MASYARAKAT ANEKA BAHASA (SOCIETAL MULTILINGUALISM) Oleh Tubagus Hidayat

Posted: 12 September 2010 in Tubagus Hidayat

MASYARAKAT ANEKA BAHASA (SOCIETAL MULTILINGUALISM) Oleh Tubagus Hidayat

 Banyak negara mempunyai beberapa pilihan untuk menggunakan bahasa. Negara-negara yang mempunyai beberapa variasi bahasa menyebabkan masyarakatnya menjadi bilingualisme atau multilingualisme. Beberapa Negara di Asia dan Afrika seperti Nigeria, Tanzania, India, Indonesia dan Filipina mempunyai beberapa bahasa yang digunakan masyarakatnya. Banyaknya bahasa ternyata menimbulkan masalah yang lebih kompleks dari pada Negara-negara yang hanya mempunyai satu bahasa saja. Di India misalnya mempunyai 14 bahasa dan setiap bahasa mempunyai jumlah penutur lebih dari dua juta orang. Di Filipina mempunyai enam bahasa daerah dan di Nigeria mempunyai tiga bahasa. Menurut catatan Lewis (1972) di Kanada terdapat bahasa Inggris, Spanyol, Indian, dan Eskimo yang sama-sama digunakan dan masih terpelihara dengan baik. Di Amerika Serikat ternyata juga mempunyai banyak bahasa, di sana terdapat populasi Puerto Rico, dan Kuba yang menggunakan bahasa Spanyol. Pemikiran Joshua Fishman (1968b, 1972c) Nationality adalah sekelompok orang yang merasa suatu satuan sosial (social unit) yang berbeda dari kelompok lain, tetapi tidak didasarkan pada ukuran lokal (wilayah), nasionalitas harus dibedakan dari kelompok etnik yaitu organisasi sosiokultural yang ’lebih sederhana, lebih kecil, lebih khas, lebih lokalistik’ dalam sosiolinguistik bukan dianggap dua hal yang sangat berbeda dan terpisah, tetapi dalam satu rentang garis, dengan demikian satu kelompok bisa cenderung keetnikan atau ke arah nasionalitas. Nation adalah suatu satuan politik teritorial yang sebagian besar menjadi atau makin menjadi dibawah kontrol /kendali nasionalitas tertentu. Suatu nation itu bisa berbeda dengan apa yang disebut state (negara;negara bagian), satuan politik atau country (negara). Nationalism dibangun dari dan mendukung nationalities dan nationalism. Bahasa menjadi permasalahan bangsa secara umum baik dalam administrasi maupun pendidikan. Bahasa bersama dengan kebudayaan, agama, dan sejarah menjadi komponen besar nationalism. Penggunaan bahasa untuk kepentingan pemerintahan harus diseleksi untuk menunjukkan jati diri bangsa. Pemilihan suatu bahasa untuk dijadikan bahasa nasional tentunya harus dilakukan dengan tepat dah bukanlah pekerjaam yang mudah. Pendidikan membutuhkan bahasa untuk menstransfer ilmu pengetahuan secara efektif kepada siswa. Penggunaan bahasa di dalam pemerintahan sangat menonjol. Bahasa mempunyai kekuatan besar untuk membuat suatu bangsa menjadi maju. Bahasa bukan hanya sebagi motor dari sejarah tetapi bahasa adalah bagian dari sejarah itu sendiri. Sejauh keaslian bahasa dapat ditunjukkan, ini mempunyai keuntungan besar di dalam suatu bangsa. Fisman mengungkapkan bahwa ’bahasa ibu adalah jiwa dari dirinya sendiri dan inti dari bangsa. Bahasa memerankan peran penting di dalam nationalism atau disebut ’contrastive self-identification’ Garvin dan Mathiot (1956) menyebutnya ’unifying and separatist function’ artinya anggota nationalism mempunyai kesatuan dan identitas dengan orang yang mempunyai bahasa yang sama. Bahasa dapat membuat suatu negara itu terpecah atau bersatu. Orang yang monolingual akan sulit untuk berbicara dengan masyarakat yang mempunyai bahasa berbeda tetapi seseorang yang bilingual mempunyai pemahaman yang bagus terhadap bahasa keduannya dan tetap mempunyai identitas pada bahasa pertama. Nationalism secara sadar membuat dirinya lebih modern, asli, dan mempunyai kesatuan bahasa yaitu bahasa standar. Padahal dahulunya hanya wilayah dan sosial yang bervariasi. Masalah nationalism: masyarakat yang multilingual mempunyai masalah yang lebih banyak dari pada masyarakat yang monolingual. Kesulitan berkomunikasi di dalam masyarakat pada suatu negara akan menjadi hambatan dalam perdagangan, industri, dan adanya gangguan sosial. Tetapi lebih serius, multilingualisme bekerja menolak nationalism. Masyarakat yang monolingual lebih mudah membangun nation dari pada masyarakat multilingual. Masyarakat multilingual mempunyai beberapa cara untuk membangun nationalism. Dalam sejarah banyak bangsa memilih bahasa untuk menjadi bahasa nasional dengan cara mempromosikan bahasa tersebut kepada orang yang bukan berbahasa asli