bahasa dan penyebaran islam di masyarakat Sunda

Posted: 27 Agustus 2008 in Tubagus Hidayat

Bahasa dan Penyebaran Agama Islam di Masyarakat Sunda
Oleh: Tubagus Hidayat

”Far from being a field reserved for analysis by specialists, languages lie at the heart of all social, economic and cultural life. That is the meaning of the slogan launched by UNESCO for the International Year of Languages: Languages matter!” ucap Dirjen UNESCO Koïchiro Matsuura dalam pesan khusus untuk International Mother Language Day 2008.
Sejak tahun 2000, PBB menetapkan tanggal 21 Februari sebagai International Mother Language Day atau Hari Bahasa Ibu Internasional. Penentuan itu dimaksudkan untuk mempromosikan penghargaan dan penggunaan bahasa-bahasa ibu, terutama yang tergolong bahasa-bahasa minoritas. Dalam selebrasi ke-9 tahun 2008 bahkan dicanangkan sebagai International Year of Languages atau Tahun Internasional Bahasa-bahasa dengan slogan Languages matter.
Ada tiga isu aktual yaitu kepunahan bahasa-bahasa, penyelamatan bahasa-bahasa, dan pemanfaatan bahasa-bahasa untuk mengatasi aneka masalah global.
Apapun agamanya dalam hal pemahaman dan keyakinan bukan urusan akal semata tetapi juga berkaitan dengan perasaan sehingga peranan bahasa Ibu dalam urusan agama, merupakan hal yang menarik untuk dicermati. Karena ketika berurusan dengan agama dan keyakinan bahasa ibu akan lebih mengena ke dalam relung hati, sangat menarik untuk mencermati bahasa ibu Baik dalam proses awal yaitu mengenal agama maupun dalam pemahaman dan pelaksanaannya, mungkin ada benarnya bahwa salah satu penyebab banyaknya persoalan-persoalan dan perselisihan-perselisihan seagama atau antar agama lebih karena soal pemahaman, yang sebenarnya berujung di permasalahan bahasa . Bukankah setiap agama mengajarkan kebaikan dan menjauhi kerusakan kepada pemeluk-pemeluknya. Dalam tataran teknis ada hal yang menarik lagi, tulisan-tulisan yang bercorak agama kadang dicurigai dan tidak laku dalam media massa yang oplahnya sudah “mengindonesia” lagi-lagi soal pemahaman, apakah ini juga karena persoalan bahasa? Jawabnya pun akan bermacam-macam lengkap dengan uraian-uraian argumentatif dan lebih banyak subjektif tentunya.
Seorang teman pernah memberikan pernyataan yang cukup membuat saya semakin
respect kepada bahasa Ibu, bahwa orang sunda inferior (rendah diri, kurang cerdas, tidak bermutu, miskin pemikiran) ketika dihadapkan pada pemakaian bahasa sunda dalam pergaulannya sehari-hari. Prestise, tidak mau disebut kampungan, gengsi yang dominan, takut dikatakan kedaerahan, promodialisme, tidak nasionalis dll.
Pernyataan itu muncul ketika pembicaraan kami seputar bahasa sunda yang sudah jarang dipakai di masyarakat, lingkungan keluarga pun mengajarkan anaknya berbahasa indonesia (dialek betawi) padahal jelas-jelas ibu bapaknya sunda asli, pelajar dan mahasiswa tak jauh berbeda mereka lebih ‘berbetawi’ lagi , begitu pula dakwah-dakwah yang sudah tidak lagi menggunakan bahasa sunda, Khattib dan Da’I pun ternyata inferior seperti yang dikatakan teman saya. Ada benarnya tetapi itu cukup sulit dibuktikan dengan data empiris, mungkin itu yang akan dikatakan para pengusung dan ‘guardian’ bahasa sunda yang tidak akan rela dengan pernyataan teman saya tadi. Atau jangan-jangan memang benar masyarakat sunda demikian, bahasa sunda bagi masyarakat sunda sudah dianggap tidak mampu lagi merepresentasikan ilmu dan kehidupannya didalam lingkungan pergaulan sehari-hari, atau memang gejala seperti ini ada di setiap bahasa minoritas. Bahasa indonesia itu termasuk bahasa mayoritas dan legitimasi sebagai bahasa nasional sudah mengakar, tetapi penutur nya banyak yang lebih merasa nyaman mencapuradukannya dengan istilah-istilah bahasa daerah atau bahasa inggris apalagi dalam bahasa-bahasa keilmuan. Pekerjaan dan tantangan kedepan untuk para ‘guardian’ bahasa indonesia sebagai bahasa nasional.
