BEKISAR MERAH DAN BELANTIK : PEMAKNAAN BERDASARKAN TEORI STRUKTURALISME LÉVI STRAUSS DAN HERMENEUTIKA GEERTZ

Posted: 13 Juli 2010 in arsip, Tak Berkategori

BEKISAR MERAH DAN BELANTIK : PEMAKNAAN BERDASARKAN TEORI STRUKTURALISME LÉVI STRAUSS DAN HERMENEUTIKA GEERTZ
Oleh Teguh Prakoso
ABSTRACT
The research aims to apply Lévi-Strauss‘s structuralism and Geertz’s hermeneutic theories into the novels Bekisar Merah and Belantik. These novels are chosen as the object of analysis considering that the events narrated in the novels are assumed to have a relatively fixed structure pattern as well as narrative forms which transform like the ideas in the Levi-Strauss’s structuralism theory. In addition, the theory has been widely used in the field of Anthropology to reveal myths or legends in oral forms. The narrative structure identified by applying Lévi-Strauss’s theory is then interpreted using Geertz’s hermeneutic.
The novel presents a very complicated conflict. The analysis results reveal that the narrative structure of Bekisar Merah follows fixed relation and patterns. The stories of Lasi’s life, both when she is Darsa’s wife and when she is Handarbeni’s wife, show interrelated narrative patterns in such a way that they appear as a number of variations going around the central theme, i.e., the marriage life of the ‘Bekisar Merah’. Lasi is the central point of the narration whose relations and oppositions have a transforming pattern. The collection of relation and opposition exists in the framework of function to present the meaning of Lasi’s downfall in the urban community of Jakarta, which is alien to her, as predictable. Lasi herself, despite her prosperous life and her return to village, is dwelling in the middle between city and village lives. It means that due to her interaction with urban community as her lifestyle and life experience, she is no longer a naïve villager. However, as city life continues to pose “strange” relations (like her marriage with Handarbeni), she remains unable to enter the metropolitan life. Such a pattern also describes the principle of harmonization, in that something departs from one point and returns to the same point later at the end.
In other words, the plot of the story in the novel develops within a certain fixed frame. The village with its positive values in terms of human interaction is opposed to the city. In search for the deep structure, such human interaction as in village community is considered better and, thus, deserves to be the model. It also feeds our thought that affluent glamour and facilities Handarbeni provided for Lasi cannot bring peace to Lasi’s mind.
Keywords: structure pattern, opposition, relations, and harmony

1. Latar Belakang
Sebagaimana karya-karya Ahmad Tohari lainnya, Bekisar Merah (selanjutnya disebut BM) dan Belantik (selanjutnya disebut Blt) merupakan dua novel yang menceritakan permasalahan kehidupan yang dialami para tokoh yang tergolong wong cilik (orang kecil), yang sebagian besar hidup di pedesaan dengan gambaran lukisan pedesaan yang sangat kuat. Mereka jujur, lugu, dan hidup dalam kemiskinan. Permasalahan yang dihadapi mereka pun sangat kompleks, seperti juga yang dialami Lasi, tokoh yang yang paling banyak diceritakan dalam kedua novel ini. Jika dibandingkan dengan cerpen atau novel karya Ahmad Tohari yang lain, BM dan Blt memiliki karakteristik tersendiri karena peristiwa yang diceritakan memiliki pola yang relatif tetap, ada keterulangan-keterulangan, semacam pola-pola relasi yang ada pada gejala-gejala yang terpisah dalam ruang dan waktu, misalnya ketika Lasi selalu tidak berdaya dengan tuntutan balas budi yang harus dipenuhinya, baik kepada Bu Lanting, Handarbeni, maupun Bambung. Karakteristik semacam inilah yang membuat peneliti tertarik untuk menganalisis BM dan Blt secara struktural dengan mendasarkan pada teori strukturalisme Lévi-Strauss yang menurut peneliti juga memiliki cara kerja dengan merenik relasi-relasi logis, oposisi, korelasi, dan sebagainya.
Dalam mendeskrepsikan keberadaan mitos, Lévi-Strauss mengemukakan bahwa mitos itu berada dalam dua waktu sekaligus, reversible time dan non-reversible time. Pandangan ini didasarkannya pada kenyataan bahwa selain selalu menunjuk ke peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau, mitos juga memiliki pola yang khas, yang bersifat timeless, yang membuat mitos menjadi operasional dengan konteks sekarang. Pola khas ini mampu menjelaskan apa yang terjadi dalam masa lampau, masa kini, maupun masa yang akan datang (Ahimsa Putra, 2001:81).
Sudut pandang peneliti yang menganggap dwilogi BM dapat disebut sebagai mitos kaitannya dengan pendapat Lévi-Strauss seperti tersebut dalam paragraf di atas didukung oleh penelitian Fuad (1995: vii-viii) yang menjelaskan bahwa kepengarangan Ahmad Tohari pada dasarnya kesantrian atau penghayatan nilai-nilai budaya dan adab keluarga santri tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Selain itu, berdasarkan peristiwa yang menimpa kehidupan rumah tangga Lasi, misalnya, peneliti dapat menemukan beberapa persamaan dan perbedaan yang membentuk pola tertentu yang membentuk struktur novel dwilogi BM, khususnya dalam struktur cerita dan relasi-relasi yang ada. Pola-pola tersebut menciptakan oposisi-oposisi berpasangan sebagaimana yang menjadi dasar teori strukturalisme Lévi-Strauss. Oposisi-oposisi tersebut kemudian dapat menunjukkan fakta empiris yang dapat menjelaskan mengapa segala permasalahan yang dihadapi Lasi, mulai ia kanak-kanak hingga berumah tangga, diselesaikannya dengan cara yang relatif sama.