bahasa tersebut. Masalah nationism: ini sering terjadi pada negara yang baru merdeka yaitu negara tersebut masih menggunakan bahasa negara penjajah. Bahasa negara penjajah sudah menjadi bahasa utama dan mempunyai penyebaran yang luas sehingga tidak dapat dipisahkan di dalam kehidupan masyarakat, sosial, perdagangan, dan administrasi negara. Contohnya di Irlandia mengambil dua bahasa untuk dijadikan bahasa negara yaitu Inggris dan bahasa Irlandia sebagai solusi. India juga mempunyai masalah yang sama dan mengambil bahasa Hindi untuk bahasa negara dan bahasa Inggris sebagai bahasa keduanya. Ternyata bahasa Hindi tidak bisa menggantikan bahasa Inggris dai dalam berbagai bidang. Di bidang pendidikan seharusnya pendidikan dasar diberikan pelajaran bahasa daerahnya masing-masing karena ini merupakan identitas dari siswa tersebut. Tetapi ini menyebabkan tidak nationalism. Dampak yang dapat diukur di dalam masyarakat multilingual Apakah benar masyarakat multilingual mempunyai masalah sedangkan masyarakat monolingual tidak? Ini mungkin terjadi, untuk menunjukkan bahwa negara yang mempunyai multilingual lebih dirugikan dari pada masyarakat monolingual. Fishman (1972) dan Pool (1972) membuat ukuran bahwa terdapat hubungan antara masyarakat multilingual atau masyarakat monolingual dengan tingkat kesejahteraan. Pool mengukur hal ini dengan cara mengukur pendapatan per kapita. Pendapatan per kapita adalah jumlah pendapatan seluruh negara dibagi dengan jumlah penduduk per tahun. Untuk mengukur hubungan tersebut Pool menggunakan ukuran komunitas terbesar bahasa ibu di dalam suatu negara berhubungan dengan total populasi. Sesaat dapat dilihat bahwa multilingualisme berhubungan dengan pekerjaan. Dapat diperkirakan bahwa kelompok masyarakat yang mempunyai jangkauan bahasa yang luas hanya 25 per sen dari populasi suatu negara. Artinya 75 per sen dari populasi adalah nenggunakan bahasa-bahasa yang berbeda. Jika kelompok besar terdiri dari 90 per sen dari populasi, tinggal 10 per sen dari semua itu menggunakan bahasa kelompok. Setelah dilakukan penelitian dengan cermat maka dapat diperoleh grafiks seperti berikut ini: Dapat disimpulkan bahwa: 1. Masyarakat yang tidak mempunyai kesatuan bahasa tetap menjadi terbelakang. 2. Masyarakat yang mempunyai kesamaan bahasa ternyata terdapat di negara kaya maupun miskin. 3. Negara-negara yang mempunyai bahasa heterogenesis yang tinggi ternyata terbelakang atau semi terbelakang. 4. Negara yang ingin berkembang maka harus mempertimbangkan membuat bahasa persatuan. Di bawa ini adalah grafiks pendapatan perkapita dengan sebaran penggunaan bahasa asli. Fishman merekam bahwa keanekaragaman bahasa secara ekonomi sangat membangun. Tingkat multilingualisme yang tinggi mencegah pembangunan ekonomi. Ini sama dengan untuk membangun ekonomi yang baik maka harus mengurangi perbedaan bahasa. Kesatuan dan ekonomi sama baiknya, keduannya saling memperkuat. Membuka kemungkinan bahwa negara yang mempunyai tingkat multilingualisme tinggi juga mengalami keterbelakangan ekonomi. Multilingualisme sosial sebagai sumberdaya Multilingualisme ternyata tidak hanya mendatangkan masalah. Jika dilihat dari segi yang berbeda multilingualisme dapat menjadi sumberdaya. 1. Setidaknya dapat menjadi solusi bangsa-negara di dalam kebijakan bahasa untuk meredam konflik. Penggunaan bahasa penjajah untuk alasan bangsa dan bahasa nasional untuk alasan rasa nasionalis. 2. Di bidang pendidikan masalah penggunaan bahasa daerah kadang-kadang bergesekan dengan penggunaan bahasa nasional. Bahasa daerah digunakan untuk menjaga identitas, sedangkan bahasa nasional digunakan untuk efektifitas. Solusinya yaitu menggunakan bedua bahasa tersebut demi memajukan pendidikan. 3. Multilingualisme dapat menjadi solusi di dalam konflik hubungan individu, hubungan sosial, masyarakat yang multilingualisme memberi kontribusi menjadi masyarakat yang dinamis. 4. Masyarakat yang mempunyai banyak etnik cenderung menggunakan multilingualisme. 