HUMOR DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR

Posted: 17 Juni 2010 in Tubagus Hidayat

“Bergembiralah karena ide-ide kreatif akan datang dengan sendirinya, keseriusan adalah satu-satunya tempat sembunyi yang dangkal. Ide-ide kreatif saya muncul ketika Suasana dengan teman-teman menyenangkan penuh humor dan dari bermain-main ala bocah” begitulah beberapa kutipan kalimat dalam buku Jack Foster, executive creative director periklan dan pengajar di kuliah-kuliah periklanan di Los Angeles Amerika Serikat, dalam mengajar ia sering menerapkan ‘strategi menyenangkan’ agar siswa-siswanya dapat memunculkan ide-ide kreatif dan hal itu telah terbukti berhasil. Meskipun hal itu dilakukan dalam bidang periklanan selayaknya ide-ide kreatif dan suasana menyenangkan dalam kelas juga bisa tercipta dalam bidang-bidang lain.
Proses belajar mengajar di dalam kelas dapat berhasil dengan suasana menyenangkan, siswa merasa aman dan bebas dari rasa takut. Banyak kasus suasana ini tidak tercipta karena ketidakberhasilan guru dalam mengelola kelas, biasanya guru sering mengambil jalan pintas dalam mengatasi persoalan di kelas, yaitu menggunakan otoritasnya yang besar sebagai guru, sambil mencoba mengklasifikasi siswa mereka dengan hukuman dan penghargaan (punishment and reward) , yang seringkali bersifat penanganan sementara terhadap kasus-kasus yang menimpa siswa dan dalam menciptakan suasana belajar. Jika ada satu atau siswa melakukan kesalahan, seorang guru biasanya lebih banyak “menghakimi” siswanya dengan menulis nama siswa tersebut di papan tulis, menegurnya di depan teman-teman sekelasnya, bahkan dalam beberapa kasus ditemukan guru tidak segan untuk memaki dan memarahi seorang siswa di depan teman-temannya. Sebaliknya, banyak juga guru, atas dasar karena suka dengan siswa tertentu entah karena prestasi, orangtuanya,atau hal lain, banyak kasus seorang guru juga kerap memberikan pujian di depan kelas secara sepihak, tanpa menyadari perasaan tertekan siswa lainnya yang tidak dipuji atau dihargai. Blocking mental development para siswa dengan sendirinya menjadi terklasifikasi antara siswa pandai dan bodoh, kaya-miskin, dan bentuk labelling lainnya. Guru merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan berhasilnya proses belajar mengajar di dalam kelas. Oleh karena itu guru dituntut untuk meningkatkan peran dan kompetensinya, guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang optimal. Adam dan Decey (dalam Usman, 2003) mengemukakan peranan guru dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut: (a) guru sebagai demonstrator, (b) guru sebagai pengelola kelas, (c) guru sebagai mediator dan fasilitator dan (d) guru sebagai evaluator. Sebagai tenaga profesional, seorang guru dituntut mampu mengelola kelas yaitu menciptakan dan mempertahankan kondisi belajar yang optimal bagi tercapainya tujuan pengajaran. “Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar yang efektif”. Pengelolaan dipandang sebagai salah satu aspek penyelenggaraan sistem pembelajaran yang mendasar, di antara sekian macam tugas guru di dalam kelas.
Banyak hal yang bisa dilakukan Guru untuk menciptakan suasana kelas yang efektif dan menyenangkan. Variasi strategi pembelajaran sesuai dengan materi yang disampaikan menjadi hal penting agar tujuan pembelajaran dapat dicapai sesuai dengan yang diinginkan, menerapkan strategi pembelajaran yang tepat untuk materi yang disampaikan akan membuat siswa antusias untuk mempelajari apa yang disampaikan oleh guru.
Salah satu cara untuk menciptakan suasana menyenangkan di dalam proses belajar adalah dengan menciptakan Humor. Dalam KBBI 2008 Humor berarti; 1 kemampuan merasai sesuatu yangg lucu atau yang menyenangkan; 2 keadaan (dl cerita dsb) yg menggelikan hati; kejenakaan; kelucuan dari pengertian tersebut Humor menjadi hal yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari, Acara-acara televisi dengan tema humor memiliki rating yang tinggi, ini membuktikan humor merupakan hal yang paling banyak digemari. Keberadaan humor dapat mencairkan situasi yang kaku, memecahkan kebosanan, menciptakan keakraban , menciptakan suasana lebih kondusif sekaligus hal yang dapat melegakan jiwa. Humor yang beredar di masyarakat memiliki beragam bentuk dan fungsi. Dari bentuknya, ada humor yang berbentuk lisan, tulis, bahkan gambar yang biasa disebut karikatur. Humor yang berbentuk tulisan biasanya disampaikan dalam bentuk cerita humor dan teka-teki. Danandjaja (2004) mendefinisikan humor sebagai sesuatu yang bersifat dapat menimbulkan atau menyebabkan pendengarnya (maupun pembawanya)merasa tergelitik perasaannya, merasa lucu, sehingga memiliki dorongan untuk tertawa. Hal ini disebabkan oleh sifatnya yang menggelitik perasaan, ‘mengejutkan’, ‘aneh’, ‘tidak masuk akal’, ‘bodoh’, ‘mengecoh’, ‘janggal’, ‘kontradiktif’, ‘nakal’, dan sebagainya. Sesuatu yang sifatnya lucu ini dapat berupa dongeng yang lucu (lelucon), teka-teki yang jawabannya lucu, puisi rakyat, dan nyanyian rakyat yang lucu. Sejumlah ensiklopedia, kamus, dan tesaurus pada umumnya menyajikan penjelasan tentang istilah yang berkaitan dengan humor, yaitu comedian, comic,funnyman, jester, joker, jokester, quipster, wag, wit, zany, focetious, jocose. Sumber-sumber tersebut pada umumnya menyatakan bahwa humor itu berupa sesuatu yang lucu dan menggelikan yang dapat membuat orang tersenyum, tertawa, meringis, bahkan menangis. Namun, humor tidaklah satu-satunya penyebab tersenyum, tertawa, meringis, atau menangis. Tersenyum, tertawa, meringis, dan menangis dapat juga terjadi karena stimulus emosional, fisik, kimiawi, dan psikologis.