2. Permasalahan
Atas dasar beberapa pemikiran yang telah peneliti paparkan tersebut, muncul gagasan lebih lanjut untuk menganalisis pola-pola yang ada, relasi-relasi yang terjalin, dan struktur-struktur yang saling beroposisi dari rentetan peristiwa yang diceritakan dalam BM dan Blt. Beberapa permasalahan yang harus dijawab melalui penelitian ini adalah: (1) deskripsi episode-episode yang terdapat dalam novel BM dan Blt; (2) deskripsi tentang unit-unit yang merupakan hasil penafsiran dari episode-episode kehidupan yang meliputi keseluruhan peristiwa yang dikisahkan dalam novel BM dan Blt yang terdiri atas relasi sintagmatis dan relasi paradigmatis; (3) deskripsi struktur cerita, skemata yang terbentuk, dan interpretasi novel BM dan Blt.

3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini mempunyai dua tujuan, yakni tujuan teoretis dan tujuan praktis. Secara teoretis, penelitian ini bertujuan menerapkan teori strukturalisme Lévi-Strauss sebagai dasar untuk menganalisis novel dwilogi BM. Secara praktis, penelitian ini membantu memberikan gambaran kepada pembaca bahwa strukturalisme yang dikembangkan oleh Lévi-Strauss, yang selama ini banyak digunakan untuk dasar analisis karya-karya sastra yang “melegenda”, dapat pula diterapkan dalam karya sastra “modern”. Dengan bekal ini, pembaca pun dapat melakukan penelitian lanjutan dengan dasar teori seperti yang terdapat dalam penelitian ini.

4. Tinjauan Pustaka
Selama ini, penelitian-penelitian yang menggunakan teori strukturalisme Lévi-Strauss sebagai dasar analisisnya telah banyak dilakukan. Namun, sebagian besar karya sastra yang digunakan sebagai objek kajiannya hanya terbatas pada karya yang kuat nilai mitosnya atau memiliki nilai yang “melegenda”, seperti yang dilakukan Ahimsa Putra yang mengkaji karya-karya Umar Kayam (2001). Selain Ahimsa Putra, beberapa peneliti yang menggunakan strukturalisme Lévi-Strauss sebagai dasar analisisnya adalah Imam Budi Utomo (2005), Nurhasanah Leni (2004), Nining Nur Alaini (2003), Udasmar (1999), dan Rodhiyah (2002), serta Xiao Lixian (2004). Sementara itu, penelitian yang menggunakan objek kajian novel BM juga sudah banyak dilakukan oleh Purwantini (1996), Teguh Supriyanto (1997), Sri Nani Hari Yanti (1996), dan Muhammad Nurrahmat Wirjosutedjo (2003). Namun, penelitian yang menggunakan dasar analisis novel BM dan Blt dengan teori strukturalisme Lévi-Strauss dan hermenutika Geertz belum dilakukan. Atas dasar inilah, peneliti melakukan penelitian yang lebih melengkapi penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya guna mencari struktur yang tersembunyi sekaligus interpretasi yang terdapat dalam novel dwilogi BM.