5. Idealnya negara yang mempunyi banya etnik yang menggunakan adat dan bahasanya masing-masing tetap mempertimbangkan penggunaan bahasa nasional. Kebijakan dalam bidang bahasa dapat mengatur penggunaan bahasa daerah dan bahasa nasional. Kebijakan yang diambil di setiap negara berbeda-beda namun hasilnya sama yaitu sebagai bagian dari solusi. Contoh yang tidak begitu dipedulikan yang diteliti oleh Abdulaziz Mkilifi (1978) yaitu tentang penggunaan dua bahasa Swahili-Inggris di pasangan menikah di Tanzania. Sang suami menggunakan bahasa Swahili sedangkan istrinya menggunakan bahasa Inggris. Bagi suami bahasa Swahili adalah simbol daerahnya sedangkan bagi istri bahasa Inggris adalah untuk menggabungkan hubungan daerah. Kenyataannya banyak masalah di dalam hubungan suami-istri tersebut. Penelitian Soutwoth (1977:224 di dalam Apte 1976:927) bahwa bilingualisme membangun bahasa menjadi berbeda-beda (hetero). Bagaimana membangun bangsa yang multilingual? Terdapat empat cara penyebab multilingualisme: 1. Migrasi Ada dua tipe migrasi yaitu perpindahan kolompok yang luas ke suatu daerah yang tetap membawa pengaruh sosial-kulturnya dan dapat berasimilasi dengan masyarakat setempat. Contohnya Catalonians di Spanyol, Brentons di Prancis dan Amerika. Yang kedua adalah perpindahan kelompok kecil ke suatu daerah dan membawa kultur dan bahasa aslinya kemudian menjadi anggota di daerah yang ditempatinya. Contohnya imigran dari China, Korea, Kua, dan Haiti di Amerika. Catatan Lieberso (1975) kelompok imigran akan mengalami asimilasi bahasa di mana kelompok yang dominan akan memainkan peranan penting terutama bahasa. Contohnya Chicanos, Acadian Prancis, dan beberapa kelompok penduduk asli Amerika. 2. Penjajahan Penjajah dapat mengontrol wilayah yang luas dan menggunakan bahasa jajahannya. Penjajahan termasuk pencaplokan wilayah seperti yang terjadi di Latvia dan Estonia oleh Uni Soviet juga dapat menyebabkan multilingualisme. Lewis (1972:330) melaporkan bahwa 26 per sen dan 20 per sen dari populasi masing-masing adalah orang Rusia pada tahun 1959. Di Lithuania hanya 8 per sen dari populasi adalah orang Rusia. Negara penjajah seperti Inggris, Prancis, Spanyol, Portugis, dan Belanda dijadikan contoh oleh negara-negara bekas jajahannya seperti di Afrika, Asia, Amerika Selatan, dan sebagian besar negara-negara yang baru merdeka. Di bidang ekonomi bahasa asing membuat trobosan penting pada suatu negara karena dapat membawa keuntungan di bidang ekonomi. Negara dapat mengontrol keadaan politik dan menjaga persatuan serta dapat berhubungan baik dengan luar negeri. Contohnya di Thailand negara ini tidak pernah dijajah oleh negara lain sehingga banyak masyarakatnya yang tidak bisa berbahasa Inggris (Aksornkool 1980). Penjajahan dapat memperkenalkan suatu bahasa ke pada masyarakat jajahannya. Akhirnya bahasa negara penjajah ini menjadi penting dan digunakan di bidang pendidikan, ekonomi, dan pemerintahan. Bahasa penjajah juga sangat penting untuk hubungan internasional, perdagangan, politik dan diplomasi. Penjajahan ternyata dapat mempengaruhi multilingualisme. 3. Federasi Federasi dapat menyatukan etnik yang berbeda di bawah satu kontrol politik. Contohnya Switzerland yang dulunya bernama Cantons mempunyai empat bahasa yaitu Jerman, Prancis, Italia, dan Roman. Contoh lainnya yaitu Belgia, belgia mempunyai dua bahasa yang sangat besar penggunaannya. Pertama bahasa bahasa Prancis Walloons di bagian selatan dan dan bahasa Flemish di bagian utara. Ketika Belgia merdeka di tahun 1830 Flemish menjadi bahasa nasional. Belgia adalah salah satu contoh federasi tanpa paksaan. Contoh lain yaitu Kamerun yang pernah menjadi federasi Prancis dan Inggris sehingga kedua bahasa dari kedua bangsa tersebut mempengaruhi multilingualisme Kamerun. Negara ini menjadi federasi dengan cara paksaan. Biasanya negara federasi dengan paksaan akan berusaha memisahkan diri contohnya Biafra dari Nigeria, Katanga dari Zaire dan Bangladesh dari Pakistan. Hanya Bangladesh yang berhasil dan akhirnya menjadi negara merdeka. 4. Daerah Perbatasan Sosiokultural tidak selalu sama dengan batas-batas berdasarkan politik. Banyak daerah perbatasan antar negara menjadi satu kelompok sosiokultural. Mereka tidak memperdulikan batas-batas negara. Fenomena ini terjadi di timur laut Amerika Serikat yaitu munculnya masyarakat yang berbahasa Prancis di Amerika Serikat, walaupun secara etnik dekat dengan Provinsi Quebec di Kanada. Seringkali karena perang suatu negara kehilangan wilayahnya dan negara lain mendapat wilayah baru karena menang. Hal ini jika terjadi dalam waktu yang lama maka akan menyebabkan multilingual dan multietnik. Contohnya Alsace dan Lorraine didiami multilingual dari Prancis dan Jerman. Kedua provinsi ini pernah