karakteristik sistem warna dalam bahasa sunda, oleh tubagus hidayat

Posted: 13 September 2010 in Tubagus Hidayat

KARAKTERISTIK  SISTEM  WARNA

DALAM BAHASA SUNDA

Oleh Tubagus Hidayat

http://13633lf9ccw5scch2azwdpav09.hop.clickbank.net/?tid=BLOG

Click Here!

Abstrak

Semua bahasa di dunia ini mempunyai sistem warna dan masing-masing bahasa memiliki istilah warna yang berbeda serta karakteristik system warna yang berbeda sesuai dengan tipologi bahasanya, persepsi warna mencakup tiga parameter yaitu corak warna, kecerahan warna, titik jenuh. Istilah warna dasar yang ada dalam bahasa sunda terdiri dari 10 istilah warna dasar yaitu;  ‘bodas’ putih ‘hideung’ hitam  ‘beureum’ merah,  ‘hejo’  hijau, ‘koneng’  kuning,  ‘gandola ‘ungu’ , ‘kayas ’ merah muda’ ‘kulawu’ abu-abu , ‘coklat’ coklat dan ‘biru’ biru   dengan 19 istilah khusus warna, selain dengan kosakata yang berbeda , salah satu yang memperlihatkan gradasi warna dalam bahasa sunda ditandai dengan postposisi, preposisi dan modalitas

Kata Kunci :, bahasa sunda, tipologi,  warna dasar (basic color term) , sistem warna

  1. I. Pendahuluan

Warna adalah gejala visual yang kadang tidak tidak begitu diperhatikan namun kehadirannya menambah nilai tersendiri bagi manusia, penggunaan warna telah muncul sejak peradaban awal manusia dengan  ditemukannya penggunaan warna di goa-goa yang dihuni oleh manusia zaman pra sejarah. Bukti-bukti sejarah berupa lukisan goa, artitektur kuil Yunani dan romawi kuno, piramida mesir serta beberapa benda seni lainnya membuktikan bahwa warna telah digunakan sejak dulu, dalam perkembangannya warna yang dahulu digunakan sebagai alat transedental akhirnya menjadi media berekspresi seniman. Beberapa teori mengungkapkan bahwa warna salah satu sarana untuk melatih keutuhan persepsi terhadap ruang, warna menimbulkan kesan-kesan tertentu dalam menciptakan suasana ruang dan warna dapat menimbulkan pengaruh terhadap jiwa baik secara langsung maupun tidak langsung misalnya perasaan gelisah, nyaman, panas dan sebagainya. Kesalahan menempatkan warna-warna mempunyai pengarih negatif khususnya  terhadap perkembangan fisik dan mental

Akhir-akhir ini konsep warna berkembang dengan pesat seiring perkembangan budaya masyarakatnya penggunaan warna selain untuk kepentingan ekspresi juga digunakan untuk menciptakan kesan-kesan tertentu dalam menciptakan suasana, konsep warna dijadikan alat untuk membuat brand image suatu produk, baik untuk kepentingan bisnis maupun untuk kepentingan politik. Penentuan suatu warna dalam aspek kehidupan sehari-hari menjadi suatu hal yang diperhitungkan dipikirkan bagaimana memilih warna yang tepat untuk situasi, kondisi dan tujuan tertentu

Warna dalam tataran bahasa direalisasikan dengan kosakata warna dalam frase , kalimat atau leksem dasar kosakata warna itu sendiri, sehingga pendekatannya pun bisa dari berbagai aspek penelitian dan sudut pandang . warna adalah gejala visual sehingga mendeskripsikannya tidaklah mudah, warna adalah persepsi sehingga ada hubungannya dengan subjektivitas informan dari data penelitian.,  warna arbitrer sekaligus juga konvensional.  Sehingga penelitian penelitian mengenai warna dalam bahasa terdapat dua pendekatan utama, yaitu yang didasarkan pada Saphir Worf dan linguistic relativity

Penelitian warna dalam bahasa yang telah dilakukan diantaranya adalah   Gladstone (1858), Geiger (1868), Magnus (1877), Marty (1879) dari penelitiah-penelitian tersebut yang sering dijadikan acuan dalam penelitian  adalah Berlin dan Kay (1969). Kay & McDaniel (1978); Kay, Berlin, Maffi, & Merrifield (1997); Kay & Maffi (1999)