5. Landasan Teori
Lévi-Strauss (1963: 307) menjelaskan bahwa struktur sebagai sebuah sistem terdiri atas sejumlah unsur yang tidak satu pun dapat mengalami perubahan tanpa menghasilkan perubahan dalam semua unsur yang lain. Dengan demikian, yang terpenting dalam strukturalisme bukan eksistensi unsur-unsur, melainkan keterjalinan unsur satu dengan unsur yang lain dalam membentuk makna.
Dalam pada itu, membicarakan teori strukturalisme Levi-Strauss tentu juga akan mengupas mitos sebagai dasar kajian teorinya. Mitos tersusun dari satuan-satuan yang disebut mytheme (mythemes) atau gross constituent unit. Setiap mytheme akan terdiri dari satu relasi yang bukan merupakan relasi terisolasi, melainkan satu bundel relasi. Satu bundel relasi adalah relasi-relasi dalam satu kolom yang akan menghasilkan makna jika menetapkan satu bundel relasi dan mengombinasikannya. Dengan kata lain, bila substansi mitos adalah cerita, satuan-satuan yang membentuknya adalah bukan sebagaimana yang terdapat dalam bahasa. Satuan-satuan mitos tersebut tidak dapat ditemukan dalam fonem, morfem, ataupun semem, melainkan pada tataran yang lebih tinggi lagi sehingga untuk mengidentifikasinya dan mengisolasi mytheme yang ada sebaiknya dicari dalam tataran kalimat (Lévi-Strauss, 1963: 206-207).
Secara lebih lanjut dapat dijelaskan bahwa ada dua pemikiran yang mendasari pandangan Strukturalisme Lévi-Strauss tersebut: (1) makna sebuah teks bergantung pada makna dari bagian-bagiannya sehingga jika makna suatu bagian berubah, maka sedikit banyak makna keseluruhan teks tersebut akan berubah pula; (2) makna dari setiap bagian atau peristiwa dalam sebuah teks ditentukan oleh peristiwa-peristiwa yang mungkin dapat menggantikannya tanpa keseluruhan teks menjadi tidak bermakna atau tidak masuk akal. Dalam konteks ini, terlihat bahwa makna dari sebuah peristiwa baru akan muncul setelah peristiwa dengan latar belakang yang ada tersebut dihubungkan dan dibandingkan, yang terdiri atas berbagai macam alternatif peristiwa yang dapat menggantikan peristiwa tersebut dalam keseluruhan konteks (Pettit, 1977: 43).
Dalam strukturalisme Lévi-Strauss, struktur dan transformasi merupakan konsep yang tidak boleh diabaikan. Analisis struktural tentang struktur ini dibedakan menjadi dua, yakni struktur lahir, struktur luar (surface structure) dan struktur batin, struktur dalam (deep structure). Struktur luar adalah relasi-relasi antarunsur yang dapat kita buat berdasarkan atas ciri-ciri luar atau ciri-ciri empiris dari relasi-relasi tersebut, sedangkan struktur dalam adalah susunan tertentu yang dibangun berdasarkan atas struktur lahir yang telah dibuat, tetapi tidak selalu tampak pada sisi empiris dari fenomena yang dipelajari. Struktur dalam inilah yang lebih tepat disebut sebagai model untuk memahami fenomena yang diteliti, karena melalui struktur ini peneliti dapat memahami berbagai fenomena budaya yang dipelajarinya (Ahimsa Putra, 2001:61-62).
Paradigma struktural yang dikembangkan Lévi-Strauss memiliki beberapa asumsi dasar yang harus dipahami. Menurut Lane (1967:14-16), dan juga Leach (1982:54-57), ada empat asumsi dasar yang penting untuk diperhatikan, (1) dalam strukturalisme ada anggapan bahwa berbagai aktivitas sosial dan hasilnya, seperti dongeng, upacara-upacara, sistem-sistem kekerabatan dan perkawinan, pola tempat tinggal, pakaian, dan sebagainya, secara formal dapat dikatakan sebagai bahasa-bahasa, atau lebih tepatnya merupakan perangkat tanda dan simbol yang menyampaikan pesan-pesan tertentu; (2) para penganut strukturalisme beranggapan bahwa dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar yang diwariskan secara genetis sehingga kemampuan ini dimiliki oleh setiap manusia yang ‘normal’, yaitu kemampuan untuk menstruktur atau ‘menempelkan’ suatu struktur tertentu pada gejala-gejala yang dihadapinya; (3) suatu istilah ditentukan maknanya berdasarkan relasi-relasinya pada suatu titik waktu tertentu, yaitu secara sinkronis, dengan istilah-istilah yang lain; (4) relasi-relasi yang berada pada struktur dalam dapat diperas atau disederhanakan lagi menjadi oposisi berpasangan, oposisi biner yang paling tidak memiliki dua pengertian, yakni oposisi biner yang bersifat eksklusif, seperti pada kategori: menikah-tidak menikah; dan oposisi biner yang tidak eksklusif, yang dapat ditemukan dalam berbagai macam kebudayaan, seperti: air-api, gagak-elang, dan siang-malam.
Menurut Riffatere (Teeuw, 1984:79-80 dan Eagleton, 1988:124), apa yang dilakukan Lévi-Strauss (juga Jakobson) hanya memperhatikan aspek lingusitik dalam artian yang terbatas saja, dengan mengabaikan aspek-aspek yang lain. Padahal, dalam memahami sebuah karya sastra, peranan pembaca dan penulis tidak boleh diabaikan. Beberapa pengkritik yang lain pun kemudian juga mengomentari dengan cukup keras bahwa aspek referensial oleh Jakobson juga dianggap sangat enteng. Akibatnya, terdapat penghilangan relevansi sosial karya sastra dan karya sastra menjadi sesuatu yang tergantung di awang-awang.
Agar pola struktur yang relatif tetap memiliki pemaknaan yang lebih kompleks, peneliti memadukannya dengan teori hermeneutik yang dikembangkan Cilfford Geertz (2000). Teori ini bekerja dengan menafsirkan suatu fenomena budaya atas segala tafsir yang dimungkinkan seperti yang dilakukan para ahli antropologi atas mitos, ritual, dan berbagai fenomena budaya lainnya. Karena tingginya unsur subjektivitas si penafsir, yakni segala macam tafsir dimungkinkan, maka teori ini tepat dipadukan dengan strukturalisme Lévi-Strauss yang bekerja dengan membentuk pola struktur tertentu. Artinya, kelemahan penafsiran yang dipandang subjektif bekerja dengan mendasarkan pada struktur yang telah terbentuk.

