warna dan politik

Posted: 13 Agustus 2010 in colour in indonesia

Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
1
Bernd Schüler
Warna sebagai penunjuk jalan dalam politik
Warna merupakan perantara politik. Ketika pada malam pemilu balok-balok statistik
dengan warna tertentu mencuat di layar kaca, maka dalam hitungan detik kita tahu
bagaimana formasi kekuatan di parlemen yang akan datang. Apabila seorang politisi
tampil dengan switer tanpa lengan berwarna kuning, publik pun mahfum dari partai
mana politisi tersebut: Partai Demokrat Liberal (FDP). Dan jika sekjen SPD
mengklaim dalam kampanye bahwa pencampuran Hitam dan Kuning akan
menghasilkan warna yang terlalu abu-abu, maka semua tahu maksudnya: kedua
partai tidak mungkin bergabung.
Kita membaca dunia politik melalui warna. Warna merah, hitam, kuning, hijau adalah
pola orientasi yang mendasar dalam perpolitikan Jerman. Warna-warna itu menata
politik partai dan menandai posisi cara pandangnya (Weltanschauung). Dalam situasi
demokrasi media sekarang ini warna menjadi wadah untuk memvisualisasikan
banyak hal yang berada di luar bidang pengalaman keseharian kita. Hasil pemilu
menjadi jelas ketika ia ditampilkan sebagai irisan-irisan kue berwarna-warni.
Dibingkai dalam sebuah ambien penuh warna dengan warna utama yang khas,
gambar-gambar abstrak seperti organisasi partai tidak hanya bisa dikenali (lagi)
dengan cepat, tapi juga bisa segera dibedakan.
Situasi dalam persaingan kehidupan berdemokrasi mendorong para pelakunya untuk
terus mengasah citra penampilan mereka: mereka menampilkan diri ke dunia luar
dengan desain warna sendiri dan dengan cara itu mencoba mendapatkan perhatian
dan dukungan. Mereka mencoba memposisikan diri secara kasat mata sebagai aktor
dan dengan demikian, di tengah-tengah beragamnya tawaran lain, orang akan selalu
mengenal mereka. Hal ini tidak hanya terjadi melalui penciptaan latar-latar yang
relevan dengan publik, tapi juga melalui pakaian: siapa yang memakai dasi dengan
warna tertentu yang dijual partai sebagai asesoris, maka ia menunjukkan jati diri
partainya. Dalam konteks internal partai warna berfungsi sebagai penghubung. Pita
kunci yang berwarna-warni misalnya yang dibagi-bagikan pada kongres partai
menegaskan status kebersamaan politis – tanpa harus membahas isi program.
„Black is beautiful“, bunyi slogan Junge Union (Angkatan Muda-nya CDU/CSU), atau
„Rot ist Liebe“/Merah adalah Cinta, motto Angkatan Muda SPD. Slogan dan motto
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
2
seperti ini menegaskan pentingnya penciptaan jati diri – sebuah bentuk dari
pemantapan diri.
Jadi, warna mereduksi kompleksitas praktek politik. Hal ini juga terlihat dalam bahasa
warna: para wartawan suka menggunakan gambaran-gambaran rumusan warna
untuk mengomentari kejadian-kejadian dan perkembangan-perkembangan politik.
Maka muncullah rumusan-rumusan seperti „Hijau kabur – Kuning subur“ yang
menjadi judul sebuah artikel di „Die Zeit“. Sementara di surat kabar „Westdeutsche
Allgemeine Zeitung“ pernah ditulis: „Orang-orang partai kuning matanya Hijau“.
Dalam bahasa warna perubahan-perubahan sistem kepartaian juga dijadikan topik
dan dikritik: ilmu tentang warna dalam politik disebut-sebut tidak lagi sejalan,
demikian yang sering kita dengar, karena kesatuan antara ideologi dan partai sudah
saling bertolak belakang. „Orang-orang partai merah (SPD) tidak lagi benar-benar
merah, Partai Hijau sudah mulai hilang hijaunya“, tulis surat kabar „Die Welt“.
Lalu yang muncul sekarang adalah citra yang mendua: di satu pihak warna masih
tetap digunakan sebagai motif orientasi mendasar dalam ruang politik. Di pihak lain
penggolongan warna sebagai simbol posisi politik setiap partai seperti yang umum
terjadi tidak lagi ketat seperti dulu. Seorang pengamat kampanye pemilu 2005
menggambarkan perkembangan ini sebagai berikut: “Ilmu tentang warna dalam
ranah politik (tampaknya) sudah tidak berlaku lagi, persis seperti pembagian antara
kelompok kanan dan kiri.“1 Kini telah muncul suatu situasi yang tak jelas yang
sebagian direspon (dan diperkuat) oleh partai dan ahli strategi marketing mereka
dengan menampilkan diri di masyarakat dengan warna-warna baru yang melengkapi
simbol warna yang digunakan selama ini. Makin kurang tendensi suatu partai untuk
menetapkan suatu warna tertentu, maka kiranya bisa dikalkulasikan, makin besar
pula prospek yang dimiliki suatu partai untuk mencapai dan mendapatkan suara dari
kelompok pemilih yang tidak berpegang pada politik tertentu yang kalangannya terus
meluas.