Berlin dan Kay (1969). Melakukan penelitian  dari 98 bahasa, dan menemukan bahwa  ada variasi warna yang sangat yang luas dari bahasa-bahasa tersebut Akan tetapi,  mereka menemukan bahwa variasi ini memang tidak sepenuhnya  acak. Berlin dan Kay menemukan bahwa semua bahasa memiliki antara 2  sampai  11 istilah warna dasar . Mereka menemukan bahwa batas-batas bidang warna  yang dilambangkan dengan istilah warna  sangat bervariasi diantara bahasa-bahasa tersebut , Berlin dan Kay  menyelidiki istilah kombinasi warna yang ada dalam setiap  bahasa dan menghasilkan implikasi hirarki yang ditunjukkan pada  gambar1 , untuk menjelaskan keteraturan  yang mereka temukan. Istilah warna dalam semua bahasa   bermula pada  pada hitam dan putih, tetapi beberapa bahasa  punya istilah warna dasar lainnya. Namun, jika bahasa memiliki  Istilah untuk setiap warna lebih tepat dalam hirarki, itu  selalu punya istilah untuk semua warna muncul di sebelah kiri  titik.  Berlin dan Kay mengusulkan bahwa hierarki ini menggambarkan  pola-pola  umum ;

[white]                         [green] →  [yellow]                                         [purple]

→ [red] →                                    → [blue] → [brown] → [pink]

[black]                         [yellow] → [green]                                           [orange]

[grey]

I                    II               III              IV              V              VI            VII

Figure 1. Temporal-evolutionary ordering of basic colour terms after Berlin and Kay

(1969). The Roman numbers indicate the corresponding evolutionary stage.

Basic colour term was defined by Berlin and Kay as follows (1969:5–7) and will be used in this article accordingly

1) It is monolexemic; that is, its meaning is not predictable from the meaning of its parts

2) Its signification is not included in that of any other colour term

3) Its application is not included in that of any other colour term,

4) It must be psychologically salient for informants. Indices of psychological salience include, among others, a) a tendency to occur at the beginning of elicited lists of colour terms, b) stability of reference across informants and occasions of use, c) occurrence within the idiolects of all informants.

Warna dalam masyarakat sunda memiliki makna tertentu,  dalam kehidupan sehari-hari misalnya terlihat pada penggunaan warna dalam upacara-upacara adat yang memiliki makna simbolik, warna wajah tokoh wayang golek yang memiliki makna sesuai dengan karakter tokohnya , dalam ungkapan dan peribahasa juga terdapat kosakata warna misalnya ungkapan  ‘hejo tihang’  tiang hijau   bermakna orang yang selalu berpindah tempat tinggal atau pekerjaan,  hijau dalam ungkapan itu bermakna negatif. Atau dalam peribahasa ‘clik putih clak herang’ hati yang tulus ikhlas. Putih dalam peribahasa tersebut mengacu pada hal yang positif. Warna dalam bahasa sunda juga mengacu pada bendanya langsung, misalnya ‘megantara’ warna untuk kuda yang berwarna hitam mengkilat (sangat hitam) atau misalnya warna ‘cadramawat’ warna kucing yang berbulu tiga warna

Penjelasan mengenai warna dasar dan karakteristik sistem warna dalam bahasa sunda ini idealnya menggunakan responden dengan kriteria-kriteria tertentu. Tulisan ini akan mencoba  mendeskripsikan warna dasar dan karakteristik sistem warna  dalam Bahasa  Sunda

II.   PEMBAHASAN

A. Warna Dasar (Basic colour term)

Pembagian  warna dalam bahasa sunda dapat  dibagi dalam 2 kategori yaitu warna dasar istilah khusus warna, pembagian ini dapat digambarkan dalam bagan berikut;