6. Metode Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan metode struktural. Beberapa langkah yang dilakukan untuk mengungkap makna novel dwilogi BM ini dapat dilakukan dengan (1) memverifikasi data-data yang ada dengan cara membuat asumsi-asumsi teoretis dalam menentukan dan menyusun episode-episode yang ada; (2) menjabarkan dan menafsirkan episode-episode yang telah ditemukan ke dalam unit-unit dan menyusunnya secara unilinear dengan mencantumkan urutan yang ada sehingga akan tersusun relasi secara sintagmatis-paradigmatis dan sinkronis-diakronis; (3) menganalisis unit-unit yang ada untuk menemukan struktur cerita, relasi-relasi yang ada, dan skema-skema tertentu, termasuk oposisi-oposisi dan interpretasi yang terdapat dalam novel dwilogi BM.

7. Pemaknaan Bekisar Merah dan Belantik dengan Teori Strukturalisme Lévi-Strauss
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rangkaian cerita berupa episode dan satuan-satuan cerita yang terdapat dalam novel dwilogi BM, yang kemudian dikelompokkan menjadi bundel relasi, menunjukkan beberapa hal berkaitan dengan struktur cerita novel tersebut. Peneliti dapat menunjukkan bahwa episode 1-32 menggambarkan peristiwa yang berkaitan dengan tokoh Lasi dengan melibatkan beberapa tokoh lain, tetapi dalam satu kerangka cerita yang sama, yakni berisi liku-liku perjalanan hidup ‘si Bekisar Merah’. Oleh karena itu, dalam bagian pembahasan peneliti akan memaparkan hasil analisis tentang (1) struktur cerita; (2) skemata yang terbentuk; dan (3) interpretasi.

7.1 Struktur Cerita
Struktur cerita yang dimaksud dalam penelitian ini adalah struktur cerita yang di dalamnya memiliki keterjalinan antarepisode, transformasi-transformasi, dan juga terdapat oposisi-oposisi biner, yang sekali lagi, muncul dalam kerangka fungsi untuk memunculkan makna tertentu, yakni deep structure atau struktur dalam. Karena karya sastra yang peneliti analisis adalah novel, maka ketiga pola struktur yang terbentuk tersebut sejalan dengan pendapat Wellek dan Warren (1989:23) tentang tiga unsur pembentuk novel yang terdiri atas penokohan, latar, dan alur.

7.1.1 Pola Struktur Penokohan
Berkaitan dengan pola struktur tokoh, terlihat bahwa Lasi mendominasi hampir seluruh episode novel dwilogi BM. Dominasi Lasi ini kemudian didampingi dengan hadirnya Darsa, Kanjat, Handarbeni, dan Bambung sebagai sederet tokoh yang memiliki kaitan amat dekat dengan Lasi dan juga Eyang Mus.

7.1.1.1 Pola Struktur Tokoh Lasi
Kegemaran Lasi melihat kepiting-kepiting batu dengan capit besar pada saat ia kecil ternyata amat mewarnai perilaku dalam kehidupannya. Bahkan, dalam setiap kali hatinya bergejolak karena tertekan permasalahan yang menyangkut harga dirinya, ia senantiasa teringat kepiting capit besar. Ketika Lasi menjadi bahan gunjingan orang Karangsoga atau merasa disepelekan Handarbeni, ia memilih keputusan yang sedikit banyak dipengaruhi kegemaran masa kecilnya.
Uraian-uraian tersebut memperlihatkan berbagai persamaan dan perbedaan yang menguatkan tafsir peneliti bahwa perilaku Lasi ketika menghadapi permasalahan berat dalam rumah tangganya memilih menyelesaikannya dengan caranya sendiri, seperti “lari” setiap menghadapi masalah keluarganya, bukanlah kebetulan semata, karena memiliki pola yang relatif tetap. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan Ahimsa Putra (2001:69-70) bahwa dalam menjelaskan suatu gejala, penganut strukturalisme Lévi-Strauss tidak mengacu pada sebab-sebab (relasi diakronis), melainkan mengacu pada hukum-hukum transformasi yang tidak diartikan sebagai perubahan yang berkonotasi historis dan diakronis, tetapi sebagai alih-rupa.
Jika rangkaian struktur kehidupan masa kecil Lasi yang kemudian mengalami transformasi pada saat dewasa, peneliti dapat menampilkan polai strukturnya seperti tampak dalam bagan berikut ini.
Bagan 1. Pola Struktur Lasi Kecil dan Lasi Dewasa

Selain kebiasaan melihat kepiting batu, karakteristik lain dari Lasi yang bertranfsormasi dalam masa tertentu adalah ketika ia selalu tidak berdaya dalam menerima hadiah-hadiah yang mengikatnya menjadi balas budi. Lasi sadar bahwa tidak ada pemberian yang tanpa meminta balas, tetapi ia kemudian terjerat dan terus terjerat, seperti terlihat dalam bagan berikut.
Bagan 2. Pola Struktur Relasi Keterjeratan Lasi