Sejarah menunjukkan bahwa penggunaan warna tertentu memang sudah sejak dulu
beranekaragam dan maknanya pun tidak pernah ditegaskan secara jelas. Posisi atau
sikap politik yang bertentangan dihubungkan dengan warna yang sama.
Penggunaan warna umumnya bisa dijelaskan sebagai campuran dari kejadiankejadian
praktis yang bersifat kebetulan, tradisi dan perhitungan. Hal ini
1 Erik Spiekermann, Gedeckte Stimmung, gedeckte Farben (Suasana yang Tersembunyi, Warna yang
Tersembunyi), dalam: Surat Kabar Frankfurter Rundschau tanggal 1-9-2005, hal. 12
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
3
menunjukkan perjalanan politik dari setiap warna yang hendak digambarkan dalam
tulisan ini. Akan tetapi, sebelumnya perlu disinggung dulu beberapa garis-garis besar
yang melukiskan perubahan peran warna dalam sejarah politik.
Penggunaan warna dalam politik
Dalam perkembangan sejarahnya kita bisa menentukan tiga titik berat berbeda:
pertama-tama, warna berfungsi mengekspresikan dan menguatkan kekuasaan yang
ada. Selanjutnya, warna mendukung gerakan-gerakan politik baru dalam
perjuangannya menentang pemegang kekuasaan yang tradisional. Dan terakhir,
bagi kelompok-kelompok politik warna berfungsi sebagai alat promosi, misalnya
untuk mendapatkan suara pemilih yang pada gilirannya melegitimasi pelaksanaan
kekuasaan politik.
Untuk memahami makna warna di zaman Romawi purba hingga abad pertengahan,
ada faktor khusus yang harus diperhatikan: Berbeda dari sekarang, dulu zat warna
susah sekali didapat dan karenanya sangat mahal sehingga hanya orang-orang
kelas atas saja yang bisa memperolehnya. Jadi, dengan menggunakan sumber yang
jarang itu orang bisa memberikan alasan yang kuat atas haknya untuk berkuasa.
Hanya para pemuncak hirarkilah yang diperbolehkan mengenakan pakaian
berwarna; sebuah hak istimewa yang dijamin melalui peraturan tentang pemakaian
pakaian.2 Contoh yang terkenal untuk ini adalah mantel berwarna yang dikenakan
para ratu dan kaisar Romawi dan para penerusnya. Perlu bertahun-tahun untuk
membuat pakaian mewah seperti itu. Para menteri dan pejabat diizinkan menambah
strip merah tua di jubah mereka. Orang lain tidak diperbolehkan menggunakan
warna khusus ini, pelanggaran terhadapnya diancam hukuman mati.
Di abad pertengahan, warna yang terutama sekali diperuntukkan bagi kelas atas
adalah warna merah darah. Ia bukan hanya zat warna yang paling mahal, tapi juga
merupakan warna yang dihubungkan dengan kekuatan dan kekuasaan. Pertarungan
sosial antara bangsawan dengan rakyat biasa selalu berkisar tentang peraturanperaturan
tentang siapa yang boleh memakai jenis warna merah dan dalam bentuk
apa. Hak istimewa kaum bangsawan, diawali oleh berkurangnya kekuatan ekonomi,
2 Bandingkan Eva Heller, Wie Farben wirken. Farbpsychologie, Farbsymbolik, kreative Farbgestaltung
(Pengaruh warna. Psikologi warna, simbol warna, perancangan warna yang kreatif) Reibek bei
Hamburg 2004, hal. 167 dst dan Arnold Rabbow, dtv-Lexikon politischer Symbole A-Z, München 1970,
Artikel „Farbensymbolik“, hal. 76. Semua pernyataan lain tentang penggunaan warna dalam sejarah
didasari pada penjelasan kedua penulis ini.
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
4
sedikit demi sedikit menyusut; akhirnya pada abad ke-18 mereka hanya boleh
memakai hak sepatu berwarna merah.3
Dengan demikian warna merah pun kehilangan status sebagai alat pembeda kelas
atas – dan lambat laun malah menjadi warna utama dari kelas bawah, jadi warna dari
protes sosial mereka dan akhirnya warna dari gerakan buruh. Perubahan ini
didukung pula oleh bentuk-bentuk produksi baru (misalnya oleh impor serangga
cochennil dari Amerika) yang membuat zat warna merah menjadi murah. Cita-cita
buruh di awal abad ke -19 adalah membentuk kelompok yang punya kekuatan politik.
Dari latar belakang inilah kemudian warna merah dan bendera merah yang terlihat
dengan jelas menjadi „alat pemandu massa“4 yang membentuk poros bagi
terbentuknya gerakan politik baru.