Menciptakan suasana kelas yang menyenangkan dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya dengan tegur sapa yang akrab ketika memulai pelajaran atau dengan teknik lainnya. humor di dalam kelas yang di sampaikan guru dapat menjadi hal yang efektif untuk menciptakan suasana menyenangkan dalam belajar. Setidaknya gurupun harus mengetahui bagaimana humor biasanya diciptakan. Berikut penciptaan humor yang ada, menurut Monrro mengklasifikasi adanya sepuluh hal yang menjadi landasan penciptaan humor Suganda [2005: 8] . Sepuluh hal tersebut antara lain,
(1) pelanggaran terhadap sesuatu yang biasa, seperti tamu mempersilakan duduk tuan rumah;
(2) pelanggaran terlarang atas sesuatu atau peristiwa yang biasa, seperti tuturan mesra suami terhadap istrinya yang menyimpang;
(3) ketidaksenonohan, seperti anak kecil yang memarahi orang tua;
(4) kemustahilan, seperti narasi tentang enam ekor gajah yang menaiki
sebuah mobil VW;
(5) permainan kata, seperti kepanjangan Djarum Super (jarang di rumah suka
pergi);
(6) bualan, seperti narasi tentang seorang anak kecil yang berani mengarungi
samudra;
(7) kemalangan, seperti narasi tentang tokoh yang dengan cara pembagian
apa saja ia tidak pernah mendapat bagian;
(8) pengetahuan-pemikiran-keahlian, seperti pelawak yang berbicara dengan
logat bahasa penontonnya;
(9) penghinaan terselubung, seperti cemoohan tidak langsung terhadap tokoh
yang kurus; dan
(10) pemasukan sesuatu ke dalam situasi lain, seperti tuturan penumpang pesawat terbang yang takut terserempet bus kota.
Sepuluh kategori tersebut juga masih memungkinkan terjadinya tumpang tindih sebagaimana yang terjadi dengan klasifikasi jenis humor berdasarkan topik. Dengan demikian, pada praktiknya, ternyata penyebab kelucuan itu tidaklah selalu tunggal, melainkan merupakan gabungan dan didukung oleh ekspresi wajah atau gestur pelakunya. Dalam hal ini sangat tergantung dari orang yang berperan sebagai pencerita atau pelaku humor.
Dalam hal ini, Humor tidak lebih dari salah satu alat untuk menciptakan suasana menyenangkan di dalam kelas, humor seks agaknya hal yang kurang layak atau hal yang harus dipertimbangkan dengan memperhatikan isi humor dan usia anak didik. Dalam tataran teknis humor yang berlebihan juga berakibat Guru seperti badut yang hanya pandai melawak, proses belajar menjadi semacam pertunjukan lawak, tidak berisi dan tanpa makna. Keterampilan Guru dalam hal membuka pelajaran, memusatkan perhatian (focusing) ,penguatan verbal dan non verbal, reinforcement, bertanya serta menutup pelajaran bisa saja diselingi dengan humor. Singkatnya Humor dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM) pada dasarnya hanya sebagai pemecah kekakuan, mangatasi kejenuhan, menciptakan motivasi , menciptakan suasana aman dan keakraban . Humor yang bermutu tidak sekadar mengajak untuk berhenti hanya pada hal yang lucu dan efek tertawanya., sesudah terbahak-bahak yang menyenangkan dan melegakan, nalar kita berkembang menuju pemahaman lebih dalam lagi. Humor yang bagus adalah yang mampu membuat orang terpancing untuk tertawa atas materi dan tidak selesai sampai di situ.
Humor yang baik memiliki pemaknaan mendalam menyangkut filosofi hidup dan keberagamaan. Humor hanya merupakan sebuah alat, sehingga peranan dan nilainya tergantung pada situasi, tujuan, dan pemanfaatan oleh pemakainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s