Bahasa Sunda Tidak "Komersial" di Mata Generasi Mudanya

Posted: 1 September 2008 in arsip, Tak Berkategori

Bahasa Sunda Tidak “Komersial” di Mata Generasi Mudanya

Bandung, Kompas – Di kalangan generasi muda Sunda — populasi etnis ini berada di wilayah Jawa Barat — bahasa Sunda dianggap tidak “komersial” menghadapi zaman globalisasi dewasa ini. Karena itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat mengalokasikan dana sekitar Rp 150 juta khusus untuk memopulerkan kembali bahasa Sunda. Caranya, antara lain, dengan mengadakan lomba mengarang, berpidato, menulis lirik, dan baca naskah dalam bahasa Sunda.

Demikian ungkap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jabar Ijudin Budhyana kepada wartawan di Bandung, Kamis (31/3).

Dia mengaku tidak muluk-muluk menetapkan target untuk program ini. “Yang penting, orang sadar dulu bahwa berbahasa Sunda itu penting,” ujar Ijudin Budhyana.

Menyadari makin lunturnya penggunaan bahasa Sunda, Disbudpar Jabar mencanangkan program penggunaan bahasa Sunda sejak 21 Februari 2005. Program ini selaras dengan program Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) yang dicanangkan di Paris pada 21 Februari 2005, yang merupakan Hari Bahasa Ibu Internasional.

“Bahasa ibu harus dilestarikan, dikembangkan, dan dimanfaatkan. Menurut penelitian UNESCO, bahasa ibu berfungsi sebagai alat rekam nilai sejarah dan kearifan budaya lokal,” ujar Budhyana.

Budhyana menyatakan, nilai kearifan budaya lokal tampak dari naskah kuno Sunda. Misalnya, dalam lirik tembang Sunda naskah Sangkakala Padjajaran diperlihatkan bahwa orang Sunda hidup dengan alam.

“Mipit kudu amit”

Untuk menunjukkan prinsip ini, demikian Budhyana, orang Sunda memiliki ungkapan mipit kudu amit, ngala kudu seja atau menebang harus mohon maaf, mengambil harus meminta. Ini menunjukkan betapa sopannya orang Sunda dalam menghormati alam.

Sayangnya, dari 140 naskah kuno yang menyimpan nilai-nilai yang dianut orang Sunda, baru 10 persen yang bisa diterjemahkan dalam bahasa Sunda kini maupun bahasa Indonesia.

Angka ini harus dianggap cukup sebab jangankan bahasa Sunda kuno, bahasa Sunda sehari-hari pun sudah mulai jarang digunakan masyarakat Sunda, terutama yang tinggal di kota.

Menurut Budhyana, generasi muda Sunda menilai bahasa Sunda kurang “komersial” di dunia global sekarang.

“Generasi muda sekarang lebih mengutamakan untuk memperdalam bahasa asing yang bisa “dikomersialkan” guna mendukung kariernya, misalnya bahasa Inggris$<" ujar Budhyana.

Melihat keadaan itu, pihaknya mengusulkan melalui Dinas Pendidikan agar bahasa Sunda yang diajarkan di sekolah jangan yang rumit, seperti menyangkut tingkatan bahasa.

“Yang mudah-mudah saja sehingga bisa digunakan dalam percakapan sehari-hari,” ujar Budhyana seraya mengatakan, dari seluruh sekolah yang ada di Jabar, baru 40 persen yang mengajarkan bahasa Sunda.

Tidak populer

Wahyu Wibisana (71), Sekretaris Dewan Pendiri Lembaga Bahasa Jeung Sastra Sunda, mengemukakan, untuk menyatakan “saya”, kata kuring masih digunakan dalam bahasa tulisan, dan simkuring masih dipakai dalam pidato bahasa Sunda. Namun, dalam percakapan sehari-hari dua kata ini sudah jarang digunakan.

Saat ini kalau seseorang ingin menyebutkan “saya” dengan kata abdi terasa terlalu halus dan berjarak dengan lawan bicara, kecuali dengan orang yang lebih tua. Sebaliknya, memakai kata dewek pun terasa kasar dan kurang sopan. Apalagi menggunakan aing.