menjadi bagian dari kedua negara ini dan sekarang menjadi bagian dari Prancis. Di sana penduduk berbahasa Jerman memberi kontribusi multilingual di dalam negara. Di bawah ini adalah contoh multilingualisme secara politis. PARAGUAY Paraguay adalah negara penting di Amerika Selatan. Negara ini pernah dijajah oleh Spanyol. Ada keunikan di negara ini yaitu, sejak abad ke-16 koloni Spanyol dan keturunannya mengambil bahasa pribumi yaitu bahasa Guarani. Hasilnya di tahun 1950 hampir 95 per sen dari populasi berbahasa Guarani ini sesuai penelitian (Rona 1966, Robin 1978). Hal paling penting tentang bahasa di Paraguay adalah hubungan antara orang Guarani dan orang Spanyol. Contoh Bilingualisme Bahasa Spanyol di Paraguay digunakan di pemerintahan sebagai bahasa khusus misalnya untuk pendidikan. Pendatang di kota-kota mayoritas mengetahui bahasa Spanyol dan menjadi bahada kedua. Hampir 89,1 per sen dari populasi Asuncio di ibukota mengetahui bahasa Spanyol (Rona 1966:284) dengan populasi di kota 76,1 per sen. Maka di sini terjadi bilingualisme yaitu bahasa Spanyol dan bahasa Guarani. Penelitian tersebut juga mencatat bahwa 45,8 per sen monolingual Guarani dan 49,5 per sen bilingual. Sikap Bahasa Faktor penting di Paraguay adalah merasakan adanya dua bahasa besar. Ini sangat berbeda, bahasa Guarani mempunyai fungsi persatuan dan pemisah (Garvin dan Mathiot). Ini terlihat sikap umum bahwa setiap orang yang tidak mengetahui bahasa Guarani maka bukan benar-benar orang Paraguay. Orang yang monolingual yaitu hanya menguasai bahasa Guarani dianggap rendah daripada orang yang bilingual. Mereka dianggap bodoh sebab tidak mengetahui bahasa Spanyol (Robin 1974:479). Mereka menganggap bahasa Spanyol lebih baik dan terlihat luwes sehingga lebih dibanggakan. Hubungan kedua bahasa ini ternyata lebih rumit. Bahasa Guarani adalah bahasa yang lebih dulu ada dan bahasa asli Paraguay. Ini memberi status khusus di dalam negara. Bahasa Spanyol digunakan untuk fungsi yang lebih tinggi di dalam hubungan sosial dan membawa dampak lebih pestis kepada orang yang menguasainya. Orang yang hanya mampu menguasi bahasa Spanyol dianggap tidak mempunyai hubungan sosial masyarakat yang baik. (Rona:286). Konflik nasionalis—kebangsaan di dalan pemerintahan dan pendidikan Hingga tahun 1967 hanya bahasa Spanyol yang diperkenalkan oleh pemerintah. Kemudian undang-undang merevisi penggunaan kedua bahasa tersebut yaitu bahasa Spanyol dan bahasa Guarani sebagai bahasa nasional, namun hanya bahasa Spanyol yang digunakan di dalam bahasa resmi pemerintahan (Robin 1978:191). Ini memunculkan bahwa bangsa menunjukkan keunggulan di dalam pemilihan bahasa di pemerintahan. Rupanya kaum Guarani tidak mengerti simbol bahasa di dalam nasionalisme, sehingga tidak siap untuk digunakan di dalam pemerintahan. Yang harus dilakukan adalah membuat teknik pembuatan kosakata. Buktinya adalah walaupun Paraguay sudah merdeka dari Spanyol selama 150 tahun dan menggunakan bahasa Spanyol, tidak merasakan ancaman kaum nasionalis. Tidak ada keinginan untuk membawa bahasa Guarani sebagai bahasa resmi di dalam pemerintahan. Paraguay menjadi kasus klasik yang bernilai dalam mencari solusi multilingualisme dalam konflik bangsa-negara. Bahasa Guarani dapat diposisikan sebagai bahasa nasional padahal bahasa Spanyol juga sebagai bahasa nasional. Ini belum jelas mengapa di sana terdapat konflik bangsa dan negara di dalam pendidikan. Dengan menggunakan bahasa Guarani akan memperkuat nilai simbolik dari bahasa nasional, dan melayani tujuan bangsa. Bahasa Spanyol tetap menjadi bahasa yang ekslusif di dalam pendidikan. Bahasa Guarani tidak diizinkan di pakai di kelas hingga tahun 1973 (Rubin 1978:191). Kesimpulan Bahasa Guarani tidak digunakan dalam pendidikan Paraguay. Sistem pendidikan tidak mendukung bahasa Guarani. Bahasa Guarani tidak dibutuhkan sebagai bahasa untuk tujuan negara dari pendidikan yang efisien. Ini sangat bertentangan dari diskusi sebelumnya bahwa bahasa Spanyol adalah pilihan nyata sebagai bahasa pendidikan. Adabaiknya menggunakan bahasa Guarani sebagai bahasa pertama pendidikan dan bahasa Spanyol sebagai bahasa pendidikan kedua ini untuk awal. Bahasa Guarani secara kuat menjadi bahasa yang mandiri, bahasa nasional yang unik untuk Paraguay dan digunakan sebelum kemerdekaan. Bahasa Buarani tidak bisa mendukung sistem pendidikan di Paraguay. Pemerintah