No Warna dasar Istilah khusus
1 ‘Bodas’ putih Borontok (warna bulu ayam yang berwarna  putih hitam)
2 ‘Hideung’ hitam Candramawat (warna bulu kucing tiga warna)
3 ‘Beureum’ merah Kopi tutung ‘coklat tua’
4 ‘Hejo’  hijau ‘Gandaria’ merah muda warna jenis buah/tanaman
5 ‘Koneng’  kuning ‘Paul’, biru, warna gunung atau laut dari kejauhan
6 ‘Gandola ‘ungu’ Bule warna kulit yang berwarna sangat putih
7 ‘Kayas ’ merah muda’ ‘Belang’ belangwarna hitam putih atau terdiri dari dua warna
8 ‘Kulawu’ abu-abu ‘Roreng ‘,’loreng’ belang warna untuk kain atau harimau
9 coklat ‘colat’ kuda dengan warna coklat di bagian kepala
10 ‘biru’  biru ‘Megan’ warna burung atau ayam yang berwarna abu-abu
11 Kasumba ‘merah muda’ ‘Megantara’ warna kuda yang hitam mengkilat/sangat hitam
Carambang warna bulu ayam yang hitam dengan totol totol putih
Rengge ‘ bulu ayam yang setiap warna bulunya campuran antara hitam dan putih
Dawuk warna kuda yang berwarna abu-abu
Hawuk ‘warna untuk binatang yang berwarna abu-abu
Bulu hiris ‘hijau seperti bulu pada sejenis tanaman
Caragem warna bulu kuda

Gambar 1 Warna Dasar dan Istilah warna khusus Bahasa Sunda

Warna dasar dalam bahasa sunda terdiri dari 10 dengan pertimbangan dari penelitian sebelumnya, ‘paul’ biru tidak dapat dikatakan warna dasar karena berhubungan dengan beberapa acuan diantaranya adalah  jika melihat gunung,laut dari kejauhan itu dikatakan ‘paul’ biru , ‘bulao’ biru tidak termasuk warna dasar karena masyarakat sunda pada umumnya menyebut bulao tidak untuk warna tetapi benda/kapur untuk membersihkan kain, gondola juga merupakan percampuran warna tetapi pertimbangan monolexemic dijadikan sebagai warna dasar seperti juga pada warna ‘kayas ‘merah muda, coklat dan ‘kulawu’ abu-abu

Penjelasan mengenai gradasi dan makna figurative dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut;

1.Warna
Bodas putih Hideung hitam Beureum merah Hejo hijau Koneng kuning
Bodas ngeplakBodas nyacasbodas koneaspulas haseupherang cibeasherangpiaskoleas hideung cakeutreukHideung santenHideung lageduHideung melesHideung lestrengMaleukmeukGeuneukpoek Beureum euceuyBeureum atiBeureum obroykasumba
kayasgedang asakgeuneuk
Hejo carulangHejo botolHejo pucuk cauHejo carulangHejo ngagedodHejo daunhejo lukuthejo tai kuda Koneng umyangKoneng enayKoneng santenKoneng obyar
gading
koneng
2 warna dengan makna figurative
Cakcak bodas Tanda bodasBubur bodas bubur beureumClik putih clak herangGetih bodas Kudu puguh bule hideungnaGetih hideung -Beureum paneureuy-Budak beureum-Dibeureum dihideung-Kulit beureum-Hama beureum-beureum beungeut Hejo tihangHejo lembok leubeut daunNgahejokeun-hejo lalakon panjang carita Seuri konengKulit konengKasakit koneng
  1. Putih ‘bodas’

Arti menurut kamus basa sunda  yaitu; warna apu (kapur) , warna kertas tulis dan lain lain, gradasi warna dari putih tua (sangat putih) sebagai berikut : ‘bodas’ putih  kemudian bodas nyacas’ sangat putih dan ‘bodas ngeplak’ sangat putih (lebih putih dari kata warna yang kedua)  Makna figuratifnya ‘cakcak bodas’ mata-mata/atau orang yang tidak dapat dipercaya (makna negative) ‘tanda bodas’ tanda putih mempunyai makna tanda pada laki-laki biasanya susah mendapatkan keturunan (makna negative) ‘clik putih clak herang ‘ (peribahasa) bermakana tulus dan ikhlas (makna positif) ‘getih bodas’ darah putih selain bermakna denotative juga mempunyai makna figurative yaitu kesucian hati