Mobilisasi massa tetap menjadi tema demokrasi di zaman berikutnya, termasuk di
era Republik Weimar. Pemerintahan yang tak stabil, pemilu yang baru menandai
wajah demokrasi. Kampanye umumnya dilakukan di jalan-jalan. Warna-warna
digunakan di plakat-plakat dan tiang-tiang di ruang publik; media yang menjadi
jembatan bagi partai untuk mencapai langsung konstituennya. Yang terkenal lebih
karena kesan negatifnya dalam hal ini adalah gerak jalan dengan pakaian seragam
untuk menunjukkan posisi politik mereka. Keberadaan „batalion coklat“ misalnya
tidak hanya berdampak kepada publik. Keseragaman warna juga membuat para
pesertanya „merasa memiliki keberanian yang kuat“: setiap pribadi melihat keinginan
mereka pada warna sama pada anggota lain. Sebuah kelompok kecil yang
berseragam kemeja hitam atau coklat terkesan lebih kuat lebih karena seragamnya
bukan karena jumlahnya.“5
Sejalan dengan perkembangan demokrasi melalui media pasca Perang Dunia II, arti
presentasi visual di jalan berkurang. Penyampaian politik lebih diorientasikan pada
media utama yang baru, yakni televisi (berwarna). Selain itu, hal baru lainnya adalah
bahwa dalam masyarakat media politik harus lebih kuat lagi menegaskan dirinya
sebagai salah satu tawaran di samping tawaran-tawaran lainnya di media. Ketua
Harian FDP, Hans-Jürgen Beerfeltz, melukiskan hal ini sebagai berikut: „FDP
sekarang bukan hanya bersaing dengan partai-partai lain dalam rangka
mendapatkan perhatian pemilih dan simpatisan yang potensial, tapi juga dengan
3 Bandingkan E. Heller (cat. kaki 2), hal. 57 dst
4 A. Rabbow (cat. kaki 2), Artikel „Merah“, hal. 199
5 Ibid, Artikel „Braun“ (Coklat), hal. 48
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
5
produk-produk iklan lain. Siapa yang tidak konsekuen mengkomunikasikan garisnya
secara terus-menerus, akan jatuh“6. Sejalan dengan perkembangan ini para pakar
pemasaran makin memiliki pengaruh terhadap pembentukan citra penampilan partai.
Warna-warna baru seperti oranye dan umbra, yang sejak beberapa waktu ini
menghiasi corporate design CDU dan CSU, digunakan dengan arahan agen-agen
periklanan profesional.
Karir politik masing-masing warna
Warna merah
Setelah selama berabad-abad warna merah menjadi simbol pemilik kekuasaan atau
kalangan atas, maka – seperti yang telah disebutkan sebelumnya – selambatlambatnya
pada abad ke-19 ia menjadi simbol sentral dari perlawanan sosial dan
gerakan-gerakan emansipatif. Arnold Rabbow, yang karyanya “Leksikon Simbolsimbol
Politis” terbitan 1970 masih tetap menjadi karya standard sampai hari ini,
mencirikan makna tersebut sebagai berikut: Warna merah, khususnya dalam bentuk
bendera merah yang umum kita lihat, mengalahkan semua simbol-simbol baru politik
lain dalam hal usia, makna dan daya iklannya. Merah adalah warna yang agresif. Ia
bercahaya, ia menyedot pandangan dengan kekuatan magis; ia menantang,
mempromosikan dan membuat orang mundur.“7
Emansipasi ditandai dengan munculnya warna di atas topi pet. Topi ini dipakai oleh
para Jakobi di masa Revolusi Perancis, merujuk pada tutup kepala merah yang
dipakai para terhukum yang dihukum mendayung di atas perahu (Galeerensträfling).
Bendera merah tercatat untuk pertama kalinya dipakai pada 1834, di saat terjadi
pemberontakan buruh industri sutra di Lyon. Selanjutnya “simbol politik yang modern
yang bagi Rabbow paling berhasil ini8” selalu dipakai dalam gerakan-gerakan protes
di seluruh negara Eropa. Mulai saat itu tidak ada warna politik lain yang dipahami
seperti itu secara internasional selain warna merah.
Bendera merah baru dipakai di Jerman di tahun revolusi 1848. Lambat laun bendera
ini menggantikan bendera hitam-merah-emas sebagai simbol emansipasi. Pada
1863 „Serikat Umum Pekerja Jerman“ menggunakan bendera tersebut sebagai
6 Diambil dari prakata untuk Corporate Design-Manual der FDP, disunting oleh Sekretariat Pusat FDP,
dalam: http://www.fdp.de/files/720/cd-manual_final.pdf, hal. 2
7 A. Rabbow (cat. kaki 2), Artikel „Rot“ (merah), hal. 198
8 Ibid., Artikel „Rote Fahne“ (Bendera Merah), hal. 201
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
6
simbol partai; dengan tulisan „Kebebasan, Persamaan, Persaudaraan!“ bendera ini
kemudian menjadi „bendera tradisi Partai Sosial Demokrat (SPD)“.9 Warna ini lama
menjadi keterkejutan warga. Sampai sekitar 1900 instansi-instansi pemerintah
melakukan kebijakan menentang ditunjukkannya simbol-simbol merah“. Setelah
sosial-demokrat dikubur polisi memotong karangan bunga berwarna merah di
kuburan.