mengambil langkah baru yaitu di tahun 1973 memasukkan kurikulum baru bahwa bahasa Guarani diajarkan di sekolah dasar. Ini menunjukkan adanya kecendrungan pendekatan pengajaran bilingualisme. Chaco dari Indian Ini akan menarik adanya contoh yang mendekati multilingualisme di Paraguay. Paraguay mempunyai dua bahasa besar dan dua bagian besar yaitu bagian timur dan bagian barat. Bagian timur disebut oriental dan bagian barat disebut Chaco. Chaco mempunyai populasi sangat jarang, yaitu 60 per sen luas negara dan hanya 3 per sen populasinya. Chaco adalah tempat tinggal dari kelompok etnik yang tidak membaur. Klein dan Stark (1977) menemukan 13 bahasa dan terdapat lima bahasa yang hanya mempunyai penutur 24 ribu orang. Ini terlihat jumlah yang besar untuk penutur yang sedikit. Di sana terdapat perbedaan yang besar antara bahasa Indian da Chaco. Di sisi lain, terdapat hubungan yang dekat dan dapat dimengerti oleh satu sama lain. Lima bahasa di dalam keluarga bahasa Mascoi agak dapat dipahami dan semuannya disebut Enlhit atau Enenlhit dari penuturnya. Secara umum Indian terpaksa mendapatkan ekonominya secara tradisional, yaitu nelayan, bertani, berburu dan mencoba untuk menemukan pekerjaan di pemerintahan Paraguay. Dengan meningkatnya pertanian dan dilarangnya penjualan kulit binatang liar maka kegiatan berburu menjadi berkurang. Banyak generasi muda yang bekerja di pabrik kimia perawatan kulit, tetapi industri ini mati karena beberapa alasan. Ini menjadikan banyak pegawai yang berubah menjadi petani atau bekerja dengan Mennonite di Chaco tengah sebagai pekerja perkebunan. Banyak dari mereka hidup berkecukupan dan sukses menjadi tentara, misionaris dan guru. Bahasa sederhana yang digunakan dalam kehidupan sosiokultural sangat kuat yaitu dari 100 per sen memelihara bahasa suku dari total waktu bekerjanya. Nasib bahasa tergantung dari penuturnya, ini pernah digambarkan oleh Angaite dan Chulupi. Agaite berbicara dalam satu variasi yaitu Mascoi, beberapa dari mereka dari generasi ke generasi telah bekerja di pabrik kimia. Di situ juga dipekerjakan orang Indian dan Mascoi yang mempunyai bahasa berbeda. Di sana juga terjadi perkawinan di antara mereka. Mereka menggunakan bahasa Guarani untuk memahami satu sama lain, dengan suami dan dengan anaknya. Orang-orang Angaite lainnya bekerja di peternakan atau di pertanian Mennonite. Seperti pekerja pabrik lainnya juga menggunakan bahasa Guarani. Hanya satu kelompok dari 250 kelompok yang menggunakan bahasa Angaite. Kecuali satu kelompok ini maka akan berpindah dari bahasa suku ke bahasa Guarani dalam dua generasi. Orang Chulupi berbicara menggunakan bahasa Mataguayo dan bangga dengan Chaco. Walaupun beberapa dari mereka telah mendengar bahasa Spanyol dan Guarani namun umumya tidak mempelajarinya dengan baik dan tidak mau mencampurnya dengan bahasa suku. Berbeda dengan Agaite, Chulupi tidak bervariasi. Juga berbeda dengan Agate, Chulupi Indian akan menggunakan usaha yang besar untuk memahami bahasa lain selain bahasa Mataguayo tanpa memilih. Di banyak tempat di mana tempat Chulupi Indian telah diadakan program pendidikan untuk mempelajari bahasa Spanyol dan meningkatkan mengembangkan bahasanya sendiri dehingga terjadi bilingualisme. Di kota Mennonite, Filadelfia telah dioprasikan radio dengan beberapa program menggunakan bahasa Indian. Chulupi telah menggunakan bahasa Spanyol untuk memindahkan siaran Chulupi, maka hanya Chulupi asli yang dapat mendengar. Ini mudah bahwa Chulupi akan memelihara bahasanya ke depan dari sebelumnya. Awalnya, saya menerangkan kemungkinan menggunakan pendapat Fishman bahwa pemeliharaan bahasa memerlukan promosi. India Latar Belakang India adalah contoh sosiolinguistik yang luas. Negara ini salah satu contoh negara yang multietnik. Belum tahu pasti berapa banyak jumlah bahasa yang ada di negara ini, tetapi mereka mencatat terdapat beberapa ratus bahasa. Menurut catatan (Apte 1976 :142) terdapat 1652 bahasa dan dialek. India merdeka dari Inggris tahun 1947 dan sejak saat itu berbentuk federasi. India telah mempunyai banyak bahasa dan banyak etnik sebelum menjadi jajahan Inggris. Banyaknya etnik dan bahasa ternyata menciptakan konflik, baik politik maupun sosial. Tidak semua bahasa di India mempunyai status yang sama. Bahasa Hindi contohnya statusnya menjadi bahasa nasional dan digunakan di pemerintahan. Bahasa