 3.
Refleks Fonem-Fonem PAN pada PSmb
No. Fonemvocal/ diftong Vokal / diftong PSmb Keterangan kaidah yng berlaku
1 i i (tanpa syarat)
2 u u (tampa syarat)
3 ∂ *) Ø
∂, i, atau a hanya / #-
hanya /-KVK-
4 a a (tanpa syarat)
5 uy i hanya /-#
ey i hanya /-#
ay a-i hanya /-#

Penjelasan Tabel
*) Refleks PAN *∂ pada posisi awal penultima tampak adanya kaidah perubahan teratur menjadi Ø; pada posisi antar vokal PAN *∂ mengalami split yaitu membentuk kaidah perubahan fonem menjadi PSmb*i, *∂, atau *a.

Lampiran 4

Kaidah Perubahan Fonem Konsonan dan Gugus Konsonan PAN pada PSmb.

No. Konsonan PAN Konsonan / Gugus Konsonan PSmb Keterangan kaidah yang berlaku
1 p p kecuali / -#
2 b***) b
w
Б kecuali / -#
kecuali / -#
hanya / # -
3 d d kecuali / -#
4 D r kecuali / -#
5 R Ø Tanpa syarat
k k
’ kecuali / -k #
hanya / -VKV-
g g kecuali / -#
q ’ atau (q) tanpa syarat
s s tanpa syarat
S s kecuali / # -
j r
ď hanya / VKV
hanya / VKV
z j hanya / # -
Z r hanya / -VKV-
l l kecuali / – #
m m
η kecuali / – #
hanya / – #
n n
η hanya / # -
kecuali / # -
ñ ñ hanya / # -
η η hanya / -VKV-
w**) w Hanya pada / # -
y y hanya / -VKV-
nd nd hanya /-KKV#
mb mb hanya / -KKV#
mp****) mb hanya / -KKV#
nt nd hanya / -KKV#

Penjelasan Tabel
**) Data pada PSmb yang ditemukan sangat terbatas sehinnga kaidah perubahan PAN *w menjadi PSmb *w dalam tabel di atas tampak masih diperlukan dukungan data yang memadai.
***) Refleksi PAN *b pada posisi awal penultima tampak membentuk kaidah perubahan teratur dengan membentuk split menjadi PAN *b, *w, *Б.
****) PAN *mp dan *mb tampak merger dalam PSmb menjadi*mb, dan PAN *nd dan *nt tampak merger menjadi PSmb *nd

________________________________________
[1] Bahasa-bahasa di Flores telah dibuktikan sebagai satu kelompok bahasa tersendiri oleh Fernandez dalam penelitiannya tahun 1988
[2] Ketiga bahasa ini telah dibuktikan sebagai satu kelompok bahasa oleh Mbete dalam penelitiannya tahun 1990).

________________________________________

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s