Seperti yang dikatakan Ajip Rosidi untuk menunjukkan rasa kebangsaan tidak selamanya harus berbahasa Indonesia. Surat kabar berbahasa Sunda “Sipatahoenan” pada waktu sebelum perang pun digolongkan sebagai surat kabar nasional sebab isinya memperlihatkan rasa kebangsaan. Terangnya, untuk jadi orang Indonesia tidak perlu berhenti jadi orang Sunda, kilah Ajip.
Tulisan ini lebih banyak menyampaikan tulisan-tulisan yang berhubungan dengan masyarakat sunda dan islam, selain untuk mengetahui sejarah proses penyebaran agama islam di masyarakat sunda juga melihat pelaku-pelaku proses tersebut dengan latar budaya dan bahasanya.
Islam mulai masuk ke dalam kehidupan masyarakat Sunda pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi. Berdasarkan berbagai data banding, antara lain berupa naskah Carita Parahyangan, baik yang “asli” (1580) maupun yang kemudian disusun kembali oleh Pangeran Wangsakerta (1693), dan naskah-naskah karya “Panitia Wangsakerta” pada umumnya (1677-1698), besar sekali kemungkinan bahwa tokoh Prabu Siliwangi itu adalah Prabu Siskala Wastukancana, anak Prabu Maharaja, yang berkuasa cukup lama (1371-1475) (Ayatrohaedi 1986).
Pada masa itulah mulai tumbuh pemukiman orang Islam di Cirebon, kemudian di berbagai daerah sepanjang pesisir utara Jawa Barat, sementara penguasa negara Sunda masih tetap memeluk agama yang lama (Hindu-Budha). Kesaksian mengenai hal ini antara lain ditemukan dalam laporan perjalanan Tome Pires, yang pada awal abad ke-16 turut dalam pelayaran mengelilingi dunia. Tome Pires mengatakan bahwa kerajaan Sunda mempunyai enam buah bandar; bandarnya yang paling timur, Cimanuk, dikuasai oleh orang-orang Islam. Pada saat itu (+ 1513) Cirebon dikatakan tidak termasuk lagi sebagai daerah kerajaan Sunda, tetapi sudah berdiri sendiri, dan di situ kekuasaan Islam sudah sepenuhnya tegak (Cortesao 1944).
Sejak itu, terlebih-lebih setelah Sunan Gunung Djati menguasai Banten (1525) dan Sunda Kelapa (1527), boleh dikatakan masyarakat di sepanjang pesisir utara Jawa Barat “menjelma” menjadi masyarakat Islam. Dalam pada itu, masyarakat pedalaman sedemikian jauh masih tetap mempertahankan tradisi dan kepercayaan mereka yang lama. Sejumlah naskah yang kemudian dikenal sebagai “naskah-naskah Ciburuy”, misalnya, merupakan salah satu petunjuk akan masih kuatnya tradisi sebelum Islam itu. Padahal, banyak di antara naskah itu yang berasal dari abad ke-18 akhir. Naskah-naskah itu di antaranya ialah naskah Sewakadarma (Ayatrohaedi 1988), Carita Ratu Pakuan (Aca 1970), Kawih Peningkes dan Jatiniskala (Ayatrohaedi dkk. 1987).
Namun, karena pusat-pusat kebudayaan Sunda sudah sepenuhnya bercorak Islam, khazanah lama yang tersimpan di kabuyutan-kabuyutan terpencil itu tidak lagi sempat menyebar. Tradisi lama hanya bertahan di pencilan-pencilan itu, dan dalam percaturan kebudayaan kemudian menjadi pusat-pusat pertahanan budaya lama yang kian terdesak. Demikianlah, akhirnya mulai abad ke-19, jika orang berbicara tentang masyarakat Sunda, maka salah satu ciri khasnya adalah Islam.
Sementara itu, di Karawang terdapat sebuah pesantren di bawah pimpinan Syekh Hasanuddin yang dikenal dengan sebutan Syekh Quro sebagai penyebar dan guru agama Islam pertama di daerah Karawang pada abad ke-15 sekira tahun 1416 sezaman dengan kedatangan Syekh Datuk Kahpi yang bermukim di Pasambangan, bukit Amparan Jati dekat Pelabuhan Muarajati, kurang lebih lima kilometer sebelah utara Kota Cirebon. Keduanya lalu menjadi guru agama Islam dan mendirikan pesantren masing-masing. Pesantren di Muara Jati semakin berkembang ketika datangnya Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dari Mesir. Ia masih keturunan Prabu Siliwangi bermukim di Cirebon sejak tahun 1470 dan mulai menyebarkan syiar Islam ke seluruh wilayah tatar Sunda mulai dari Cirebon, Kuningan, Majalengka, Ciamis, Bogor, hingga Banten. Atas perjuangannya, penganut kepercayaan animisme, dinamisme, agama Hindu, dan Budha beralih menjadi Muslim, sedangkan penganut ajaran Sunda Wiwitan merupakan agama asli orang Sunda tersisihkan ke pedalaman Baduy.