Perjodohan Lasi dengan Handarbeni oleh Bu Koneng tersebut berbeda sikap Mbok Wiryaji yang menjodohkan Lasi dengan Darsa, atau Eyang Mus yang mengawinkan Lasi dengan Kanjat. Oleh karena itu, peneliti dapat menemukan sebuah oposisi yang bertentangan dari keempat orang yang ‘berjasa’ dalam mengantarkan pernikahan Lasi, yang jika digambarkan dalam bentuk bagan akan tampak pola struktur seperti berikut.
Bagan 3. Pola Struktur Relasi Latar Belakang Pernikahan Lasi

7.1.1.2 Pola Struktur Tokoh Darsa, Kanjat, Handarbeni, dan Bambung
Darsa adalah figur suami pekerja keras yang sangat memperhatikan kebutuhan rumah tangganya. Ketika hari hujan pun, yang sebenarnya beresiko bagi seorang penyadap, Darsa berusaha untuk memaksimalkan pekerjaannya, yang akhirnya mengantarkan musibah jatuhnya keponakan Wiryaji tersebut. Terhadap Lasi, istrinya yang digambarkan sangat cantik, Darsa tidak lupa untuk selalu mensyukuri nikmat yang diberikan kepadanya ini. Karakteristik Darsa ini memiliki korelasi yang kurang lebih sama dengan pemuda Kanjat. Masa kecil Kanjat adalah masa kecil anak desa yang tidak suka menyakiti teman-temannya. Ketika Lasi diperolok-olok dengan sebutan ‘lasipang’ dan anak jadah, Kanjat sama sekali tidak ikut-ikutan.
Kalaupun ditelusuri lebih lanjut, kelemahan yang ada pada Darsa tentu akan cepat dicari jawabannya jika dibandingkan dengan Kanjat. Darsa mudah tergoda sehingga kesetiaan istrinya dilupakan begitu saja. Kesetiaan dan kesabaran yang dilakukan Lasi justru dibalas Darsa dengan menghamili Sipah, anak dukun bayi yang telah mengembalikan kelelakiannya. Sementara itu, Kanjat memiliki sikap yang sangat “hati-hati” dalam menyalurkan hasratnya kepada Lasi. Namun, kehati-hatian Kanjat ini boleh dikatakan sebagai sikap yang kurang percaya diri. Dengan demikian, karakteristik Darsa dan Kanjat dapat dipaparkan bahwa mereka memiliki persamaan yang sangat jelas, yakni sama-sama berasal dari lingkungn wong cilik, lingkungan pedesaan. Karakteristik keduanya dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 1. Persamaan dan Perbedaan Karakteristik Kanjat dengan Darsa

Dilihat dari latar belakang asal-usulnya Dilihat dari status sosial dan pendidikannya

Kanjat = Darsa
Kanjat >< Darsa

Karakter yang juga memiliki pola struktur yang relatif memiliki banyak kesamaan terdapat dalam diri Handarbeni dan Bambung. Dua ‘bandot tua’ ini memiliki latar belakang ekonomi yang amat berlimpah. Keduanya juga seorang yang sangat menjunjung tinggi budaya Jawa, walaupun perilakunya tidak sesuai dengan apa yang semestinya menjadi pegangan hidup priyayi Jawa. Handarbeni yang dibesarkan dalam keluarga siten wedana, misalnya, sangat menguasai pitutur kejawen, tetapi hal tersebut hanya sebagai jimat saja, lain tidak. Meskipun beberapa elemen menyatukan pola struktur Handarbeni dan Bambung, terdapat perbedaan yang mencolok di antara kedua ‘veteran’ ini, seperti terlihat dalam bagan berikut.
Bagan 4. Pola Struktur Pernikahan Darsa, Handarbeni, dan Kanjat,
dengan Lasi

Dalam bagan tersebut terlihat bahwa Bambung terbukti tidak mampu memanfaatkan “kembambungannya” dalam menjerat Lasi. Bambung hanyalah ‘penyelia’ yang mengantarkan kehidupan Lasi hingga akhirnya menjadi istri Kanjat. Apa yang dilakukan oleh Bambung adalah semata-mata pendeskripsian bahwa karena kuasa dan harta, orang menjadi lupa tentang jati dirinya yang sebenarnya sangat kecil di mata Tuhan. Sementara itu, Darsa dan Handarbeni, meskipun berhasil menjadi suami Lasi, mereka menyakiti Lasi. Hal ini berbeda dengan Kanjat. Jika dipaparkan dalam bentuk bagan, pola struktur relasi Darsa, Handarbeni, Kanjat, dan Bambung, terhadap Lasi adalah sebagai berikut.
Bagan 5. Pola Struktur Relasi Darsa, Handarbeni, Kanjat, dan Bambung, terhadap Lasi

Berdasarkan pendeskripsian yang telah peneliti kemukakan, pola struktur yang peneliti temukan dalam struktur kehidupan Darsa, Kanjat, Handarbeni, dan Bambung memberikan sebuah aposisi yang saling bertentangan. Aposisi-aposisi tersebut mulai menemukan struktur makna yang menguat bahwa peristiwa-peristiwa tersebut merupakan struktur tersembunyi yang keberadaannya kini telah tampak. Hal ini terjadi karena pada tataran ‘bingkai simbolis’, Darsa, Kanjat, Handarbeni, dan Bambung, telah mengubah peristiwa yang ada dalam dwi tunggal novel BM menjadi elemen-elemen yang merupakan simbol-simbol, yang kemudian dirangkai mengikuti garis-garis yang berada pada tataran nirsadar. Jika ceriteme-ceriteme yang ada dalam episode ini dirunut lebih dalam lagi, akan terbentuk sebuah ‘frame’ segitiga tegak seperti tergambar dalam skema berikut ini.