Bendera berwarna merah kembali dipakai khususnya oleh kelompok-kelompok
komunis setelah Perang Dunia Pertama. Sementara pengikut sosial-demokrat
berbalik pada kombinasi warna hitam-merah-emas, warna bendera negara, dan
hanya memakai banner merah dalam tubuh partai mereka, partai komunis turun ke
jalan-jalan dengan menggunakan bendera merah. Pawai mereka ini dilukiskan juga
oleh Adolf Hitler dalam bukunya „Mein Kampf“: „Lautan bendera merah, ikatan
kepala merah dan bunga merah membuat arak-arakan ini (di Lapangan Schloss
Berlin B.S) yang diikuti sekitar 120.000 orang menjadi pawai yang heboh. Saya
sendiri bisa merasakan dan memahami betapa mudahnya sang putra bangsa tunduk
di bawah sihir sugestif pawai yang berpengaruh besar seperti ini.“10 Bukan hanya
dampak ini yang, menurut Rabbow, membuat Hitler terdorong untuk menggunakan
warna merah untuk propaganda nasional-sosialistis.Tapi ia juga menghubungkan
warna ini dengan perhitungan strategis guna mendapatkan dukungan dari pekerja.
Setelah Perang Dunia Kedua warna merah di satu pihak menjadi warna yang bisa
ditemukan di mana-mana, namun di lain pihak ia menjadi warna yang digunakan
secara sangat mencolok. Di Republik Demokratik Jerman banner merah menjadi
bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk di luar kegiatan akbar politik.
Sebaliknya, di Republik Federal Jerman warna merah menjadi beban akibat sejarah
NAZI di Jerman dan partai komunis yang ada sekarang. Dalam sebuah kongres SPD
pada 1953 sempat dikerahkan seratus bendera merah – yang membuat partai ini
mendapatkan berita negatif. Di tingkat pimpinan partai ada kekhawatiran bahwa
insiden itu akan membuat orang menghubungkan SPD dengan komunisme. Oleh
karena itulah, sejak tahun 60-an hanya bendera tradisi saja yang ditunjukkan di
kongres-kongres partai.11
9 Pers Release SPD
10 Dikutip berdasarkan A. Rabbow (cat. kaki2), Artikel „Rot“, hal. 200
11 Berdasarkan pemberitahuan pers SPD
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
7
Sejak saat itu dalam menampilkan dirinya ke luar SPD hanya menggunakan warna
merah pada momen tertentu. Penggunaan yang paling mencolok terlihat pada
plakat-plakat pemilu. Warna merah seringkali hanya pada logo yang diterapkan
1989, yakni sebuah kuadrat dengan huruf-huruf SPD berwarna putih. Dalam
kampanye pemilihan legislatif 2005 juga jarang terlihat warna merah; Sebuah
keadaan yang membuat munculnya beberapa komentar kritis yang mencoba
menguhubungkan antara pemilihan warna dengan ideologi. Prof. Henning
Wagenbreth, seorang pakar komunikasi visual di Berlin, menulis komentarnya
tentang plakat pemilu SPD tersebut sebagai berikut: „Bahkan warna merah, yang
dilihat dari aspek artistiknya adalah warna yang paling berpengaruh dalam spektrum
politik, telah tereduksi menjadi sangat minim. Apakah ditinggalkannya warna merah
merupakan sebuah keputusan kreatif atau juga programis?“12
Keterkaitan antara retorika warna dan desain warna ditunjukkan dengan baik oleh
penampilan partai kiri „Die Linke. PDS“ dalam kampanye pemilu legislatif 2005. Pada
tataran retorika politik misalnya kandidat langsung dari Frankfurt, Wolfgang Gehrcke,
mengiklankan: „Yang merah dalam kampanye kali ini hanyalah partai kiri. Dan semua
partai lainnya pucat.“13 Sementara dalam plakat-plakat pemilu hampir tak ditemukan
warna merah, tapi mereka – demikian pendapat seorang desainer – didesain dalam
berbagai „warna cerah“ yang (mencontek) „estetika supermarket yang lucu berisi
label harga, sticker dan merek dengan warna tertentu; sebuah gabungan warna yang
indah.“14 Dengan desain warna-warni ini, demikian interpretasinya, partai membuka
diri pada kelompok-kelompok sasaran yang alergi dengan warna merah.
Di luar dari statusnya sebagai simbol politik, warna merah sampai sekarang masih
tetap dipakai sebagai semata-mata warna penanda oleh partai lain. FDP misalnya
banyak menggunakan warna ini pada plakat mereka hingga tahun 60-an. Dan tulisan
CDU sejak dulu dibuat dalam warna merah. Menurut analis pemasaran, huruf-huruf
berwarna merah ini telah menjadi tanda merek yang tetap.
Warna hitam
Warna hitam juga punya tradisi yang lama dalam panggung politik. Berbagai aktor
yang menggunakan warna ini dan yang hanya disebutkan sebagian dalam tulisan ini
12 Henning Wagenbreth, Mata ini tak bisa berbohong, dalam: Surat kabar Berlin tanggal 14.9.2005,
hal. 6
13 Dikutip dari Friedericke Tinnappel, Die Farbe Rot (Warna Merah), dalam: Surat kabar Frankfurter
Rundschau tanggal 19-9-2005, hal. 12
14 E. Spiekermann (cat. kaki 1)
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
8
menunjukkan betapa beraneka ragamnya posisi dan sikap yang terhubung dengan
warna ini. Di abad pertengahan, di masa kealiman kelam, warna hitam adalah warna
yang dominan di istana Spanyol. Pada awal zaman baru warna hitam juga menjadi
warna pakaian yang disukai oleh bangsawan Eropa. Pada saat yang sama warna
hitam, khususnya bintang hitam, menjadi simbol anarkisme.