Edi S Ekadjati dalam sebuah sebuah tulisannya menguraikan bahwa ada 4 tahap dalam perkembangan islam di masyarakat sunda atau islamisasi di masyarakat sunda;
1.Tahap memperkenalkan agama Islam kepada orang-orang yang belum menganut agama Islam (non muslim)
2.Tahap memberikan pelajaran tentang ajaran Islam dan memperkuat eksistensi umat Islam.
3.Tahap memperdalam ilmu agama Islam dan menerapkan konsep Islam dalam kehidupan masyarakat, serta menantang penguasa non muslim.
4.Tahap memperbaharui pemikiran dan kehidupan Islam di dalam masyarakat
Islamisasi berasal dari kata Islamization yang berarti pengIslaman, upaya agar seseorang menjadi penganut agama Islam (muslim). Jelas, di dalam kata-kata Islamisasi dan pengIslaman itu terkandung makna kata kerja (kegiatan atau proses), dinamis, aktif; bukan kata benda, kemandegan dan fasif. Upaya dimaksud berwujud seorang muslim menyampaikan ajaran agama Islam kepada orang lain. Upaya tersebut dapat dilakukan secara individual dan dapat pula dilakukan secara massal. Hasil kegiatan itu dapat berwujud secara kuantitas (berupa jumlah orang yang menganut agama Islam) dan dapat pula berwujud secara kualitas (berupa tingkat keIslaman seorang muslim, baik yang menyangkut tingkat keimanan, tingkat penguasan ilmu agama, maupun tingkat pengamalannya).
Karena itu, Islamisasi bukanlah suatu peristiwa, melainkan suatu proses. Proses tersebut dapat dijabarkan berupa rangkaian peristiwa yang dapat diklasifikasikan secara vertikal dan juga secara horisontal. Pelaku Islamisasi adalah muslim, sedangkan sasarannya adalah non muslim sebagai sasaran utama yang hasilnya menyangkut soal kuantitas dan juga muslim yang hasilnya menyangkut soal kualitas.
Ketika proses penyebaran islam oleh wali sembilan (wali songo) yang banyak menggunakan pendekatan budaya dalam dakwahnya, salah satu contohnya dikenalkannya Islam melalui kesenian wayang. Fakta lain, Salah satu upacara sekaligus sebagai media dakwah Islam dalam komunitas Sunda yang seringkali digelar adalah pembacaan wawacan dalam upacara-upacara tertentu seperti tujuh bulanan, marhabaan, kelahiran, dan cukuran. Seringnya dakwah Islam disampaikan melalui wawacan ini melahirkan banyak naskah yang berisi tentang kisah-kisah kenabian, seperti Wawacan Carios Para Nabi, Wawacan Sajarah Ambiya, Wawacan Babar Nabi, dan Wawacan Nabi Paras yang ditulis dengan huruf Arab, berbahasa Sunda dalam bentuk langgam pupuh, seperti Pupuh Asmarandana, Sinom, Kinanti, Dangdanggula, dan Pangkur. Untuk mengikat pendengar yang hadir, si pembaca naskah menguncinya dengan membaca sebuah kalimat: Sing saha jalma anu maca atawa ngadengekeun ieu wawacan nepi ka tamat bakal dihampura dosa opat puluh taun (siapa saja yang mendengarkan wawacan ini sampai tamat akan diampuni dosanya empat puluh tahun). Dengan khidmat, si pendengar menikmati lantunan juru pantun yang berkisah tentang ajaran Islam ini dari selepas isya hingga menjelang subuh.