Bagan 6. Struktur Segitiga Tegak Posisi Darsa, Kanjat, Handarbeni, dan Bambung, terhadap Lasi

7.1.1.3 Pola Struktur Tokoh Eyang Mus
Posisi Eyang Mus yang senantiasa ditempatkan dalam posisi ‘penyelamat’ bagi Darsa, Kanjat, maupun Lasi semakin memperkuat pendapat peneliti bahwa tokoh ini merupakan pembuka jalan dalam setiap persoalan. Kebiasaannya memainkan gambang (tradisi Jawa) seraya berdekat-dekat dengan sang Kuasa, sementara ia sendiri juga memiliki bekal keyakinan Islam yang kuat, menjadikan Eyang Mus berada dalam pertemuan dua dunia, yakni dalam pertemuan ‘pikiran’ dan ‘perasaan’ antara keselarasan antara sesama manusia dan keselarasan antara manusia dengan sang Pencipta. Dalam bagan berikut, terlihat bahwa Eyang Mus berada di kawasan liminal, kawasan perpaduan, kawasan yang antistruktur. Ibarat kaki, Eyang Mus harus berdiri di dua tempat sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
Bagan 7. Pola Struktur Karakter Eyang Mus

7.1.2 Pola Struktur Latar
Berkaitan dengan sikap hidup sebagian masyarakat Karangsoga, mereka sebenarnya memiliki sikap positif dalam hal gotong royong dan rasa kebersamaan. Namun, sikap positif tersebut beroposisi dengan kebiasaan mereka yang ternyata mudah memberikan penghakiman terhadap masalah yang sedang menimpa orang lain. Mereka juga senang menggunjing dan Lasi adalah ‘korban’karena sejak kecil ia sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan.
Jika dibandingkan dengan Jakarta, tempat di mana Lasi menjalani kehidupan rumah tangga dengan Handarbeni, realitas sosial masyarakat Karangsoga yang memiliki oposisi tersebut tetap lebih baik karena kedua oposisi yang ada disatukan dalam etika tertentu, yaitu etika yang secara umum mendasarkan pada norma-norma kehidupan yang baik. Dalam memandang peran sebuah keluarga, masyarakat Karangsoga meyakini bahwa seorang istri harus mampu mengabdikan diri kepada suaminya dan mau menerima segala kelebihan dan kekurangan sang suami. Jika digambarkan, pola relasi struktur latar memiliki oposisi biner seperti terdapat dalam bagan berikut.
Bagan 8. Oposisi Biner Pola Struktur Latar

7.1.3 Pola Struktur Alur
Dalam perspektif strukturalisme Lévi-Strauss, alur campuran novel dwilogi BM di dalamnya memiliki beberapa tataran, seperti seperti (1) kehidupan rumah tangga karena mengisahkan Lasi sebagai gambaran yang perjalanan rumah tangga yang mengalami banyak dinamika, seperti prinsip hidup, tingkat kesejahteraan, dan perubahan sosial-ekonomi dari miskin menjadi kaya; (2) situasi sosial-geografis karena terdapat pula penyebutan nama, yang dimulai dari corak kehidupan masyarakat Karangsoga, kemudian ciri sosial masyarakat Jakarta yang beroposisi dengan Karangsoga; (3) organisasi-organisasi sosial karena menyangkut pernikahan Lasi, perceraian Lasi, dan pola kekuasaan seperti yang dialami Lasi, Kanjat, Handarbeni, dan Bambung; serta (4) sikap spiritual yang menyangkut sikap dan perilaku yang ditunjukkan Eyang Mus yang menjunjung tinggi nilai agama dan keselarasan hidup sehingga menjadikan dirinya berbeda ketika berada di tengah-tengah komunitas yang menempatkannya sebagai sumber inspirasi atau rujukan berbagai masalah yang dihadapi masyarakat Karangsoga. Tataran-tataran tersebut menunjukkan bahwa alur yang ada telah menggerakkan pola struktur cerita yang memunculkan kesejajaran-kesejajaran melalui sikap dan perilaku tokoh yang ada, seperti yang dalam diri Lasi.