Inggris tidak dicantumkan di dalam undang-undang, tetapi kenyataannya digunakan di dalam pemerintahan pada tingkat federal dan negara. India membagi bahasa ke dalam dua kelompok besar yaitu bahasa Indo-Arya di utara dan bahasa Dravida di selatan. Bahasa Indo-Arya terdiri dari bahasa Assamese, Bengali, Gujerati, Hindi, Kashmiri, Marathi, Oriya, Panjabi, Sanskrit, dan Urdu sedangkan bahasa Dravida terdiri dari Kannada, Malayalam, Tamil, dan Telegu. Contoh Bilingualisme Dengan tingkat perbedaan bahasa dan etnik yang besar di India maka perlu langkah yang tepat untuk menyatukan bilingualisme dan multilingualisme. Bilingualisme di India mencapai 9,7 per sen dari populasi pada tahun 1961. Menurut Khubchandani 1978:559) angka ini sangat rendah. Bilingualisme ini disebabkan karena kecendrungan adanya bahasa yang diabailan karena masalah kesamaan terutama kesamaan bunyi sistem gramatikal. Contohnya bahasa Hindi dangan bahasa Urdu. Namun mereka masih menggunakan sistem tulisan yang berbeda. Kosakatanya sebagian besar berbeda. Bahasa Hindi lebih komplek dan sejarahnya sudah digunakan oleh sebagian kelompok agama Hindu. Ini dituliskan di dalam manuskrip yang disebut Davanagari, tulisan yang sama digunakan di dalam Sanskrit. Penutur bahasa Hindi menolak bahasa Urdu yang mengambil atau meminjam kosakata dari bahasa Sanskrit. Urdu adalah bahasa yang digunakan orang muslim dan ditulis dalam transkrip Perso-Arabik. Kosakatanya dipinjam dari Persia dan Arab daripada Sanskrit. Perbedaan bahasa Urdu dan Hindi jelas terlihat di dalam tulisan, walaupun banyak kesamaan secara leksikal. Oleh sebab itu dapat diidentifikasi secara cepat. Dalam penggunaan sehari-hari bahasa Urdu dan Hindi mempunyai hubungan dalam mencapai tujuan komunikasi. Keduanya dapat menyatu. Para penulis setuju dengan sosiolinguistik di India cenderung menekankan kesamaan bahasa Hindi dengan Urdu sehingga disebutnya bahasa Hindi-Urdu. Walaupun banyak kedekatan hubungan Hindi-Urdu satu sama lain, nahasa Punjabi juga merupakan bagian yangsama kompleksnya tetapi dari penuturnya sendiri (Kachru dan Bhatia 1978:532). Masalah lain yang timbul yaitu terdapat beberapa perbedaan ucapan yang susah untuk diklasifikasi. Satu contoh adalah Maithili yang mengaku mempunyai penutur enam juta orang di tahun 1971 (Apte 1976:160). Ditulis dalam manuskripnya dan literatur tradisionalnya sendiri. Ini secara struktural sama dengan Bahasa Bengali sehingga perlu dipertimbangkan perbedaan bahasa dari teknik bahasa. Jika bahasa Maithili dimasukkan ke dalam satu kriteria tersendiri makan permasalahannya dapat lebih ringan. Karena adanya peminjaman kosakata itu sehingga dapat dalam memberikan krteria dan menentukan hubungan bahasa. Tetapi bahasa Maithili secara resmi dipertimbangkan di dalam dialek Hindi. Ini akan menimbulkan masalah misalnya mereka akan mempertimbangkan tiga pilihan. Maithili dipertimbangkan menjadi bagian dua bahasa yaitu Hindi dan Bengali. Jelas, keputusan ini untuk menyesuaikan perbedaan pengucapan. Keputusan ini didasari keputusan politik dari pada keputusan latar belakang bahasa. Semua ini berarti bahwa pengambil sensus mendatangi semua kota di seluruh India untuk menanyakan apa bahasa ibu mereka dan bahasa lain yang digunakan untuk berbicara. Ini bukanlah hal yang mudah. Beberapa orang pertama kali tidak dapat menjawab bahasa apa yang telah mereka gunakan. Mereka rupanya lebih memilih untuk menginginkan menggabungkan dengan bahasa yang lebih prestis, untuk memperlihatkan patriotiknya, atau kesetiaan terhadap kelompok etnik lokalnya. Dapat dibayangkan, penutur yang menggunakan bahasa Indo-Arya berbicara berbeda saat di rumah. Dia mampu memahami bahasa Hindi untuk beberapa tingkat dan menggunakan beberapa percakapan bahasa Hindi di dalam etnik. Hindi adalah bahasa nasional. Ini adalah status dan prestis. Dia menggunakan bahasa Hindi saat diadakan sensus, yang lainnya menggunakan bahasa Indo-Aryan yang disebut Rajastani. Haruskah dia menyebutnya orang Rajastani? Bahasa Rajastani tidak termasuk bahasa nasional, bahasa ini mirip dengan bahasa Hindi, dan Hindi adalah bahasa nasional. Dia berharap menunjukkan jiwa patriotiknya sehingga dia mengaku berbahasa Hindi. Menurut Kachru dan Bhatia (1978: 53-4) ini telah memotivasi banyak orang responden untuk segera merdeka. Mereka memilih mengaku berbahasa Hindi dapi pada berbahasa lokalnya. Di