Menggunakan kata kuring untuk teman sebaya pun sudah tidak populer, apalagi menyebut diri simkuring, rasanya makin kuno saja. Sudah makin tidak populernya kata ganti untuk menyebutkan “saya” bisa menjadi hambatan bagi orang Sunda untuk berbahasa Sunda dengan lawan bicaranya.

Akibatnya, bahasa Sunda semakin jarang dipakai, terutama oleh generasi muda kini di wilayah Jabar. “Kalau sudah menemukan kata sapaan yang nyaman saat bercakap-cakap dengan lawan bicara, komunikasi menjadi lancar,” papar Wahyu Wibisana.

Ahli bahasa lulusan Fakultas Bahasa dan Sastra Sunda Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung ini mencontohkan, ketika seorang pria berbicara dengan orang lebih muda darinya, ia bisa menyebut dirinya sebagai akang atau kakak dan lawan bicaranya ayi atau adik. Percakapan pun menjadi lancar dan nyaman.

Coba dengarkan saja orang Sunda bicara. Apa yang mereka gunakan untuk menyebut sapaan dirinya? Kini, orang Sunda lebih banyak menggunakan kata urang untuk menyebut “saya”. Padahal urang berarti “kita”.

Tingkatan bahasa

Menurut Wahyu, meski kata urang sudah cukup populer sebagai kata ganti orang pertama, tetapi sebagian besar ahli bahasa Sunda belum berani menyetujui urang berarti saya.

“Kalau pendapat saya, terima saja keadaan itu. Daripada ada kesulitan dalam berbahasa. Lagi pula menggunakan kata urang membuat percakapan menjadi akrab,” ungkap Wahyu, yang menjadi salah seorang penyusun akselerasi pembangunan kebudayaan termasuk bahasa Sunda yang akan diajukan kepada Gubernur Jabar.

Jika dibandingkan dengan bahasa Jawa, ujar Wahyu, bahasa Jawa memiliki kata “aku” yang netral dan bisa digunakan dengan lawan bicara yang lebih tua maupun yang lebih muda. Masih populernya kata sapaan orang pertama dalam bahasa Jawa menjadi pendukung bahasa tersebut memungkinkan untuk digunakan oleh anggota komunitasnya.

Wahyu memaparkan, dari segi tingkatan bahasa, tidak hanya bahasa Sunda, bahasa Jawa pun memilikinya. Berbeda dengan bahasa Jawa, bahasa Sunda yang halus usianya masih muda. Bahasa Sunda halus baru muncul sekitar abad ke-18 atau ke-19, dibuat oleh para bupati di tatar Sunda yang menjadi raja-raja kecil yang tunduk pada Kerajaan Mataram Islam.

Karena hubungannya dengan kerajaan di Jawa, para bupati itu pun sering mengamati cara orang Jawa berbahasa, lalu mereka membuat kata-kata baru untuk memperhalus bahasanya. Kata-kata halus di satu kabupaten bisa berbeda dengan kabupaten lainnya.

Selain itu, Wahyu juga mengingatkan bahwa orang Sunda sebagai orang Indonesia merupakan pengguna dua bahasa atau dwibahasawan, yaitu bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dan bahasa daerah sebagai bahasa kedua.

Diakui Wahyu, mulai lunturnya penggunaan bahasa daerah tidak hanya terjadi pada bahasa Sunda, tetapi juga bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia.

Dia menyebutkan, bahasa Sunda memiliki sejarah yang berbeda dengan bahasa lain. “Andaikan Batavia tidak berada di dekat Jabar, misalnya berada di Jawa Tengah, mungkin keadaan bahasa Sunda tidak seperti sekarang,” ujar Wahyu.

Batavia, sekarang Jakarta, sebagai ibu kota negara dan pusat kekuasaan pemerintahan memberi banyak pengaruh terhadap keterbukaan orang Sunda terhadap budaya lain.

Sejak dahulu, mobilitas orang antara Batavia-Bogor-Bandung sudah cukup tinggi. Terbiasa bergaul dengan orang dari budaya lain menyebabkan orang Sunda lebih mudah akrab dan menerima budaya suku lain. Sifat orang Sunda ini terlacak dari motonya, yaitu someah hade kasemah atau ramah pada tamu. (Y09)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s