7.2 Skemata yang Terbentuk
Ketika menganalisis Mitos Asdiwal, Lévi-Strauss (1973:161-165) menjelaskan bahwa mitos tersebut memiliki dua aspek, yakni aspek urutan (sequences) dan aspek skemata (schemata). Aspek urutan terdapat dalam jalannya cerita secara kronologis, dari satu peristiwa ke peristiwa lain, dari satu episode ke episode lain. Sementara itu, aspek skemata berada pada tingkatan yang lain, yakni ketika beberapa skema muncul secara bersama, saling tumpang tindih. Lévi-Strauss berusaha menunjukkan adanya skemata-skemata tersebut dengan membedakan terlebih dahulu beberapa tataran skema, mulai dari skema geografis (geographic schema), skema kosmologis (cosmological schema), skema integrasi (integration schema), skema sosiologis (sociological schema), skema teknoekonomik (techno-echonomic schema), hingga akhirnya sampai pada integrasi global (global integration).

7.2.1 Skema Geografis
Dalam novel dwilogi BM, skema geografis ini terlihat dalam perjalanan kisah Lasi, yang berawal dan berakhir di Karangsoga.
Skema 1 Skema Geografis Novel Dwilogi BM
Karangsoga Jakarta Karangsoga
(Timur) (Barat) (Timur)
7.2.2 Skema Kosmologis
Kehadiran Eyang Mus selalu memunculkan struktur yang positif sehingga ia berada pada struktur lebih tinggi, struktur langit tertinggi, karena segenap perilaku dan saran-saran yang disampaikan merupakan jalan terbaik yang didasarkan pada niatnya yang tulus dengan didasari pada keselarasan hidup manusia.
Skema 2. Skema Kosmologis Novel Dwilogi BM
Eyang Mus

Desa Desa

Kota Kota

Lasi, Darsa, dan Kanjat

7.2.3 Skema Integrasi
Skema integrasi dapat dilihat dari oposisi yang semakin lama-semakin mengecil dan berakhir pada oposisi baik-buruk sehingga jika digambarkan, akan terlihat bentuk sebagai berikut.

Skema 3. Skema Intergrasi Novel Dwilogi BM

7.2.4 Skema Sosiologis
Ketika Lasi miskin, ia menjadi bahan cercaan karena asal-usulnya tidak jelas. Kekayaan secara material ini (ekonomi), seperti yang ditunjukkan oleh sikap masyarakat Karangsoga terhadap Lasi, berlawanan dengan kekayaan spiritual, seperti yang dimiliki Eyang Mus yang lebih bersifat kekal dan tidak lekang oleh situasi atau keadaan sebagaimana kekayaan materi, seperti ditunjukkan dalam skema berikut.
Skema 4. Skema Sosiologis Novel Dwilogi BM
miskin tidak mendapat penghormatan
spiritual kuat (dihormati)
kaya dihormati

negatif positif

7.2.5 Skema Tekno-Ekonomik
Dalam skema tekno-ekonomik ini, Lasi secara tidak sengaja menjadi kaya karena motifasinya adalah mencari ketenangan dan menghindar dari pergunjingan yang menyudutkannya. Oleh karena itu, skema yang ada dapat peneliti gambarkan sebagai berikut.
Skema 5. Skema Tekno-Ekonomik Novel Dwilogi BM
sakit hati → ingin ketenangan → menjadi kaya → tidak bahagia→ pulang ke desa

7.2.6 Integrasi Global
Skema-skema yang peneliti tampilkan tersebut bermuara pada penyampaian pesan yang ada dalam novel dwilogi BM. Pesan yang muncul pendeskripsiannya dapat dimulai dari peristiwa jatuhnya Darsa dari pohon kelapa yang menyebabkan Lasi memilih meninggalkan Karangsoga karena sang suami menghamili Sipah. Peristiwa ini memunculkan oposisi-oposisi berpasangan antara suami-istri, berkhianat-setia, dan tetap di desa-meninggalkan desa.
Pelarian Lasi dari Karangsoga yang ternyata sampai di Jakarta pada akhirnya mengantarnya menjadi istri Handarbeni yang kaya raya. Sebelum menjadi istri Handarbeni, dalam masa pelariannya, Lasi berinteraksi dengan Bu Koneng dan Bu Lanting. Oleh karena itu, ketika Lasi kemudian merasakan bahwa kehidupan rumah tangganya ‘terkesan main-main’, bahkan sampai kepada ‘jebakan terencana’ di Singapura, kultur kehidupan perkotaan yang juga berkorelasi dengan peran mucikari yang berinteraksi dengannya. Peristiwa ini memunculkan oposisi-oposisi berpasangan desa-kota, tidak materialistis-materialistis, kebersamaan-individualistis, dan sosial-egois.

