Memaknai Warna Merah Darah Rakyat

Posted: 13 Agustus 2010 in colour in indonesia

Memaknai Warna Merah Darah Rakyat
Oleh A.Kohar Ibrahim
Jumat, 27 Maret 2009 08:22 –
Memaknai Warna Merah Darah Rakyat
Sekitar Prahara Budak Budaya (7)
Oleh: A.Kohar Ibrahim
SPBB (6) mendapat sambutan antara lain dari salah seorang anggota Milis HKSIS, yang
ternyata adalah salah seorang teman lama Mawie Ananta Jonie. Bernama : Rachmat
Hadi-Soetjipto. Teman lama dalam makna sejak masa muda, sejak melakukan aktivitas
bersama di Ibukota Jakarta dan juga selama bersama-sama bermukim di Republik Rakyat
Tiongkok.
Penjelasan Bung Rachmat sekaligus juga kesaksiannya atas segi-segi dari perjalanan
kehidupan Mawie. Kiranya layak disimak, sebagai pelengkap bahan pertimbangan, seperti saya
sitir sepenuhnya di bawah ini.
*
Rachmat Hadi-Soetjipto :
« Dengan adanya diskusi ini saya ingin sekedar memberikan pendapat saya.
Saya kenal Bung Mawi sejak tahun 1964. Waktu Kongres IPPI yang ke VII tanggal 20 sampai
24 Juli 1964 di Gedung Senayan Jakarta.
Dia pada waktu itu mengorganisasi Kongres, terutama memimpin Bagian Olahraga, adapun
saya dibidang Transport yang menyediakan kendaraan untuk peserta-peserta Kongres.
1 / 8
Memaknai Warna Merah Darah Rakyat
Oleh A.Kohar Ibrahim
Jumat, 27 Maret 2009 08:22 –
Sesudah itu (setelah Kongres berachir) kita bersama-sama tinggal di Asrama untuk
mengadakan persiapan pergi (belajar) keluar negeri.
Diluar negeri kita bersama-sama belajar bahasa asing sebagai persiapan untuk belajar fach kita
masing-masing.
Setelah terjadinya perebutan kekuasaan oleh Soeharto dari Soekarno lewat SuperSemar,
karena dia dan saya mendukung Presiden Soekarno, dan mengutuk
Soeharto ; passport kita dicabut oleh KBRI , dan kita terpaksa lagi untuk bersama-sama
disatu tempat di Tiongkok sebagai orang-orang gelandangan yang tak punya
kewarganegaraan.
Jadi dengan tidak putus-putusnya saya sejak pertengahan tahun 1964 sampai tahun-tahun
70-an selalu bersama-sama disatu tempat yang dapat memberikan syarat untuk mengetahui
dan mengenal satu sama lain.
Dia bukan seorang Jayabaya atau Ranggowarsito yang dapat mengetahui atau meramalkan
tentang apa yang akan terjadi (PERAMAL). Dia adalah seorang Seniman yang suka ber-Puisi
dan ber-Sajak. Waktu tahun-tahun jamannya Bung Karno, banyak Seniman yang menyintai
warna MERAH sebagai DARAH didalam karya-karyanya yang menandakan kabanggaan
mereka tentang adanya Situasi Revolusioner Rakyat Indonesia pada waktu itu.
Selain itu juga kata-kata REVOLUSI dan kata-kata REVOLUSIONER selalu dibibir dan diujung
pena Senimanseniman yang maju untuk berkarya, terutama bagi pendukung-pendukung,
pemuja-pemuja dan pengikut-pengikut Soekarno yang selalu mengajak Rakyat Indonesia untuk
menjadikan Indonesia sebagai pusat gerakan-gerakan Revolusioner di dunia. Ini termasuk juga
Bung Mawi.
Jadi kalau karya-karya dia itu ada kata-kata MERAH seperti DARAH, atau Revolusi, itu bukan
berarti bahwa dia dapat meramalkan tentang adanya peristiwa apa yang akan terjadi (misalnya
: Gerakan 30 September 1965) seperti Ronggowarsito atau Jayabaya. »
2 / 8
Memaknai Warna Merah Darah Rakyat
Oleh A.Kohar Ibrahim
Jumat, 27 Maret 2009 08:22 –
Demikian Rachmat Hadi-Soetjipto dalam postingannya untuk Milis HKSIS Minggu 9 Nopember
2008.