Di awal abad 20 terdapat apa yang disebut dengan kemeja hitam, yakni anggota
gerakan fasis, yang pertama kali berpawai dengan seragam ini pada 1919 di Italia
dalam rangka melawan kelompok-kelompok sosialis dengan kekerasan dan berani
mati. Mungkin yang menarik dalam hal ini adalah strategi bahwa dengan seragam ini
individu tampil sebagai orang yang sama. Jadi, kesan yang ingin ditimbulkan adalah
semua peserta menjadi satu kesatuan dalam kebersamaan, terlepas dari perbedaan
kelas. Taktik jitu yang digunakan di sini adalah bahwa seperti halnya kasus kemeja
coklat di Jerman, pakaian kebesaran para pengikut gerakan nasional-sosialis (NAZI),
penggunaan warna tertentu tidak selalu dihubungkan dengan pengimanan terhadap
konsep gerakan karena kemeja dengan warna-warna ini adalah bagian dari pakaian
yang biasa dipakai. Inilah sebuah contoh untuk suatu pemuatan politis subversif
yang pintar dari sebuah warna yang dipakai sehari-hari.
Gambar: papan warna yang digunakan partai-partai politik Jerman untuk
menampilkan dirinya:
CDU SPD FDP Bündnis ‚90/
DIE GRÜNEN
DIE
LINKE.PDS
Oranye,
Merah dan
Putih
„Umbra“,
Merah dan
Putih
Kuning dan
Biru
Hijau, Kuning,
Biru dan Putih
Merah, Biru
dan Putih
Sumber: http://www.guillemets.de
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
9
Apabila saat ini dalam ungkapan politik sehari-hari sering didengar istilah „kelompok
hitam“, maka secara umum yang dimaksud adalah kelompok konservatif dan
konkritnya anggota CDU atau simpatisannya. Berbeda dari ciri-ciri warna dari partaipartai
lainnya hal istimewa pada kasus CDU ini adalah bahwa bukan mereka sendiri
yang memilih warna hitam tersebut, melainkan lawan politik mereka yang
memberikannya. Mengingat konservatisme juga merekrut orang-orang dari kalangan
klerik dan kristen, maka para pengusung mereka dihubungkan dengan jubah para
pendeta; pakaian hitam khususnya dipakai para pendeta protestan.
Sementara warna hitam dalam corporate design CDU hampir tidak punya peran,
organisasi pemuda partai ini, Junge Union (JU), mulai membangun simbol dari warna
tersebut. Pada 2004 mereka membuat kampanye besar dengan slogan “Black is
beautiful”. Slogan ini terus menjadi alat promosi sejak akhir tahun 60-an, ia menjadi
“rumus” yang merembes bagi presentasi diri. Kampanye ini, demikian disebut-sebut,
bertujuan untuk menghasilkan „semacam ikatan bersama” yang mampu mengatasi
perbedaan yang hingga saat ini sangat kuat terlihat dalam penampilan DPW ke luar.
Tujuannya adalah “Dengan penampilan diri yang terarah dan seragam dalam
menghadapi pemilih” dan “menciptakan citra yang mantap”.15
Yang mencolok pada kampanye yang juga dicoba oleh partai-partai lain ini adalah
adanya tuntutan luas bahwa dengan simbol “black” dan barang-barang promosi
warna hitam lainnya diharapkan pengalaman (politik) yang luas bisa didapat.
“BLACK” diharapkan bisa memberikan pengalaman hidup”16 – dengan segala
macam artikel, mulai dari cangkir berrwarna hitam, T-Shirts hingga lolipop dan telpon
genggam.
Selain itu, kampanye ini menunjukkan betapa sulitnya berhubungan dengan berbagai
tradisi dan makna warna untuk pada gilirannya mendapatkan makna tersendiri dari
pemilihan warna tertentu. Untuk warna hitam ini misalnya, ada yang menyebut
“simbol sangat tua kristen yakni penebusan dan penderitaan Yesus”. Karena
“Bukankah untuk sebuah partai kristen tidak ada lagi warna yang lebih tepat daripada
hitam?” Bagaimanapun juga, warna hitam tidak melulu berarti kesedihan dan
depresi, tapi juga kekuatan dan daya.“17 Di sini orang merujuk pada simbol-simbol
15 Stefan Ewert, Black is Black! Atau “Wir Schwarzen müssen zusammenhalten” (Kita orang-orang
CDU harus bersatu), dalam: Suplemen „black“ untuk majalah JU „Die Entscheidung“, 52 (2004), hal. 7
16 Pers release Junge Union tentang latar belakang kampanye, hal. 7
17 S. Ewert (Cat. kaki 15), hal. 11
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
10
dari mulut ke mulut – tanpa mempertanyakan bagaimana kecocokan berbagai
asosiasi yang ada menyangkut warna tersebut.