7.3 Interpretasi
Atas dasar analisis yang telah peneliti lakukan, novel dwilogi BM menggambarkan rangkaian peristiwa yang dapat dipaparkan dalam beberapa hal. Pertama, cerita tentang perjalanan Lasi, baik ketika menjadi istri Darsa di Karangsoga maupun menjadi istri Handarbeni di Jakarta, ternyata memiliki pola struktur cerita yang terjalin satu sama lain secara sedemikian rupa sehingga yang tampak adalah sejumlah variasi yang bergerak di sekitar tema tentang lika-liku kehidupan perkawinan si bekisar merah ini.
Kedua, dalam pola struktur yang muncul, baik tokoh, latar, maupun alur, sebagai satu kesatuan cerita telah menunjukkan bahwa Lasi digambarkan sebagai tokoh yang memiliki sikap positif dalam menjaga martabat sebagai seorang istri. Kepergian Lasi dari Karansoga juga tidak sepenuhnya karena pengkhianatan Darsa, tetapi juga karena sikap masyarakat yang selalu memandang Lasi dengan stigma negatif.
Ketiga, pola struktur cerita novel dwilogi BM diawali dengan suasana kehidupan dan diakhiri pula dengan kembalinya Lasi ke komunitas asalnya sebagai orang desa. Pola ini menggambarkan prinsip harmonisasi bahwa sesuatu bergerak dari suatu titik dan akan kembali lagi ke titik semula. Dengan kata lain, rangkian cerita novel dwilogi BM bergerak dalam sebuah frame tertentu, dalam sebuah bingkai yang telah pasti.
8. Kesimpulan dan Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa teori strukturalisme Lévi-Strauss, dapat diterapkan dalam menganalisis novel dwilogi BM. Dengan asumsi demikian, peneliti menyarankan bahwa jika akan menerapkan strukturalisme Lévi-Strauss sebagai dasar untuk memaknai sebuah karya sastra, maka karya yang dipilih hendaknya karya yang memiliki karakteristik struktur cerita yang memiliki rangkaian alur yang padu. Hal ini terjadi karena pencarian struktur cerita dalam karya sastra yang memiliki alur melompat-lompat (tidak runtut) sulit untuk dianalisis dengan teori ini. Penyusunan episode dan unit-unit yang ada dalam episode tersebut tentu tidak menemukan struktur yang jelas mengingat dasar pijakan Lévi-Strauss berbeda dengan apa yang ada dalam sastra.

Daftar Pustaka
Ahimsa-Putra, Hedi Shri. 2001. Strukturalisme Lévi-Strauss: Mitos dan Karya Sastra. Jogjakarta: Glang Press.

Alaini, Nining Nur. 2003. “Babad Kedhiri: Suntingan Teks dan Analisis Struktural Claude Lévi-Strauss (Tesis)”. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Eagleton, Terry. 1988. Literary Theory, An Introduction (diterjemahkan oleh Muhammad Hj. Salleh Teori Kesusastraan: Satu Pengenalan). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.

Esten, Mursal. 1988. Pengantar Pada Menjelang Teori dan Kritik Susastra Indonesia yang Relevan. Bandung: Angkasa.

Fuad, Muhammad. 1995. “Kepengarangan Ahmad Tohari: Sebuah Analisis Sosiologis (Tesis)”. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Geertz, Clifford. 2000. Tafsir Kebudayaan (terjemahan Fransisco Budi Hardiman). Jogjakarta: PT Kanisius.

Hari Yanti, Sri Nani. 1998. “Analisis Masalah-Masalah Sosial dalam Novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari (Tesis)”. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Junus, Umar. 1981. Mitos dan Komunikasi. Jakarta: Sinar Harapan.

Lane, M. 1967. Introduction to Structuralism (Ed.). New York: Basic Books.

Leach, Edmund. 1982. Lévi-Strauss. Glasgow: William Collins Sons & Co. Ltd.

Leni, Nurhanasah. 2004. “Analisis Struktural Lévi-Strauss dan Mitos Tasawuf (Tesis)”. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Lévi Strauss, Claude. 1967. Structural Antrhopology. New York: Anchor Books.

_________________. 1973. Structural Antrhopology Vol.2. London: Penguin Books.

_________________. 1978. Myth and Meaning. London: Routledge Kegan Paul.

Lixian, Xiao. 2004. “Analisis Struktural Levi-Strauss dalam Novel ‘Sejarah’ Hong Lou Meng (Tesis)”. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Pettit, L. 1977. The Concept of Structuralism. Berkeley: University of California Press.

Purwantini. 1996. “Analisis Struktural Semiotik Novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari (Tesis)”. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Rodhiyah, Siti. 2002. “Struktur dan Relasi Tokoh Novel Sejarah Ken Arok-Ken Dedes Karya Pramoedya Ananta Toer: Sebuah Analisis Ala Strkturalisme Lévi-Strauss (Tesis)”. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Supriyanto, Teguh. 1997. “Analisis Gaya Bahasa Novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari: Tinjauan Stilistika (Tesis)”. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Tohari, Ahmad. 2001. Bekisar Merah (cetakan ke-4). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
____________. 2001. Belantik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Udasmar. 1999. “Mitos Roro Jonggrang dalam Babad Prambanan dan Mitos Rara Mendut dalam Serat Pranacitra: Interpretasi dengan Teori Lévi-Strauss (Tesis)”. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan (Diindonesiakan oleh Melani Budianta). Jakarta: PT Gramedia.
Wiryosoetedjo, Muhammad Nurrahmat. 2003. “Marginalisasi Perempuan dalam Bekisar Merah dan Belantik: Tinjauan Kritik Sastra Feminis (Tesis)”. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s