Sejak agama Islam berkembang di Tatar Sunda, pesantren, paguron, dan padepokan yang merupakan tempat pendidikan orang-orang Hindu, diadopsi menjadi lembaga pendidikan Islam dengan tetap menggunakan nama pasantren (pasantrian) tempat para santri menimba ilmu agama. Pesantren ini biasanya dipimpin seorang ulama yang diberi gelar “kiai”. Gelar kiai ini semula digunakan untuk benda-benda keramat dan bertuah, tetapi dalam adaptasi Islam dan budaya Sunda, gelar ini melekat dalam diri para ulama sampai sekarang. Di pesantren ini jugalah huruf dan bahasa Arab mendapat tempat penyebaran yang semakin luas di kalangan masyarakat Sunda dan menggantikan posisi huruf Jawa dan Sunda yang telah lama digunakan sebelum abad ke-17 Masehi.. perjumpaan Islam dengan budaya Sunda telah melahirkan beberapa hal sebagai berikut:
Pertama, pertumbuhan kehidupan masyarakat Islam dengan adat, tradisi, budaya yang mengadaptasi unsur tradisi lama dengan ajaran Islam melalui pola budaya yang kompleks dan beragam telah melahirkan pemikiran, adat-istiadat, dan upacara ritual yang harmoni antara Islam dan budaya Sunda.
Kedua, berkembangnya arsitektur baik sakral maupun profan, misalnya masjid (bale nyungcung), keraton, dan alun-alun telah mengadaptasi rancang bangun dan ornamen lokal termasuk pra Islam ke dalam rancang bangun arsitektur Islam.
Ketiga, berkembangnya seni lukis kaca dan seni pahat yang menghasilkan karya-karya kaligrafi Islam yang khas, kesenian genjring dan rebana yang berasal dari budaya Arab, dan berbagai pertunjukkan tradisional bernapaskan Islam dengan mudah merasuki kesenian orang Sunda yang seringkali muncul dalam pentas seni dan pesta-pesta perkawinan.
Keempat, pertumbuhan penulisan naskah-naskah keagamaan dan pemikiran keislaman di pesantren-pesantren telah melahirkan karya-karya sastra dalam bentuk wawacan, serat suluk, dan barzanji yang sebagian naskahnya tersimpan di keraton-keraton Cirebon, museum, dan di kalangan masyarakat Sunda, dan
Kelima, berbagai upacara ritual dan tradisi daur hidup seperti upacara tujuh bulanan, upacara kelahiran, kematian, hingga perkawinan yang semula berasal dari tradisi lama diwarnai budaya Islam dengan pembacaan barzanji, marhabaan, salawat, dan tahlil.

Berdasarkan uraian-uraian diatas, maka dapat dilihat pula proses percampuran budaya yaitu ; orang-orang Cirebon, Jawa, arab, india melayu , banten dan masyarakat sunda sendiri .Begitu pula dengan bahasa tentunya mengalami proses-proses percampuran dan saling mempengaruhi, misalnya saja banyak kata dalam bahasa sunda yang merupakan pengaruh arab ; abdi-abd, adab-adab, pitnah-fitnah ,ihtiar-ikhtiyar ,iklas-ikhlas (dalam buku ‘peperenian bahasa Sunda penulis mencatat ada sekitar 229 kata bahasa sunda yang berasal dari bahasa arab). Kata yang berasal dari bahasa Jawa misalnya; asu, bayu, geni, kirik,owah ,wiji, winarah, wulan, lambe, buri, celeng dll.
Dalam empat tahap yang dikemukakan Edi S Ekadjati ; tahap memperkenalkan Islam, tahap memberikan pelajaran tentang ajaran Islam dan memperkuat eksistensi umat Islam, tahap memperdalam ilmu agama Islam dan menerapkan konsep Islam dalam kehidupan masyarakat, serta menantang penguasa non muslim serta memperbaharui pemikiran dan kehidupan Islam di dalam masyarakat. Kata kunci yang ada adalah memperkenalkan, memberikan pelajaran, memperdalam konsep dan eksistensi, menantang penguasa, memperbaharui pemikiran.
Jika kita mencermati bahasa-bahasa yang saat itu digunakan atau yang pada saat ini digunakan dalam proses-proses tersebut, tidakkah ini menarik untuk dikaji secara keilmuan , apalagi dengan kajian interdisipliner. Dampak penelitiannya pun sangat membantu dalam menentukan langkah kedepan yang lebih terarah dan taktis dalam berdakwah.
Islam menjadi agama mayoritas di masyarakat sunda merupakan hasil usaha, proses panjang dan pengorbanan para leluhurnya, dalam konteks kekinian apa yang telah dilakukan generasi sekarang yang menjadi pengusung sekaligus generasi agama rahmatan lil alamin, langkah-langkah apa saja yang akan dilakukan generasi sekarang untuk melanjutkan proses tersebut.
Mudah-mudahan kita tidak inferior memaknai dan melaksanakannya.

(dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s