sisi lain bahya orang yang mempunyai konsep sangat lokal. Tidak mengetahui nama dari bahasa mereka, dan enggan untuk memberi alasan nama salah satu nama bahasa besarnya, mereka memberi nama berdasarkan kasta, kelokalan, atau tidak menempatkan seperti bahasanya. Ini menjadi menjadi pertimbangan di dalam sensus di dalam penghitungan responden. Penutur dapat mengotrol secara verbal yang mana membuat penutur asli dapat mempunyai lebih dari dua dialek. Banyak dari bilingualisme di India mempunyai nilai inheren yang bervariasi dan campur kode. Apakah ini mebingungkan, di bagian lain, variasi ini dapat disebut dari perbedaan nama. Jika kita dapat membayangkan apakah pengacara Amerika di kantor berbahasa Inggris dan apakah dia saat di rumah berbahasa Amerika dan mereka dianggap bagian bahasa, kita mendapatkan sesuatu dari apa yang dimaksud dari fluidity. Bervariasinya bahasa di India berbeda dari setiap bahasa Inggris di Dunia. Bahasa Pemerintahan Pemerintah Federal Setelah India merdeka, bahasa Inggris tetap digunakan di pemerintahan. Semangat nasionalis tenyata menginginkan adanya bahasa pribumi untuk dijadikan bahasa nasional. Bahasa Hindi menjadi kandidat kuat untuk posisi ini. Karena bahasa ini mempunyai jumlah penutur terbesar dan sebaran penuturnya juga paling luas. Bahasa ini telah menjadi bahasa asli dan digunakan dalam komunikasi intraetnik. Bagaimanapun juga di sana terdapat tiga permasalahan dengan memilih bahasa Hindi. 1. Walaupun telah diketahui paling luas penyebarannya dan penggunaannya namun penyalurannya tidak merata di seluruh negara. Lebih besar lagi di bagian utara (wilayah Indo-Arya) negara bagian Uttar Padesh, di sana menurut sensus tahun 1961 dilihat oleh Khubchandani (1978) terdapat 96,7 per sen menganggap bahwa populasi Hindi atau Urdu menjadi bahasa pertama atau kedua. Di tempat lain, di bagian selatan, di Tamilnadu, pusat penutur bahasa Dravida kurang dari 0,0002 per sen mereka yang mengetahui bahasa Hindi atau Urdu. 2. Pemilihan bahasa Hindi ternyata melahirkan perpecahan bangsa san melahirkan kecemburuan dari bahasa lain. Bahasa India lainnya, bahasa Tamil dan Bengali misalnya kaya akan literatur tradisi sama dengan bahasa Hindi, dan menurut pemikiran penutur ini sama bagusnya jika dijadikan bahasa nasional. 3. Jika dibandingkan dengan bahasa Inggris, terlihat bahwa bahasa Hindi dapat mengembangkan kosakata sebelumnya ini dapat digunakan lebih efisien di pemerintahan. Namun, apapun yang terjadi akhirnya bahasa Hindi tetap menjadi bahasa nasional India. Setelah lima belas tahun baru bahasa Hindi dapat menggantikan bahasa Inggris di India. Perselisihan juga masih ada di pertengahan tahun 1965 bahwa masih ada undang-undang yang dibuat dalam bentuk bahasa Hindi dan bahasa Inggris. Konflik nationis dengan nationalis karena masalah bahasa banyak dan kompleks terjadi di India daripada di Paraguay. Menentukan bahasa Hindi sebagai bahasa resmi dirasakan banyak kekurangan dan kurang bagus sebagai bahasa resmi dibangingkan penggunaan bahasa Guarani di Paraguay. Di sisi lain saat Paraguay merdeka bahasa Guarani telah menjadi bahasa nasional dan tidak perlu dibuat lagi. Ini tentu tidak terjadi pada bahasa Hindi. Hal yang sangat penting dari semua ini, yaitu bahasa Guarani tidak berkompetisi dengan bahasa pribumi dan di sana tida ada pengabdian terhadap simbol bahasa bahasa dari kelompok bangsa yang luas. India tidak mempunyai keberuntungan di dalam penghormatan. Penyelesaian secara resmi oleh pemerintah tingkat federal tidak banyak membantu konflik nationis-nationalis, solusi ini tidak dapat diterima oleh kaum nationalis di negara di mana kaum nationis sangat sensitif antar bagian kelompok. Pertanyaannya adalah apakah bahasa Hindi tidak mampu hidup sebagai bahasa nasional. Tentu terdapat pertanyaan materi apakan yang menjadi faktor penentu agar suatu bahasa dapat diterian di seluruh bagian negara. Hal ini yang sering diperdebatkan. Khubchandani (1978) dapat menyimpulkan dari hal tersebut: Bahasa Hindi-Urdu menggabungkan kebaikan dari keberadaan bahasa paling dominan dari seluruh wilayah, pengaplikasian yang baik intrakelompok akan mempengaruhi komunikasi di seluruh negara. Perlu adanya bahasa penghubung di seluruh wilayah. Situasi Pemerintahan terbagi ke dalam dua unit politik, yaitu negara bagian dan pusat. Negara bagian secara mandiri menggunakan bahasa