Warna kuning
Kalau di budaya lain warna kuning memiliki makna positif dan karenanya digunakan
oleh penguasa sebagai warna negara – contohnya kaisar China menghiasi pakaian
kebesarannya dengan warna ini –, maka di Eropa warna ini dihubungkan dengan
kelompok-kelompok yang secara sosial terpinggirkan dan terbuang. Dulu pelacur
harus memakai tutup kepala berwarna kuning, perempuan yang memiliki anak di luar
nikah harus berpakaian kuning, orang Yahudi topi kuning atau penanda-penanda
berwarna kuning lainnya.
Selain itu warna kuning juga merupakan „warna para pengkhianat“.18 Warna ini baru
memiliki makna di Jerman ketika di pemerintahan kekaisaran dan di Republik
Weimar beberapa orang mencoba untuk mendeskreditkan apa yang disebut serikat
pekerja sebagai kelompok kuning.19 Yang dimaksud adalah organisasi-organisasi
yang menghendaki adanya kerja sama antara pihak pemberi kerja dan pekerja. Oleh
karena itu organisasi ini diserang oleh serikat-serikat pekerja yang berorientasi
sosialis dan kemudian juga disebut sebagai “pelindung kapitalis” oleh Joseph
Goebbels.
Bahwa hingga kini di Jerman penganut paham liberal masih diidentifikasikan dengan
warna kuning, itu ada kaitannya dengan pemilihan anggota parlemen negara bagian
Baden-Württemberg pada 1972. Setelah dalam kampanye-kampanye sebelumnya
warna oranye menjadi pilihan, pada masa kampanye selanjutnya dipilih kombinasi
warna Biru-Kuning sebagai warna sinyal oleh sebuah agen periklanan yang dikontrak
partai. Hasilnya begitu memuaskan sehingga kombinasi warna tersebut juga dipakai
dalam kampanye pemilu legislatif tingkat nasional di tahun yang sama. Hingga saat
ini warna ini masih menghiasi logo dan tampilan iklan partai liberal.
Keputusan pemilihan warna tersebut pada 1972 itu dijelaskan secara resmi oleh
partai liberal: “Mengapa justru pilihan warna jatuh pada kombinasi biru-kuning,
sebenarnya tak ada alasan tertentu untuk itu karena dalam penelitian-penelitian yang
ada di sini kombinasi warna ini justru tidak memiliki nilai-nilai yang menonjol yang
18 E. Heller (cat. kaki 2), hal. 141
19 A. rabbow (cat. kaki 2), Artikel „Gelb“, hal. 101
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
11
membuatnya harus dipilih.”20 Di sini menjadi jelas bahwa kriteria yang sebenarnya
terhadap keputusan tersebut tidak benar-benar bisa atau harus disebutkan. Ini bisa
ditafsirkan sebagai indikator bahwa pemilihan kombinasi tersebut bersifat kebetulan
dan secara acak. Namun, dari pengalaman yang diperoleh ketika mencari jawaban
atas pertanyaan tersebut tampak bahwa dalam banyak kasus di partai-partai dan
yayasan-yayasan yang berafiliasi dengan partai memang tidak ada pengetahuan
yang pasti dan yang bisa diakses umum menyangkut keputusan tentang penentuan
citra partai melalui warna tertentu. Paling mungkin orang dirujuk pada saksi mata,
dalam konteks FDP misalnya pada seorang mantan anggota Komisi Kampanye di
Baden-Württemberg yang menyebutkan, kombinasi biru-kuning ini dianggap “cukup
atraktif”.
Warna biru
Adalah keistimewaan dunia perpolitikan Jerman bahwa sebuah partai liberal dicirikan
dengan warna kuning. Di negara-negara Eropa lainnya partai-partai liberal lebih
mengidentifikasikan dirinya dengan warna biru, misalnya partai sosial-liberal di
Belanda atau nasional-liberal di Austria. Namun demikian, di Inggris Raya dan
negara-negara lain partai konservatif juga diasosiasikan dengan warna biru.
Walaupun biru bisa dikatakan warna yang paling digandrungi orang Jerman, sampai
hari tidak ada partai yang diidentifikasikan lewat warna ini. Namun ia sering
digunakan sebagai warna latar belakang atau pendamping. Plakat pemilu dan brosur
SPD dan CDU misalnya memakai warna biru sebagai latar belakangnya untuk waktu
yang lama. Dan apabila ada undangan konferensi pers ke kontor pusat CDU, para
petinggi partai berdiri di depan latar belakang yang berwarna biru.
Warna biru juga memainkan peran dalam logo CSU, ia menunjukkan kombinasi
warna hijau dan biru. Penjelasan atas kombinasi ini adalah bahwa kombinasi ini
menggabungkan dua warna yang merepresentasikan di wilayah besar di tanah
Bavaria. Warna hijau berarti wilayah Frankonia sebelah utara, biru melambangkan
bagian selatan Bavaria. Selain itu, warna biru juga dikenal sebagai warna
perdamaian internasional, misalnya pada bendera PBB dan Uni Eropa.
Warna hijau
20 Teks tentang pertanyaan „Mengapa Biru-Kuning?“ bisa dilihat di Frequently Asked Questions,
dalam: http://www.fdp-bundesverband.de; dalam teks ini juga bisa ditemukan pendapat media.