*
KATA merah maupun kata darah atau metaforanya bukanlah merupakan hal yang patut
dijadikan persoalan baik dalam bahasa sehari-hari yang biasa-biasa saja maupun dalam alam
perpuisian, nyanyian dan bentuk ekspresi kesenian lainnya. Soal persoalan bisa timbul dalam
hubungannya dengan daya apresiasi tiap orang. Apresiasi yang tak lepas dari kepentingan
yang bersangkutan ; tak lepas dari motivasi atau maksud-tujuannya ; dari sikap pendiriannya.
Dalam mengapresiasi, bisa saja terjadi, jika yang bersangkutan kurang memahami situasi dan
kondisi serta sejarah dari apa yang diapresiasinya. Penyair sekali pun penyair sekaliber Hasan
Aspahani yang juga jurnalis profesional, ternyata bisa menyusun lantas menyiar tulisannya
yang jadi persoalan itu. Ia menjadi persoalan penting, bukan lantaran mutu tulisannya itu
melainkan saling kait berkaitannya dengan tulisan-tulisan atau buah pikiran penulis lain.
Terutama sekali tulisan berupa buku macam « Prahara Budaya » itu.
Dalam hal memahami situasi dan kondisi ketika Mawie Ananta Jonie menulis sajaknya berjudul
« Kunanti Bumi Memerah Darah » saja, kentara kecenderungan Hasan yang cuma mengikuti
nada suara penulis senior Taufik Ismail. Dia mengalami kesukaran memahami bagaimana
situasi dan kondisi sosial dan politik Indonesia zaman pemerintahan Presiden Sukarno. Dengan
politik persatuan besarnya yang disebut Nasakom (nasionalis, agamis, komunis) ; dengan garis
perjuangannya untuk membina masyarakat Indonesia yang merdeka penuh, adil dan makmur
serta aman-tenteram yang disebutnya sebagai Sosialisme ala Indonesia ; dengan garis
perjuangannya untuk membina kebudayaan nasional ; dan dengan garis politiknya yang
anti-feodalisme dan anti-nekolim yang dikepalai oleh kaum imperialis Amerika Serikat ; dengan
garis politik luarnegerinya yang didasari oleh Semangat Bandung – semangat perjuangan
teriring jalinan solidaritas pada rakyat dan bangsa Asia-Afrika mencapai kemerdekaan dari
belenggu nekolim. Sedangkan di dalam negeri, perjuangan untuk membina persatuan erat
sekali dengan perjuangan untuk melawan perpecahan yang berupa rongrongan dari kaum
kontra-revolusioner yang bersekongkol dengan pihak asing untuk meletuskan pemberontakan
macam DI/TII, RMS, PRRI/PERMESTA. Dalam perjuangan mana cukup banayak darah
tertumpah, cukup besar korban jiwa yang berjatuhan.
Iya. Memang iya dan benar : pada masa gelora perjuangan itu kata-kata merah dan darah
3 / 8
Memaknai Warna Merah Darah Rakyat
Oleh A.Kohar Ibrahim
Jumat, 27 Maret 2009 08:22 –
kerap digunakan dalam ragam macam ekspresi yang mencerminkan kesinambungan
perjuangan, keberanian dan pengorbanan di sepanjang sejarah perjuangan bangsa dan rakyat
Indonesia, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan diproklamirkan pada tanggal 17
Agustus 1945.
Maka kiranya tidaklah janggal pun tidak mengherankan kalau dalam masa perjuangan itu lahir
kreasi sastra dan seni serta ragam ekspresi yang mencerminkan situasi dan kondisi obyektip
kehidupan masyarakatnya. Termasuk ekspresi atau ungkapan dengan menggunakan kata-kata
: rakyat, darah, merah, juang, berani, korban, revolusi, kontra-revolusi, reaksioner, feodal,
kolonial, komprador, kabir atau kapitalis-birokrat dan sebagainya lagi.