daerah. Hasilnya mayoritas dari populasi India, kecuali dua menggunakan bahasa yang sama. Dua negara bagian yang tidak mempunyai bahasa mayoritas adalah Himachal Pradesh dan Nagaland. Hanya di bawah 55 per sen di Bihar menggunakan bahasa Hindi-Urdu. Negara bagian Jammu dan Kashmirm lebih dari 95 per sen menggunakan bahasa Hindi-Urdu, begitu juga di Kerala dan Uttar Pradesh. Tidak satu pun negara bagian yang monolingual. Negar bagian dan persatuan wilayah bebas menggunakan bahasa resmi masing-masing sesuai dengan tingkat bahasanya. Banyak negara bagian yang memilih bahasa berdasarkan mayoritas bahasa yang digunakan masyarakatnya, tetapi beberapa memilih bahasa Inggris. Nagaland contohnya, salah satu negara bagian yang tidak mempunyai bahasa mayoritas, menggunakan bahasa Inggria. Yang lainnya, Himachal Pradesh, memilih bahasa Hindi. Jammu dan Kashmir untuk menghindari masalah bahasa mayoritas memilih menggunakan bahasa Urdu sebagi bahasa resmi. Negara bagian mempunyai pertimbangan untuk mengembangkan kosakata, sistem tulisan, ketikan, dan materi pendidikan untuk bahasa resminya. Penerjemahan dari federal dan negara bagian tentang hukum, peraturan, dan aturan didapatkan di bahasa daerah sehingga bentuk resminya berbeda-beda. Kebebasan untuk menggunakan dan mengembangkan bahasa negara adalah sesuatu yang mengandung resiko. di sisi lain, sejak bahasa dapat digunakan sebagai simbol dari tiap daerah, mendorong untuk terjadinya perpecahan di negara bagian. Usaha untuk menekan bahasa daerah ternyata dapat menimbulkan kebencian yang tajam. Secara poitik tidak mungkin membuat bahasa Hindi menjadi bahasa resmi di tingkat federal, ini dapat menjadikan bahaya. Faktanya alasan ini dapat dipercaya bahwa perbedaan bahasa dapat menjadi ancaman politik di India. Bahasa Minoritas Pendekatan pemerintah daerah yang berbeda-beda pada bahasa daerah mayoritas diperluas untuk bahasa mayoritas di dalam kebijakan resmi. Penutur bahasa minoritas tentu meminta jaminan yang lebih bagus, komisi bahasa minoritas pun setuju dengan keberatan itu. Bagaimanapun juga, ini akan lebih baik jika bahasa minoritas tertera di dalam pemerintahan daerah dibandingkan dengan bahasa resmi negara. Komisi bahasa daerah hanya bisa memberi nasihat, tidak bisa memaksa pemerintah pusat untuk mengikuti rekomendasinya. Kesuksesan dalam mengambil suatu bahasa sangat berpengaruh terhadap hubungan di pemerintahan. Bahasa minoritas tidak mempunyai kekuatan dalam hubungan di pemerintahan. Hasilnya pemerintah berhasil mempromosikan dan mengambil bahasa Hindi menjadi bahasa nasional walaupun banyak penolakan. Bahasa di dalam pendidikan Kebijakan pendidikan dan pelatihan di dibuat dalam bentuk struktur. Terdapat dua bahasa resmi yang mempunyai struktur paling tinggi di tingkat pemerintahan federal, yaitu bahasa Hindi dan bahasa Inggris. Kemudian bahasa resmi bahasa daerah. Pada tingkat ke tiga yaitu bahasa tidak resmi di pemerintahan tingkat federal maupun tingkat daerah tetapi mempunyai penutur lebih dari satu juta orang yaitu Bhojpuri dan Magahi. Terakhir yaitu bahasa kelompok kecil atau bahasa suku yang tidak hanya digunakan di pemerintahan. Kebijakan bangsa Inggris untuk menggunakan bahasa Inggris di tingkat menengah. apapun yang terjadi, bahasa Inggris menjadi bahasa di pendidikan tinggi. Pemerintah juga mendukung pengembangan bahasa daerah dengan mengajarkan pada pendidikan tingkat awal disamping bahasa Hindi dan bahasa Inggris. Jadi siswa sekolah di India setelah lulus SMA menguasai empat atau lima bahasa. Menurut catatan Khubchandani (1977:44) implementasi dari kebijakan pemerintah terkesan lamban. Pemerintah pusat sepertinya mengharapkan bahasa minoritas ini mati sebelum mereka menggunakannya di sekolah. Pemilihan bahasa nasional tidak bisa hanya berdasarkan penutur terbanyak. Pembahasan yang menarik untuk penelitian; 1. Pemertahanan masyarakat terhadap suatu bahasa dalam masyarakat multilingual 2. Sikap bahasa terhadap bahasa tertentu dalam masyarakat multilingual 3. Perilaku bahasa dalam situasi multilingual atau bilingual 4. Bahasa dalam pendidikan , pada masyarakat multilingual atau bilingual 5. Pengaruh satu bahasa terhadap bahasa lain dalam masyarakat multilingual Buku Sumber Chapter 1 Societal Multilingualism Fasold,R.1984, The Sociolinguistic of Society, N.Y. BasilBlackwel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s