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
12
Tidak ada hubungan yang paling nyata terlihat antara maksud politik dan warna
partai seperti yang dinyatakan warna hijau: hijau adalah warna tumbuhan dan
melambangkan alam. Pada akhir tahun 70-an, di tengah-tengah berbagai
pergerakan sosial di Jerman, „Partai Hijau“ menonjolkan diri dengan keterlibatan aktif
mereka dalam perlindungan alam dan lingkungan. Pada saat itu terbentuk prakarsa
warga atau LSM-LSM di berbagai tempat dengan nama seperti „Grüne Liste
Umweltschutz“ (Daftar Hijau Pelestarian Lingkungan). Akhirnya pada 1980 didirikan
„Partai Hijau“. Partai ini menjadikan organisasi lingkungan „Greenpeace“ sebagai
contohnya yang sejak 1971 menyatukan aktivis perdamaian dan lingkungan.
Sementara partai-partai lain pada kampanye 2005 bereksperimen dengan warna,
Partai Bündnis 90/Die Grünen tetap berkonsentrasi pada warna tradisional mereka.
Pada kongres partai sebelum Pemilu seluruh panggung sampai lampu neon yang
dipasang di belakang mimbar dihiasi warna hijau.
Di negara lain partai-partai khususnya memakai warna hijau apabila warna tersebut
ada dalam warna nasional. Pada saat yang sama warna hijau adalah warna yang
digunakan oleh kelompok-kelompok politik yang berorientasi regional. Hal ini muncul
dari tradisi yang disesuaikan sejak awal zaman baru dalam pergerakan republikan:
warna hijau dipahami sebagai warna kebebasan, sebagai simbol atas kebebasan
yang diinginkan atau diraih dari kekuasaan asing. Garis-garis hijau dalam bendera
nasional Italia misalnya memiliki latar belakang ini. Di Irlandia warna hijau
dihubungkan dengan kondisi geografis „pulau hijau“; hijau melukiskan keinginan
orang-orang katolik akan kemerdekaan. Warna lawan mereka, kelompok protestan di
Irlandia, hingga saat ini adalah oranye.
Oranye
Oranye adalah warna yang paling penting yang muncul di panggung politik Eropa di
tahun-tahun belakangan ini. Warna ini tidak punya beban sejarah dan dengan
demikian terbebas dari ikatan-ikatan aliran perjuangan-perjuangan politik klasik. Jadi,
oranye dipilih sebagai warna aksentuasi dalam menampilkan diri keluar. Artinya, para
pemilih atau pelakunya mengikuti trend dalam dunia periklanan yang menampilkan
warna ini dalam berbagai bidang, misalnya citra tampilan Zweites Deutsches
Fernsehen (Televisi Programa 2 Jerman) yang didesain baru dengan warna oranye.
Oranye dipakai sebagai warna pedoman CDU pada kampanye pemilu parlemen
Eropa. Saat ini bendera-bendera oranye berkibar di depan Gedung KonradSumber:
Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
13
Adenauer. Brosur dan pena juga dibuat dawalam warna ini. Garis vertikal – yang
membelah logo CDU – yang dulu berwarna abu-abu pada mimbar tempat para wakil
partai berdiri di saat konferensi pers juga telah diganti dengan warna oranye. Dan
para pembantu CDU untuk pemilu dilengkapi dengan T-shirts oranye.
Dalam sebuah brosur yang dikeluarkan sekretariat pusat CDU alasan pemilihan
desain warna yang baru ini adalah: „Oranye sebagai warna penekanan di satu sisi
memungkinkan untuk tampil beda dalam persaingan partai dan di sisi lain juga
karena warna tersebut secara emosional lebih komunikatif. Warna oranye
menguatkan perhatian dan mendukung dampak komunikatif.“21 Ketika
memperkenalkan program kampanye 2005 sekjen CDU Volker Kauder menjelaskan
bahwa warna oranye melambangkan „perspektif, kebangkitan dan harapan“. Dalam
berbagai laporan media isi dari keterbukaan dan sifat acak dari profil gambar ini
banyak dikritik.22
Selain partai rakyat yang sudah mapan seperti CDU, aktor-aktor politik baru juga
mencoba memanfaatkan warna oranye untuk partainya, misalnya aliansi „Zukunft
Österreich“ di Austria, sebuah organisasi yang didirikan 2005 di bawah pimpinan
mantan politisi liberal-nasionalis, Jörg Haider. Pemilihan warna ini dijelaskan oleh
manajer kampanye Gernot Rumpold sebagai berikut: „Para pemilih tak ingin lagi
diikat, mereka ingin merasa nyaman. Karena itulah oranye sangat ideal untuk simbol
partai. Ia melambangkan liburan, matahari dan energi.“23
Di samping pertimbangan-pertimbangan dari aspek psikologi warna tersebut di atas
terdapat juga argumen-argumen politis yang eksplisit terhadap warna oranye. Ini
misalnya bisa dilihat pada anggota pendiri „Wahlalternative Arbeit und soziale
Gerechtigkeit (WASG) yang untuk pertama kalinya muncul pada pemilihan anggota
parlemen negara bagian di Nordrhein-Westfalen. Di satu pihak ada yang menjawab
bahwa pemilihan warna oranye berkaitan dengan fakta bahwa warna yang lebih
cocok untuk organisasi mereka, yakni merah, sudah terpakai. Di pihak lain
disebutkan bahwa dalam warna oranye itu ada kenangan akan tradisi dari sebuah
21 Sekretariat Pusat CDU, Unsur-unsur Dasar Citra Tampilan CDU, Februari 2004, hal. 4, lihat juga
http://www.ci.cdu.de
22 Bandingkan contohnya dengan Matthias Heine, Farbe der Stunde, dalam: Surat kabar Die Welt
tanggal 17-8-2005, hal. 16, atau Clemens Nieddenthal, Ein Mann sieht orange, dalam: Die
Tageszeitung tanggal 6-4-2005, hal. 14
23 Dikutip berdasarkan: Haiders Mann für die Orange, dalam: Der Standard tanggal 3-5-2005
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
14
politik reformasi tertentu yang pernah dijalankan SPD di tahun 70-an yang ketika itu
menggabungkan warna merah-oranye.