Iya. Memang iya. Bisa dipahami juga, kalau daya apresiasi orang macam Hasan Aspahani
berbeda dengan orang macam Mawie. Misalkan saja dalam menyanyikan atau mendengar lagu
populer berjudul : Darah Rakyat. Salah sebuah lagu perjuangan, selain Indonesia Raya dan
Maju Tak Gentar serta lagu-lagu lainnya yang populer di masa pergolakan merebut
kemerdekaan bangsa Indonesia.
Lagu Darah Rakyat yang sudah hadir sepuluh tahun sebelum diproklamirkannya Kemerdekaan
Republik Indonesia itu, kini bisa didengar via channel YouTube, dibawakan oleh Majib Salleh,
liriknya :
Darah Rakyat masih berjalan
Menderita sakit dan miskin
Padanya datang pembalasan
Rakyat yang menjadi hakim
Rakyat yang menjadi hakim
4 / 8
Memaknai Warna Merah Darah Rakyat
Oleh A.Kohar Ibrahim
Jumat, 27 Maret 2009 08:22 –
Hayo ! Hayo !
Marilah bergerak sekarang
Merah Putih panji panji kita
Merah warna Darah Rakyat
Merah warna Darah Rakyat
*
Dengan latar belakang dan kepentingan yang berbeda-beda, besar kemungkinannya terjadi
perbedaan tertentu dalam mengapresiasi lagu tersebut. Pas bahkan bisa menggetarkan hati
dan pikiran bagi seseorang, biasa-biasa saja atau bahkan meremehkan lagu tersebut.
Sedangkan bagi diri saya sendiri, saya tergolong yang pertama, dan malah tergugah untuk
meneruskan perjuangan demi kemerdekaan, tegaknya kebenaran dan keadilan.
Itu dan begitulah adanya dorongan untuk menyusun bloknota SPBB ini. Dan dalam menyusun
bagian ke-7 ini, saya jadi ingin menegaskan apa yang telah disebutkan oleh Pak Wertheim.
Yakni soal yang jadi persoalan sekaitan dengan pemberian « citra yang berdarah darah »
secara sewenang-wenang. Kesewenangan yang berdampak negatip lantaran sarat akan
pembodohan, kental akan rekayasa dan pemutarbalikan sejarah bangsa dan rakyat Indonesia.
Tulisan yang disitir Pak Wertheim itu adalah berupa Pengantar Redaksi yang saya susun untuk
terbitan Majalah Arena N° 21 Th 1990-97 : Benarkah « PKI Memberi Citra Berdarah » ?
Dengan affirmatif : Tangan-tangan Rezim Zalim Berlumuran Darah.
5 / 8
Memaknai Warna Merah Darah Rakyat
Oleh A.Kohar Ibrahim
Jumat, 27 Maret 2009 08:22 –
SALAH satu ocehan yang paling memuakkan sejak berdirinya rezim Orde Baru – pakah itu
keluar dari mulut pentolannya ataukah dari epigon atau budak-budaknya – adalah yang bersifat
tudingan terhadap Partai Komunis Indonesia. PKI. Contoh yang paling gamblang adalah dari
salah seorang yang berpredikat « pakar sejarah » dan bertitel « Dr ». Dalam Mutiara (8.8.1996)
secara gegabah dia ngoceh tentang « keberatan masyarakat Indonesia pada paham
komunisme. » Pada PKI. Hal itu dikemukakan dalam konteks terjadinya « Peristiwa Juli 1996 »
yang menurut propaganda rezim Orde Baru sebagai peristiwa yang « ditunggangi oleh Partai
Rakyat Demokratik, dengan cara-cara yang mirip seperti dilakukan PKI pada 30 tahun lalu dan
kejadian-kejadian sebelumnya ». (Pemberontakan 1926-1927, Peristiwa Madiun 1948 dan
Peristiwa 30 September 1965, Red.). Karena itu sang pakar menarik kesimpulan bahwa « PKI
memberikan bloody image, citra berdarah ».
Ocehan semacam itu merupakan suatu manipulasi yang licik dan keji. Ia menunjukkan cara dan
gaya typikal dari orang yang menempatkan dirya sebagai budak atau pengabdi penguasa
zalim. Ocehan dari seorang intelektual gadungan itu pada hakekatnya sama saja dengan
ocehan seorang serdadu berpangkat letnan jenderal dalam rangka kampanye untuk selalu
memper-hantu-kan PKI.