  1. Hitam ‘hideung’

Dalam kamus basa sunda hideung berarti warna areng,poek, harangasu, gradasi warna dari hitam (sangat hitam) sebagi berikut; hideung lestreng, hideung cakeutreuk, hideung lagedu. ‘hideung santen’ hitam seperti santan kelapa’ ‘ makna figurative ‘kudu puguh bule hideungna’ (peribahasa) berarti harus jelas masalahnya, getih hideung ‘ darah hitam selain makna denotative juga ’ mempunyai makna figurative yaitu keberanian yang tidak memperdulikan apapun

  1. Merah ‘beureum’

Dalam kamus ‘beureum’ berarti warna getih, bagian kain dari bendera Indonesia gradasi warna merah (sangat merah)  sebagai berikut beureum obroy, dan beureum ati beureum euceuy.makna ‘beureum paneureuy’ (ungkapan) berarti susah mencari nafkah (makna negative) budak beureum (ungkapan) tidak tahu apa-apa, kulit beureum (bangsa Indian) hama beureum (hama padi), beureum beungeut (ungkapan) berarti marah

  1. Hijau ‘hejo’

Dalam kamus bahasa sunda hejo berarti umumnya warna daun gradasi warna hijau dari hijau (sangat hijau) sebagai berikut ‘hejo ngagedod, hejo daun,hejo botol, hejo pucuk cau, ‘hejo carulang’ hijau urat dalam kulit tangan yang putih biasanya wanita yang cantik kulitnya ‘hejo carulang’ . makna hejo lembok leubeut daun (peribahasa) berarti daerah yang makmur, ‘ngahejokeun’ selain bermakna denotasi membuat jadi hijau juga berarti meminjamkan uang dibayar dengan hasil panen, biasanya meminjamkan uang pada saat tanaman baru ditanam. ‘hejo lalakon panjang carita (peribahasa) bermakna panjang umur atau banyak pengalaman

  1. Kuning ‘koneng’

Dalam kamus ‘koneng’ berarti warna yang mirip cahaya lembayung. Gradasi warna dari kuning (sangat kuning) sebagi berikut koneng obyar, koneng enay,koneng santen,koneng umyang, makna figurative ‘seuri koneng ‘ (ungkapan) tersenyum penuh arti, kulit koneng (sebutan untuk orang jepang),kasakit koneng (penyakit hepatitis).

  1. B. Gradasi warna

Untuk menggambarkan gradasi  warna kata warna (KW) dapat digabungkan dengan posposisi, preposisi atau modalitas, diantara sebagi berikut ;

-          ‘kolot’ tua, (beureum kolot, merah tua)

-          ‘ngora, muda (‘hejo ngora’ hijau muda )  kecuali untuk hitam tidak ada * hideung ngora , hitam muda’

-          Saulas ‘agak’ (‘beureum saulas’ agak merah)

-          ‘Pisan’ sangat (hideung pisan ‘sangat hitam)

-          ‘Naker’ sangat (‘bodas naker’ sangat putih)

-          ‘Rada ‘ agak (‘rada hejo’ agak hijau)

-          ‘Kudu’ harus (‘kudu koneng’ harus kuning)

-          ‘Henteu’ tidak (‘henteu hideung’ tidak hitam

-          ‘Rada leuwih’ agak lebih ( ‘rada leuwih bodas’ agak lebih putih)

Menurut sumber penelitian yang ada (dalam jurnal)   gradasi warna digambarkan sebagi berikut: Warna kayas atau merah ros atau merah muda, gandaria atau violet muda atau ungu muda, warna paul atau biru dan warna hejo paul atau kebiruan lebih sering disebut-sebut dalam kawih atau pantun. Hal itu menandakan kesukaan masyarakat Sunda akan nada – nada warna itu ( nuansa lembut, sari atau semu-semu). Apabila disusun dalam satu palet warna, maka terdapat dua warna dasar yang mendukung terciptanya nada warna itu. Kedua warna dasar itu ialah biru yang ultramarine dicampur dengan merah yang karmen, tetapi dilengkapi satu sumbu yaitu ke arah putih, sehinga terjadilah warna : kayas dan gandaria dengan warna ungu ditepinya yang biasa disebut gandola, terjadilah susunan nada warna yang  sebagai berikut  :

Kayas
Kasumba
Gandaria
Gandola
Paul

Nada warna kayas tergolong yang paling muda dan lembut, sedangkan warna paul tergolong nada warna yang tua dan berat.