Sejak „revolusi oranye“ di Ukraina menjadi bahan pembicaraan masyarakat dunia,
warna ini makin diinterpretasikan sebagai lambang gerakan protes mendukung
demokrasi. Anggota WASG misalnya mengatakan bahwa dengan pemilihan warna
oranye mereka merasa terhubung dengan kekuatan reformasi seperti di Ukraina. Ini
mengindikasikan bahwa warna dalam masyarakat nasional bisa dipolitisir melalui
kejadian-kejadian di negara lain. Inilah sebuah fenomena internasionalisasi politik.
Bahwa budaya warna politik melewati batas-batas negara, itu terlihat di musim semi
2006 di saat kampanye Republik Ceko. Sebelum pemilu legislatif kedua partai besar
memilih warna oranye. Partai sosial-demokrat CSSD yang berkuasa, yang dalam
logonya biasanya tampak bunga mawar merah, memilih warna oranye dalam
penampilan mereka. Partai konservatif ODS yang menjadi oposisi menambah warna
biru yang menjadi warna partai meereka dengan oranye. Komentar di media
menyebutkan bahwa masing-masing partai merujuk pada perkembanganperkembangan
politik yang terjadi di Ukraina dan juga di Jerman.24 Disebutkan pula
adanya keterlibatan agensi-agensi periklanan barat sebagai konsultan kampanye
yang memberikan pengaruh pada perkembangan tersebut.
Umbra (Coklat Terang)
Warna ini adalah warna lain yang digunakan dalam panggung politik aktual. Untuk
jangka waktu yang lama SPD memakai warna biru sebagai warna latar belakang
atau warna pendamping. Kemudian sejak corporate design dirombak lagi, tepatnya
sebelum pemilu legislatif tingkat nasional 2005, digunakan warna coklat terang. Sisisisi
panggung pada saat konferensi pers, brosur, manifest pemilu atau plakat pemilu
muncul dalam warna coklat terang (umbra). Ketika memperkenalkan warna ini
dijelaskan bahwa pemilihannya didasari pada pengetahuan ilmiah yang
menyebutkan warna biru cenderung bersifat dingin dan warna coklat terang lebih
bisa mentransportasikan pernyataan-pernyataan partai. Sayangnya penelitian ilmiah
itu tidak bisa diakses publik.
24 Bandingkan Die Farbe Orange auch im tschechischen Wahlkampf, dalam: der Standard tanggal 30-
1-2006
Sumber: Aus Politik und Zeitgeschichte 20/2006
15 Mai 2006
15
Mirip dengan pemakaian warna oranye di CDU, warna tanah coklat terang ini juga
diterima secara kritis. Yang menarik dalam kedua kasus tersebut adalah bahwa
alasan estetis atas pemilihan warna yang diutarakan kedua partai sangat kuat unsur
politisnya. Kedua partai menghubungkan antara keistimewaan masing-masing warna
dengan perilaku politik partai. Di “Financial Times Deutschland” disebutkan misalnya:
“Agenda 2010, Hartz IV, belalang dan Franz Müntefering, itu semua berwarna coklat
terang, tidak berwarna merah, kan?”25
Sementara partai menganggap warna hanya sebagai masalah marketing, para
komentator melihat pemilihan warna oleh partai sebagai raster/pola untuk
menjadikan keadaan partai politik yang tidak mantap itu sebagai tema komentar
mereka. Artinya, warna yang bagi partai berfungsi sebagai media, di mata
komentator ia adalah pesan. Bisa dikatakan dalam kritik ini dapat kita temukan
kebutuhan publik: warna masih melambangkan orientasi politik. Apapun rupanya,
warna-warna baru yang muncul dalam dunia politik sekarang tetaplah penunjuk jalan
– walaupun tidak lagi sebagai informasi tentang aliran-aliran ideologi tertentu yang
dikenal selama ini, melainkan sebagai media untuk melihat ke dalam perkembangan
demokrasi partai dan komunikasi politik.
25 Kai Beller, Wahlkampf-Tagebuch: Die Zukunft ist Umbra (Buku Harian Kampanye: Masa Depan
berwarna coklat terang), dalam: http://www.ftd.de/me/cl/13719.html.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s