Terlebih dulu, soal yang katanya sebagai « keberatan masyarakat Indonesia pada paham
komunisme » itu sebenarnya mesti dibaca : « keberatan penguasa Orde Baru pada paham
komunisme ». Hal itu selaras dengan keinginan bos internasional mereka, yaitu kaum nekolim
yang dikepalai AS sejak mula berdirinya RI. Yakni untuk « membendung komunime » di
kawasan dunia ini. Dalam prakteknya, mereka bukan semata-mata membendung paham
komunisme, melainkan juga membinasakan secara fisik para penganutnya atau para
simpatisannya atau malah mereka yang hanya diduga berpaham komunis. Jutaan manusia
menjadi korban kebiadaban mereka, suatu kejahatan politik terbesar yang belum pernah terjadi
di bumi Indonesia.
Selanjutnya, orang yang berpredikat « pakar sejarah » bertitel « Dr » ini telah secara tak tahu
malu mengkorup dan memanipulir fakta-fakta sejarah yang terjadi dalam lembaran sejarah
perjuangan rakyat Indonesia melawan penghisapan dan penindasan kaum penguasa yang
zalim demi mencapai kemerdekaan dan kemakmuran.
Hukum alam kehidupan ummat manusia yang dinamik itu menunjukkan bahwa di mana ada
penghisapan dan penindasan di situ pasti ada perlawanan atau pemberontakan. Dari zaman
kuno hingga zaman modern lembaran-lembaran sejarah ummat manusia di kolong langit ini
terhiaskan perjuangan demikian. Dalam sejarah bangsa Indonesia pun terjadi rangkaian
perjuangan sedemikian itu yang dipimpin oleh tokoh-tokoh atau organisasi yang mewakili kaum
6 / 8
Memaknai Warna Merah Darah Rakyat
Oleh A.Kohar Ibrahim
Jumat, 27 Maret 2009 08:22 –
terhina, terhisap dan tertindas. Dari berbagai aliran, agama atau ideologi !
Dalam melakukan penilaian atas pemberontakan rakyat dibawah pimpinan PKI pada tahun
1926-1927, sang « pakar sejarah » bertitel « Dr » itu telah bukan saja melecehkan semangat
puluhan ribu pejuang yang telah dengan gagah-berani melancarkan perlawanan terhadap
kekuasaan penjajah Belanda, melainkan juga telah secara tendensius hendak
mempertentangkannya dengan para pejuang kemerdekaan dari golongan lain (islam, nasionalis
– Red.). Lebih jauh, sang « pakar » berdaya-upaya untuk menyalahkan komunisme,
seolah-olah garagara pemberontakan rakyat yang mereka pimpinlah maka dimulai « tradisi
pembuangan oleh pemerintah kolonial ». Dungu ! Atau akal bulus lagi untuk menipu orang !
Sebab, kenyataan sejarah menunjukkan bahwa tradisi kebiadaban seperti itu bukan dimulai
karena ulah kaum komunis dan juga tidak cuma dilakukan oleh penguasa kolonial, melainkan
sudah dimulai sejak zaman kuno dan dilakukan rezim zalim mana pun dan di mana-mana pun
adanya. Pengucilan, penangkapan, penyiksaan, pembuangan atau pembunuhan (individual,
kolekttip atau massal) itu merupakan adat-kebiasaan atau tradisi dari penguasa yang biadab.
Lebih lanjut, sang « pakar sejarah » berdaya-upaya untuk mendiskreditkan PKI kerna
kepemimpinannya dalam pemberontakan rakyat tahun 1926-1927 dengan menjadikan peristiwa
itu sebagai bukti bahwa « PKI memberikan bloody image, citra berdarah ». Tetapi, citra tersebut
sesungguhnya adalah citra sang penguasa yang melakukan penindasan berdarah dengan
kekerasan bersenjata, tiang gantungan, penjara dan tanah pembuangan ! Dalam peristiwa
bersejarah itu, patutlah dikemukakan di sini, bahwa tangan-tangan berdarah kekuasaan
penjajah telah mendera puluhan ribu korban manusia : 23.000 tertangkap, 4.700 dijatuhi
hukuman, beriru-ribu dibuang di tanah pembuangan Nusa Kambangan dan Digul atau
mengalami berbagai bentuk penindasan lainnya. Selain tewas di depan regutembak atau di
tiang gantungan, seperti Hassan, Dirdja dan Egom !