Susunan Warna Kasundaan
1) Nada warna ke arah merah atau kemerahan dan kuning :
Beureum
beureum cabe
beureum ati
kasumba
kayas
gedang asak
gading
koneng
koneng enay

2) Nada warna ke arah biru atau kebiruan dan hijau :
hejo
hejo lukut
hejo ngagedod
hejo paul
gandaria
gandola
bulao saheab
pulas haseup
bulao

3) Nada warna yang tidak termasuk ke dalam dua kelompok terdahulu :
bodas
hideung
borontok
coklat kopi atau pulas kopi, kopi tutung
candra mawat
bulu hiris
bulu oa : dawuk, hawuk, kulawu, pulas  lebu
(oa adalah sebangsa primata/ monyet berbulu warna abu-abu

  1. III. SIMPULAN

Warna dasar dalam bahasa sunda terdiri dari 10 warna dasar yaitu;  Bodas’ putih ‘Hideung’ hitam  ‘Beureum’ merah ‘Hejo’  hijau ‘Koneng’  kuning ‘Gandola ‘ungu’ ‘Kayas ’ merah muda’ ‘Kulawu’ abu-abu , ‘coklat’ coklat dan ‘biru’ biru.   dengan 19 istilah khusus warna , salah satu yang memperlihatkan gradasi warna ditandai dengan postposisi, preposisi dan modalitas

  1. IV. Diskusi

Penelitian tentang warna ini lebih ke tataran tipologi bahasa dengan mendeskripsikan karakteristik sistem warna, penelitian warna dalam tataran bahasa baik dalam bahasa indonesia maupun bahasa-bahasa daerah di indonesia masih sangat jarang dilakukan.

Penentuan warna dasar hanya berdasarkan kriteria yang sangat terbatas dengan melihat hanya satu teori yang ada, penjelasan mengenai warna dasar hanya terdiri dari lima warna yaitu putih, hitam, merah,hijau dan kuning. Itupun dengan data yang tidak optimal, gradasi warna seharusnya dilengkapi dengan penjelasan gambar atau dengan tabel dari warna cerah ke warna gelap. Susunan warna kasundaan diambil dari sebuah artikel sehingga perlu untuk penelitian lebih lanjut seperti penjelasan pada penentuan warna dasar (basic color term) ,

Karakteristik secara tipologis lebih terlihat jika ada pembanding bahasa lain misalnya dibandingkan dengan bahasa inggris yang tentu saja penelitian bidang ini telah banyak dilakukan. Tulisan ini jauh dari sempurna dan memerlukan pengoptimalan data serta teori yang lebih memadai untuk sebuah tulisan ilmiah.

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: P.T.Rineka Cipta.

C.P. Biggam C.J. Kay .1984 Progress in Colour Studies Volume I. Language and

Culture University of Glasgow

Gorys Keraf (1984). Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia.

Kridalaksana, Harimurti.1988. Beberapa Prinsip Perpaduan Leksem dalam Bahasa   Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.

Kridalaksana, Harimurti.1996. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indo-nesia.Jakarta: Gramedia.

R.A. Danadibrata ,2006 Kamus Basa Sunda. Bandung: Kiblat Utama

Samsuri. 1982. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga.

Verhaar, J.W.M. 1977. Linguistik Umum. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Verhaar, J.W.M. 1996. Azas-azas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

http://www.icsi.berkeley.edu/~kay/color.terms.lx.of.ps.

http://www.lotpublications.nl/publish/articles/003021/bookpart.pdf

http://www.ling.ed.ac.uk/~mdowman

http://fleteliercolortheory.blogspot.com/2008/01/symbolic-color-connotations.html

http://www.brigantine.atlnet.org/GigapaletteGALLERY/websites/ARTiculationFinal/MainPages/RhythmMovementMain.htm

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s