Dari fakta-fakta tersebut saja, orang yang patriotik, yang mendambakan kemerdekaan dan
keadilan, yang anti segala bentuk penghinaan, penghisapan dan penindasan, pertama-tama
tentulah akan menghargai semangat perjuangan yang luar biasa tersebut. Bahwa ada
kesalahan dalam taktik-taktik dan atau kelemahan lainnya, itu soal kedua. Mengingat pula,
antara lain, bahwa PKI baru berusia enam tahun ! Satu hal yang tidak bisa disangkal, yalah
bahwa peristiwa pemberontakan 1926-1927 itu merupakan mata-rantai yang tak terpisahkan
dari perjuangan-perjuangan rakyat Indonesia sebelumnya. Yaitu, Pemberontakan Ambon
(1648), Pemberontakan Ternate (1650), Pemberontakan Jawa dibawah pimpinan pangeran
Diponegoro (1825-1830), Pemberontakan Sumatera Barat yang dipimpin oleh Imam Bondjol
(1837) dan Pemberontakan Aceh (1873-1908). Maka menurut logika sang « pakar sejarah » itu,
apakah semua itu pun telah « memberikan bloody image, citra berdarah » ? Sedangkan
menurut logika kita, adalah jelas bahwa pemberontakan-pemberontakan semacam itu adalah
wajar dan dapat dibenarkan !
7 / 8
Memaknai Warna Merah Darah Rakyat
Oleh A.Kohar Ibrahim
Jumat, 27 Maret 2009 08:22 –
Bagi kita, jelas pula, bahwa sang « pakar sejarah » itu telah benar-benar menempatkan dirinya
di bawah telapak penguasa Orde Baru. Suatu rezim zalim yang hanya bisa melampung di atas
lautan darah dan keringat rakyat Indonesia. Korban kebiadaban mereka. Sebagai budak atau
pengabdi kekuasaan semacam itu, sang « pakar sejarah » tak sudi (lantaran ketakutan dan
demi kepentingannya yang picik) melihat kenyataan bahwa yang ber-citra beringas dan haus
darah, yang tangan-tangannya berlumuran darah itu justru penguasa zalim. Sama sekali bukan
mereka yang justru sebagai korban kebiadaban atau yang dijadidkan tumbal bagi tegaknya
rezim zalim.
Ada beberapa hal penting lainnya yang tersurat maupun tersirat dalam artikel yang dimuat «
Mutiara » itu. Di antaranya tentang Peristiwa Madiun 1948. Kita berikan kesempatan pada
kawan lain untuk membahasnya. Juga yang berkenaan dengan Peristiwa 30 September 1965
dan Peristiwa 27 Juli 1966, kita sudah dan akan sedang terus memberikan sumbangan
pertimbangan – sejak mula hingga kini dan selanjutnya. Aapakah itu datangnya dari kalangan
generasi muda atau senior, apakah itu dari orang awam atau pakar, kita sembut dengan
gembira. Asal bertujuan baik dan cerah. Demi mencari dan menegakkan kebenaran serta
keadilan.
« Sesungguhnyalah sejarah itu ciptaan manusia. Kekuasaan gelap melakukan penggelapan,
kekuatan yang cerah kecerahan, » tulis saya yang selayaknya digarisbawahi, dari bagian
naskah edito atau pengantar redaksi Majalah Arena N° 21 pda halaman 3 sampai halaman 6
itu. Edito yang mengekspresikan sikap pendirian saya yang mendasar. *** (10.11.08)
Catatan : Bloknota SPBB ini masih akan disambung dengan mengutarakan soal yang jadi
persoalan lainnya. Sekedar ilustrasi foto karya lukis Abe alias A.Kohar Ibrahim : Rimbaraya
Terbakar, cat akrilik di atas kertas.
8 / 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s